MANAGED BY:
SELASA
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 07 Januari 2019 08:52
Jangan Fobia Disleksia

PROKAL.CO, Setiap individu dilahirkan jenius dengan cara yang berbeda. Anda tak mungkin meminta ikan memanjat pohon. Sebab, semua pribadi punya keahlian dalam bidangmasing-masing.

ALBERT Einstein tertunduk lesu dalam perjalalan menuju rumah. Dia tak menyangka kesukaannya kepada matematika dan fisika, berbuah petaka. Tak lulus ujian nasional dari Luitpold Gymnasium, sekolah setingkat SMP. Namun, Paulina Koch, ibunya tak pernah menyerah. Dia terus memberi asupan semangat, agar anaknya maju dalam bidang pendidikan. Berbekal surat keterangan tanda tamat belajar, Einstein memberanikan diri melanjutkan pendidikan.

Tak ada yang menyangka, sang Einstein, cerita Arya Wardhana dalam Einstein Mencarai Tuhan (2008, hal 5­10), jenius matematika dan fisika, penemu teori relativitas dan mekanika kuantum itu juga pernah mengalami kesulitan dalam urusan pendidikan.

Bahkan, jauh sebelum itu, peraih nobel tersebut pernah mengalami kesulitan dalam berbicara, membaca, dan menulis. Dia suka menyendiri dan merenung. Terlalu fokus dengan sesuatu hingga melupakan sekelilingnya. Namun, ibunya yakin, anak adalah berkat dari Tuhan. Sehingga Paulina terus berusaha mencari cara agar anaknya bisa berbicara, membaca, dan menulis, laiknya teman seusianya.

Kompas menjadi batu loncatan Einstein kecil. Jarum-jarum yang bergerak misterius itu memacu otaknya. Akhirnya dia mau berbicara. Tak lama setelah itu mulai menulis dan membaca, walau itu butuh waktu. Sebab, dia merasa huruf-huruf itu bergerak, jauh berbeda dengan angka.

Hal senada dialami oleh Rara, guru SD asal Berau. Anaknya, Glishel Massang, juga mengalami persoalan serupa Einstein. Suka sendiri dan merenung. Terlalu penasaran dengan suatu hal, dan terkadang tenggelam dengan imajinasinya sendiri.

“Jadi waktu dipanggil kerap tak merespons dengan baik,” ucapnya saat ditemui di kediamannya, Kamis pekan lalu. Hingga saat ini anaknya belum bisa berbicara dengan sempurna. “Kecuali kalau lapar dia pasti bisa lakukan komunikasi. Biasanya memanggil mamak. Kalau lagi fokus dengan sesuatu biasanya hanya menarik tangan dan meminta yang dia inginkan,” tuturnya.

Anaknya bukannya tak suka membaca. Dia suka buku, namun saat melihat terkadang rasa pusing menyapa. Terkadang Rara hendak menyerah dengan keadaan tersebut. Tak henti-hentinya dia mencari cara agar anaknya bisa seperti anak seusianya. “Seharusnya dia sudah kelas 3 SD,” akunya.

Dia yakin akan suatu hal. Tuhan mengizinkan persoalan menyapa kehidupannya untuk membentuk dirinya menjadi pribadi yang sabar menghadapi segala sesuatu. “Saya yakin, anak saya bisa mengalami kondisi yang senada dengan Einstein,” akunya dengan mata berkaca-kaca.

Dia menuturkan, titik tolak dari ilmu pengetahuan adalah rasa penasaran seperti anak kecil. Para filsuf Yunani pun paham benar dengan landasan tersebut. Baik itu Plato maupun Socrates. Karenanya, dia menyakini anaknya masih punya kesempatan untuk berkembang. Dan saat anaknya sedang merenung memandangi suatu objek, saat itulah Glishel sedang berdialog dengan dirinya sendiri. “Hanya sampai saat ini belum terlihat bakatnya atau fokus bidang yang dikehendaki,” ujarnya.

Senada dengan itu, Sony Keraf dan Mikhael Dua dalam Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis (2001, hal 155156) menyatakan ilmu yang berdialog dalam dirinya sendiri itu bebas nilai. Ia berada di bawah pertimbangan ilmiah murni dan bersifat otonom.

Walau demikian, dalam prosesnya, Rara bukannya tak mengalami cibiran. Bahkan dari keluarga sendiri juga dia rasakan. Ketika anaknya sudah fokus dengan sesuatu pasti ada saja tindakannya yang memancing nalar untuk bertanya. “Ya, misalnya tak ada yang pernah tahu rasa gelas sebelumnya seperti apa. Karenanya ketika anak saya mencoba merasakannya, nah saat itulah ada saja yang bertanya,” ceritanya.

