MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 06 Desember 2018 07:05
Longsor Sanga-Sanga: Kehendak Tuhan atau Ulah Manusia?

PROKAL.CO, OLEH: FUAD FANSURI

(Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Samarinda dan Kandidat Doktor Tafsir UIN Makassar)

“MUNGKIN Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.” Demikian cuplikan lirik lagu yang berjudul, “Berita kepada Kawan”, lagu yang sudah lama dipopulerkan Ebiet G Ade. Tapi, pesan yang dikandung masih sangat relevan dengan fenomena bencana yang terjadi akhir-akhir ini.

Memang sulit untuk dibantah, Indonesia adalah negara rawan bencana. Khususnya bencana tanah longsor. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sejak 2010 hingga Februari 2018, bencana tersebut telah terjadi sebanyak 3.753 kali dan merenggut nyawa 1.661 orang.

Yang terbaru, Kamis (29/11), tanah longsor terjadi di Sanga-Sanga, Kabupaten Kutai Kartanegara. Bencana yang terjadi dekat dengan daerah pertambangan ini mengakibatkan lima rumah lenyap bak ditelan bumi serta merusak belasan rumah lain.

Teologi Bencana di Tengah Masyarakat Beragama

Menurut Harold G Koenig, bencana yang terjadi selalu menimbulkan berbagai pemahaman dan reaksi yang didasari pemahaman agama. Meskipun harus diakui terkadang masyarakat salah menempatkan agama dalam menyikapi bencana tersebut.

Secara garis besarnya, bencana yang terjadi memunculkan dua sikap teologis di kalangan masyarakat, khususnya agamawan. Yaitu teologis positif dan teologis negatif. Teologis positif cenderung menyalahkan dan menyudutkan korban (blaming the victims) dan berbaik sangka kepada Tuhan. Sedangkan teologis negatif mengasumsikan bencana sebagai takdir atau kehendak Tuhan yang harus diterima dengan jiwa pasrah.

Kedua sikap teologis ini cenderung menimbulkan sikap reaktif daripada sikap proaktif. Padahal sikap proaktif lebih dibutuhkan dalam upaya mitigasi bencana. Karena itu, yang dibutuhkan dalam menyikapi bencana adalah teologi konstruktif dengan mencoba memahami sesuatu yang berjalan di dalam hukum alam sekaligus mencoba memahami apa kehendak Tuhan.

Kombinasi antara pertimbangan ilmiah-rasional dengan teologis inilah yang dapat melahirkan sikap introspeksi sekaligus berusaha mencari jalan keluar atas masalah yang terjadi. 

Bencana Perspektif Alquran 

Dalam pandangan Alquran, bencana terjadi karena banyak sebab. Hal ini tampak dari beragamnya istilah yang digunakan Alquran untuk menunjuk makna bencana, seperti musibah, bala, fitnah, dan azab.

Istilah musibah pada umumnya digunakan untuk menunjuk bencana yang terjadi akibat dosa dan ulah manusia, baik perusakan secara fisik maupun nonfisik. Istilah bala digunakan untuk menunjuk bencana yang terjadi karena kehendak Allah meskipun tanpa kesalahan manusia. Istilah fitnah digunakan untuk menunjukkan peringatan Allah yang jika tidak diindahkan akan mengakibatkan sanksi yang keras. Sedangkan istilah azab digunakan untuk menunjukkan siksa yang memusnahkan akibat ulah manusia yang durhaka.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa bencana yang terjadi tidaklah murni akibat gejala alam semata atau kehendak Allah. Bencana juga berkaitan erat dengan perilaku manusia yang serakah terhadap alam. Gejala alam memang ada, tetapi itu bukan satu-satunya. Ada kesalahan yang kita buat baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa, sehingga Tuhan melalui alam sebagai makhluk-Nya menunjukkan kekuatan-Nya.

Langkah Solutif

Langkah solutif pencegahan terhadap bencana alam dapat dipetakan berdasarkan macam-macam bencana sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Secara umum, bencana dalam perspektif Alquran dapat dipetakan menjadi dua macam.

Pertama, bencana yang terjadi karena penyebab yang bersifat tidak langsung. Bencana semacam ini memang tidak dapat dihindari, karena terjadinya memang atas kehendak Tuhan (natural disaster), tanpa ada campur tangan manusia. Kedua, bencana yang penyebabnya bersifat langsung (Man-Made Disaster). Bencana semacam ini terjadi karena ulah manusia.

Bencana yang terjadi secara alami (natural disaster) tentu tidak dapat dicegah. Tindakan yang dapat dilakukan hanyalah langkah tanggap bencana, baik sebelum maupun setelah terjadinya bencana. Tindakan-tindakan tanggap bencana yang dilakukan tentu disesuaikan karakter masing-masing bencana.

Berbeda dengan karakter tipologi bencana yang kedua (man-made disaster) di mana manusia punya andil dalam memicu terjadinya bencana, maka langkah-langkah yang dilakukan tidak hanya sebatas upaya peningkatan kesadaran tentang pentingnya menjaga kelestarian lingkungan. Namun, juga harus diikuti dengan penerapan hukuman secara adil kepada siapa pun yang melanggar hukum lingkungan. (ndu/k15)


BACA JUGA

Minggu, 16 Desember 2018 22:09

ASN Turn Back Hoax

Oleh Dewi Sartika, SE., MM Peneliti Muda pada Lembaga Administrasi…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:02

Akibat Tambang, Kerusakan Meradang

KALIMANTAN  Timur adalah provinsi yang memiliki potensi kekayaan alam yang…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:00

Masa Depan 212

REUNI 212 yang berlangsung pada 2 Desember 2018 di Kawasan…

Jumat, 14 Desember 2018 07:27

Pelaku Penghina Fisik Harus Siap-Siap Dipidana

Oleh: Elsa Malinda (Warga Balikpapan) AKHIR-akhir ini istilah body shaming…

Jumat, 14 Desember 2018 07:25

Penggunaan "Kafir" dalam Masyarakat Multikultural

Oleh: H Fuad Fansuri, Lc M Th I (Dosen Ilmu…

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Lestarikan Budaya Gotong Royong Bersama BPJS Kesehatan

Oleh: Windi Winata Paramudita (Mahasiswa Magister Kebijakan Publik Universitas Mulawarman)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .