MANAGED BY:
SELASA
11 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 15 November 2018 07:01
Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

PROKAL.CO, Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah
(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim)

KINERJA pembangunan pemuda untuk Kaltim Tahun 2016 mencatat dua perubahan besar. Pertama, Kaltim berhasil meningkatkan nilai indeks Pembangunan Pemuda (IPP) sebesar 5,5 poin menjadi 56,33 dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai 50,83. Kedua, Bumi Etam masuk ke dalam Top 3 Provinsi yang capaian pembangunan pemudanya tertinggi di bawah DI Jogjakarta dan Bali.

Data tersebut merupakan laporan terbaru tahun ini yang diluncurkan oleh Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan dikembangkan bersama Kementerian Koordinator (Kemenko) Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Badan Pusat Statistik (BPS), dan didukung United Nations Population Fund (UNFPA).

Indeks ini dimaksudkan sebagai tolak ukur kemajuan pemuda di Indonesia yang dikaitkan dengan fenomena bonus demografi Indonesia yang akan mengalami puncaknya di tahun 2030. IPP atau Youth Development Index (YDI) mencakup lima domain, antara lain 1) Pendidikan, 2) Kesehatan dan kesejahteraan, 3) lapangan dan kesempatan kerja, 4) partisipasi dan kepemimpinan, dan 5) gender dan diskriminasi dengan bobot masing-masing 20 persen dalam perhitungannya.

Kelima domain ini memiliki relevansi dengan hak setiap pemuda dalam UU Nomor 40 Tahun 2009. Indonesia secara formal dalam UU 40/2009 tentang Kepemudaan menetapkan batasan pemuda yakni penduduk dengan kelompok usia 16 – 30 tahun. Agregat IPP secara keseluruhan berada dalam rentang nilai 0-100, dengan interpretasi positif yakni suatu capaian menuju indeks 100, capaian makin baik.

IPP ini diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi pemangku kebijakan dalam menentukan efektivitas kebijakan terkait dengan kepemudaan di mana dalam penyelenggaraan pembangunan, pemuda tidak hanya menjadi penerima manfaat dari suatu pembangunan, namun diharapkan untuk ikut aktif sebagai pengendali dan terlibat dalam proses pengambilan keputusan untuk kemajuan daerah yang akan mereka warisi dan pimpin ke depannya. 

Sumbangan terbesar dalam capaian IPP Kaltim berasal dari domain lapangan dan kesempatan kerja. Tercatat Kalimantan Timur menjadi motor penggerak utama perubahan domain ini baik secara individu provinsi maupun secara nasional.

Indeks Kaltim dalam domain ini meningkat tajam 35 poin menjadi indeks 65 dari indeks 30 di tahun 2015. Ini merupakan pertambahan tertinggi yang pernah ada pada capaian dari 34 provinsi di Indonesia. Hal ini dikarenakan peningkatan kinerja pada dua indikator pendukungnya, yakni pemuda wirausaha (white collar) dan tingkat pengangguran di Kaltim yang menunjukkan kinerja yang baik.

Pemuda wirausaha tercatat meningkat cepat dari 0,24 persen menjadi 1,41 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka pemuda turun dari 17,05 persen menjadi 16,29 persen. Capaian tersebut merupakan kinerja yang patut dihargai, namun yang menjadi catatan yakni pada tiga domain berikutnya. Pertama pada domain kesehatan dan kesejahteraan.

Tercatat poin 70 untuk tahun 2016, di mana menurun 7,5 poin dari tahun sebelumnya yang mencapai 77,50 poin. Penurunan ini bersumber dari kenaikan pada indikator pemuda korban kejahatan dari 0,47 persen menjadi 0,97 persen.

Selain itu, ada kenaikan indikator kehamilan remaja yang cukup besar dari 0,80 persen di tahun 2015 menjadi 4,82 persen pada 2016. Indikator pemuda merokok pun mengalami peningkatan meski tidak signifikan yakni dari 22,09 persen menjadi 22,59 persen. Satu indikator pada domain ini yang mengalami perbaikan kinerja ialah pada angka kesakitan pemuda yang menurun dari 5,81 persen menjadi 4,83 persen.

Kemudian dua domain yang masih berada di bawah angka nasional ialah: domain partisipasi dan kepemimpinan dan domain gender dan diskriminasi. Pada domain partisipasi dan kepemimpinan, Kaltim hanya berada pada angka 40 poin, masih di bawah angka nasional sebesar 46,67 poin.

Domain ini mengalami stagnasi jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang mana sama halnya dengan capaian secara nasional yang tidak mengalami peningkatan pada domain ini. Indikator yang dihitung dalam domain partisipasi dan kepemimpinan ialah partisipasi pemuda dalam kegiatan sosial kemasyarakatan, partisipasi pemuda dalam organisasi, dan pemuda berpendapat dalam rapat masyarakat.

Sedangkan untuk domain gender dan diskriminasi, Kaltim mencapai angka lebih rendah lagi yakni hanya mencapai 36,67 poin di mana angka nasional tercatat 43,33 poin. Domain ini pun mengalami stagnasi kinerja yang berlawanan dengan kinerja nasional yang mengalami peningkatan pada domain ini.

Indikator yang masuk dalam domain ini ialah perkawinan usia anak, pemuda perempuan sedang bersekolah menengah (SMA/sederajat atau lebih tinggi) dan perguruan tinggi, dan pemuda perempuan bekerja di sektor formal.

Terakhir pada domain pendidikan, Kaltim mencatat 70 poin pada Tahun 2016 ini. Indikator yang ada dalam domain ini menunjukkan peningkatan meski tidak signifikan, antara lain rata-rata lama sekolah dari 10,70 persen tahun 2015 menjadi 10,81 persen Tahun 2016. Indikator APK sekolah menengah meningkat 0,77 poin dari 94,55 persen menjadi 95,32 persen. Serta indikator APK PT yang meningkat 2,6 poin menjadi 26,43 persen di tahun 2016.

Laporan IPP ini memang menggambarkan kemajuan pembangunan pemuda di Kaltim, namun kerja keras masih dibutuhkan untuk mencapai hasil yang optimal. Angka IPP Kaltim (56,33) memang telah diatas IPP Nasional (50,17), namun masih dibutuhkan kerja keras untuk akselerasi untuk mencapai ataupun mendekati nilai tertinggi pada angka 100.

Hasil ini tentunya patut untuk disyukuri, walaupun memang masih diperlukan peran para pemangku kepentingan untuk mengevaluasi dan refleksi pada indikator-indikator yang  masih kurang memberikan kinerja yang baik dalam rangka pencapaian hasil yang progresif dengan menempatkan peran pemuda sebagai subjek dan aktor utama dalam mengisi pembangunan di daerah. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Senin, 10 Desember 2018 06:56

Potensi Kawasan Karst Kaltim

Oleh: Meltalia Tumanduk S. Pi (Pemerhati Lingkungan) KAWASAN karst di…

Senin, 10 Desember 2018 06:51

Menuju Pembangunan Energi Berkelanjutan

OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO (Pemerhati Ketenagakerjaan & Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:45

Embrio: Manusia Kecil yang Harus Diselamatkan

DEWASA  ini kemajuan biomedis menawarkan aneka manfaat bagi manusia. Teknologi…

Sabtu, 08 Desember 2018 06:43

Mengenal Obat Diabetes Oral dan Suntikan Insulin

MENURUT data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi penyakit…

Jumat, 07 Desember 2018 06:57

Kegalauan antara Haq dan Hak (HAM)

Oleh: Andi Putri Marissa SE (Relawan Penulis Balikpapan) BELUM lama…

Jumat, 07 Desember 2018 06:55

Guru Honorer Dulu dan Kini

Oleh: Isromiyah SH (Pemerhati Generasi dan Mengajar di Lembaga Al…

Jumat, 07 Desember 2018 06:53

Suguhkan Kepakaran Seseorang dalam Teknologi

Oleh: Olli Chandra (Mahasiswa Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer &…

Kamis, 06 Desember 2018 07:05

Longsor Sanga-Sanga: Kehendak Tuhan atau Ulah Manusia?

OLEH: FUAD FANSURI (Dosen Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Samarinda…

Kamis, 06 Desember 2018 07:02

Psikologi Lingkungan: Ironi dan Kutukan SDA di “Odah Etam”

OLEH: RANDI M GUMILANG (Dosen Bimbingan dan Konseling Islam/Gusdurian Kaltim)…

Rabu, 05 Desember 2018 06:49

Marginalisasi Penyandang Disabilitas: Renungan Hari Disabilitas dalam Perspektif Kebijakan Publik

Oleh: Dr Bambang Irawan (Kepala Laboratorium Kebijakan Publik FISIP Universitas…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .