MANAGED BY:
SELASA
19 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 07 Desember 2018 06:55
Guru Honorer Dulu dan Kini

PROKAL.CO, Oleh: Isromiyah SH

(Pemerhati Generasi dan Mengajar di Lembaga Al Mustannir Balikpapan)

“SESEORANG yang berilmu dan kemudian mengamalkan ilmunya itu dialah yang disebut dengan orang besar di semua kerajaan langit. Dia bagaikan matahari yang menerangi alam sedangkan ia mempunyai cahaya dalam dirinya seperti minyak kasturi yang mengharumi orang lain karena ia harum. Seorang yang menyibukkan dirinya dalam mengajar berarti dia telah memilih pekerjaan terhormat”.

Kalimat tersebut bisa disematkan dalam diri seorang guru. Tanpa melihat dia aparatur sipil negara (ASN) atau bukan. Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada guru, hingga menempatkan kedudukannya setingkat di bawah kedudukan nabi dan Rasul.

Al-Ghazali bahkan mengatakan pada satu sisi pendidik mempunyai jasa lebih dibandingkan kedua orangtuanya. Kedua orangtua menyelamatkan anaknya dari godaan dunia, sedangkan pendidik menyelamatkan dari sengatan api neraka.

Guru adalah orang yang memikul tanggung jawab membimbing, pemberi arah dalam pendidikan, pendidik, motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar. Sebagaimana yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada Hari Guru. “Guru adalah pembangkit inspirasi, memberikan ilmu kepada kita".

Sayang, tema Hari Guru Nasional “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21” tahun ini tak sejalan dengan realita. Para guru dituntut untuk profesionalisme sementara guru honorer yang mengabdi selama bertahun-tahun masih memperjuangkan nasibnya sendiri untuk masa depan yang makin tidak memihak, terutama guru honorer kategori 2 (K2).

Cita-cita untuk menjadi aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) bakal pupus karena batasan usia. Guru-guru yang berusia maksimal 35 tahun mungkin harus rela tak menjadi PNS seumur hidup. Karena bagi guru honorer yang terkendala PP Nomor 11/2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil.

Pemerintah dengan solusi sekuler mengusulkan untuk menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K). Bagi yang belum terpenuhi juga diusulkan untuk menjadi guru tidak tetap (GTT) dengan pendapatan setara upah minimum regional (UMR) di masing-masing daerah. Solusi agar tidak membebani APBD?

Tercatat, dari total 438.590 data K2 di Badan kepegawaian Nasional (BKN) pusat, hanya 13.347 orang yang memenuhi syarat untuk mendaftar. Pemerintah pun memberi perlakuan sama kepada mereka yang belum pernah mengabdi dan sudah pernah mengabdi. Dengan batasan usia tersebut, guru-guru yang telah mengabdi 12 tahun atau lebih otomatis tidak punya hak lagi menjadi PNS. Padahal selama ini mereka telah menjadi tulang punggung pendidikan Indonesia dengan bayaran murah.

Mehdi Nakosteen dalam bukunya “Kontribusi Islam atas Intelektual Dunia Barat”, mencatat bahwa guru dalam pendidikan muslim begitu dihormati. Para pelajar muslim mempunyai perhatian besar terhadap gurunya. Bahkan, sering kali lebih suka hubungan intelektual secara langsung dengan gurunya daripada dengan tulisan-tulisan mereka.

Pada zaman Mataram Islam, jika ada anak berusia tujuh tahun belum bisa membaca Alquran, mereka akan malu karena akan jadi bahan olokan. Para orangtua pada masa itu pun berkontribusi dalam pembiayaan pendidikan.

Sementara pada masa Kerajaan Kartasura, ada pesantren-pesantren yang oleh kerajaan diberi sawah dan tempat tinggal sebagai hak turun-temurun dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Jika di masa lalu guru begitu dihormati masyarakat dan penguasa, seharusnya guru saat ini tidak ada bedanya.

Masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi para generasi akan berupaya untuk menghadirkan guru atau pengajar. Kesejahteraan guru akan dijamin agar apa yang mereka sampaikan kepada generasi benar-benar mampu diserap tanpa menyibukkan guru dengan masalah lain. Dan akan lebih baik lagi bila didukung penguasa dengan memberikan aturan-aturan yang tidak memberatkan kedudukan guru.                

Seorang panglima seperti Shalahuddin al-Ayyubi menggaji 40 dinar setiap bulan kepada Syekh Najmuddin Al Khabusyani yang menjadi guru di Madrasah al Shalahiyyah, dan 10 dinar untuk mengawasi wakaf madrasah. Di samping itu setiap hari beliau mendapat 60 liter roti dan air minum segar dari Sungai Nil. Wallahu A’lam. (ndu/k15)


BACA JUGA

Sabtu, 09 Februari 2019 12:49

Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhamad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda)  Judul ini diangkat dari…

Sabtu, 09 Februari 2019 10:47

Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Oleh: Ramon Damora Wartawan Indonesia KETUA Dewan Pers, Yosep Adi…

Selasa, 05 Februari 2019 10:18

Posisi Ketua Adat dalam Acara Pemerintah

PERINGATAN ulang tahun ke-59 Kabupaten Paser berjalan dengan sukses, meski…

Rabu, 30 Januari 2019 07:24

Guru Ideal dan Revolusioner

Oleh: Heni Susilowati MPd (Guru SMA 1 Long Kali, Paser)…

Selasa, 29 Januari 2019 07:10

Bandara APT Pranoto: Harapan dan Tantangan Pariwisata Samarinda

OLEH: ADI PURBONDARU (Analis KPw BI Kaltim) SAMARINDA yang memiliki…

Senin, 28 Januari 2019 07:00

Urgensi Elektronifikasi Transaksi Keuangan Pemerintah Daerah

OLEH: CHRISTIAN (Analis Ekonomi KPw-BI Kaltim) BANK Indonesia sebagai otoritas…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:06

Perempuan Utusan Jiwa: Jelajah Intelektual Schimmel

SEBUAH buku dongeng terbitan 1872 menjadi titik tolak perjalanan panjang…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:04

Kandidat Politisi Beradu Kualitas atau Isi Tas

LAYAKNYA  sebuah pesta, sudut-sudut kota semakin mendekati hari H kian…

Kamis, 24 Januari 2019 08:02

Mau Tahu Tender Pemerintah 2019?

Oleh: Naryono SKom MM (Plt Kepala UPT LPSE Dinas Komunikasi…

Kamis, 24 Januari 2019 08:00

Junjung Tinggi Demokrasi Tanpa Menebar Kebencian

Oleh: Sugeng Susilo SH (Staf Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*