MANAGED BY:
RABU
17 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN
Jumat, 07 Desember 2018 07:06
Karya Indie dengan Pesona Klasik

PROKAL.CO, Monster Boy and the Cursed Kingdom

Genre: Action

Mesin: PS4, Xbox One, dan Switch

Produksi: FDG Entertainment

Rilis: 4 Desember 2018

KINI game dalam bentuk fisik makin tergeser oleh game digital. Efeknya, biaya produksi bisa sangat ditekan. Makin banyak perusahaan yang mampu membuat video game. Para bakat baru yang kreatif pun unjuk gigi menjajal pasar masing-masing.

Dalam kreativitas tersebut, para produsen indie tidak terpaku pada konsep permainan yang realistis ala kebanyakan game zaman sekarang. Konsep game klasik seperti grafis 2D dan alur cerita dengan pasar semua umur ternyata cukup menjual. Sebab, game semacam itu tidak hanya memikat para pemain belia, tapi juga menarik bagi para veteran yang rata-rata mapan secara finansial. Salah satu yang paling laris adalah serial Shantae buatan WayForward dan Inti Creates. Kesuksesan tersebut mendorong makin banyak produsen lain yang muncul. Game Atelier dan FDG Entertainment, misalnya, hari ini merilis Monster Boy and the Cursed Kingdom. Bagi para veteran, game itu mengingatkan pada serial legendaris Wonder Boy yang kali pertama muncul pada 1986.

Sega dulu menghadirkan Wonder Boy seri pertama untuk mesin arcade. Mereka bekerja sama dengan tim pengembang bernama Escape yang sekarang ganti nama menjadi Westone Bit. Uniknya, Escape mempunyai hak atas konsep permainan. Sega memiliki merek Wonder Boy. Escape boleh bekerja sama dengan perusahaan lain untuk membikin game serupa dengan judul berbeda. Akibatnya, timbul pengembangan yang agak rumit bagi serial Wonder Boy yang dijelaskan di bagian lain halaman ini.

Serial Wonder Boy sudah dua kali dibuat ulang. Masing-masing menggunakan teknologi grafis terbaru yang untungnya tetap mempertahankan gaya permainan 2D. Karakternya pun tetap kartunal yang kali ini digambarkan jauh lebih mendetail. Monster Boy and the Cursed Kingdom adalah seri baru yang bukan pembuatan ulang.

Konsep permainan game itu serupa dengan seri Monster World II: Dragon no Wana (Amerika: Wonder Boy III: Dragon’s Trap). Tokoh protagonisnya adalah remaja bernama Jin. Seiring dengan jalannya permainan, dia bisa berubah menjadi enam wujud berbeda. Setiap wujud punya kemampuan khusus yang memungkinkan menjangkau tempat-tempat baru. Misalnya, ular yang mampu memanjat atau katak yang bisa berayun dengan lidah panjangnya.

Proyek tersebut berawal dari pengembang Game Atelier yang lumayan sukses dengan karya berjudul Flying Hamster. Mereka ikut program Kickstarter untuk membiayai sekuel game tersebut. FDG Entertainment mendekati mereka untuk bekerja sama. Namun, konsep Flying Hamster II harus dirombak menjadi game baru yang merupakan bagian dari serial Wonder Boy. FDG Entertainment mendatangkan Ryuichi Nishizawa, pencipta serial Wonder Boy, untuk menuntun Game Atelier. Mudah dipahami karena kebanyakan di antara mereka bahkan belum lahir ketika Wonder Boy berjaya.

Belum tertarik dengan Monster Boy and the Cursed Kingdom? Game itu didukung sejumlah komposer. Sebut saja Yuzo Koshiro, tetua yang menggubah musik serial Ys dan Bare Knuckle (Amerika: Streets of Rage). Ada Motoi Sakuraba yang menggarap musik lebih dari separo seri-seri Tales. Lalu, ada Michiru Yamane yang deretan komposisinya dalam serial Akumajou Dracula (Amerika: Castlevania) dianggap salah satu puncak musik video game. (c14/ray)


BACA JUGA

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*