MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Jumat, 16 November 2018 08:25
Ada Data di Balik Duka

Kisah Anggota DVI Mengidentifikasi Korban Kecelakaan Massal

PROKAL.CO, Dari ribuan jenis pekerjaan di muka bumi, apa yang dilakukan tim ini bukan cuma sulit, tapi serasa muskil. Di tangan mereka, jenazah korban kecelakaan, yang sering kali tak lagi utuh, harus diidentifikasi. Ketelitian, presisi, dan insting mereka ditunggu keluarga korban agar jenazah bisa dikebumikan dengan layak.

SETELAH dua tahun bekerja sebagai dokter forensik di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, Daniel Umar mendapat tugas disaster victim investigation (DVI) pertama pada 2007.

Ia harus mengidentifikasi korban kecelakaan kapal penyeberangan yang karam di Loa Janan. Tercatat 26 korban meninggal.

“Korban terakhir ditemukan setelah dua minggu pencarian. Beruntung, jenazah mengalami adiposera,” ujar Daniel. Adiposera semacam proses pengawetan yang terbentuk karena kelembapan. Proses tersebut relatif resisten terhadap pembusukan.

“Sehingga ada bagian tubuh yang masih kelihatan atau bisa diidentifikasi karena awet itu,” tambah Daniel. Lokasi kejadian memegang pengaruh dalam proses identifikasi. Jika TKP luas, maka memakan waktu lama. Beda dengan terlokalisasi.

Pengalaman Daniel mengidentifikasi jenazah terlokalisasi, yakni runtuhnya ruko di Jalan Cenderawasih Samarinda pada Juni 2014. Hari kelima, 12 korban meninggal berhasil diidentifikasi.

Diceritakan, kesulitan hanya terletak pada proses pembongkaran puing bangunan. Membutuhkan waktu dan memastikan kondisi korban tidak semakin rusak. Dalam proses pencarian korban, diimbau agar hati-hati memasukkan ke kantong jenazah.

Bila menemukan beberapa potongan tubuh berdekatan, hendaknya tidak disatukan. “Kita tidak bisa asal mengira kalau itu adalah bagian tubuh satu orang yang sama. Setiap kantong jenazah juga diidentifikasi berdasarkan lokasi penemuan,” papar kepala Instalasi Forensik RSUD AWS tersebut.

Peristiwa runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara November 2011 turut ditangani Daniel. Posko postmortem (sesudah kejadian) saat itu di RSUD Aji Muhammad (AM) Parikesit Tenggarong. Dari data postmortem yang dimiliki, teridentifikasi semua. Cocok dengan antemortem (sebelum kejadian) berdasarkan keluarga yang melapor.

Satu lagi pengungkapan identitas korban yang menurut Daniel cukup sulit. Tragedi jatuh dan terbakarnya pesawat cessna di Taman Nasional Kutai Timur (TNK). Mengangkut empat orang. Kejadian pada Agustus 2012 lalu.

Saat tiba di Instalasi Forensik RSUD AWS, keempat jenazah dalam kondisi terbakar. Rusak parah. Tidak bisa melakukan identifikasi sekunder. Sehingga lebih banyak menggunakan data primer.

“Yang paling banyak mewakili itu gigi dan DNA. Sidik jari sudah rusak. Pesawat itu jatuh kemudian meledak. Kalau sekadar hancur mungkin masih bisa kita identifikasi sekunder,” terang Daniel.

Dalam proses mengenali identitas empat jenazah gosong saat itu, pihaknya dibantu tim DVI pusat. “Perlu beberapa hari proses identifikasi karena cukup sulit,” kata dia.

Dalam proses DVI, manajemen waktu penting. Kadang keluarga korban mendesak, kenapa prosesnya lama. Di situlah tugas antemortem yang memberi pengertian. Selain itu, kondisi tim postmortem juga cukup jadi perhatian.

Bila tim postmortem kelelahan, bisa berakibat fatal. Salah identifikasi misalnya. Kemudian memberikan jenazah yang salah kepada keluarga korban. “Pada tahapan rekonsiliasi itu yang penting. Tidak jarang menemui ketidakcocokan. Apalagi jika data antemortem minim.”

Dalam mengidentifikasi pun harus dirampungkan satu per satu. Oleh sebab itu, butuh banyak tim postmortem, apalagi jika korban banyak. Fokus pada masing-masing korban. Selesaikan hingga teridentifikasi.

Menengok tragedi Lion JT 610, Daniel mengungkapkan bahwa proses DVI akan sangat sulit. Mengingat lokasi kejadian serta kondisi korban tak utuh. “Misal satu tubuh sudah jadi 20 bagian. Untuk menyatukan ya sulit. Paling yang bisa teridentifikasi saja seperti kepala, misalnya. Menurut saya (JT 610) ini sulit,” ungkap Daniel.

Umumnya, manusia mengalami rasa takut. Tapi, Daniel tidak merasa takut saat berhadapan dengan jenazah. Ditambah kondisi tak utuh. Rusak sana-sini hingga terpotong. Bukan itu ketakutannya.

“Saya takut kalau tidak bisa mengidentifikasi korban. Tidak bisa mengembalikan ke keluarganya,” kata Daniel. Tidak jarang keluarga korban mengucap rasa syukur dan haru kepadanya.

Menjalani profesi dokter apalagi sering menangani korban meninggal, sudah menjadi pilihan Daniel sejak awal. Dia sadar benar bagaimana lingkungan profesinya saat mulai sekolah kedokteran. Termasuk lebih memahami dengan menempuh sarjana hukum.

Dia mengambil hikmah dari profesi sebagai pengalaman hidup. Bagaimana menghadapi manusia tak bernyawa. Kemudian bagaimana menjalani hidup. Lebih banyak bersyukur dan tak lupa dengan pencipta.

***

Peristiwa jatuhnya helikopter milik TNI AD jenis MI-17 pada 9 November 2013 di Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menyita perhatian publik. Akibat kecelakaan tersebut, Heli MI-17 mengalami rusak berat. Dan terbakar setelah terjatuh. Dari 19 penumpang, 13 meninggal dunia. Sisanya menderita luka bakar.

M Irfan Siregar, dokter spesialis gigi di Polda Kaltim punya pengalaman tak terlupakan ketika ikut mengidentifikasi para korban kecelakaan itu. Dari Balikpapan, dia berangkat ke Malinau menggunakan helikopter. Kemudian melanjutkan perjalanan darat yang di kanan-kirinya dikelilingi tebing curam. “Medannya begitu berat,” imbuhnya.

Dia menuturkan, akibat kerasnya benturan disertai kobaran api membuat korban sulit dikenali. Beberapa korban, tubuhnya hangus. Hanya tulang tebal dan keras yang tersisa.

“Karena suhunya sangat tinggi dan terkena avtur. Sehingga proses identifikasinya mayoritas lewat DNA,” ungkapnya. Irfan menuturkan, satu korban berhasil diidentifikasi melalui gigi.

Selain kecelakaan pesawat, anak ketiga dari empat bersaudara itu juga masih mengingat jelas proses identifikasi kecelakaan kapal di perairan Kecamatan Muara Pahu, Kutai Barat pada 13 September 2012. Sebanyak 38 korban tewas berhasil diidentifikasi. Tak ada data valid terkait manifes, namun diduga kapal yang bernama KM Surya Indah itu memuat 100 penumpang.

“Ini juga cukup berkesan. Korbannya banyak, dan lokasinya di sungai. Ketika beberapa hari dan sudah mulai membusuk, warga mengatakan buaya mulai muncul,” ungkapnya.

Dari pengalaman itu, Irfan pun menyadari profesi yang digeluti cukup berisiko. “Bukan hanya risiko penyakit, tapi ya ‘yang begitu-begitu’,” terangnya.

Menurutnya, tidak ada perbedaan penanganan dalam mengidentifikasi korban kecelakaan di darat maupun di air. Sepanjang data-data pendukung terpenuhi, maka proses identifikasi berlangsung cepat.

Pengalaman lainnya diutarakan Ifan Wahyudi. Setiap ada kecelakaan yang menelan korban jiwa dan tak lagi dikenali, perwira polri bergelar Master of Biotechnology itu begitu sibuk. Namun, waktunya tidak dihabiskan di tempat kejadian perkara (TKP). Melainkan di laboratorium. Memiliki keahlian meneliti DNA, pria berpangkat ajun komisaris polisi (AKP) itu dipercaya menjadi kepala urusan DNA Pusdokkes Polri. Ditemui Kaltim Post di Markas Polda Kaltim, Selasa (13/11), Ifan berbagi pengalaman.

Pria ramah ini mengungkapkan, ketika data sidik jari dan gigi korban kecelakaan tak lagi mungkin diteliti karena rusak atau tak bisa lagi dikenali, maka penelitian melalui DNA jadi opsi terakhir.

“Kalau DNA, pembandingnya bisa dari sampel DNA keluarga. Ibu, ayah, atau saudaranya,” katanya.

Namun, untuk mendapatkan hasil melalui DNA, membutuhkan waktu relatif lama. Bisa 4-8 hari sejak korban diserahkan ke tim DVI. “DNA itu mengambil jaringan bagian tubuh. Bagian terbaiknya. Misalnya ditemukan otot, yang bagian pinggirnya sudah mengalami pembusukan, jadi kami mengambil bagian tengahnya. Kami ambil DNA-nya. Diekstraksi, dipetakan, digandakan lalu dianalisa. Sedikitnya ada tujuh prosesnya,” jelasnya.

Ifan lalu mencontohkan kasus yang terjadi pada korban kecelakaan pesawat Lion Air JT610. Dikatakan, tim DVI banyak menerima potongan tubuh. Ada yang berhasil diidentifikasi melalui sidik jari ketika ditemukan potongan tangan. “Tapi ada juga yang dibawa ke laboratorium berupa potongan kulit. Kami ambil jaringan kukunya.”

Dirinya menegaskan, ketika masih dalam kandungan, tiap orang telah memiliki DNA. Hingga meninggal dan dikubur, DNA-nya pun tak berubah. “Itulah kelebihan DNA. Karena di dalam sel, DNA juga terlindungi. Misalnya gigi, yang tak terbakar di atas seribu derajat celsius. Enggak rusak dan hancur. Nah di dalamnya itu ada sel, di dalam sel ada DNA,” ucapnya.

Salah satu kejadian di Kaltim yang berhasil ditangani Ifan melalui DNA adalah kecelakaan helikopter milik TNI AD jenis MI-17 pada 9 November 2013 di Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara. Ifan mengatakan, dia kerap menemukan kesalahan dalam proses identifikasi. Umumnya ditemukan pada kasus-kasus kriminal.

“Saya pernah menerima kasus dari satu polres. Polresnya bilang kasus pembunuhan berdasarkan pengakuan keluarga korban dan pakaian yang dikenakan,’’ ujarnya.

Dalam pengembangan kasus tadi, penyidik lalu menemukan tersangka yang mengaku korban dibunuh dan dibuang di luar kota. ’’Akhirnya jenazah di luar kota tadi ditemukan. Diidentifikasi dan ternyata jenazah yang dicari justru ada di kota. Yang dibawa ke luar kota jenazah orang lain. Itu terjadi karena kesalahan identifikasi. Karena mengacu pada baju yang produksinya bisa sama dengan yang lain,’’ ungkapnya.

Meski demikian, hingga kini ada satu kasus besar yang belum bisa diidentifikasi Ifan. Yakni kecelakaan kapal di perairan Danau Toba, Sumut. ’’Tidak terungkap karena jenazah tidak bisa diangkat. Objeknya enggak bisa diperiksa,’’ tandasnya. (tim kp)

Penulis:
- Muhammad Rizki
- Raden Roro Mira Budiasih
- Dina Angelina

Editor:
- Ismet Rifani
- Duito Susanto

loading...

BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 08:41

Ada Mafia Tanah di IMTN

Sindikat mafia tanah menyasar Balikpapan bagian utara. Mufakat jahat melibatkan…

Senin, 10 Desember 2018 08:34

Bisa Dibatalkan di Pengadilan

TAKTIK berbekal IMTN, Sudarman lolos mengantongi sertifikat dari BPN Balikpapan.…

Senin, 10 Desember 2018 08:19

“Pemainnya Itu-Itu Saja”

SEGEL yang merupakan dokumen dasar dalam penerbitan IMTN menjadi muara…

Senin, 10 Desember 2018 08:15

Tanah Kosong Paling Banyak Diincar

BALIKPAPAN menjadi kota dengan kasus sengketa tanah tertinggi di Kaltim. Kemajuan Kota…

Jumat, 07 Desember 2018 08:25

Sektor Swasta Lebih Akomodatif

KELUHAN penyandang difabel di Kaltim ternyata sudah lama menjadi sorotan…

Senin, 26 November 2018 08:26

Ngos-ngosan Oemar Bakri Mengejar Sejahtera

Dua puluh lima November, kemarin, diperingati sebagai Hari Guru. Jadi…

Senin, 26 November 2018 08:20

Gaji Ratusan Ribu bagi Penentu Wajah Pendidikan

NASIB guru honorer di Kaltim memerlukan perhatian pemerintah. Terutama, masalah…

Senin, 26 November 2018 08:19

Wajah Pendidikan Indonesia

INDONESIA harus kerja keras demi meningkatkan taraf pendidikan. Hingga saat…

Jumat, 16 November 2018 08:25

Ada Data di Balik Duka

Dari ribuan jenis pekerjaan di muka bumi, apa yang dilakukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .