MANAGED BY:
RABU
16 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Jumat, 07 Desember 2018 06:49
Momen Bangkit Industri Perkapalan
MOMENTUM BAIK: Industri perkapalan di Kaltim bisa bangkit karena kebutuhan kapal pengangkut CPO meningkat.(dok/kp)

PROKAL.CO, SAMARINDA – Pengusaha perkapalan di Kaltim punya momentum untuk memperbaiki kinerja mereka. Setelah terpuruk akibat penguatan dolar Amerika Serikat (USD) beberapa waktu lalu, kini industri perkapalan bisa menggeliat kembali karena uang garuda terus menguat. Berdasar Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia pada Kamis (6/12), rupiah berada di level Rp 14.4 per USD.

Di lain isi, kebutuhan kapal dalam negeri juga meningkat seiring perluasan kebijakan mandatory biodiesel 20 persen (B20). Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Kaltim Muhammadsjah Djafar menuturkan, saat ini B20 membutuhkan banyak kapal pengangkut. Karena, masih ada beberapa daerah yang belum tersuplai akibat kapal pengangkut yang kecil.

Akibatnya, kalau ombak sedang tinggi pengiriman tertunda. “Sejauh ini beberapa kapal pengangkut biofuel hanya berkapasitas 1.000 sampai 2.000 ton,” ungkapnya, Kamis (6/12). Ini membuat penyebaran turunan crude palm oil (CPO) itu masih membutuhkan investasi pembuatan kapal-kapal besar khusus pengangkut B20. “Saat ini perluasan B20 masih kekurangan kapal pengangkut,” imbuhnya.

Terpisah, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) Zaenal Arifin Hasibuan mengakui, saat ini uang garuda secara perlahan terus menunjukkan penguatan. Namun, industri galangan kapal sebelum adanya apresiasi dolar Amerika Serikat memang sudah jarang membuat kapal, karena pesanan lesu.

“Bisnis perkapalan dalam negeri itu masih kalah murah dengan kapal-kapal luar negeri. Jadi walau dolar sudah melemah, industri kapal belum berdampak akibat tidak ada pesanan,” tegasnya.

Dia membeberkan, dolar yang tinggi bukan menjadi satu satunya hambatan pembuatan kapal. Memang bahan baku perkapalan masih impor. Tapi banyak galangan kapal memilih menghentikan produksi, karena tidak bisa bersaing dengan industri kapal luar negeri yang mendapatkan perlindungan dari pemerintahnya. Termasuk soal pajak, sehingga pembangunan kapal menjadi lebih murah.

“Contoh saja, di Tiongkok galangan kapal mendapat dukungan dari lembaga keuangan negara itu dengan pemberian bunga kredit yang rendah,” katanya. Sedangkan di Indonesia, tambahnya, untuk pembuatan kapal pengajuan kredit bunganya sangat tinggi.

Kondisi itu juga menjadi kendala, bukan hanya karena naik-turunnya kurs. Sebagai perbandingan, bunga perbankan untuk pembangunan kapal di luar negeri hanya sekitar 1-2 persen. Tapi di Tanah Air, perusahaan pelayaran yang akan meminjam uang di perbankan nasional dikenakan bunga kredit 12-14 persen.

“Wajar industri kapal kita belum berjalan baik. Penurunan dolar saat ini mungkin akan berdampak, tapi tidak banyak karena pada dasarnya pesanan memang sepi,” ujarnya.

Dia menjelaskan, kurangnya kapal pengangkut crude palm oil (CPO) untuk penerapan mandatori biodiesel 20 persen (B20) juga belum bisa mendongkrak pembuatan kapal dalam negeri. Sebenarnya, pelayaran nasional memiliki kemampuan dan kecukupan armada untuk mengangkut komoditas ekspor maupun impor, asalkan ada kepastian dan keberpihakan pemerintah.

“Kembali lagi, rendahnya daya saing pelayaran kita dibandingkan kapal-kapal luar negeri masih menjadi kendala,” ungkapnya. Dia berharap, pemerintah memberikan perlindungan dan keberpihakan kepada pelayaran nasional. Setelah pemerintah memberikan kemudahan itu, serta kepastian pasar kapal-kapal pengangkut wajib menggunakan kapal nasional tentu pengusaha mau bergerak.

“Kalau pasarnya jelas, seluruh komoditas yang kekurangan tadi harus menggunakan kapal berbendera Indonesia maka itu baru bisa mendongkrak bisnis perkapalan,” tegasnya. (*/ctr/ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 16 Januari 2019 06:50

Pasokan Turun, Harga Sayuran Melejit

BALIKPAPAN - Ombak besar akibat cuaca buruk yang terjadi pada…

Selasa, 15 Januari 2019 06:41

IHEx Kaltim Terkontraksi Minus 4,5 Persen

SAMARINDA - Meski tidak sedalam perkiraan sebelumnya, indeks harga komoditas…

Selasa, 15 Januari 2019 06:41

Incar Kerja Sama Migas di Timur Tengah

JAKARTA – Pemerintah berupaya meningkatkan investasi subsektor minyak dan gas…

Selasa, 15 Januari 2019 06:40

Pajak e-Commerce Masih Moderat

JAKARTA – Keluarnya PMK Nomor 210/PMK.010/2018 tentang Perlakuan Perpajakan atas…

Selasa, 15 Januari 2019 06:37

Bisnis Travel Panen di Awal Tahun

SURABAYA – Awal tahun ini menjadi momen positif bagi bisnis…

Selasa, 15 Januari 2019 06:36

Berdayakan UKM Kuliner Lokal

SURABAYA - Pasar usaha kecil dan menengah (UKM) bidang kuliner…

Selasa, 15 Januari 2019 06:36

Hero Tutup 26 Gerai, Rumahkan 532 Karyawan

JAKARTA - PT Supermarket Tbk (Hero Group) memilih melakukan efisiensi…

Selasa, 15 Januari 2019 06:35

Tahap I, Pemerintah Lelang Lima Blok Migas

JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana…

Selasa, 15 Januari 2019 06:35

PEP Asset 4 Lampaui Target Produksi

JAKARTA - Pertamina EP (PEP) Asset 4 membukukan kinerja positif…

Senin, 14 Januari 2019 06:42

Citilink Siapkan Skema Bagasi Berbayar

BALIKPAPAN - Setelah Lion Air dan Wings Air mulai menyosialisasikan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*