MANAGED BY:
SELASA
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 31 Desember 2018 08:39
Tahun Baru, Yuk..!! Wujudkan Resolusi Baru

PROKAL.CO, Tahun 2019 sudah di depan mata. Resolusi tahun baru pun biasanya dibuat. Meski demikian, nyatanya resolusi kadang tak juga baru. Seperti isi meme yang marak tersebar jelang pergantian tahun: Resolusi 2019 melanjutkan resolusi 2018 yang disusun sejak 2017, setelah direncanakan mulai 2016 dan dicita-citakan sejak 2015. Padahal, sudah dipikirkan saat 2014.

SETAHUN begitu cepat dilewati. Pencapaian tahun ini bagi sebagian orang mungkin tak memuaskan. Mewujudkan resolusi memang bukan perkara mudah. Tetapi, bukan berarti tidak boleh membuat resolusi di tahun berikutnya. Resolusi, justru menjadi penyemangat diri agar bisa lebih baik di tahun berikutnya.

Seperti Rizki Amelia. Putri Muslimah Samarinda 2018 ini mengaku bisa menjalani 2018 dengan baik. Beragam prestasi dia raih. Namun, bukan berarti Amel –sapaan akrabnya- pada 2019 sekadar menjalani yang tersisa. Dia tetap memiliki resolusi yang diharapkan bisa segera diwujudkan pada 2019.

“Jadi, jika ditanya soal resolusi 2019 banyak banget impian dan harapan Amel. Pertama banget, pengin go International lagi, bisa mencetak prestasi untuk Indonesia,” terang gadis yang awal 2018 terpilih menjalani pertukaran pengajar di Thailand tersebut.

Masih berstatus sebagai mahasiswi jurusan psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Mulawarman (Fisipol Unmul), Amel mengaku juga punya keinginan menaikkan indeks prestasinya. Dia ingin menunjukkan, banyak kegiatan dan organisasi, bukan berarti kuliah jadi tak terurus. Beragam predikat telah disabet Amel pada 2018. Mulai Duta Pemuda, Putri Muslimah, dan beragam penghargaan diraihnya. Meski begitu, pada 2019 masa jabatan gelar ini akan habis, tapi Amel tetap ingin menginspirasi. Dia ingin berkontribusi, bahkan lebih dari 2018. Maka dari itu, Amel bertekad bakal maksimal menjalankan program kerja di PIK Remaja dan aneka organisasi yang dia geluti.

Amel mungkin salah satu contoh yang bisa menjalankan resolusinya dengan baik. Namun tak semua bisa menjalani seperti Amel. Masih banyak orang yang tidak dapat mewujudkan semua resolusinya. Kebanyakan, resolusi yang dibuat masyarakat adalah berhubungan dengan gaya hidup lebih sehat, meningkatkan produktivitas dan prestasi, urusan keuangan, hingga masalah cinta. Namun, tak semua resolusi bisa diwujudkan dengan mudah. Maka, resolusi mestinya dibuat dengan realistis.

Begitulah yang diyakini Arista Febri. Mahasiswi semester akhir Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Mulawarman ini pada 2018 punya beberapa resolusi. Mulai urusan asmara, karier, hingga kesehatan. Resolusi yang tercapai pada 2018 tampaknya untuk urusan asmara. Sempat menyendiri empat tahun, Arista yang pada 2018 berusia 24 tahun, sudah menemukan lelaki yang berkomitmen kepadanya.

“Hubungan sudah mulai ke arah yang serius,” kata gadis berjilbab ini.

Urusan asmara sebenarnya bukan resolusi prioritasnya. Mengingat, dia tak ingin buru-buru kawin. Namun, dia bersyukur sudah menemukan calon. Meski begitu, resolusinya yang paling prioritas yakni  merampungkan skripsi, tak bisa dia wujudkan. Pasalnya, dia merasa waktunya tersita banyak untuk urusan lain. Pekerjaan salah satunya. Kesibukannya mengajar les privat, cukup menyita waktunya. Meskipun diakui, mengajar les privat tak benar-benar menyita waktu untuk menggarap skripsi. Dikatakan gadis ini, mengumpulkan niat untuk menggarap skripsi itu jadi tantangan terberatnya. Rasanya enggan membuka komputer jinjing dan memulai mengetik kata demi kata. Masih ada hari esok. Tetapi, akibat sering merasa hari esok selalu ada untuk menggarap skripsi, membuatnya tak sadar waktu terus berlalu hingga 2019 hendak dimulai.

“Jadi, ya ada beberapa resolusi yang melanjutkan dari 2018,” lanjut Rista lalu tertawa.

Diakuinya, memang pada tahun-tahun sebelumnya dia tak punya strategi khusus untuk mencapai resolusi. Hanya sekadar ingin. Rista tidak merinci bagaimana cara agar resolusinya bisa tercapai. Selain itu, dia tidak punya tenggat waktu agar bisa menyelesaikan resolusinya. Hal inilah yang dirasakan Rista jadi penghambat. Setelah membaca dari beragam literatur, dia menemukan bahwa cara efektif agar resolusi tercapai adalah merincikan langkah dan memiliki tenggat waktunya. Dengan begitu, dia bisa mendisiplinkan diri sendiri untuk mewujudkan resolusi. Dia pun ingin mencoba cara ini pada 2019.

“Paling penting itu skripsilah. Kalau yang lain bisa sambil-sambil,” sebutnya.

Dari segi gaya hidup sehat, tampaknya 2018 juga bukan tahun baik buat gadis sulung dua bersaudara ini. Sebab, sempat bisa menurunkan berat badan pada 2017, namun pada 2018 berat badannya kembali melonjak. Baju pun kian sesak. Pola makan tak sehat dan hobi nongkrong, bisa jadi yang membuat kesehatannya tak begitu baik. Rista pun sempat beberapa kali jatuh sakit. Belum lagi aneka kegiatan organisasi yang menyita pikiran dan tenaganya, sehingga sedikit banyak menyumbang rasa stress dan lelah tak berkesudahan. 

Namun, bukan hanya generasi Rista dan Amel yang kepikiran janjinya di tahun baru. Jauh sebelum hari-hari Amel dan Rista lahir, yakni sekitar empat puluhan abad lalu, resolusi mulai dikenal penduduk bumi. Tentu, istilahnya bukan resolusi. Kala itu, masyarakat Babilonia berjanji kepada para dewa untuk membayar utang dan barang yang mereka pinjam saat musim panen tiba. Jika mereka menepati janji, ganjarannya adalah para dewa diyakini akan memberikan kemudahan bagi mereka pada musim berikutnya. Hingga kini janji itu berkembang dan menjadi inspirasi istilah resolusi yang dikenal penduduk bumi era Kiwari.

Maka dari itu, untuk mewujudkan resolusi, perlu strategi khusus. Target resolusi menjelang tahun baru tak mesti harus muluk-muluk. Apalagi, kegagalan resolusi yang tak terkonsep dengan baik, justru hanya membawa trauma. Begitu juga dengan kaum millennial yang mestinya patut serius meraih sukses dengan Resolusi Tahun 2019.

Yulia Wahyu Ningrum, Psikolog dari Biro Psikologi Matavhati pun mengingatkan agar konsep resolusi menjadi salah satu fondasi penting dalam melakukan penyusunan pencapaian resolusi. Ia pun mengaku sudah sepuluh tahun terakhir menggunakan konsep SMART Goals yang pertama kali digunakan dalam Management Review edisi November 1981 oleh George T. Doran.

SMART sendiri merupakan kepanjangan dari Spesific, Measurable, Achievable, Relevant dan Timely. Lima komponen ini menurutnya menjadi dasar yang penting dalam menetapkan pencapaian dan evaluasi keberhasilan target resolusi.

Yulia memaparkan, untuk konsep pertama Spesific, yaitu dengan mempersempit resolusi menjadi lebih detail dan tidak ambigu. Ia mencontohkan keinginan seseorang hendak memiliki sepeda motor, berarti bukan resolusi tahun 2019 harus kaya. Dengan begitu, jelas apa yang dicapai. Tolok ukur pun lebih mudah.

Ttahapan kedua, Measurable, maksudnya adalah terukur. Ia mencontohkan keinginan seseorang ingin kaya dan sukses pada Tahun 2019, menjadi hal yang sulit untuk diukur. Maka dari itu, keinginan tersebut bisa dipersempit dengan target lain seperti ingin lulus kuliah atau ingin masuk kuliah impian dan sebagainya.

Selanjutnya, pada tahapan Achievable, berarti target berada di dalam jangkauan dan harus realistis dengan kemampuan yang ada. Hal ini juga berkaitan dengan kekhawatiran fantasi berlebihan. Misalnya target pada tahun 2019 ingin bisa kuliah di Amerika Serikat. Namun sayangnya, kemampuan Bahasa Inggris ternyata tidak dimiliki. Selain itu, kondisi keuangan juga sangat minim.

“Jadi yang bener kalau pengen motor berarti dari sekarang nabung dan minim beli macam-macam. Lebih hemat, karena resolusi kan beli motor,” ujar Yulia.

