MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 26 November 2018 08:26
Ngos-ngosan Oemar Bakri Mengejar Sejahtera

Kesenjangan Guru Masih Terjadi, Ada yang Sambil Berkebun

PROKAL.CO, Dua puluh lima November, kemarin, diperingati sebagai Hari Guru. Jadi momen pengingat pentingnya guru dalam elemen pendidikan. Merekalah yang menentukan wajah pendidikan bangsa. Sayang, hidup sejahtera masih jauh dari kebanyakan pendidik.

JINGGA perlahan menanjak di lautan awan berombak. Mentari timur begitu asyik mengusir halimun dengan sinar tak menusuk mata. Tersipu menyapa dari balik garis horizon, warnanya semakin terang dan menghangatkan, menembus rindangnya pepohonan kawasan Berambai, Samarinda Utara. Sejam sebelum fajar merekah, sang jago berkokok nyaring.

Bertha Bua’dera segera terjaga dari tidur lelapnya. Setelah mencuci muka, ibu satu anak itu segera memasak dan membersihkan rumah. Selepas itu dia membasuh tubuh lantas menyiapkan perlengkapan mengajar. Ancang-ancang menuju sekolah.

“Sejak kecil saya memang terbiasa bangun lebih pagi. Biasanya pukul lima,” ucapnya, Selasa pekan lalu saat bertemu Kaltim Post di SD Filial 004. Sekolah dasar tersebut merupakan anak dari SD 004, Jalan Padat Karya.

Jarak rumah dengan sekolah sekitar 4 kilometer dan Bertha, perempuan 44 tahun itu, harus berjalan kaki selama satu jam. Saban hari dia rutin melakukan hal tersebut. Sepanjang perjalanan di sebelah kiri dan kanan hanya ada pepohonan rimbun berderet rapi menemani. Jalan yang dilalui Bertha bukan aspal atau semen, tapi tanah berbatu. Lebarnya 4 meter. “Kalau hujan sangat licin dan berbahaya,” ujarnya. Sepeda motor pun tak sanggup. Tak hanya itu, setidaknya ada lima tanjakan dan turunan dengan jurang di sebelah kiri dan kanan yang siap mengancam. Petaka lain yang harus dihadapi Bertha ialah ular kobra.

“Ya, beberapa kali saya bertemu (ular kobra). Makanya selalu bawa payung. Kalau ditanya takut, sudah pasti. Tapi berdoa saja,” akunya kemudian tertawa pelan. Sepanjang jalan maut boleh saja menggoda, namun dia yakin Tuhan pasti menjaga. Belum lagi renjana mengajar anak-anak di SD 004 menjadi pecut semangatnya. “Jadi, jalani saja dengan ikhlas,” katanya.

Semilir angin pagi dibalut hangatnya mentari pagi membuat perjalanan pagi itu lebih tenang. Menit berbilang jam, sang guru tiba di sekolah. Murid-murid sudah menunggu. “Syukur tak terlambat,” tuturnya.

Sekolah tersebut satu-satunya bangunan beton di kampung itu. Dua dasawarsa lebih berlalu. Gedung tersebut tak lagi kukuh berdiri. Sejumlah retak menghiasi. Belum lagi pintu masuk kelas ada yang jebol.

SD tersebut beralaskan ubin dan beratap seng. Lantai abu-abunya retak di mana-mana. Tangkup sekolah dari seng penuh karat, fondasinya pun mulai ambruk. Padahal, menurut Mark Brundrett dan Peter Silcock dalam bukunya Achieving Competence, Success and Excellence in Teaching (2002 hal, 101), profesionalisme guru dipengaruhi oleh regulasi, ruang kelas, komunitas sekolah, dan proses pembelajaran di fakultas keguruan.

Faktanya, gedung tua itu hanya punya tiga ruangan dan dibagi menjadi empat bilik. Disekat tripleks tipis. Satu ruangan untuk para guru dan sisanya dijadikan kelas. Setiap ruang belajar diisi murid dari dua kelas sehingga mencukupi enam kelas. Jadilah murid kelas I belajar bersama dengan kelas II, kelas III dengan kelas IV dan kelas V dengan kelas VI.

“Saya mengajar kelas satu dan dua,” tambah Bertha. Meja dan kursi belajar menghadap guru dan papan tulis. Supaya tidak kacau, murid beda kelas dipisahkan. Misal kelas I berada di dinding bagian kiri, sementara kelas II berada dinding kanan. Setiap ruangan ada dua kelas dan satu guru. Guru kelas I akan mengajar kelas II. Begitu seterusnya. Hanya dengan cara itu, belajar-mengajar di SD Filial 004 bisa berjalan baik.

Ketika itu Bertha tak sendiri, ada Hamka dan Herpina yang juga rekan seprofesi. Ketiganya merupakan guru honorer alias pegawai tidak tetap harian (PPTH) dari SD 004 Samarinda Utara. Sekolah induk itu berjarak 13 kilometer dari SD Filial 004. Hamka paling senior. Dia mengajar sejak 2007. Diikuti Bertha pada 2009 kemudian Herpina empat tahun lalu.

Hingga saat ini, ketiganya masih betah mengajar, meski jauh dari pusat kota dan di tengah hutan. Tak hanya itu, dari sisi penghasilan, ketiganya mendapat upah tidak layak sebab jauh di bawah upah minimum kabupaten/kota (UMK). “Ya, mau bagaimana lagi. Untuk menutupi penghasilan, saya berkebun dan hasilnya dijual ke pasar,” ujar Bertha.

Dalam buku Education Indicators: An International Perspective (1996, hal 203) Marianne Perie dan kawan-kawan menyebut gaji guru adalah standar hidup guru dan menunjukkan jumlah yang masyarakat bayar untuk bekerja dalam bidang pendidikan. Ketidakadilan dalam urusan penghasilan itu tentu dirasakan, jika bukan karena pengabdian ketiganya tak akan bertahan. Sebab, honor di luar akal sehat. Bahkan, Bertha dan Hamka sempat mencicipi upah Rp 150 ribu per bulan.

Sekarang gaji Bertha Rp 900 ribu per bulan. Ditambah insentif Rp 2,1 juta per tiga bulan, dengan kata lain Rp 700 ribu per bulan. Dengan angka tersebut, tetap saja rerata upah masih jauh dari standar UMK. Penyeragaman upah dengan guru PNS selalu menjadi harapan yang sukar ditunaikan.  “Memang harus pandai mengirit, dicukupkan saja,” aku Bertha.

Nyaris satu dasawarsa mengajar, harapan Bertha hanya satu, bisa meningkatkan status pekerjaan, dari harian menjadi bulanan. Bahkan, menjadi PNS itu mimpi terbesarnya. Namun usia memaksanya untuk tak berharap terlalu banyak. “Kami hanya berharap kepada pemerintah saja,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

TETAP BERTAHAN

Kampung Berambai, Kelurahan Sempaja Utara, Samarinda Utara. Wilayah tersebut berada di batas kota. Bersisian dengan Desa Bangun Rejo (L3), Kecamatan Tenggarong Seberang, Kutai Kartanegara (Kukar). Lantaran, jaraknya yang jauh dari kota bikin guru tak betah. Hanya Hamka, Bertha, dan Herpina yang bertahan bertahun-tahun. “Dulu pernah ada yang mencoba, sepertinya mahasiswa baru lulus, namun hanya beberapa bulan minta berhenti,” kata Hamka.

Menurut Hamka, menjadi guru di daerah pinggiran dan di tengah hutan itu tak mudah. Mental baja harus dimiliki sebab semuanya serba terbatas. Setrum belum menyapa, apalagi air bersih. Belum lagi mereka yang dari pusat Kota Tepian hendak mengajar di SD 004 Filial harus melewati jalanan berlumpur. “Itu kalau habis hujan, bisa berjam-jam di jalan. Kalau tak hujan hanya satu jam,” tambah alumnus Akademi Teknik Bima itu.

Senasib sepenanggungan dengan Bertha, Herpina dan Hamka lebih memilih tinggal dan membangun rumah di dekat sekolah lantaran terlalu memakan waktu jika harus pulang-balik ke Samarinda.  Dengan biaya sendiri serta bantuan dari warga sekitar, Hamka akhirnya bisa punya kediaman pribadi. “Tanah dari rumah yang saya tempati ini merupakan pemberian dari warga,” sebutnya.

Hamka masih ingat benar, setahun setelah menjadi tenaga pendidik dia mendapat musibah. Bukan kecelakaan karena jalan rusak, tapi roda kuda besinya disikat maling. “Karena jalannya berlumpur, motor saya tinggal di dekat kebun warga. Hanya beberapa kilometer dari sekolah. Pulang-pulang motor saya sudah sujud karena ban depan hilang,” selorohnya.

Senada dengan Bertha maupun Herpina, dirinya juga punya keinginan untuk menjadi PNS. Itu sebab saat ini dia sedang kuliah dengan konsentrasi pendidikan guru SD di Universitas Terbuka. “Mudahan saja bisa jadi pegawai,” harapnya.

Soal gaji, kata dia, memang tak bisa berharap banyak. Dari dulu memang jauh sekali dari UMK. Dengan penghasilan tersebut, Hamka tak bisa berbuat banyak, belum lagi jika keluarga di kampung meminta transfer. “Ya, terkadang meminjam di koperasi sekolah dulu,” akunya.

SATU UPAH TIGA SEKOLAH

Semangat Meliati, guru di SMP 3 Kembang Janggut, Kukar, tak pernah surut. Tak tanggung-tanggung, perempuan 44 tahun itu harus mengajar di tiga sekolah berbeda. SMP 3 Kembang Janggut, SMK Filial Kembang Janggut, dan SMP 4 di Desa Lamin Telihan, Kecamatan Kenohan. Waktu tempuh dari Kembang Janggut ke Kenohan memakan dua jam perjalanan. 

Melalui hutan dan kebun, Meliati harus mendatangi siswa didik yang membutuhkan dirinya. Akses jalan antar-desa juga tak mulus. Jika musim hujan, tak hanya jalan yang rusak, tapi juga pohon tumbang. Sebilah parang menjadi kawan dalam perjalanan. Biasanya dia gunakan untuk menebang pohon atau tanaman liar yang merintangi jalan setapak yang dia lalui.

Tingginya angka putus sekolah menjadi alasan SMK Filial Kembang Janggut lahir. Kondisi kekurangan guru inilah yang bikin Meliati terpanggil membantu mengembangkan sekolah tersebut. Begitu juga di SMP 4 Lamin Telihan, Kecamatan Kenohan. Sekolah tersebut hanya memiliki satu guru PNS yang kini menjabat kepala sekolah. Sisanya adalah berstatus honorer.

“Domisili sebenarnya di Kembang Janggut, lahir di Desa Lamin Telihan, Kenohan. Saya merasa terpanggil membantu dengan menjadi guru di tanah kelahiran,” ujar Meliati.

Urusan penghasilan, Meliati akhirnya mau menyebut angka yang selama ini menjadi penghargaan terhadap keringatnya. Yaitu sebesar Rp 600 ribu per bulan. “Dulu Rp 150 ribu kala pertama kali menjadi guru tak tetap,” sebutnya.

Mimpi menjadi PNS sudah dikubur dalam-dalam karena usia tak bisa bohong. Namun, Meliati tetap berharap ada kelonggaran regulasi agar pemerintah bisa memberi kesempatan kepada guru-guru di pelosok hidup lebih layak. “Meskipun saya sudah sarjana dan mata pelajaran yang saya ajarkan sudah linear, tapi belum mendapat SK dari kabupaten. Makanya juga tidak dapat insentif. Saya beberapa kali sempat mengurus tapi belum berhasil,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Mengenai upah, Kaltim Post melakukan survei terhadap 162 tenaga pendidik di tiga kota dan enam kabupaten di Kaltim. Sebanyak 60,32 persen responden berasal dari guru tak tetap alias honorer, sisanya PNS. Dari urusan gaji ada 23,02 persen guru diupah di bawah satu juta. Sebagian dari mereka berstatus honorer (selengkapnya lihat grafis hal 2).

ANGIN SEGAR BAGI PENGAJAR

Malang benar nasib guru honorer. Pendidikan harus strata satu, tapi gaji tak sampai upah minimum provinsi (UMP). Tidak hanya yang berstatus honorer, mereka yang mengabdi di pedalaman, juga harus banyak bersabar. Status pahlawan tanpa tanda jasa pun sekadar penghibur.

Menjadi wadah bernaung para guru Benua Etam, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kaltim menyuarakan apa yang jadi keluh kesah para guru. Seperti praktik guru honorer yang gajinya kecil. Ketua PGRI Kaltim Musyahrim mengatakan, adalah kesalahan besar ketika sekolah atau yayasan pendidikan tak menggaji guru secara laik.

"Ketika mereka mendirikan sekolah, harusnya mereka sudah menyiapkan segalanya. Termasuk gaji guru. Nah, guru ini kan kunci terselenggaranya pendidikan," terang Musyahrim.

Lelaki berkacamata tersebut mengatakan, selama ini masih terjadi sekolah yang tidak menggaji layak guru honorer mereka. Alasannya beragam, namun menurut Musyahrim alasan ini tak lantas jadi pembenaran. Sebab, guru adalah profesi yang pekerjaannya pun telah diatur undang-undang. Artinya, segala hal yang berkaitan dengan guru harus diatur secara profesional dan mengacu undang-undang.

Apalagi, nestapa guru honorer tak sekadar gaji kecil. Banyak yang bertahun-tahun mengabdi tapi tak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Ketika ada kesempatan pada tes calon PNS, langkah mereka terhenti karena usia yang melampaui 35 tahun sesuai syarat yang dilampirkan. Padahal, para honorer yang usianya lebih 35 tahun tersebut, umumnya sudah mengabdi bertahun-tahun. Bahkan, hingga belasan tahun. PGRI Kaltim pun telah menyurati presiden terkait hal ini. 

