MANAGED BY:
MINGGU
24 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Rabu, 02 Januari 2019 08:54
Dobel Alhamdulillah

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

SAYA sengaja pilih tidur. Biar pun ternyata OK: habis magrib sudah bisa tiba di Istanbul. Masih bisa ikut rame-rame malam tahun baru. Yang di Istanbul mestinya luar biasa. “Tadi saya kira kita baru tiba setelah pukul 00.00,” ujar Mustofa, sopir saya. “Saya tidak menyangka sudah ada otoban,” tambahnya.

Otoban adalah jalan tol. Nama resminya Otoyol. Nama resmi dalam bahasa Inggrisnya Motorway. Tapi semua orang Turki menyebutnya otoban. Mengadopsi jalan bebas hambatan di Jerman: Otobahn. Bedanya: Otobahn Jerman itu gratis.

Mustofa sendiri lahir di Jerman. Dari orangtua Turki. Lima juta orang Turki ada di Jerman. Termasuk Mesut Oezil (Arsenal) dan Emre Can (Juventus). Hubungan Jerman-Turki memang mendalam. Di masa sulit dulu. Sejarah menyebut Jerman berutang nyawa ke Turki. Yang selalu membantu Jerman. Dalam perang apa pun.

Bersama sopir Mustofa ini asyik. Masa kecilnya di Frankfurt. Ia pernah 20 tahun di Istanbul. Lalu pindah kerja ke Izmir. Saat liburan ke Antalya dia jatuh cinta. Memilih rumah masa depan di Antalya.

“Istanbul terlalu ruwet,” katanya. Maksudnya: kotanya terlalu besar. Dengan segala problem metropolitannya. “Izmir juga indah. Tapi kelembapan udara Antalya lebih baik,” katanya

Mustofa punya rumah dengan empat kamar. Di apartemen lima lantai. Di pusat Kota Antalya. “Setelah tiga putri saya kawin  istri saya susah,” ujar Mustofa. “Harus bersih-bersih empat kamar,” tambahnya.

Antalya adalah kota pantai khas Mediterania. Mirip Beirut atau Monako. Pantai bertebing. Seperti Pecatu, Bali. Saya tidak usah ragu dengan kemampuannya di belakang kemudi. Meski badannya “gendut”. Dia sudah beberapa kali ke Makkah. Jalan darat. Mengemudi bus. Istanbul – Makkah ia tempuh dalam lima hari. Lewat Bagdad. Pernah juga lewat Suriah dan Lebanon. Mustofa lah yang akhirnya menemani saya ke Ephesos. Ke rumah Bunda Maria di sisa hidupnya. Setelah Jesus disalib.

Mustofa juga yang menemani saya ke Izmir. Yang ternyata saya juga ditunggu mahasiswa Indonesia di sana. Yang juga harus minta maaf. Tidak sempat menemui mereka. Sebagai orang Antalya, Mustofa tidak tahu kalau sudah ada otoyol. Antara Izmir-Bursa. Hampir 100 km. Yang diingatnya dulu perlu waktu tiga jam. Gunung-gunung ditembus terowongan. Otoyolnya tiga jalur di setiap arahnya.

Menjelang Bursa memang harus masuk jalan lama lagi. Tapi sebenarnya tidak kalah dengan otoyol. Kualitas jalan umum di Turki mirip jalan tol kita. Bahkan lebih mulus. Hanya sesekali harus terkena lampu merah. Saat melewati kota-kotanya.

Dari Bursa ke Istanbul pun kini sudah sepenuhnya otoyol. Mustofa juga belum tahu itu. Baru dibuka 1 Desember lalu. Di jalur ini harus dibangun jembatan panjang. Melintasi tekukan Laut Marmara. Lalu masuk terowongan Bosporus. Yang panjangnya 5 kilometer. Yang dalamnya 106 meter. Yakni laut sempit yang memisahkan Benua Asia dengan Eropa.

Tapi saya minta dilewatkan jembatan saja. Meski memutar 20 menit lebih lama. Saya kangen lihat selat Bosporus. Dari atas jembatan. Yang sangat indah. Toh saya sudah pernah melewati tunnel baru itu. Minggu lalu. Saat menuju stasiun kereta jurusan Ankara.

Pemandangan di bawah Jembatan Bosporus lebih menakjubkan dibanding Golden Gate San Francisco. Lebih mistis. Membuat saya ingat sesuatu. “Tidak usah ikut pesta tahun baru,” kata hati saya.

Saya pun ingat kejadian tepat setahun lalu. Di tanggal yang sama. Saya tergeletak sakit di rumah. Hanya ditemani istri. Anak-cucu baru meninggalkan Makkah. Menuju Florida. Bertahun baru di sana.

Saya dan istri mestinya bersama mereka. Tapi ada musibah. Ketika di Madinah dada dan punggung saya sesak. Luar biasa menyiksa. Sulit bernapas. Saya minta dilarikan ke rumah sakit. Saya mengira terkena serangan jantung.

Dokter Madinah memeriksa jantung saya. Dengan alat-alat modern. “Jantung Anda istimewa. Pulang saja. Nanti sembuh sendiri,” katanya. Saya tidak mau pulang. Lalu disuntik morfin. Masih tetap sesak. Tapi nyerinya berkurang.

Saya putuskan: biar anak-cucu ke Makkah. Saya dan istri beli tiket baru: kembali ke Surabaya. Dengan dada masih nyeri sepanjang penerbangan. Dari Bandara Juanda saya langsung masuk rumah sakit di Surabaya. Tiga hari opname di situ. Juga tidak ditemukan apa-apa. Padahal tetap belum bisa buang air besar (BAB). Sudah satu minggu.

Sampailah saya ingat Maulana Jalaluddin Rumi. Dan guru sufi saya di Indonesia. Tengah malam itu saya melakukan kegiatan spiritual. Istri saya menghitung. Saya tidak mau tasbih mengganggu konsentrasi.

Pagi harinya saya bisa BAB. Lalu minta keluar rumah sakit (RS). Dirawat istri saja di rumah. Dibikinkan tajin. Agar ada nutrisi masuk sistem. Saya bermalam tahun baru berdua saja. Di tempat tidur. Anak-menantu memonitor lewat iPhone.

Robert Lai terus khawatir. Memaksa saya ke Singapura. Teman baik saya itulah yang  mengatur semuanya. Anda pun sudah tahu. Dokter di sana mengatakan bahwa saya sangat beruntung. Tidak meninggal saat di Madinah. Atau di penerbangan panjang kembali ke Indonesia. Ditambah ke Singapura. Mestinya saya dilarang naik pesawat. Dalam kondisi kritis seperti itu: pembuluh darah utama saya (aorta) ternyata pecah. Sepanjang 50 sentimeter.

Kisah selanjutnya, Anda sudah tahu: ada di Disway edisi pertama sampai edisi akhir  Februari tahun lalu. Kini, setahun kemudian saya ada di Istanbul. Dari pedalaman-pedalaman Turki.

Begitu melihat dalamnya laut Bosporus saya menetapkan hati: salat dulu di Blue Mosque. Lalu tidur. Tidak perlu melihat pesta tahun baru. Apalagi ikut merayakannya. Tidur lebih baik dari melek. Untuk kondisi saya yang seperti itu. Yang setahun lalu seperti itu. Tahun baru. Apalah artinya. Tanpa mengisinya. (rom/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 18 Oktober 2012 10:30

PKL Eks Citra Niaga “Digantung”

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*