Selain itu juga ada tahapan Relevant. Untuk tahapan keempat ini, berkaitan dengan kemampuan  menyelesaikan masalah yang dihadapi. Misalnya saja lanjut Yulia, jika menghadapi persoalan kantor lalu berniat ingin resign. Maka sebaiknya lebih dulu melakukan lamaran kerja di tempat lain. Sehingga tidak terkesan kalap dengan kondisi hati yang tidak nyaman.

“Jadi tidak malah terkesan terburu-buru mengambil keputusan. Di satu sisi pengen punya motor baru, tapi malah keluar dari kerjaan dan tidak punya pekerjaan,” tambahnya. 

Yang terakhir yang tidak kalah penting yaitu Timely. Tiap resolusi pun menurutnya harus bersinggungan langsung dengan target waktu. Alumnus Universitas Gadjah Mada ini mencontohkan, seseorang ingin memiliki sepeda motor baru pada Juni, selanjutnya target salat tepat waktu pada Mei dan menurunkan berat badan hingga tujuh kilogram pada Agustus.

Selain konsep SMART tadi, satu hal yang tidak kalah pentingnya yaitu konsisten. Pasalnya kata dia, berdasarkan sebuah penelitian, 70 persen kegagalan resolusi terjadi pada akhir Januari, lantaran tidak konsisten.

“Jadi coba untuk tulis di kertas dan tempel di lemari atau mana pun yang bisa terlihat. Baca terus dan komitmen untuk melakukan. Boleh ditulis di status media sosial agar ketika tidak tercapai akan banyak kritikan yang mengingatkan kita,” katanya lagi.

Intinya yaitu komitmen, serta jangan terlalu banyak target. Selain itu juga evaluasi tahun kemarin. Jika tahun kemarin ada capaian yang tidak berhasil, maka tidak masalah untuk dilanjutkan pada resolusi 2019. Meski tak ada secara langsung yang melakukan konsultasi terkait resolusi, namun ada juga yang curhat kepada Yulia lantaran gagal merealisasikan resolusi. Salah satu penyebabnya karena resolusi yang terlalu banyak dan tidak terukur.

“Ada klien yang benar-benar hampir 90 persen berhasil. Yaitu seorang pengusaha dan bankir. Karena memang orangnya detail, terencana dan memang paham teori SMART.

Karena itu, tak hanya berusaha mewujudkan resolusi dengan konsisten dan optimal. Sebelum itu semua, harus bisa membuat resolusi yang pas. Dengan perencanaan yang tepat, akan membantu mewujudkan resolusi tahun baru. Jangan sampai pada Desember 2019 justru kalang kabut menyesali resolusi yang tak bisa diwujudkan. (Tim KP)

Tim Liputan:

- Nofiyatul Chalimah

- Muhammad Rifqi

Editor: Ismet Rifani


BACA JUGA

Jumat, 18 Januari 2019 07:52

PILEG RASA PILWALI

Pemain lama yang tak sekali-dua kali duduk di Karang Paci…

Jumat, 18 Januari 2019 07:46

Gagal, Keluarga Bisa Ikut Stres

ALAT peraga kampanye (APK) berdiri di tempat-tempat strategis. Berharap bisa…

Jumat, 18 Januari 2019 07:41

Suara Sah Harus Ditentukan Lebih Dulu

PEMILIHAN legislatif 2019 akan menggunakan metode Sainte Lague dalam menentukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:38

Nelayan Hanya Kaya Lautan

Takkan ada ikan gurih di meja makan, tanpa ada jerih…

Senin, 14 Januari 2019 08:23

Terancam Zonasi Segara

MENGGELUTI profesi nelayan di tengah gempuran pertambangan di Kaltim, bukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:07

Nelayan Penjaga Kedaulatan

BERBAGAI persoalan ternyata dihadapi nelayan di Kaltim. Tak hanya persoalan…

Senin, 14 Januari 2019 07:56

Diklaim Bawa Perubahan

NELAYAN sebagai tulang punggung industri perikanan nasional memiliki fungsi penting.…

Jumat, 11 Januari 2019 09:24

Menangkal Kekalahan Durian Lokal

Musim hujan datang. Tiba pula musim durian. Kasar, berduri, kurang…

Jumat, 11 Januari 2019 09:20

Benarkah Durian Memicu Kolesterol Naik?

SELURUH penjuru dunia mengenal durian sebagai raja buah tropis. Namun,…

Jumat, 11 Januari 2019 09:19

Kontroversi Durian di Pesawat, Boleh Bawa, Redam Baunya

PENUMPANG Sriwijaya Air rute Bengkulu–Jakarta sempat heboh. Lantaran pesawat dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*