MANAGED BY:
SELASA
22 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 31 Desember 2018 08:35
Resolusi 2019, Fokus Ekonomi dan Kesehatan
Soal Indeks Kebahagiaan, Warga Kaltim Nomor 4 Se-Indonesia
Warga Kaltim yang hendak bepergian melalui bandara SAMS Sepinggan, Balikpapan. Tahun 2019, resolusi yang banyak diharap warga Kaltim adalah peningkatan kesejahteraan dan kesehatan.

PROKAL.CO, UMUMNYA resolusi tak jauh-jauh dari sangkut paut masalah ekonomi dan kesehatan. Akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan, pendidikan, kondisi ekonomi dan sosial, jadi banyak berpengaruh terhadap apa yang ingin dicapai masyarakat dalam resolusinya.

Hal ini terekam sebagai kepuasan hidup masyarakat. Kepuasan hidup adalah bagian dari dimensi indeks kebahagiaan masyarakat. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Indeks Kebahagiaan Kaltim 2017 berada pada angka 73,57,atau tertinggi ke empat di Indonesia. Dalam survei indeks kebahagiaan ini ada 19 indikator yang terbagi dalam tiga dimensi, yakni kepuasan hidup, perasaan, dan makna hidup. Dalam 19 indikator tersebut memuat bahwa akses masyarakat terhadap kondisi diri, sosial, ekonomi, dan kesehatan, menjadi isu penting mencapai kebahagiaan.

Salah satunya adalah kesehatan. Meningkatkan kualitas hidup dengan menjadikan gaya hidup lebih sehat jadi resolusi banyak orang. Banyak uang tetapi kesehatan tak baik, tentu bukan hal yang diharapkan. Maka dari itu, usaha memperbaiki diri dilakukan, entah berhenti minum alkohol, merokok, atau menurunkan berat badan. Meski begitu, mencapai resolusi kesehatan tidaklah mudah. Apalagi, bagi generasi millennial yang akrab dengan kegiatan nongkrong,  tidur larut malam, stres masalah kerja dan asmara. Hingga akhirnya memunculkan perilaku tak sehat. Ujung-ujungnya, lari ke alkohol, rokok, atau makan berlebihan.

Diungkapkan nutrisionis Saibatul Hairiyah, perkembangan teknologi dan berubahnya gaya hidup, memengaruhi pola hidup generasi milenial. Jika tak pintar berhati-hati, maka generasi milenial ini rentan dengan aneka penyakit kronis ketika memasuki masa lanjut usia.

Gaya hidup yang saat ini banyak dilakukan generasi milenial adalah banyak nongkrong hingga larut malam. Imbasnya, jam tidur terganggu dan pola makan juga tak ideal. Sebab, ketika nongkrong, aneka makanan gorengan dan manis tersaji jadi teman bicara atau objek untuk unggahan di media sosial. Maka dari itu, ketika ingin memperbaiki gaya hidup agar lebih sehat, maka perlu pencegahan, deteksi, dan penanganan dini terlebih dahulu.

“Hal tersebut merupakan cara yang paling tepat untuk mengurangi risiko penyakit kronis di masa mendatang,” ungkapnya.

Untuk menghindari penyakit kronis tersebut, Saiba menyarankan para generasi milenial meningkatkan aktivitas fisik, menjaga pola makan, dan membatasi waktu di depan layar komputer atau ponsel. Salah satu yang menjadi tantangan masyarakat kini adalah pola makan. Sebab, banyak alternatif makanan cepat saji yang tentu lebih praktis dan efisien menghemat waktu. Meski begitu, pola makan harus tetap merujuk pedoman gizi seimbang yang memenuhi enam komponen zat gizi yakni karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air. Meski begitu, bukan asal memenuhi enam zat gizi tersebut. Asupan bahan lain, porsi, dan waktu makan juga harus diperhatikan. Apalagi saat ini, banyak penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup. Mulai dari hipertensi, diabetes, mag, hingga obesitas.

 “Bijaksanalah dalam memilih menu makanan, membatasi konsumsi gula dan garam,” imbuhnya.

Sarapan pun harus jadi perkara wajib dan perbanyak konsumsi buah dan sayuran. Maka dari sekarang, atur betul-betul menu makanan saat nongkrong. Camilan buah atau makanan kaya serat lebih baik yang dihidangkan saat nongkrong daripada kentang goreng, atau sosis goreng yang kaya lemak.

Tak cuma itu, tak sedikit masyarakat yang resolusinya adalah minim stres dengan pola tidur yang baik. Tak bisa dimungkiri, salah satu penyebab stres paling umum adalah beban kerja. Di Kaltim mayoritas penduduknya bekerja lebih dari 35 jam dalam seminggu. Jauh lebih banyak dibandingkan Belanda yang punya jam kerja 29 jam dalam sehari. Jam kerja yang lama membuat pekerjanya rentan stres. Ketika stres, tak sedikit yang susah tidur dan berakhir dengan pola tidur yang berantakan.

