MANAGED BY:
SABTU
25 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 24 November 2018 13:28
Penulis Muda Ini Tak Ingin Asal-asalan Berkarya
Rajin Mencatat Setiap Ide yang Tersirat
PENULIS MUDA: Dita yang gemar menulis sejak SD berencana menerbitkan buku bersamaan wisudanya kelak.NUR WACHID/JPG

PROKAL.CO, Seperti pepatah jatuhnya buah tak jauh dari pohonnya. Seperti itu pula Afifah Wahda Tyas Pramudita merintis jalan menulis mengikuti jejak Sutejo, ayahnya. Selain telah menerbitkan sejumlah buku, dia pun tengah menyelesaikan skripsi tentang hubungan intensitas menonton pornografi internet terhadap perilaku seksual remaja di Ponorogo.

NUR WACHID, Ponorogo 

AFIFAH Wahda Tyah terhanyut dalam My Sister’s Keeper. Novel Jodi Picoult itulah yang menemaninya di ruang baca saat koran ini mengunjungi rumahnya. Sekilas, novel karya penulis Amerika yang juga telah difilmkan itu bercerita tentang simbiosis kakak-adik yang berjuang dari serangan leukimia. “Apapun novel yang menggambarkan psikologi secara kuat, saya suka. Itu sesuai dengan bidang yang saya pelajari,’’ kata Dita, sapaan Afifah Wahda Tyas Pramudita.

Dita pun tak perlu menunggu lulus kuliah untuk menerbitkan buku. Hingga kini, empat buku telah ditelurkannya. Tiga buku berjudul You Are Not Alone Allah Always With You; Tuhan, Jangan Biarkan Aku Hidup Sendiri; dan Pacaran Lillahi Ta'ala telah diterbitkan, 2015 lalu. Buku itu mengisahkan pengalaman pribadi. ‘’Curhatan teman, saya jadikan bumbu,’’ ujarnya.

Buku tersebut diterbitkan ketika Dita mengerjakan tugas akhir saat menempuh studi Jurusan Psikologi Universitas Negeri Malang (UM). Bukan berarti molor kemudian malas menyelesaikan kuliah. ‘’Memang saya gak ingin asal-asalan membuat tugas akhir. Tapi, molornya jangan sampai ditiru ya,’’ tuturnya.

Satu buku lagi berjudul Cerita Tiga Masa diterbitkan awal tahun lalu. Buku itu digarapnya selama 30 hari menulis tanpa henti. Dita mengungkapkan pandangan-pandangan tentang refleksi masa lalu, masa sekarang, dan masa depan yang dikisahkan dengan apik. Mengajak pembaca belajar banyak dari buku yang dituliskan. Dituturkan dengan bahasa populer dan renyah. Pada tahun sama, karyanya juga terbit dalam tulisan bersama bertajuk Haruskah Aku yang Melamarmu. Saat ini dia tengah menggarap buku menulis untuk terapi yang digarap bersama Sutejo, ayahnya. Dia juga mempersiapkan buku lain berjudul Who am I. Rencananya, buku itu diterbitkannya bersamaan wisuda yang sudah diidamkannya. ‘’Suka menulis sejak SD. Kebetulan ayah juga penulis,’’ tutur gadis kelahiran 1994 itu.

Bakat menulis Dita sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah dasar. Pun dia mewarisi bakat ayahnya yang juga seorang penulis. Saat masih SD, dia sudah diundang ke Jakarta untuk mempertanggungjawabkan karyanya di bidang lingkungan hidup di hadapan dewan juri. Selain menulis, dia aktif dalam berbagai kegiatan psikologi. Melalui bantuan program kewirausahaan muda (PKM) Kemendikbud, dia mendapat hibah untuk penelitian pendampingan anak imigran di Gondanglegi, Malang, 2016 silam. ‘’Ingin merintis bisnis, kemudian melanjutkan pascasarjana studi psikologi,’’ sambung mantan ketua Forum Lingkar Pena (FLP) UM periode 2015–2016 tersebut.

Selain mempersiapkan beberapa buku, Dita tengah sibuk menyelesaikan skripsi tentang hubungan intensitas menonton pornografi internet terhadap perilaku seksual remaja di Ponorogo. Konsentrasi itu juga harus dia pecah dengan beberapa kegiatan lain. Awal tahun ini, misalnya, dia memberikan terapi psikologi bersama calon psikolog muda lainnya untuk guru TK di Malang. Menarik jika mampu menelisik lebih dalam hasil terapi yang dia jalankan. Banyak guru yang nyaris tidak mampu mengenali muridnya secara psikologis. ‘’Karena itu, kami sampaikan bagaimana mengenali murid. Dan, sebenarnya itulah kunci untuk masuk sebelum memberikan materi kepada mereka,’’ ungkap sulung tiga bersaudara pasangan Sutejo-Siti Kustidjah itu.

Opini dari sudut pandang psikologinya juga telah berseliweran di media massa. Seperti Republika, Kompas, hingga Jawa Pos. Hal itu sekaligus menjawab cibiran molornya kuliah selama ini. Justru dari cibiran itu pula, Dita merasa tertantang untuk membuktikan bahwa siapa pun bisa berkarya kapan dan di mana saja. ‘’Biasanya menulis malam. Setiap muncul ide entah saat penelitian di lapangan atau di mana pun, saya berusaha mencatatnya,’’ ucapnya.  (c1/fin/jpg/dwi/k8)


BACA JUGA

Kamis, 23 Mei 2019 11:24
Bilkis Bano, Tunggu Keadilan Selama 17 Tahun

Dapat Rumah, Pekerjaan, Kompensasi Miliaran

Kerusuhan di Gujarat, India, 2002 lalu telah merenggut kehormatan dan…

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…

Senin, 06 Mei 2019 13:16
Ketika Dua Bule Aktivis Lingkungan Prihatin dengan Sampah di Indonesia

Ajak Mencintai Bumi, Ingatkan Dampak Negatif Plastik

Mereka bukan asal Indonesia. Yang satu, Adriana María Olarte dari…

Senin, 06 Mei 2019 13:13
Padusan, “Ritual” Sambut Ramadan yang Jadi Tradisi

Umat Islam Padati Tempat-Tempat Pemandian Alami

SLEMAN – Sudah menjadi tradisi tahunan tiap H-1 Ramadan masyarakat…

Minggu, 05 Mei 2019 09:16
Refleksi Hari Pendidikan di Kukar

Dela Tak Lagi Mengayuh dengan Sepatu Bolong

Bukan ponsel canggih apalagi motor beken untuk berkeliling kampung. Hanya…

Rabu, 24 April 2019 10:27
Caleg Pasutri yang Diprediksi Lolos, Suastika Hindari Simakrama Bareng Istri

Bukan Haus Jabatan, Tapi Karena Penugasan Partai

Calon legislatif (caleg) DPRD pasangan suami-istri (pasutri) yang kemungkinan besar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*