MANAGED BY:
SELASA
26 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Jumat, 07 Desember 2018 06:49
Momen Bangkit Industri Perkapalan
MOMENTUM BAIK: Industri perkapalan di Kaltim bisa bangkit karena kebutuhan kapal pengangkut CPO meningkat.(dok/kp)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Pengusaha perkapalan di Kaltim punya momentum untuk memperbaiki kinerja mereka. Setelah terpuruk akibat penguatan dolar Amerika Serikat (USD) beberapa waktu lalu, kini industri perkapalan bisa menggeliat kembali karena uang garuda terus menguat. Berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Kamis (6/12), rupiah berada di level Rp 14.4 per USD.

Di lain isi, kebutuhan kapal dalam negeri juga meningkat seiring perluasan kebijakan mandatory biodiesel 20 persen (B20). Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar menuturkan, saat ini B20 membutuhkan banyak kapal pengangkut. Karena, masih ada beberapa daerah yang belum tersuplai akibat kapal pengangkut yang kecil.

Akibatnya, kalau ombak sedang tinggi pengiriman tertunda. “Sejauh ini beberapa kapal pengangkut biofuel hanya berkapasitas 1.000 sampai 2.000 ton,” ungkapnya, Kamis (6/12). Ini membuat penyebaran turunan crude palm oil (CPO) itu masih membutuhkan investasi pembuatan kapal-kapal besar khusus pengangkut B20. “Saat ini perluasan B20 masih kekurangan kapal pengangkut,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) Zaenal Arifin Hasibuan mengakui, saat ini uang garuda secara perlahan terus menunjukkan penguatan. Namun, industri galangan kapal sebelum adanya apresiasi dolar Amerika Serikat memang sudah jarang membuat kapal, karena pesanan lesu.

“Bisnis perkapalan dalam negeri itu masih kalah murah dengan kapal-kapal luar negeri. Jadi walau dolar sudah melemah, industri kapal belum berdampak akibat tidak ada pesanan,” tegasnya.

Dia membeberkan, dolar yang tinggi bukan menjadi satu satunya hambatan pembuatan kapal. Memang bahan baku perkapalan masih impor. Tapi banyak galangan kapal memilih menghentikan produksi, karena tidak bisa bersaing dengan industri kapal luar negeri yang mendapatkan perlindungan dari pemerintahnya. Termasuk soal pajak, sehingga pembangunan kapal menjadi lebih murah.

“Contoh saja, di Tiongkok galangan kapal mendapat dukungan dari lembaga keuangan negara itu dengan pemberian bunga kredit yang rendah,” katanya. Sedangkan di Indonesia, tambahnya, untuk pembuatan kapal pengajuan kredit bunganya sangat tinggi.

Kondisi itu juga menjadi kendala, bukan hanya karena naik-turunnya kurs. Sebagai perbandingan, bunga perbankan untuk pembangunan kapal di luar negeri hanya sekitar 1-2 persen. Tapi di Tanah Air, perusahaan pelayaran yang akan meminjam uang di perbankan nasional dikenakan bunga kredit 12-14 persen.

“Wajar industri kapal kita belum berjalan baik. Penurunan dolar saat ini mungkin akan berdampak, tapi tidak banyak karena pada dasarnya pesanan memang sepi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kurangnya kapal pengangkut crude palm oil (CPO) untuk penerapan mandatori biodiesel 20 persen (B20) juga belum bisa mendongkrak pembuatan kapal dalam negeri. Sebenarnya, pelayaran nasional memiliki kemampuan dan kecukupan armada untuk mengangkut komoditas ekspor maupun impor, asalkan ada kepastian dan keberpihakan pemerintah.

“Kembali lagi, rendahnya daya saing pelayaran kita dibandingkan kapal-kapal luar negeri masih menjadi kendala,” ungkapnya. Dia berharap, pemerintah memberikan perlindungan dan keberpihakan kepada pelayaran nasional. Setelah pemerintah memberikan kemudahan itu, serta kepastian pasar kapal-kapal pengangkut wajib menggunakan kapal nasional tentu pengusaha mau bergerak.

“Kalau pasarnya jelas, seluruh komoditas yang kekurangan tadi harus menggunakan kapal berbendera Indonesia maka itu baru bisa mendongkrak bisnis perkapalan,” tegasnya. (*/ctr/ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Senin, 25 Maret 2019 10:54

Perbankan Diminta Hidupkan Iklim Investasi

TANJUNG REDEB–Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau mengajak seluruh elemen masyarakat untuk…

Rabu, 20 Maret 2019 12:49

Program Direct Call “Hanya” Mempercepat Ekspor

SAMARINDA-Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Kaltim mencatat, dalam sebulan…

Rabu, 20 Maret 2019 12:46

Triwulan II 2019, Ekonomi Kaltim Terakselerasi

SAMARINDA-Pada triwulan II 2019 diperkirakan ekonomi Kaltim mengalami akselerasi pertumbuhan.…

Rabu, 20 Maret 2019 12:45

Percepatan Populasi Sapi Terus Digenjot

SAMARINDA-Upaya khusus percepatan populasi sapi dan kerbau bunting (upsus siwab)…

Jumat, 15 Maret 2019 13:45

Kargo Laut Belum Tumbuh Maksimal

SURABAYA – Pertumbuhan jasa pengiriman barang lewat jalur laut belum…

Jumat, 15 Maret 2019 13:43

Pertamina Perpanjang Masa Cicilan Garuda

JAKARTA – PT Pertamina (Persero) dan tujuh BUMN (badan usaha…

Jumat, 15 Maret 2019 13:32

Target Ekspor RI Realistis

JAKARTA – Kementerian Perdagangan menargetkan pertumbuhan ekspor nonmigas 7,5 persen…

Kamis, 14 Maret 2019 15:16

Produksi Teh Turun, Harga Telur Rendah

JAKARTA – Pelaku usaha berharap Indonesia bisa meningkatkan lahan dan…

Rabu, 13 Maret 2019 12:51

Genjot Produksi Padi, Dituntut Maksimalkan Lahan Rawa

SAMARINDA – Tak hanya melakukan diversifikasi pangan, Pemprov Kaltim dituntut…

Rabu, 13 Maret 2019 12:47

SABAR..!! Pengelolaan APT Pranoto Masih di Tangan Kemenhub

SAMARINDA- Pemerintah Kaltim saat ini masih menunggu kepastian pembahasan draf…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*