Lahir delapan tahun lalu pada Maret 2013, Glishel menjadi buah hati ketiga Rara. Yang pertama bernama Flishel, yang kedua tak berhasil melihat dunia lantaran gugur dalam kandungan.

Glishel tak pernah dianggap bodoh oleh ibunya. Menurut dia, anaknya punya imajinasi tinggi dan cepat bosan. Dia terlalu penasaran dengan satu hal, sehingga ketika dipanggil terkadang tak mendengar lantaran fokusnya hanya ke satu subjek.

Dia akan bosan dengan suatu hal ketika dia sudah tahu cara menggunakannya atau mengerti dengan benda tersebut. “Saya harap orangtua yang punya persoalan senada tak merasa malu sebab setiap anak cerdas dengan caranya sendiri,” jelasnya.

Kaltim Post mencoba berkomunikasi dengan Glishel, saat dipanggil dia melirik lalu tersenyum. Saat itu dia sedang fokus menyusun minuman kemasan menjadi bangun ruang. Meskipun tak bisa mengungkapkan dengan kata, namun ketika itu Glishel begitu bahagia ketika berhasil membentuk susunan piramida minuman kemasan.

BERI PENANGANAN KHUSUS

Anak sudah sekolah tapi belum bisa membaca dan menulis bukan pertanda bodoh. Mungkin masih memerlukan cara belajar yang tepat. Adanya kerusakan pada saraf otak memicu terjadinya kelainan dalam cara membaca dan menulis. Ini yang disebut disleksia, biasanya baru terdeteksi ketika anak duduk di sekolah dasar.

"Kemampuan berpikir mereka mungkin di atas rata-rata. Mereka dapat berpikir dengan cepat dan kreatif dengan kemampuan penalaran yang kuat. Sayangnya, mereka akan tetap mengalami kesulitan dalam proses memahami pelajaran dari segi visual atau suara," terang psikolog Yulia Wahyu Ningrum.

Sebab itu, kata dia, orangtua perlu peka terhadap perkembangan anak. Bagaimana mereka mampu belajar dan mendeteksi kemungkinan anak mengidap kondisi tertentu. Ketika anak susah belajar, orangtua harus segera mencari tahu penyebabnya. Bisa saja si anak mengalami disleksia. Ketika mengetahui anak mengidap disleksia, orangtua harus mendukung. “Bukan menutupi atau mengelak kondisi yang diidap anaknya,” tutur dia.

Diungkapkannya, disleksia ini membuat anak kesulitan membaca, menulis, mengeja, atau berbicara dengan jelas. Senada dengan itu, Martini Jamaris dalam Kesulitan Belajar: Perspektif, Asesmen, dan Penanggulangannya (2014, hal 137) menyatakan bahwa kesulitan belajar membaca disebabkan oleh perkembangan susunan saraf pusat yang mengalami disfungsi minimal.

Lazimnya anak disleksia merasa tulisan yang dilihat bergerak dan bentuknya berubah-ubah. Sehingga otak tidak mampu bekerja membaca tulisan yang telah dilihat. Anak pun tak bisa melafalkan kembali. Anak disleksia juga dikenal imajinasinya tinggi. Huruf yang dilihatnya bisa berubah-ubah, karena itu dia bingung dan malas belajar membaca. “Biasanya tak bisa membedakan huruf yang mirip, seperti antara huruf b kecil dan p, m, dan n,” terangnya.

Direktur Biro Psikologi Mata Hati, Samarinda, tersebut, menyatakan tanda dan gejala disleksia bisa dideteksi pada usia prasekolah. Pada usia ini, bisa dilihat gangguan berbahasa ekspresi. Anak terlambat untuk dapat berbicara dan berbahasa. Umumnya kosakata yang diucapkan tidak tepat. Namun tidak semua anak dengan keterlambatan atau gangguan berbahasa ekspresif akan mengalami disleksia.

"Perbendaharaan kosakata cenderung sedikit, mengalami kesulitan dalam merangkai cerita, cenderung sulit mengingat nama teman, sering menggunakan istilah tidak tepat atau terbalik. Misalnya, kakak mau makan goreng ayam, harusnya kakak mau makan ayam goreng," jelas alumnus Universitas Gajah Mada tersebut.

Selain itu, pertanda kala usia sekolah bisa dideteksi. Khususnya pada saat kegiatan belajar dan mengajar. Anak yang mengidap disleksia umumnya perlu waktu untuk dapat menerima pelajaran tentang huruf, membaca dan menulis.

Selain itu, anak kesulitan menyalin tulisan dari papan tulis, sulit menyimak atau menyalin kembali pernyataan atau pertanyaan yang dibacakan guru. Kemudian, sulit menerima instruksi terutama lebih dari satu perintah.

Di sisi lain, si anak juga kerap lupa misalnya dengan barang bawaan, pekerjaan rumah, atau perintah dari guru. "Juga memiliki manajemen waktu yang kurang baik misalnya sulit mengatur skala prioritas," imbuhnya.

Selain ciri di atas, ciri lainnya dari anak disleksia adalah sering terlihat terburu-buru namun tidak fokus, mudah jatuh, atau menyenggol barang di dekatnya.

Disleksia sering disertai komorbid lainnya seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) atau gangguan atensi dan hiperaktif. Serta conduct disorder alias bentuk perilaku menentang.

Dikatakannya, cara pengajaran anak disleksia berbeda dengan anak pada umumnya yang normal.

Yang tepat untuk mengajari baca tulis pada mereka adalah, orangtua membacakan pelajaran yang sifatnya mendengar. Begitu juga dengan semua pelajaran. Bisa juga melatih menulis dengan menggerakkan tangan anak untuk menuliskan sebuah huruf. Jangan fobia, disleksia bukan hal yang perlu ditakutkan.

“Banyak orangtua down karena merasa anaknya bodoh. Padahal, umumnya anak disleksia memiliki intelligence quotient (IQ) tinggi dan banyak diderita orang-orang hebat, seperti Albert Einstein, Tom Cruise, Keanu Reeves, dan Deddy Corbuzier,” paparnya.

Apalagi, pada dasarnya disleksia tidak dapat disembuhkan. Jika disleksia dapat terdeteksi sejak dini dan orangtua dapat membimbing serta mengarahkan anak dengan metode pembelajaran yang tepat, maka anak dapat meraih prestasi sesuai potensi dan kemampuannya. Dari banyak kasus hampir 65 persen disleksia dari genetik orangtua. Maka dari itu, penanganan anak dengan disleksia memerlukan kerja sama yang baik antara orangtua dan tenaga profesional, yaitu psikolog, guru, dan terapis.

Orangtua bisa melakukan penanganan tepat. Di antara penanganan dari rekomendasi Yulia yang pertama adalah menggunakan sedo teacher atau guru pendamping. Kemudian, kerap mengulang pelajaran atau remedial teknik di sekolah dan di rumah.

Selain itu, instruksi hanya satu sampai dua saja, jangan terlalu banyak. Di sisi lain,  jangan pernah bosan mengulang instruksi. Misalnya, pulang sekolah lepas sepatu dan baju. Jangan terlalu banyak instruksi seperti nanti sampai rumah buka sepatu, baju, terus cuci kaki, makan, dan tidur.

Ketika di sekolah, usahakan penempatan duduk anak di depan agar tidak mudah terganggu. Selain itu, bagi guru juga jangan lupa memberi kesempatan anak untuk bertanya. Guru juga bisa memberi perhatian khusus misalnya dengan bertanya dan mengulang sedikit berbeda dengan anak anak yang lain. Usahakan, anak berada dalam kelas yang maksimal diisi 20 anak.

Guru juga sebaiknya memberi kesempatan pada anak waktu lebih banyak ketika belajar dan ujian. Juga usahakan untuk ujian lisan dibanding menulis, atau guru membacakan soal soal ujian. “Memakai laptop atau komputer juga solusi lain yang tepat bagi anak disleksia,” sarannya.

Namun yang patut dipahami adalah jangan melabeli mereka (penyandang disleksia) sebagai anak bodoh. Pasalnya, jika diberi label sebagai anak bodoh, mereka tak bisa tampil sesuai dengan IQ-nya dan sia-sia. Jika diketahui IQ-nya, orang tua akan memahami apakah anak mereka memang mengidap disleksia atau mengalami kesulitan belajar. “Beberapa penyandang disleksia justru orang yang brilian,” sebutnya.

KURANG PEDULI

Masalah anak pengidap disleksia adalah kesulitan membaca, menulis, mengeja, atau berbicara dengan jelas. Hal ini membuat proses belajar anak lebih lambat, meskipun pada dasarnya si anak memiliki kemampuan baik menangkap pelajaran. Tapi sayangnya, banyak orangtua tak menyadari masalah disleksia pada anaknya. Padahal, anak pengidap disleksia harus mendapat perlakuan khusus agar belajar tetap maksimal. Maka dari itu, orangtua harus sangat memperhatikan proses belajar anaknya. Bukan ketika anak sudah sekolah, tunai sudah kewajiban orangtua dan memarahi jika anak nilainya jelek.

Namun, realitanya boro-boro memeriksakan anaknya mengalami disleksia atau tidak, perhatian pada proses belajar anaknya, masih banyak orangtua yang tak maksimal.

Masih kurangnya perhatian orangtua, dirasakan Dian Pratiwi. Sehari-hari mengajar murid SD, dia menemukan tak banyak  orangtua yang memperhatikan belajar anaknya. Padahal, lambat menangkap materi, tak sedikit Dian temui pada anak didiknya.

Meski Dian tak pernah mendapatkan laporan anak muridnya mengalami disleksia. Bagi Dian, anak yang lebih lambat menangkap materi, maka dia mendapat perlakuan khusus. "Kalau saya biasanya mendatangi dia di tempat duduknya. Habis itu saya tanya, mengapa belum paham? Di mana dia enggak pahamnya? Jadi, misal dia sebutkan yang ini bu atau itu bu, saya jelaskan sama dia secara personal. Jadi, saya tahu tingkat kesulitan anak itu di mana," kisah guru SD 012 Samarinda Utara tersebut.

Selain itu, Dian memberi beberapa soal yang mirip-mirip dengan materi yang susah dimengerti itu, guna memancing pola pikir si anak. Dian harap dengan berbagai soal, pikiran kebuka dan jadi paham. Di tempat Dian mengajar, ada beberapa anak yang perlu tambahan mengajar ekstra. 

"Sebab, ada pula soal yang mudah saja, dia belum sampai sana nalarnya. Padahal kalau dilihat dari tingkatan kelasnya, dia sudah di kelas cukup tinggi untuk menalar soal tersebut," imbuhnya.

Meski, anak mengalami masalah belajar, tak semua orangtua murid peduli. Menurut Dian, kepedulian orangtua murid terhadap proses belajar anaknya, dari skala 100 hanya di angka 40. Teguran lewat jalur pesan kerap dilakukan. Namun, teguran itu tak membuahkan hasil. Dia pun menyadari bahwa orangtua kurang perhatian. Mereka tak pernah mengontrol belajar anaknya. Meskipun, Dian tak menampik masih ada orangtua yang memperhatikan belajar anaknya. Tapi ini banyak terjadi pada murid yang cenderung cerdas dan tak memiliki masalah belajar.

Padahal, yang seharusnya diperhatikan ekstra adalah mereka yang kurang menangkap pelajaran. “Maka dari itu, orangtua perlu lebih memperhatikan, sehingga anaknya bisa mendapat hal-hal yang mendukung belajarnya secara optimal,” jelasnya. (timkp)

TIM LIPUTAN

  • YUDA ALMERIO
  • NOFIYATUL CHALIMAH
  • MUHAMMAD RIFQI HIDAYATULLAH

EDITOR

  • ISMET RIFANI
loading...

BACA JUGA

Jumat, 18 Januari 2019 07:52

PILEG RASA PILWALI

Pemain lama yang tak sekali-dua kali duduk di Karang Paci…

Jumat, 18 Januari 2019 07:46

Gagal, Keluarga Bisa Ikut Stres

ALAT peraga kampanye (APK) berdiri di tempat-tempat strategis. Berharap bisa…

Jumat, 18 Januari 2019 07:41

Suara Sah Harus Ditentukan Lebih Dulu

PEMILIHAN legislatif 2019 akan menggunakan metode Sainte Lague dalam menentukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:38

Nelayan Hanya Kaya Lautan

Takkan ada ikan gurih di meja makan, tanpa ada jerih…

Senin, 14 Januari 2019 08:23

Terancam Zonasi Segara

MENGGELUTI profesi nelayan di tengah gempuran pertambangan di Kaltim, bukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:07

Nelayan Penjaga Kedaulatan

BERBAGAI persoalan ternyata dihadapi nelayan di Kaltim. Tak hanya persoalan…

Senin, 14 Januari 2019 07:56

Diklaim Bawa Perubahan

NELAYAN sebagai tulang punggung industri perikanan nasional memiliki fungsi penting.…

Jumat, 11 Januari 2019 09:24

Menangkal Kekalahan Durian Lokal

Musim hujan datang. Tiba pula musim durian. Kasar, berduri, kurang…

Jumat, 11 Januari 2019 09:20

Benarkah Durian Memicu Kolesterol Naik?

SELURUH penjuru dunia mengenal durian sebagai raja buah tropis. Namun,…

Jumat, 11 Januari 2019 09:19

Kontroversi Durian di Pesawat, Boleh Bawa, Redam Baunya

PENUMPANG Sriwijaya Air rute Bengkulu–Jakarta sempat heboh. Lantaran pesawat dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*