MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Senin, 10 Desember 2018 08:25
Liga dengan Atraksinya

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

HILANGLAH Medan. Muncul Sleman. Hilanglah Palembang. Muncul lagi Padang. Itulah hasil kompetisi sepak bola kasta tertinggi kita. Liga 1. Selama setahun. Yang berakhir tadi malam.

Tentu sayang sekali. PSMS Medan harus harus turun kasta. Sebenarnya saya berdoa agar Medan bertahan. Tapi kalah 1-5 atas PSM Makassar. Kemarin sore. Tidak ada gunanya Persebaya kalah 0-4 di Medan. Minggu lalu.

Sayang juga. Palembang turun takhta. Begitu baik prestasi Sriwijaya FC pada awal musim. Tapi begitu buruk pada paruh kedua. Penyebabnya jelas: pemilihan kepala daerah (pilkada). Pendukung dana utama Sriwijaya FC gagal terpilih sebagai gubernur Sumsel.

Pemain-pemain terbaiknya dijual. Salah satu pembeli utamanya Arema, Malang. Aremalah yang mengalahkan Sriwijaya FC. Kemarin sore. Dengan skor 1-2. Menyebabkan Palembang turun takhta.

Saya mencatat begitu banyak kemajuan di sepak bola kita. Kompetisi Liga 1 tahun ini relatif lancar. Jumlah penonton meningkat drastis. Setidaknya di klub-klub favorit. Persebaya, Bandung, Makassar, Semarang. Bahkan Persija. Lihatlah pertandingan tadi malam. Gelora Bung Karno penuh: 90 ribu orang. Memang tadi malam menentukan. Tapi pertandingan sebelumnya juga begitu.

Jumlah penonton terbanyak memang masih dipegang Bonek. Total 500 ribu orang. Nyaris. Tapi bisa saja peta berubah musim depan. Yang konon baru dimulai lagi April. Saya tidak perlu mengulangi. Kompetisi musim ini memang seru. Sampai menjelang pertandingan terakhir pun belum diketahui siapa juaranya. Persaingan di papan atas begitu sengitnya: antara Persija dan PSM. Persaingan di papan bawah begitu menegangkan: siapa tiga klub yang harus turun takhta.

Persib sebenarnya kandidat juara. Sebelum ada kasus kematian suporter Persija. Di Bandung. Yang menyebabkan Persib terkena sanksi berat. Tidak boleh bermain di kandang. Sampai akhir musim. Itulah yang justru membuahkan Persija juara. Dengan pengorbanan salah seorang suporternya.

Musim ini sanksi diberikan dengan sangat tegas dan berat. Persebaya, misalnya, begitu sering didenda. Akibat Bonek melakukan pelanggaran. Misalnya menyalakan flare. Atau meneriakkan kata-kata yang dilarang.

Pernah Bonek mencoba ini: memasang spanduk besar dengan tulisan huruf Jawa. Maksudnya agar petugas dari Jakarta tidak bisa membaca isinya: pelungker-pelungker. Eh, kena denda juga. Rupanya ada yang bisa membaca huruf Jawa. Kabarnya Persebaya terkena denda Rp 1,2 miliar. Selama satu musim ini. Persib mungkin lebih besar lagi.

Yang juga harus dipuji adalah Indosiar. Yang mau menyiarkan langsung. Sampai mengorbankan acara populernya: Dangdut Academy. Peran siaran langsung itu besar: dalam mengontrol kejujuran wasit. Saya tidak berani memastikan urusan sogok-menyogok sudah tidak ada. Tapi saya bisa memastikan pasti turun drastis. Dengan siaran langsung itu seluruh masyarakat bisa ikut menilai. Indosiar telah ikut mengatasi problem mendasar sepak bola kita.

Sikap wasit kita juga banyak majunya. Sudah lebih banyak senyum. Menghadapi protes pemain. Seberingas apapun. Mengacungkan kartu kuning pun sudah sambil senyum. Sudah mirip wasit di liga Eropa.

Dulu, wasit sepak bola kita galak. Wajahnya seperti pemarah. Kalau memberi kartu kuning sikapnya seperti menghukum. Akibatnya: menambah ketegangan permainan. Akhirnya agak sulit menyalahkan Medan. Yang harus kembali  turun takhta ke Liga 2. Waktu naik takhta tahun lalu waktunya mepet. Ibaratnya: minggu ini keputusan naik takhta, dua minggu lagi laga Liga 1 dimulai. Tidak sempat cari pemain. Tidak cukup waktu cari uang.

Itu pula problem Persebaya. Yang baru naik takhta bersamaan dengan Medan. Sulit cari pemain baru. Pemain baik sudah terikat kontrak semua. Karena itu Azrul Ananda, presidennya, tidak menargetkan juara. Hanya cukup papan tengah. Hasilnya, ternyata papan atas. Ranking lima. Meski sempat hampir terdegradasi juga.

Selamat datang Sleman. Anda tidak akan senasib Persebaya, PSIS atau PSMS. Anda punya waktu cukup untuk cari pemain berkualitas. Empat bulan lagi kompetisi baru dimulai. Demikian juga dua pendatang baru: Kalteng Putra dan Semen Padang.

Yang juga kemajuan: siaran langsung tidak mengurangi jumlah penonton di stadion. Saya masih ingat dulu: sedih sekali. Kalau pertandingan Persebaya disiarkan di televisi secara langsung. Sedikit sekali yang mau datang ke stadion.

Stadion kini sudah berubah menjadi teater. Begitu banyak lagu suporter. Begitu banyak spanduk. Dengan bunyi menghibur. Begitu banyak bendera. Raksasa ukurannya. Atraktif kibarannya.

Di kalangan Bonek muncul pula atraksi-atraksi tiga dimensi. Banyak juga lagu-lagu yang cara menyanyikannya sahut-sahutan. Antara tribune selatan, utara, timur dan barat. Saya begitu suka lagu “rek aku teko rek” itu. Di samping lagu “song for pride”.

Dalam pertandingan penutupan dua hari lalu bahkan ada hujan salju. Di Stadion Bung Tomo Surabaya. Menjelang babak dua dimulai. Di tribune selatan. Saya telat memvideokannya. Benar-benar seperti salju sedang turun. Rupanya seluruh penonton melemparkan tisu panjang. Dari atas. Dalam jumlah masif. Bersamaan.

Stadion sudah seperti Fifth Avenue di New York. Atau Time Square. Orang pengin nonton orang. Bukan hanya ingin nonton sepak bola. Itu yang tidak bisa dinikmati dalam siaran langsung di televisi.

Saya begitu gembira. Sepak bola sudah lebih banyak ditonton. Sudah lebih banyak untuk mengekspresikan eksistensi. Semoga bukan sekadar karena sudah bosan politik. Atau karena lagi sumpek ekonomi. (rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 18 Oktober 2012 10:30

PKL Eks Citra Niaga “Digantung”

<div style="text-align: justify;"> <strong>SAMARINDA</strong> &ndash;…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*