MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KALTIM

Sabtu, 08 Desember 2018 10:57
CPO Harusnya Dikembangkan Bareng Biodisel
PERKEBUNAN: Sudirman (pegang sekop) dari KLHK turut menanam aren di Desa Manunggal Daya, Kecamatan Sebulu, beberapa hari lalu.

PROKAL.CO, TENGGARONG–Potensi budi daya aren kembali menggema. Wacana sekitar empat tahun lalu untuk program gerakan menanam 10.000 hektare aren, akhirnya terwujud. Program itu dialokasikan di Desa Manunggal Daya, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kukar. Kamis (6/12) dimulai penanaman.

Program tersebut bertujuan mendukung pengembangan energi baru terbarukan (EBT). “Memang terkadang program tak dikaji mendalam, namun saya apresiasi ada pemikiran mendalam untuk aren,” kata Dekan Fakultas Kehutanan Rudianto Amirta, dua hari lalu.

Dosen lulusan S-3 Universitas Kyoto Jepang itu menjelaskan, proses produksi aren terbilang mudah. Ketika aren dipanen, bisa jadi gula merah yang dihasilkan dari nira. Selain itu, cukup difermentasi dengan ringan jadilah alkohol. Belum lagi, biji buah aren jadi kolangkaling.

“Awalnya nira dipekatkan lalu evaporasi (penguapan). Kandungan air dikeluarkan dapat alkohol dengan kadar tinggi yang digunakan untuk bahan bakar,” ujarnya.

Sebelum program aren ini, singkong dikukus lalu ditambah enzim lalu difermentasi jadilah alkohol. Persepsinya sama. Namun, pertanyaannya program ini dari sektor Kementerian Kehutanan Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), sementara singkong (pertanian). “Nah, sektor kehutanan ini ingin mengembangkan yang bisa jadi alkohol. Ya, salah satunya aren ini,” tuturnya.

Sebenarnya, kata dia, dari sisi aren ada yang lebih mahal pemanfaatannya. Yakni, gula merah (gula aren) dari konsumsi harga lebih tinggi. Ketika panen tanpa proses fermentasi masyarakat sudah banyak mengenal produksi gula aren itu yang bisa jadi uang.

Harapan sektor kehutanan, aren yang ditanam secara luas agar pohon aren banyak berkembang. Namun, salah satu contoh di Unmul yang ditanam almarhum Maman Sutisna, guru besar sosial ekonomi kehutanan, entah karena menanam jenis aren yang kurang baik sehingga tak berproduksi dengan maksimal. “Aren itu sama seperti sawit. Kalau jenisnya tidak bagus, produksinya juga tak baik,” ujarnya.

Mengenai perawatan aren butuh ketelatenan. Di berbagai tempat berhasil menanam aren dan meningkatkan perekonomian masyarakat. Cuma yang jadi masalah saat ini di Kaltim, yakni crude palm oil (CPO). “Empat tahun lalu, saat booming CPO Kaltim, saya bilang harus berbarengan mengembangkan biodiesel. Terbukti saat ini CPO tak ada nilainya. Petani sawit menjerit,” ujarnya.

Harga TBS kelapa sawit saat ini sangat rendah, yaitu Rp 450 per kilogram. Proses produksi biodiesel CPO diubah jadi katalis basa. Lalu metanol diubah jadi disel. Saat ini dunia industri minerba wajib pakai biodiesel, namun tak ada pasokan lokal yang produksi. “Di Kukar dan Kutim banyak tambang raksasa, untuk mobil saja sudah jutaan ribu kiloliter bahan bakarnya. Namun tak ada biodiesel lokal, akhirnya pakai biodiesel dari luar,” jelasnya.

Karena itu, menurut dia, jika Kaltim bisa produksi biodiesel lengkap sektor EBT. Harga TBS pun bisa dibeli Rp 1.500 per kilogram asalkan harga biodiesel industri Rp 9.800-10.000 per liter. “Aren jadi alkohol, Kaltim punya. CPO jadi biodiesel, cangkang sawit atau kayu jadi bioenergi listrik. Lengkap kan,” ujarnya.

Hasil kajian beberapa tahun lalu, investasi pabrik biodiesel cukup Rp 5 miliar sudah bisa produksi. “Tinggal skala produksinya saja jika ingin pabrik besar, investasi Rp 10–20 miliar. Nah, pemerintah perlu mengkaji ini dengan bermitra dengan perusahaan,” ujar Rudianto.

Sekjen KLHK diwakilkan Sudirman (kapus kebijakan strategis) mengatakan, pemerintah mulai menggeser bahan bakar fosil ke bahan bakar EBT. “EBT yang ada saat ini sebanyak 25 macam. Tapi ini belum dioptimalkan atau dimanfaatkan kepada investor. Untuk program aren, kami bikin program pasti ada datanya,” tutur dia. (adw/kri/k8)

 

loading...

BACA JUGA

Rabu, 16 Januari 2019 10:35

Kebut Bayar Utang lewat Satgas

SANGATTA–Utang kepada pihak ketiga menjadi persoalan yang berlarut-larut dihadapi Pemkab…

Rabu, 16 Januari 2019 10:27

INGAT BRO..!! Medsos Kerap Jadi Pemicu Perceraian

TANA PASER–Bahtera rumah tangga yang dibangun pasangan suami-istri, ternyata tidak…

Selasa, 15 Januari 2019 10:29

Kantor Disegel Warga, Upacara di Jalan

SANGATTA–Akibat lahan Kantor Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kutim…

Selasa, 15 Januari 2019 10:27

Bangun Pasar Kering di Maratua

TANJUNG REDEB–Keindahan Pulau Maratua sebagai salah satu destinasi wisata di…

Selasa, 15 Januari 2019 08:05

Inginkan Masalah Kemitraan Sawit Segera Rampung

TANA PASER – Gabungan komisi DPRD Paser yang dipimpin Ketua…

Selasa, 15 Januari 2019 08:02

THL Diskes Positif Narkoba Lagi

PENAJAM - Kontrak satu tenaga harian lepas (THL) di Dinas…

Selasa, 15 Januari 2019 07:44

Dua Kampung Tanpa Listrik

BONTANG – Era modern, listrik merupakan kebutuhan  vital warga. Karena…

Selasa, 15 Januari 2019 07:35

PLN Butuh Surat Rekomendasi

BERDASARKAN keputusan rapat dengar pendapat tersebut, Unit Layanan Pelanggan (ULP)…

Selasa, 15 Januari 2019 07:35

Curi Motor demi Sabu

BONTANG - Kecanduan narkotika jenis sabu, membuat Ramli alias Combet…

Senin, 14 Januari 2019 10:20

Bawa Senpi Rakitan Peluru Tajam, Gini Dah Jadinya...

SANGATTA – Seorang wargaKecamatan Sangatta Utara, KabupatenKutai Timur (Kutim)diamankanpolisi,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*