MANAGED BY:
JUMAT
14 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 17 November 2018 01:11
Masalah Gizi di Kaltim sebagai Refleksi Hari Kesehatan

Oleh: Bernatal Saragih

Oleh: Bernatal Saragih

PROKAL.CO, PERMASALAHAN  pangan dan gizi yang bermuara pada kesehatan, memang sulit untuk diselesaikan jika tidak dilakukan perbaikan secara terpadu pada berbagai sektor pendukung. Perbaikan gizi sangat penting dilakukan secara berkelanjutan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang baik.

Penulis menyajikan tulisan ini untuk menyambut Hari Kesehatan Nasional sebagai refleksi kita dalam menakar keberhasilan kita dalam membangun status gizi anak bangsa dan Kaltim. Hari Kesehatan Nasional (HKN) yang diperingati setiap 12 November merupakan momentum bagi bangsa Indonesia untuk berfokus membangun diri, keluarga, masyarakat dan negara, khususnya di bidang pembangunan kesehatan, pangan dan gizi. 

Seiring dengan Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga melalui gerakan masyarakat hidup sehat (Germas). Gizi dan kesehatan merupakan harta paling berharga yang harus kita jaga dan pelihara dengan berperilaku hidup sehat dan berpartisipasi aktif dalam jaminan kesehatan nasional (JKN). Sering kali masyarakat baru menyadari arti penting kesehatan saat penyakit dan masalah gizi datang mengancam.

Pemprov Kaltim terus berupaya meningkatkan perannya menyikapi berbagai tantangan pembangunan di bidang kesehatan, terutama menghadapi masalah gizi ganda, yakni masalah kekurangan gizi, dan masalah kelebihan gizi. Sebagai hasil dari perjuangan pada lima tahun terakhir disajikan belum memuaskan.

Hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) 2018 yang dilakukan dengan populasi rumah tangga mencakup seluruh provinsi kabupaten/kota (34 provinsi, 416 kabupaten dan 98 kota) Indonesia. Balita gizi buruk dan gizi kurang di Indonesia sebanyak 17,7 persen (gizi buruk 3,9 persen dan gizi kurang 13,8 persen) pada tahun 2018.

Sebagai perbandingan gizi buruk pada tahun 2007 sebanyak 5,4 persen, tahun 2013 sebesar 5,7 persen, sedangkan gizi kurang tahun 2007 sebanyak 13 persen, tahun 2013 sebanyak 13,9 persen. Melihat angka tersebut terjadi penurunan gizi buruk dan gizi kurang pada 5 tahun terakhir dari 19,6 persen pada tahun 2013 menjadi 17,7 persen (turun 1,9 persen) pada tahun 2018.

Pengukuran status gizi buruk dengan indikator BB/U (Berat badan menurut umur), dengan indikator gizi kurang (BB/U> -3SD s/d <-2SD), gizi buruk (BB/U<-3SD). Jika dirangking berdasarkan peringkat provinsi maka Kaltim berada pada peringkat keenam terendah kasus gizi buruk dan kurang dengan proporsi sebanyak 14 persen.

Provinsi dengan status gizi kurang dan gizi buruk terendah diperoleh Kepulauan Riau sebesar 13 persen, dan tertinggi Nusa Tenggara Timur sebesar 29,5 persen. Kondisi ini tentu belum memuaskan untuk Kaltim sebagai salah satu provinsi penyumbang devisa negara terbesar belum bisa memiliki status gizi kurang dan gizi buruk yang terendah minimal dalam tiga besar di Indonesia.

Selain masalah gizi buruk dan gizi kurang, masalah yang paling viral dalam bidang gizi saat ini yang menjadi fokus pemerintah kita adalah masalah kejadian stunting atau pendek. Seperti yang penulis sampaikan pada kolom opini pada Kaltim Post (20 Oktober 2018) di Kaltim masalah stunting juga tinggi di atas 30 persen.

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Pertanyaannya, apakah pada tahun 2030 Kaltim bisa zero gizi buruk, zero stunting dan zero kelaparan? Semoga dapat terlaksana dengan program yang tepat baik dari dinas terkait dan seluruh elemen bangsa harus bersama untuk mengatasi masalah ini.

