MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 07 Desember 2018 06:55
Guru Honorer Dulu dan Kini

PROKAL.CO, Oleh: Isromiyah SH

(Pemerhati Generasi dan Mengajar di Lembaga Al Mustannir Balikpapan)

“SESEORANG yang berilmu dan kemudian mengamalkan ilmunya itu dialah yang disebut dengan orang besar di semua kerajaan langit. Dia bagaikan matahari yang menerangi alam sedangkan ia mempunyai cahaya dalam dirinya seperti minyak kasturi yang mengharumi orang lain karena ia harum. Seorang yang menyibukkan dirinya dalam mengajar berarti dia telah memilih pekerjaan terhormat”.

Kalimat tersebut bisa disematkan dalam diri seorang guru. Tanpa melihat dia aparatur sipil negara (ASN) atau bukan. Islam memberikan penghargaan yang sangat tinggi kepada guru, hingga menempatkan kedudukannya setingkat di bawah kedudukan nabi dan Rasul.

Al-Ghazali bahkan mengatakan pada satu sisi pendidik mempunyai jasa lebih dibandingkan kedua orangtuanya. Kedua orangtua menyelamatkan anaknya dari godaan dunia, sedangkan pendidik menyelamatkan dari sengatan api neraka.

Guru adalah orang yang memikul tanggung jawab membimbing, pemberi arah dalam pendidikan, pendidik, motivator dan fasilitator dalam proses belajar mengajar. Sebagaimana yang disampaikan Presiden Joko Widodo pada Hari Guru. “Guru adalah pembangkit inspirasi, memberikan ilmu kepada kita".

Sayang, tema Hari Guru Nasional “Meningkatkan Profesionalisme Guru Menuju Pendidikan Abad 21” tahun ini tak sejalan dengan realita. Para guru dituntut untuk profesionalisme sementara guru honorer yang mengabdi selama bertahun-tahun masih memperjuangkan nasibnya sendiri untuk masa depan yang makin tidak memihak, terutama guru honorer kategori 2 (K2).

Cita-cita untuk menjadi aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) bakal pupus karena batasan usia. Guru-guru yang berusia maksimal 35 tahun mungkin harus rela tak menjadi PNS seumur hidup. Karena bagi guru honorer yang terkendala PP Nomor 11/2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil.

Pemerintah dengan solusi sekuler mengusulkan untuk menjadi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K). Bagi yang belum terpenuhi juga diusulkan untuk menjadi guru tidak tetap (GTT) dengan pendapatan setara upah minimum regional (UMR) di masing-masing daerah. Solusi agar tidak membebani APBD?

Tercatat, dari total 438.590 data K2 di Badan kepegawaian Nasional (BKN) pusat, hanya 13.347 orang yang memenuhi syarat untuk mendaftar. Pemerintah pun memberi perlakuan sama kepada mereka yang belum pernah mengabdi dan sudah pernah mengabdi. Dengan batasan usia tersebut, guru-guru yang telah mengabdi 12 tahun atau lebih otomatis tidak punya hak lagi menjadi PNS. Padahal selama ini mereka telah menjadi tulang punggung pendidikan Indonesia dengan bayaran murah.

Mehdi Nakosteen dalam bukunya “Kontribusi Islam atas Intelektual Dunia Barat”, mencatat bahwa guru dalam pendidikan muslim begitu dihormati. Para pelajar muslim mempunyai perhatian besar terhadap gurunya. Bahkan, sering kali lebih suka hubungan intelektual secara langsung dengan gurunya daripada dengan tulisan-tulisan mereka.

Pada zaman Mataram Islam, jika ada anak berusia tujuh tahun belum bisa membaca Alquran, mereka akan malu karena akan jadi bahan olokan. Para orangtua pada masa itu pun berkontribusi dalam pembiayaan pendidikan.

Sementara pada masa Kerajaan Kartasura, ada pesantren-pesantren yang oleh kerajaan diberi sawah dan tempat tinggal sebagai hak turun-temurun dan dibebaskan dari kewajiban membayar pajak. Jika di masa lalu guru begitu dihormati masyarakat dan penguasa, seharusnya guru saat ini tidak ada bedanya.

Masyarakat yang sadar akan pentingnya pendidikan bagi para generasi akan berupaya untuk menghadirkan guru atau pengajar. Kesejahteraan guru akan dijamin agar apa yang mereka sampaikan kepada generasi benar-benar mampu diserap tanpa menyibukkan guru dengan masalah lain. Dan akan lebih baik lagi bila didukung penguasa dengan memberikan aturan-aturan yang tidak memberatkan kedudukan guru.                

Seorang panglima seperti Shalahuddin al-Ayyubi menggaji 40 dinar setiap bulan kepada Syekh Najmuddin Al Khabusyani yang menjadi guru di Madrasah al Shalahiyyah, dan 10 dinar untuk mengawasi wakaf madrasah. Di samping itu setiap hari beliau mendapat 60 liter roti dan air minum segar dari Sungai Nil. Wallahu A’lam. (ndu/k15)


BACA JUGA

Minggu, 16 Desember 2018 22:09

ASN Turn Back Hoax

Oleh Dewi Sartika, SE., MM Peneliti Muda pada Lembaga Administrasi…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:02

Akibat Tambang, Kerusakan Meradang

KALIMANTAN  Timur adalah provinsi yang memiliki potensi kekayaan alam yang…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:00

Masa Depan 212

REUNI 212 yang berlangsung pada 2 Desember 2018 di Kawasan…

Jumat, 14 Desember 2018 07:27

Pelaku Penghina Fisik Harus Siap-Siap Dipidana

Oleh: Elsa Malinda (Warga Balikpapan) AKHIR-akhir ini istilah body shaming…

Jumat, 14 Desember 2018 07:25

Penggunaan "Kafir" dalam Masyarakat Multikultural

Oleh: H Fuad Fansuri, Lc M Th I (Dosen Ilmu…

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Lestarikan Budaya Gotong Royong Bersama BPJS Kesehatan

Oleh: Windi Winata Paramudita (Mahasiswa Magister Kebijakan Publik Universitas Mulawarman)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .