MANAGED BY:
JUMAT
21 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Rabu, 26 Desember 2018 11:54
Kisah Para Nelayan Pandeglang yang Selamat dari Tsunami
Selembar Penutup Boks Ikan Jadi Penyelamat
Topik selamat dari amukan tsunami Selat Sunda.

PROKAL.CO, Kuatnya terjangan tsunami membuat kapal-kapal pencari ikan itu pecah. Nelayan awak kapal pun berusaha menyelamatkan diri. Mereka berpegangan pada benda apa pun yang mengapung di laut lepas. Bagi mereka, yang terpenting adalah tidak tenggelam dan terbawa arus.

 

JUNEKA SUBAIHUL MUFID, Pandeglang

 

Tatapan wajah Sunara, 25, tampak kosong. Pemuda lajang itu tak banyak bicara sesaat setelah turun dari boncengan sepeda motor. Kasmuni, 55, menyambut anaknya itu dengan begitu gembira. Sebab, sejak kejadian tsunami Sabtu malam (22/12), dia tidak tahu kabar putra ketiganya tersebut.

Nara –sapaan akrab Sunara– yang dicari dan dinanti setelah melaut ke Selat Sunda itu ternyata selamat dari tsunami. Dia menjadi salah seorang anak buah kapal (ABK) Warga Baru yang dinakhodai Sunar. Mereka semua warga Sidamukti, Kecamatan Sukaresmi, Pandeglang.

”Saya selamat karena pegangan fiber,” kata Nara. Selagi bercerita, datang seorang rekan Nara, Topika. Pemuda 25 tahun itu juga selamat bersama Nara dan bisa kembali ke kampung.

Topika lebih tegar bercerita. Dia menuturkan baru saja sampai ke Sukaresmi Minggu sekitar pukul 22.00. Dia mengalami luka robek di tangan kanan, pangkal paha kanan, dan dagu. ”Lukanya tidak boleh dijahit karena sudah menginap semalam,” ungkap Topik, sapaan akrab dia.

Sebelum sampai ke kampung itu, Topik bersama Nara harus menempuh perjalanan darat hingga 14 jam. Mereka berangkat dari Pulau Handeuleum di kawasan cagar alam Ujung Kulon. Menyeberang ke kawasan konservasi itu dan menembus jalan darat. Perjalanan jadi begitu lama karena kondisi jalan yang rusak akibat terjangan tsunami. ”Banyak batu di jalan. Beberapa ruas jalan juga terputus,” tutur Topik.

Di Pulau Handeuleum itulah mereka bertemu dengan petugas penjaga konservasi pada Minggu (23/12) sekitar pukul 06.30. Mereka bisa sampai ke Pulau Handeuleum dengan menggunakan perahu kolek berukuran kecil. Perahu tersebut tidak hanya dinaiki mereka berdua. Tapi, sepuluh orang. Delapan lainnya adalah Tarmidi, Sunar, Tinggal, Masturo, Agus, Niko, Agus Cita, dan Zaenal.

”Kami pulang duluan untuk meminta bantuan warga agar mereka bisa dijemput. Lokasinya di Pulau Handeuleum,” ungkap Topik. Untuk mencapai pulau tersebut, perjalanan laut bisa sampai setengah hari. Itu bila menggunakan kapal berukuran 4 gross tonnage (panjang 15 meter dan lebar 2,5 meter) seperti milik Rasyim. Mereka juga berkoordinasi dengan Basarnas atau petugas polairud setempat untuk penjemputan.

Sepengetahuan Topik, mereka bersepuluh yang selamat dari terjangan tsunami itu. Mereka berasal dari kapal pencari ikan yang berbeda. Sedangkan rekan-rekan mereka yang lain mungkin sedang menyelamatkan diri ke tempat berbeda. ”Ada dua orang yang kemungkinan hilang dan tenggelam. Karena mereka memang tidak bisa berenang. Pak Kumis dan Pak Raswin,” tutur Topik.

Apa yang dilakukan Topik agar bisa lolos dari terjangan tsunami? Sama dengan Nara, dia ternyata juga berpegangan pada fiber. ”Itu lho, tutup boks untuk nyimpan ikan,” kata Topik.

Topik menceritakan, sesaat sebelum tsunami menerjang, dirinya bersama nelayan lain berada di dekat Pos Citelang di kawasan Ujung Kulon. Saat itu mereka tidak tahu ada gelombang tsunami. Mereka tahunya ada ombak tinggi yang tidak biasanya. Lima perahu pun berdekatan. Tujuannya, saling melindungi dari ombak. Lima perahu itu milik Takrudi, Sunar, Wardaya, Aspani, dan Tarmidi.

”Datangnya tsunami seperti kapal (besar yang menerjang). Gluguurr,” ujar Topik yang menirukan suara gelombang tsunami itu. Dari kejauhan terlihat putih seperti kabut atau awan. ”Pik, engkol, Pik,” kata Topik menirukan perintah Tarmidi yang juga kakak iparnya. Dia diminta Tarmidi untuk menyalakan mesin kapal. Namun, mesin kapal itu tak mau segera berfungsi. ”Dari kamar mesin saya keluar. Saat posisi (kami) sudah di atas kapal, langsung digulung ombak,” ungkap Topik.

Kapal Srimakmur berkapasitas 4 gross tonnage yang dinaiki Topik itu diterjang ombak hingga empat kali. Tingginya 5 hingga 7 meter. Semua muatannya semburat. Kapal terguling. Lalu pecah.

Topik beruntung. Dia bisa segera naik ke permukaan dan meraih fiber penutup boks tempat penyimpanan ikan. Beberapa nelayan yang lain meraih barang seadanya untuk membantu tetap mengapung. ”Ada yang pegangan bambu,” jelas dia. Selebihnya, serpihan kayu pecahan kapal ikut menjadi penyelamat nelayan lainnya. Selama beberapa jam, mereka terombang-ambing di laut lepas. Mereka berusaha saling berdekatan agar tidak terbawa arus.

Begitu ombak mereda, Topik lantas mencari teman. Mereka berkumpul sepuluh orang. Padahal, total awak dari lima kapal itu awalnya berjumlah 20–25 orang. Sepuluh orang itu pun berenang menuju Pulau Citelang. ”Jarak daratan itu tinggal 50 meter. Tapi, butuh sekitar satu jam untuk mendekat,” ujar dia. Sebab, arus laut itu bak tarik ulur. Ombak mengarah ke darat, lalu kembali ke laut berulang-ulang. Sehingga tak mudah untuk mencapai darat.

Setelah bersusah payah berenang, sekitar pukul 22.00 mereka pun sampai di daratan pulau tersebut. Dalam kondisi bayah kuyup, mereka berjalan kaki selama sekitar empat jam hingga Cigenter di Ujung Kulon. ”Bermalam di Cigenter, sampai Minggu jam 2 pagi,” tambah dia.

Mereka pun menemukan perahu kecil sepanjang 5 meter. Sepuluh orang itu berdesak-desakan menuju bagang (semacam gubuk untuk berteduh saat mencari ikan teri). ”Karena kedinginan. Banyak buaya juga. Udah, berani saja,” ujar Topik.

Mereka akhirnya sampai di dua bagang. Sepuluh orang tersebut berbagi tempat untuk melewati malam itu. ”Tidurnya sambil duduk. Karena tempatnya kecil sekali,” jelas dia.

Hingga mentari terbit, sepuluh orang itu masih berada di bagang. Mereka baru beranjak dari bagang setelah pemilik perahu kolek datang dan memberikan perahu tersebut. ”Kami pun ke Pulau Handeuleum,” ujar dia.

Dari pulau tersebut, mereka berusaha mencari pertolongan. Tapi, hanya Topik dan Nara yang diminta untuk meminta bantuan warga di kampung. (*/c10/agm)


BACA JUGA

Minggu, 02 Juni 2019 17:39
Kisah Asmuni Membangun Rumah Makan Sukma Rasa

Dari Jualan Keripik, Pernah Jadi TKI, hingga Sukses di Usaha Kuliner

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Asmuni, pemilik Rumah Makan Sukma…

Sabtu, 01 Juni 2019 13:23

Ini Cerita Petualangan Matteo Nanni Bermotor dari Italia ke Indonesia

Dari Italia, Matteo Nani sudah berkendara enam bulan hingga sampai…

Selasa, 28 Mei 2019 14:57
Dari Mengaji Mereka Mengharumkan Nama Kaltim di Tingkat Dunia: Syahroni (2)

Gelar Juara Diakui Tak Lepas dari Hobi Nyanyi

Ramadan tahun ini, sangat lengkap bagi Syahroni. Ustaz perantauan asal…

Senin, 27 Mei 2019 15:46
Mahmud ”Hypegrandy”, Kakek Gaul Penggemar Gaya Hypebeast yang Viral

Dandanan Boleh Kekinian, tapi Hobi Tetap Ternak Burung

Kemeja, celana bahan, dan sepatu pantofel tampaknya sudah so yesterday…

Minggu, 26 Mei 2019 13:31
Mencicipi Pengalaman Ramadan di Oxford (2–Habis)

Gelar Kajian Quran Sebelum Berbuka Puasa

SEPERTI umumnya kegiatan muslim di berbagai negara, kami juga menjalani…

Kamis, 23 Mei 2019 11:24
Bilkis Bano, Tunggu Keadilan Selama 17 Tahun

Dapat Rumah, Pekerjaan, Kompensasi Miliaran

Kerusuhan di Gujarat, India, 2002 lalu telah merenggut kehormatan dan…

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*