MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Jumat, 07 Desember 2018 06:49
Momen Bangkit Industri Perkapalan
MOMENTUM BAIK: Industri perkapalan di Kaltim bisa bangkit karena kebutuhan kapal pengangkut CPO meningkat.(dok/kp)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Pengusaha perkapalan di Kaltim punya momentum untuk memperbaiki kinerja mereka. Setelah terpuruk akibat penguatan dolar Amerika Serikat (USD) beberapa waktu lalu, kini industri perkapalan bisa menggeliat kembali karena uang garuda terus menguat. Berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Kamis (6/12), rupiah berada di level Rp 14.4 per USD.

Di lain isi, kebutuhan kapal dalam negeri juga meningkat seiring perluasan kebijakan mandatory biodiesel 20 persen (B20). Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar menuturkan, saat ini B20 membutuhkan banyak kapal pengangkut. Karena, masih ada beberapa daerah yang belum tersuplai akibat kapal pengangkut yang kecil.

Akibatnya, kalau ombak sedang tinggi pengiriman tertunda. “Sejauh ini beberapa kapal pengangkut biofuel hanya berkapasitas 1.000 sampai 2.000 ton,” ungkapnya, Kamis (6/12). Ini membuat penyebaran turunan crude palm oil (CPO) itu masih membutuhkan investasi pembuatan kapal-kapal besar khusus pengangkut B20. “Saat ini perluasan B20 masih kekurangan kapal pengangkut,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) Zaenal Arifin Hasibuan mengakui, saat ini uang garuda secara perlahan terus menunjukkan penguatan. Namun, industri galangan kapal sebelum adanya apresiasi dolar Amerika Serikat memang sudah jarang membuat kapal, karena pesanan lesu.

“Bisnis perkapalan dalam negeri itu masih kalah murah dengan kapal-kapal luar negeri. Jadi walau dolar sudah melemah, industri kapal belum berdampak akibat tidak ada pesanan,” tegasnya.

Dia membeberkan, dolar yang tinggi bukan menjadi satu satunya hambatan pembuatan kapal. Memang bahan baku perkapalan masih impor. Tapi banyak galangan kapal memilih menghentikan produksi, karena tidak bisa bersaing dengan industri kapal luar negeri yang mendapatkan perlindungan dari pemerintahnya. Termasuk soal pajak, sehingga pembangunan kapal menjadi lebih murah.

“Contoh saja, di Tiongkok galangan kapal mendapat dukungan dari lembaga keuangan negara itu dengan pemberian bunga kredit yang rendah,” katanya. Sedangkan di Indonesia, tambahnya, untuk pembuatan kapal pengajuan kredit bunganya sangat tinggi.

Kondisi itu juga menjadi kendala, bukan hanya karena naik-turunnya kurs. Sebagai perbandingan, bunga perbankan untuk pembangunan kapal di luar negeri hanya sekitar 1-2 persen. Tapi di Tanah Air, perusahaan pelayaran yang akan meminjam uang di perbankan nasional dikenakan bunga kredit 12-14 persen.

“Wajar industri kapal kita belum berjalan baik. Penurunan dolar saat ini mungkin akan berdampak, tapi tidak banyak karena pada dasarnya pesanan memang sepi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kurangnya kapal pengangkut crude palm oil (CPO) untuk penerapan mandatori biodiesel 20 persen (B20) juga belum bisa mendongkrak pembuatan kapal dalam negeri. Sebenarnya, pelayaran nasional memiliki kemampuan dan kecukupan armada untuk mengangkut komoditas ekspor maupun impor, asalkan ada kepastian dan keberpihakan pemerintah.

“Kembali lagi, rendahnya daya saing pelayaran kita dibandingkan kapal-kapal luar negeri masih menjadi kendala,” ungkapnya. Dia berharap, pemerintah memberikan perlindungan dan keberpihakan kepada pelayaran nasional. Setelah pemerintah memberikan kemudahan itu, serta kepastian pasar kapal-kapal pengangkut wajib menggunakan kapal nasional tentu pengusaha mau bergerak.

“Kalau pasarnya jelas, seluruh komoditas yang kekurangan tadi harus menggunakan kapal berbendera Indonesia maka itu baru bisa mendongkrak bisnis perkapalan,” tegasnya. (*/ctr/ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 Juli 2019 11:47

Maksimalkan Dana Desa untuk SDM, Kurangi Masyarakat Miskin

SAMARINDA – Tak hanya fokus kepada peningkatan infrastruktur di daerah,…

Rabu, 17 Juli 2019 11:32

Pemerintah Setujui PoD Blok Masela

JAKARTA – Tarik ulur pengembangan proyek Blok Masela yang berlangsung…

Selasa, 16 Juli 2019 12:05

Kredit UMKM Capai Rp 21,23 T, Didominasi untuk Modal Usaha

SAMARINDA- Kinerja penyaluran kredit untuk usaha mikro kecil dan menengah…

Selasa, 16 Juli 2019 12:04

Kejar Target Produksi Migas, PEP Asset 5 Bor Enam Sumur pada Juli-Agustus

BALIKPAPAN- Pertamina EP (PEP) Asset 5 fokus mengejar target produksi…

Selasa, 16 Juli 2019 12:03

LPDB KUMKM Jemput Bola ke Kaltim, Katrol Penyaluran Dana Bergulir

SAMARINDA - Kaltim menempati urutan ke-11 dalam urusan penyaluran dana…

Senin, 15 Juli 2019 13:00

Harga Gas Indonesia Kompetitif, Hanya Kalah dari Malaysia

JAKARTA – Harga gas industri Indonesia relatif stabil dan kompetitif…

Senin, 15 Juli 2019 12:55

Generasi Milenial Gemar Investasi

Harga logam mulia PT Aneka Tambang Tbk atau Antam terus…

Senin, 15 Juli 2019 12:07

Bangun Pabrik Beton di Penajam, WSBP Manfaatkan Dana Obligasi

PT Waskita Beton Precast Tbk (WSBP) mengembangkan pabrik pencetakan beton…

Minggu, 14 Juli 2019 11:40

INGAT..!! Jangan Asal Tutup Kartu Kredit

MENUTUP kartu kredit sama seperti saat Anda disuruh memilih satu…

Minggu, 14 Juli 2019 11:39

Incar Pertumbuhan Produksi 10 Persen di Algeria

BALIKPAPAN- PT Pertamina Internasional EP (PIEP) mengincar pertumbuhan produksi sumur…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*