MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Senin, 10 Desember 2018 06:56
Potensi Kawasan Karst Kaltim

PROKAL.CO, Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi

(Pemerhati Lingkungan)

KAWASAN karst di Indonesia memiliki luas sekitar 15,4 juta hektare (ha) dan tersebar hampir di seluruh Indonesia. Sementara Karst Sangkulirang Mangkalihat di Kaltim memiliki luas 3.642.860 ha atau terbesar di Pulau Kalimantan. Luasan terbesar berupa hamparan karst yang terletak di Berau dan Kutim dengan luasan mencapai 2.145.301 ha atau sekitar 59 persen dari luasan karst di Kaltim. 

Selain di Biduk-Biduk masih ada satu kawasan karst di Berau, yaitu di Desa Merabu Kecamatan Kelay. Perkiraan luas kawasan karst di Merabu sekitar 10.000-11.000 ha. Kawasan karst tersebut saat ini menjadi objek wisata yang mendunia.

Kawasan karst secara luas diartikan bentuk bentang alam khas yang terjadi akibat proses pelarutan pada suatu kawasan batuan karbonat atau batuan mudah terlarut (umumnya formasi batu gamping) sehingga menghasilkan berbagai bentuk permukaan bumi yang unik dan menarik dengan ciri-ciri khas exokarst (di atas permukaan) dan indokarst (di bawah permukaan). Ini merupakan kawasan yang mudah rusak karena batuan dasarnya mudah larut sehingga mudah sekali terbentuk goa bawah tanah dari celah dan retakan.

Keanekaragaman hayati yang ditawarkan kawasan karst sangat kaya. Tempat ini dihuni oleh hewan endemik seperti orangutan dan beberapa fauna endemik lainnya. Beragamnya flora seperti jamur mata sapi, anggrek hitam, anggrek kuping gajah, kantong semar, cemara gunung yang memiliki akar seperti pohon bakau, dan beragam jenis lumut.

Manfaat Karst bagi Kehidupan

Kawasan karst sangat besar manfaatnya bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup di sekitarnya. Di antaranya sebagai sumber cadangan air terbaik. Diperkirakan 1 meter kubik karst mampu menampung 200 liter air. Lapisan epikarst memungkinkan adanya waktu tunda sehingga mampu menyimpan dan mengalirkan air sampai pada mata air dan sungai bawah tanah pada musim kemarau. Kondisi ini menyebabkan kawasan karst menjadi salah satu tandon air besar di bumi.

Karst juga sebagai rumah pengendali hama. Hewan-hewan pengendali hama juga menjadikan gua-gua yang ada di kawasan karst sebagai surga kehidupan mereka. Kelelawar pemakan serangga misalnya, hewan ini disebut sebagai salah satu predator alami hama pertanian. Dalam berbagai literatur disebutkan setiap jam kelelawar mampu memakan tidak kurang dari 6.000 nyamuk.

Tidak hanya berfungsi menjadi predator hama, kelelawar juga berperan penting dalam penyerbukan buah. Jika populasi kelelawar menyusut atau punah, maka buah-buahan yang penyerbukannya tergantung pada kelelawar akan ikut menyusut atau bahkan punah. 

Selain itu, kawasan karst juga bermanfaat sebagai regulator iklim. Konteksnya dengan karbon. Karst berperan dalam hal mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan CO2. Resevoir karbon terbesar di bumi tersimpan dalam bentuk batuan karbonat/batu gamping (CaCO3) dan dolomit (MgCO3) di daratan batuan itu membentuk ekosistem karst.

Potensi Kawasan karst ini merupakan penghasil jutaan liter air untuk menghidupi flora, fauna dan masyarakat setempat. Fungsi kawasan karst sebagai penyerap air hujan dan menjadi sumber mata air untuk kehidupan sehari-hari dan menjadi sumber air di sejumlah sungai utama. Hal ini menunjukkan kawasan karst berperan besar terhadap sumber mata air baku.

Kawasan karst Kaltimsendiri merupakan area dengan lithologi dari bahan induk kapu. Sebagian besar kawasan karst terdapat di semenanjung Sangkulirang, memanjang sampai ke Tanjung Mangkaliat dengan luas keseluruhan yaitu 432.817 Ha dan yang masih baik seluas 293.747,84 Ha (67,86 persen dari luasan ekosistem karst).

Jangan Rusak Kawasan Karst

Tim ahli dari Kelompok Studi Karst Fakultas Geografi UGM merekomendasikan hanya 1.435 ha di kawasan ekosistem karst Sangkulirang Mangkalihat yang boleh dimanfaatkan untuk industri semen. Menurut Ketua Tim, Dr Eko Haryono, luasan tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan Kaltim dan ekspor.

Mereka sudah menghitung dan mengkaji ada batuan gamping yang tidak termasuk sebagai karst yang bisa dimanfaatkan untuk bahan baku semen. Luasan 1.435 ha itu bisa untuk memenuhi kebutuhan hingga 100 tahun ke depan.

Kita selalu bangga, bahwasanya Kaltim merupakan daerah kaya dengan SDA. Namun seolah-olah kita telah meninabobokan diri kita dengan slogan tersebut. Terkadang kita tidak sadar bahwa SDA kita sedang di-ecocide (penghancuran lingkungan secara luas, sehingga hubungan antara alam dan manusia terputus) oleh kaum kapitalis.

Kapitalisme memandang alam sebagai sumber daya yang harus diserap sebesar-besarnya untuk akumulasi modal. Bagi kapitalis alam adalah modal. Dalam prinsip ekonomi, modal harus dipergunakan untuk menangguk laba sebesar-besarnya. Sehingga yang terjadi mereka mengambil kekayaan alam hingga merusaknya ke dalam lapisan inti bumi tanpa memikirkan kehidupan di masa mendatang serta dampak-dampak yang akan terjadi.

Sehingga wajar, kita patut waspada terhadap bisnis batu gamping untuk pabrik semen ini. Jangan sampai demi kepentingan pengusaha, rakyat menjadi korban akibat kerusakan alam yang akan ditimbulkan. Jika karst tidak dikelola dengan tepat maka akan membahayakan manusia dan makhluk hidup disekitarnya.

Pengelolaan Karst Harus Tepat

Islam hadir tidak hanya sebagai agama tapi juga sebagai sistem kehidupan yang mampu memecahkan seluruh problematika kehidupan termasuk dalam pengelolaan kekayaan alam. Islam memerintahkan bahwa dalam pengelolaan sumber daya alam itu harus berkelanjutan dan bermanfaat bagi kehidupan.

Sebagai manusia, sudah seharusnya menyadari pentingnya menjaga keseimbangan alam ini demi keberlangsungan hidup bagi seluruh makhluk. Jika dalam alquran dilarang melakukan kerusakan alam, maka dalam implementasi ekonomi Islam hal tersebut juga tidak diperbolehkan. Sebab bertolak belakang dengan syariat. Sehingga harus memperhatikan aturan sesuai syariat Islam.

Salah satu dari tujuan dibentuknya syariat adalah untuk menegakkan kemaslahatan dan mencegah timbulnya kerusakan dan ketidakadilan. Maka dalam persoalan eksploitasi SDA harus mengadopsi syariat Islam. Termasuk pengelolaan kawasan karst ini.

Dalam Islam kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum yang wajib dikelola oleh penguasa dan hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat. Sebaliknya haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu/swasta. Dalam Islam penguasa mengambil kekayaan alam, tidak berdasarkan keserakahan karena ingin mendapatkan keuntungan yang besar tanpa mengindahkan makhluk lain yang hidup berdampingan bersama manusia.

Namun hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Tidak lebih dari itu. Jika pengambilan kekayaan alam tersebut menimbulkan bahaya bagi kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya, maka ini akan dipertimbangkan oleh penguasa. Wallahua'lam bishowab. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 13 Maret 2019 10:40

Mereka Anggap Monster Itu Bernama Prabowo

Oleh : Hersubeno Arief Mereka ingin memutarbalik arus besar perubahan…

Minggu, 03 Maret 2019 11:34

Keadilan untuk Pak Sopir

Oleh: Bambang Iswanto, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda…

Minggu, 03 Maret 2019 11:21

Memilih (Ke) Pemimpin (An) dengan Iman

Oleh : Dewi Sartika, SE., MM*   Perhelatan akbar sebentar…

Sabtu, 09 Februari 2019 12:49

Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhamad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda)  Judul ini diangkat dari…

Sabtu, 09 Februari 2019 10:47

Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Oleh: Ramon Damora Wartawan Indonesia KETUA Dewan Pers, Yosep Adi…

Selasa, 05 Februari 2019 10:18

Posisi Ketua Adat dalam Acara Pemerintah

PERINGATAN ulang tahun ke-59 Kabupaten Paser berjalan dengan sukses, meski…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*