Jika isu kesehatan kerap jadi resolusi, tak terkecuali dengan ekonomi. Resolusi ingin naik gaji, beli kendaraan, atau punya usaha sendiri kerap terdengar dari kawan atau diri kita sendiri. Maka dari itu, sebelum membuat resolusi, harus dipahami, apa ekonomi yang potensial.

Di Kaltim, 56 persen angkatan kerjanya adalah buruh atau karyawan. Kondisi perusahaan akan berimbas pada para pekerja. Pun begitu dengan perusahaan yang banyak bergantung pada kondisi ekonomi. Pada Agustus 2018, data dari BPS Kaltim menunjukkan 21,50 persen pekerja di Bumi Etam bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sektor ini yang paling banyak menyerap tenaga kerja dan potensial dibandingkan industri pertambangan dan penggalian yang hanya diisi 8,94 persen.

Sebelumnya, Akademisi Universitas Mulawarman Adji Sofyan Effendi pun mengatakan, sebaiknya pertambangan bukan jadi tumpuan ekonomi di tahun mendatang. Sebab, kerusakan yang dihasilkan tak sebanding dengan pendapatan. Kontribusi pada APBD pun tak signifikan. Sektor pertanian dan perkebunan non-sawit disebutnya yang potensial. Apalagi, jika ditunjang dengan pengelolaan yang baik. Tentu, bisa menghasilkan produk unggulan daerah.

“Misalnya buah naga itu kan banyak diproduksi petani di kawasan Samboja,” sebutnya.

Namun, selama ini petani masih memasarkan secara tradisional. Ketika panen, buah langsung dijual saja. Maka banyak berjajarlah para penjual di sepanjang jalan Balikpapan-Samarinda, berharap pembeli segera datang agar buah tak keburu membusuk. Padahal, jika diolah lagi, bisa meningkatkan nilai jual buah. Pengolahan juga akan menghindari kerugian akibat buah yang membusuk.

Selain pertanian yang potensial di Kaltim. Kota-kota besar di Kaltim seperti Balikpapan dan Samarinda yang tak punya banyak lahan, bisa memanfaatkan sektor jasa dan perdagangan. Dengan begitu, ekonomi terus menggeliat. Apalagi, dengan maraknya sosial media dan ketergantungan masyarakat terhadap teknologi informasi, tentu bisa menjadi lahan bisnis baru.

Hal ini pun telah diakui Dewan Pembina Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kaltim Firly belum lama ini , bahwa 2019 adalah segala hal yang berbau teknologi informasi. Maka para anak muda yang lebih paham dengan perubahan teknologi informasi, bisa memanfaatkannya. “Hal ini bisa menjadi ceruk pasar yang potensial,” sebutnya. (TimKP)


BACA JUGA

Jumat, 18 Januari 2019 07:52

PILEG RASA PILWALI

Pemain lama yang tak sekali-dua kali duduk di Karang Paci…

Jumat, 18 Januari 2019 07:46

Gagal, Keluarga Bisa Ikut Stres

ALAT peraga kampanye (APK) berdiri di tempat-tempat strategis. Berharap bisa…

Jumat, 18 Januari 2019 07:41

Suara Sah Harus Ditentukan Lebih Dulu

PEMILIHAN legislatif 2019 akan menggunakan metode Sainte Lague dalam menentukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:38

Nelayan Hanya Kaya Lautan

Takkan ada ikan gurih di meja makan, tanpa ada jerih…

Senin, 14 Januari 2019 08:23

Terancam Zonasi Segara

MENGGELUTI profesi nelayan di tengah gempuran pertambangan di Kaltim, bukan…

Senin, 14 Januari 2019 08:07

Nelayan Penjaga Kedaulatan

BERBAGAI persoalan ternyata dihadapi nelayan di Kaltim. Tak hanya persoalan…

Senin, 14 Januari 2019 07:56

Diklaim Bawa Perubahan

NELAYAN sebagai tulang punggung industri perikanan nasional memiliki fungsi penting.…

Jumat, 11 Januari 2019 09:24

Menangkal Kekalahan Durian Lokal

Musim hujan datang. Tiba pula musim durian. Kasar, berduri, kurang…

Jumat, 11 Januari 2019 09:20

Benarkah Durian Memicu Kolesterol Naik?

SELURUH penjuru dunia mengenal durian sebagai raja buah tropis. Namun,…

Jumat, 11 Januari 2019 09:19

Kontroversi Durian di Pesawat, Boleh Bawa, Redam Baunya

PENUMPANG Sriwijaya Air rute Bengkulu–Jakarta sempat heboh. Lantaran pesawat dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*