Hasil Riskesdas pada 2013 menunjukkan proporsi status gizi sangat pendek dan pendek pada tahun 2013 pada balita sebanyak 37,2 persen (sangat pendek 18 persen dan pendek 19,2 persen) dan pada tahun 2018 sebanyak 30,8 persen (dengan proporsi sangat pendek 11,5 persen dan pendek 19,3 persen). 

Hasil data ini menunjukkan terjadi penurunan terutama yang sangat pendek dibandingkan tahun 2013 sebesar 6,5 persen, sebaliknya yang pendek naik 0,1 persen. Jika dirangking berdasarkan peringkat provinsi, Kaltim berada pada peringkat 14 terendah kasus sangat pendek dan pendek dengan prevalensi 24 persen. Prevalensi sangat pendek dan pendek terendah diperoleh Provinsi DKI Jakarta sebanyak 17,7 persen, dan tertinggi Nusa Tenggara Timur sebanyak 42,6 persen.

Pada bayi dua tahun (baduta) kasus status gizi sangat pendek dan pendek baduta Kaltim berada pada peringkat 17, dengan prevalensi sekitar 29 persen sama hampir sama dengan rata-rata nasional 29,9 persen. Dengan rangking terbaik dengan prevalensi terendah status gizi pendek dan sangat pendek diperoleh Provinsi DKI Jakarta dan rangking 34 (terakhir) diperoleh Provinsi Aceh dengan proporsi sangat pendek dan pendek pada baduta 37,9 persen.

Status gizi kurus dan sangat kurus baduta pada 2013 di Indonesia sebesar 12,1 persen (sangat kurus 5,3 persen dan kurus 6,8 persen), pada tahun 2018 10,2 persen (sangat kurus 3,5 persen dan kurus 6,7 persen).

Proporsi status gizi balita kurus dan sangat kurus paling terendah diperoleh Kalimantan Utara, sedangkan proporsi satu gizi kurus dan sangat kurus pada balita tertinggi diperoleh Nusa Tenggara Barat. Kalimantan Timur berada pada nomor 3 terendah kasus balita sangat kurus dan kurus.

Selain masalah gizi buruk, gizi kurang, kurus dan sangat kurus, gizi pendek dan sangat pendek kita juga mengalami masalah gizi lain atau gizi ganda, yaitu gizi gemuk. Status gizi gemuk di Indonesia pada tahun 2018 pada balita sebesar 8,0 persen dan pada 2013 sebesar 11,9 persen.

Proporsi Balita dengan status gizi gemuk paling tinggi diperoleh Papua dengan persentase sebesar 13,2 persen dan terendah Nusa Tenggara Barat 3,3 persen. Kalimantan Timur berada pada urutan 29 status gizi gemuk pada balita. Tiga belas provinsi dengan prevalensi balita gemuk diatas prevalensi nasional termasuk Kalimantan Timur.

Kejadian gizi buruk dan kurang dapat menyebabkan penurunan inteligensia (IQ) poin. Penurunan IQ poin dapat 10-13  persen. Bisa kita perkirakan dampak gizi buruk maupun kurang pada kualitas sumber daya kita ke depannya. Jika balita di Kaltim misalnya 300 ribu balita dengan prevalensi gizi buruk 2 persen maka dua persen dari 300 ribu balita, berarti ada perkiraan 6 ribu orang.

Dan jika 10 penurunan IQ maka kita mengalami kehilangan IQ sebanyak 10 dikalikan dengan 6 ribu, setara dengan 60 ribu IQ poin. Jika rata-rata IQ 110 maka, setara dengan IQ untuk 545 orang. Kehilangan IQ seperti ini tidak kelihatan, akan tetapi memiliki dampak dalam pembangunan sumber daya manusia. Status gizi yang baik memiliki peran penting dalam mewujudkan bangsa yang hebat.

Penyelesaian masalah gizi selain masalah gizi kurang juga pada gizi gemuk, pendekatan yang dilakukan seiring dengan kemajuan teknologi pangan, pola makan dan pengasuhan pada balita sangat perlu diperbaiki. Pola asuh makan yang baik akan membantu untuk mengatasi masalah tersebut. Makanan yang bergizi tentu tidak selalu identik dengan harga yang mahal.

Peranan orangtua dan anggota keluarga lainnya sangat penting ditingkatkan untuk mendukung keberhasilan program perbaikan gizi. Permasalahan pangan dan gizi Indonesia khususnya di Kalimantan Timur seperti kurangnya perbaikan gizi masyarakat terutama pada ibu pra-hamil, ibu hamil dan anak, kurangnya peningkatan aksesibilitas pangan yang beragam, kurangnya peningkatan pengawasan mutu dan keamanan pangan, kurangnya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta kurangnya penguatan kelembagaan pangan dan gizi akan memperburuk keadaan.

Untuk perbaikan status gizi dan pangan nasional peran pemerintah saja tidak cukup, karena proses pengawasan dan pendanaan yang setingkat nasional tidaklah mudah. Di sini peran daerah diperlukan untuk dapat melaksanakan maupun menginovasikan program gizi dan pangan. Pemerintah daerah yang dianggap lebih memahami permasalahan daerahnya dituntut akan inovasinya serta jalinan hubungan kemitraan dengan swasta.

Oleh karena itu, permasalahan perbaikan gizi masyarakat merupakan upaya dari berbagai sektor yang membutuhkan sinergi dan harus terkoordinasi. Rencana Aksi Pangan dan Gizi (RAD PG) Kaltim, agar selalu update seiring permasalahan yang dihadapi, dengan mengedepankan kesesuaian perencanaan baik secara horizontal maupun vertikal.

Selain itu, RAD PG ini tetap disusun atas dasar partisipasi multisektor; dan diharapkan integrasi yang baik antar program, keleluasaan dalam penganggaran, dan kapasitas kelembagaan yang kuat dalam menjawab tantangan sebagai upaya pencapaian pangan dan gizi yang lebih baik di Kalimantan Timur.

Selamat menyambut Hari Kesehatan Nasional, ayo hidup sehat; lakukan aktivitas fisik minimal 30 menit setiap hari, konsumsi sayur dan buah setiap hari; makanlah makanan yang bergizi seimbang; jangan lupa sarapan pagi sebelum pukul 09.00 Wita, jagalah kebersihan lingkungan serta cek kesehatan secara rutin.

Semoga perbaikan gizi lebih baik ”bumi tempat berpijak langit tempat berlindung, anak tidak dibiarkan bertumbuh dan berkembang sendiri” serta perbaikan gizi tetap berjalan walaupun tidak selalu menjadi bagian eksplisit dari sebuah program pembangunan, akan tetapi status gizi akan menjawab sebuah keberhasilan program pembangunan suatu daerah dan bangsa untuk mencapai kualitas sumber daya manusia yang hebat. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Lestarikan Budaya Gotong Royong Bersama BPJS Kesehatan

Oleh: Windi Winata Paramudita (Mahasiswa Magister Kebijakan Publik Universitas Mulawarman)…

Rabu, 12 Desember 2018 06:53

Financial Technology Berbasis Syariah

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Dosen Fakultas Ekonomi dan…

Selasa, 11 Desember 2018 06:51

Persatuan di Tahun Politik

Oleh: Mukhammad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) TAHUN politik di Indonesia…

Selasa, 11 Desember 2018 06:50

Hubungan Tiongkok-AS: Menuju Perang Dunia Ke-3?

Oleh: Rendy Wirawan (Master of International Relations, University of Melbourne)…

Senin, 10 Desember 2018 06:58

Atlet Jadi Idola Baru Kawula Muda

Oleh: Elsa Malinda EUFORIA Asian Games 2018 memang telah berlalu,…

Senin, 10 Desember 2018 06:56

Potensi Kawasan Karst Kaltim

Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi (Pemerhati Lingkungan) KAWASAN karst di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .