MANAGED BY:
RABU
22 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

CELOTEH

Minggu, 06 Januari 2019 06:43
Mulai SD Sudah Jualan Roti
Ruth Shanti Anissa

PROKAL.CO, DUNIA bisnis selalu menarik bagi siapa saja. Tak terkecuali kaum muda. Mahasiswa zaman sekarang mulai sadar akan kegiatan berwirausaha. Industri kreatif begitu diminati karena peminat yang banyak dan dituntut selalu berinovasi. Mahasiswa mulai melirik ranah ini. Satu di antaranya Ruth Shanti Annisa, berwirausaha sejak usia 20.

DITEMUI di ruko sederhana yang menjadi tempatnya menjalankan Sunny Souvenirsejak 2016, Shanti menyambut ramah. Meski tak terlalu luas, terlihat beragam suvenir disusun rapi di atas rak dan di dalam boks berukuran sedang. Mulai boneka, bunga flanel, sampai makanan ringan dibentuk menyerupai buket bunga. Saat banyak orang masih ragu memulai bisnis, perempuan berhijab itu justru yakin.

Shanti mengaku alasannya mendirikan usaha karena melihat peluang. Jika dia bisa mendapatkan untung walau hanya sedikit, baginya itu sudah sangat lumayan. Berawal dari hobi yang memang sudah suka berjualan sejak SD, hal itu terbawa hingga duduk di bangku kuliah. Perekonomian keluarga juga menjadi salah satu faktor yang mendorongnya melakukan hal tersebut.

“Sewaktu SD, awalnya jualan roti. Dulu saya kasih harga 500 perak untuk satu roti,” ujar Shanti sembari tersenyum kecil.

Berlanjut di bangku SMP dan SMA, Shanti berjualan cokelat, pulsa, brownies, dan risol. Saat itu, Shanti tidak mengolah sendiri melainkan hanya menjualkan milik orang lain. Ketika memasuki bangku perkuliahan, dia sempat menjual kue putu dan lumpia buatan sendiri saat semester satu hingga tiga. Namun, karena keterbatasan waktu, dia memutuskan untuk menjual kue dari orang lain lagi seperti saat bersekolah dulu.

Kebetulan, saat itu di fakultas tempat Shanti berkuliah yakni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Mulawarman (Unmul) belum memiliki kantin. Sehingga, dagangannya laris manis. Dari situ, mulai bermunculan teman-teman Shanti bahkan senior yang juga berjualan karena tertarik saat melihat dia.

Untuk sebagian orang, mungkin merasa malu jika harus berjualan seperti itu. Shanti pun demikian, namun karena keadaan mendesak, mau tak mau dilakukan. Terkadang, jika dia sedang tidak berjualan, orang akan mencarinya. Hal itu cukup membuatnya senang juga karena ternyata orang menyukai apa yang dia jual dan itu bermanfaat bagi orang lain.

“Enggak mau peduli sama omongan orang lain. Saat ini, pemikiran saya itu kalau gengsi ya enggak bikin kamu kenyang. Yang merasakan dan mendapatkan manfaat kan juga kita,” lanjutnya.

Pada 2016, Shanti mulai mendirikan usaha suvenir. Awalnya, dia tertarik ketika melihat kakak tingkat di kampus yang berjualan selempang untuk wisuda. Dia memutuskan menjadi reseller. Setelah beberapa bulan, Shanti mulai penasaran di mana tempat untuk membuat selempang yang ternyata dibuat di Jawa karena harganya lebih murah.

Tak lama kemudian, dia berhenti menjadi reseller dan lebih fokus pada tender yang didapat dari Jawa. Tak terlalu berjalan mulus, ketika Shanti sudah menerima pesanan, dia mendapat komplain dari customer karena barang belum sampai.

“Saya sudah nangis, bolak-balik ke kantor ekspedisi karena keterlambatan dari mereka. Pelanggan minta uang mereka balik. Ketika barangnya sudah ada, orang enggak mau tahu karena uangnya sudah diambil lagi juga. Saya mikir, kalau begini terus kapan majunya? Capek juga selalu dimarahi,” papar Shanti.

Belajar dari pengalaman, Shanti memilih untuk mencari tempat bordir di Samarinda. Kini sudah ada tiga tempat yang kerja sama dengannya. Meski hanya dua yang aktif. Dia berniat untuk memiliki tempat bordir khusus untuk usahanya.

“Motivasi saya adalah keluarga. Saya sudah terbiasa mandiri sejak SMA, enggak terlalu sering dikasih uang saku. Akhirnya ya pengin menghasilkan uang sendiri dan untuk bantu kebutuhan keluarga di rumah juga,” pungkas Shanti saat ditemui awal pekan lalu.

Mulanya hanya menjual selempang, kini dia menyediakan pernak-pernik khas wisuda atau perayaan. Seperti buket bunga, boneka wisuda, hingga buket snack. Ke depan, dia rencana akan mencari tempat yang lebih luas agar semakin melebarkan usahanya. (*/ysm*/rdm2/k8)

loading...

BACA JUGA

Senin, 20 Mei 2019 09:29
Windie Karina Farmawati

Berbisnis Sejak 1972, Pernah Dibayar Rp 1

Trisnawati Tjandra mengaku sebagai pelopor usaha salon pertama di Samarinda.…

Senin, 20 Mei 2019 09:28

Pahami Empat Pilar Bisnis, Fokus dan Ubah Strategi

LATAR belakang pendidikan Windie Karina Farmawati adalah sarjana psikologi, bertolak…

Senin, 20 Mei 2019 09:20

Tampil Elegan Bikin Ramadan Berkesan

RAMADAN tak hanya diisi dengan ngabuburit atau buka bareng. Ada…

Minggu, 19 Mei 2019 13:48

Istimewa, Pekerjakan Anak Putus Sekolah

WINDIE  Karina Farmawati belajar dari sang ibu, Trisnawati Tjandra. Untuk memperkerjakan…

Minggu, 19 Mei 2019 12:19
Soto dan Salad

Hidangan Hangat hingga Kudapan Sehat

SOTO merupakan hidangan berkuah nan populer di Indonesia. Selaku juru…

Minggu, 19 Mei 2019 12:10

Kudapan Manis Nusantara dan Gurih dari India

SIAPA tidak kenal amparan tatak? Merupakan kudapan yang sering diburu…

Minggu, 12 Mei 2019 13:51
Bagus Satria dan Mira Dewi Yustina

Dari Pernikahan jadi Bisnis Menjanjikan

Tiga tahun lalu, Bagus Satria dan Mira Dewi Yustina membuat…

Minggu, 12 Mei 2019 13:50

Terima Pesanan dari Sumatra hingga Papua

PERTAMA kali merintis Galeri Cantik, Bagus Satria dan Mira Dewi…

Minggu, 12 Mei 2019 13:42

Stay Beautiful for Ramadan Iftar

MOMEN Ramadan dijadikan ajang berkumpul bersama sanak saudara dan teman.…

Minggu, 12 Mei 2019 13:39

Terapkan Konsep Bisnis Syariah

MENJALANI usaha memang harus dibarengi dengan konsep yang jelas untuk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*