Tak hanya guru honorer yang menangis, guru yang mengabdi di pedalaman pun turut meringis. Mereka harus mengajar di kawasan dengan akses susah; minim setrum dan air bersih. Tanpa jalan aspal yang mulus, harus naik perahu kecil atau hidup tanpa penerangan. Namun, gaji mereka sama dengan sejawat yang mengabdi di kota. PGRI pun mengupayakan pula agar para guru ini mendapatkan insentif khusus.

"Tidak hanya itu, kami juga memperjuangkan hak para guru lainnya. Misalnya kalau cuti melahirkan insentifnya tak dipotong dan sebagainya," sebut Musyahrim.

Selain itu, yang tengah diperjuangkan adalah adanya perwakilan di daerah-daerah. Pasalnya, semenjak SMA sederajat ditangani Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) tingkat provinsi, para guru harus berkorban waktu, tenaga, dan biaya untuk mengurus sesuatu yang menyangkut dinas. 

Dia mengatakan, langkah PGRI Kaltim memperjuangkan nasib guru memang tak bisa langsung jor-joran. Tetapi, melalui pendekatan tertentu sehingga mendapat hasil sesuai harapan. 

Apalagi jelang tahun politik, diakui Musyahrim isu guru memang seksi. Di Kaltim, dia menyebut ada 40 ribu lebih (selengkapnya lihat grafis, hal 2) guru yang suaranya bakal jadi rebutan. Maka dari itu, dia mengharapkan isu guru benar-benar diperjuangkan. Bukan sekadar janji belaka.

Musyahrim pun mengaku optimistis pada kepemimpinan Isran Noor dan Hadi Mulyadi. Pasalnya, kedua pasangan ini memiliki latar belakang pendidik. Isran Noor seorang dosen dan Hadi Mulyadi berangkat dari seorang guru.

"Kami sih optimistis, beliau bagus juga. Sebab, latar belakang mereka juga tak jauh dari pendidikan. Ini kan juga kabarnya Pak Isran mau tetapkan gaji guru honorer sesuai UMP," imbuhnya.

Angin segar soal gaji guru sesuai standar UMP diamini Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kaltim Idhamsyah. Dia mengatakan, pihaknya telah menyusun terkait standar gaji guru honorer sesuai UMP.

"Sudah kami susun, sekarang sudah masuk ke Banggar (Badan Anggaran). Tinggal tunggu saja," kata Idhamsyah.

Dia menambahkan, Gubernur Kaltim Isran Noor sendiri yang mengatakan gaji guru honorer harus sesuai dengan UMP tahun depan. Maka dari itu, dia menangkap bahwa Isran Noor bakal memberikan perhatian pada dunia pendidikan. (timkp/k8)

 TIM LIPUTAN

  • YUDA ALMERIO
  • NOFIYATUL CHALIMAH
  • M RIFQI HIDAYATULLAH

EDITOR

  • FAROQ ZAMZAMI
loading...

BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 08:41

Ada Mafia Tanah di IMTN

Sindikat mafia tanah menyasar Balikpapan bagian utara. Mufakat jahat melibatkan…

Senin, 10 Desember 2018 08:34

Bisa Dibatalkan di Pengadilan

TAKTIK berbekal IMTN, Sudarman lolos mengantongi sertifikat dari BPN Balikpapan.…

Senin, 10 Desember 2018 08:19

“Pemainnya Itu-Itu Saja”

SEGEL yang merupakan dokumen dasar dalam penerbitan IMTN menjadi muara…

Senin, 10 Desember 2018 08:15

Tanah Kosong Paling Banyak Diincar

BALIKPAPAN menjadi kota dengan kasus sengketa tanah tertinggi di Kaltim. Kemajuan Kota…

Jumat, 07 Desember 2018 08:25

Sektor Swasta Lebih Akomodatif

KELUHAN penyandang difabel di Kaltim ternyata sudah lama menjadi sorotan…

Senin, 26 November 2018 08:26

Ngos-ngosan Oemar Bakri Mengejar Sejahtera

Dua puluh lima November, kemarin, diperingati sebagai Hari Guru. Jadi…

Senin, 26 November 2018 08:20

Gaji Ratusan Ribu bagi Penentu Wajah Pendidikan

NASIB guru honorer di Kaltim memerlukan perhatian pemerintah. Terutama, masalah…

Senin, 26 November 2018 08:19

Wajah Pendidikan Indonesia

INDONESIA harus kerja keras demi meningkatkan taraf pendidikan. Hingga saat…

Jumat, 16 November 2018 08:25

Ada Data di Balik Duka

Dari ribuan jenis pekerjaan di muka bumi, apa yang dilakukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .