MANAGED BY:
JUMAT
14 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 15 November 2018 07:03
Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

PROKAL.CO, Oleh: Darwan
(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda)

ORASI Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada acara Dies Natalis sebuah kampus Negeri beberapa waktu yang lalu menuai beragam tanggapan di masyarakat. Bahkan sempat menjadi bahan perdebatan oleh simpatisan maupun lawan politik Jokowi dalam menanggapi hal tersebut.

Lalu apa yang diperdebatkan? Tidak lain dan tidak bukan adalah sepotong kalimat Jokowi ketika beliau berkelakar mengatakan keinginannya. “Dalam sebuah perguruan tinggi, mestinya dibangun atau dibentuk Fakultas Medsos jurusan meme, jurusan animasi, jurusan packaging, jurusan logistic, ritel dan lain-lain”.  Seisi ruangan yang menyaksikan dan mendengarkan secara langsung orasi tersebut  menyambut dengan tawa yang riuh.

Jika kita mencermati sejenak, apa yang disampaikan oleh sang presiden tidak lain adalah kegundahan beliau terhadap wajah pendidikan tinggi yang terkesan monoton di Indonesia yang kurang begitu tanggap terhadap lompatan perubahan zaman  yang sangat cepat.

Kelakar Presiden adalah representasi dari pemikiran dan pandangan beliau, agar bagaimana institusi pendidikan mampu menjawab persoalan yang sedemikian kompleks yang dihadapi masyarakat saat ini. Dan tentunya hal itu menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemangku kebijakan pendidikan maupun insan akademis untuk dikaji lebih dalam.

Saat ini kita dihadapkan dengan berbagai macam persoalan dan tantangan. Menjadi warga dunia dan komunitas bangsa, tentu harus memiliki kecakapan hidup dalam merespons persoalan tersebut.  Pendidikan tinggi tentunya menjadi poros tengah dalam pembangunan sumber daya manusia.

Peran mereka sangatlah vital, sebagai penyelenggara dan penyedia sumber daya manusia mumpuni yang nantinya mampu menjawab persoalan tersebut. Kurikulum sebagai bagian dari instrumen pendidikan harusnya selalu terus di evaluasi agar bisa beradaptasi dan relevan terhadap kebutuhan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development), bukan malah sebaliknya.

Kita telah dan sedang berada pada abad 21, wajib untuk memilki kecakapan dan keterampilan  yang tidak dimiliki oleh mereka yang hidup sebelumnya. Apa itu? yakni teknologi, informasi, dan komunikasi. Teknologi dan informasi sudah menjadi sumber daya baru dalam faktor produksi. Dalam konteks pendidikan, teknologi dan informasi harus selalu dimanfaatkan dalam proses belajar, tujuan, konten, serta komponen evaluasi.

Dalam pernyataannya, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengakui, hingga saat ini pendidikan tinggi di Indonesia memiliki banyak tantangan, dimulai dari kualifikasi dan kompetensi dosen, daya saing, peningkatan infrastruktur pendidikan, kesiapan teknologi untuk digunakan oleh calon pengguna (technology readiness) dan sebagainya.

Beliau mendorong agar perguruan tinggi mampu mencetak dan menghasilkan lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri, hal ini sejalan dengan revolusi industri 4.0 yang digaungkan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu melalui menteri perindustrian Bapak Airlangga Hartanto.

Era industry 4.0 adalah nama tren otomatis dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik. Artinya, semua pelaku bisnis, penyelenggara pendidikan, organisasi pemerintah, harus mampu beradaptasi dengan revolusi industry 4.0.

Karena trend dan perilaku masyarakat saat ini telah bergeser dan terpapar arus teknologi yang tidak terbendung, dan tentunya berpengaruh terhadap pola mereka dalam berinteraksi dengan lingkungan. Secara sederhana, hampir segala sesuatu yang dibutuhkan saat ini bisa dilayani oleh teknologi yang berbasis aplikasi.

Maka dari itu, kampus dengan konsep Tridarma Perguruan Tinggi yang dimiliki, harus mampu mendorong perubahan  sesuai dengan konteks zamannya. Meminjam istilah dari seorang filsuf, pemikir pendidikan, kritikus sosial, berkebangsaan Amerika yaitu John Dewey: “ If we teach today’s students as we taught yesterday’s, we rob them of tomorrow.” (jika kami mengajar siswa hari ini seperti yang kami ajarkan kemarin, kami merampok mereka besok). (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 13 Desember 2018 07:28

Pembangunan Berkelanjutan Kaltim?

Oleh: Bambang Saputra (Sekretaris MES Balikpapan) PEMBANGUNAN berkelanjutan (sustainable development),…

Kamis, 13 Desember 2018 07:25

Menanam Toleransi Memetik Damai

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Penyuluh Agama Islam Kementerian…

Kamis, 13 Desember 2018 07:21

Keterbatasan Data Bisa Hambat Pencapaian SDGs

Nama: Rezaneri Noer Fitrianasari (Aparatur Sipil Negara di Badan Pusat…

Rabu, 12 Desember 2018 07:47

Menanti Hadirnya Taman Wisata Rohani

Oleh: Muslan PEMERINTAH tampaknya harus melakukan inovasi dalam memberikan pilihan…

Rabu, 12 Desember 2018 07:44

Lestarikan Budaya Gotong Royong Bersama BPJS Kesehatan

Oleh: Windi Winata Paramudita (Mahasiswa Magister Kebijakan Publik Universitas Mulawarman)…

Rabu, 12 Desember 2018 06:53

Financial Technology Berbasis Syariah

Oleh: Arief Rohman Arofah MA Hum (Dosen Fakultas Ekonomi dan…

Selasa, 11 Desember 2018 06:51

Persatuan di Tahun Politik

Oleh: Mukhammad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda) TAHUN politik di Indonesia…

Selasa, 11 Desember 2018 06:50

Hubungan Tiongkok-AS: Menuju Perang Dunia Ke-3?

Oleh: Rendy Wirawan (Master of International Relations, University of Melbourne)…

Senin, 10 Desember 2018 06:58

Atlet Jadi Idola Baru Kawula Muda

Oleh: Elsa Malinda EUFORIA Asian Games 2018 memang telah berlalu,…

Senin, 10 Desember 2018 06:56

Potensi Kawasan Karst Kaltim

Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi (Pemerhati Lingkungan) KAWASAN karst di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .