MANAGED BY:
SENIN
18 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Rabu, 14 November 2018 06:46
Butuh Dorongan Investasi-Ekspor

Pemerintah Godok Aturan Baru

INVESTASI: Daya beli minyak sawit negara pengimpor menunjukkan pelemahan sampai September 2018. Alhasil, ekspor CPO Indonesia termasuk biodiesel menurun 3 persen menjadi 3,2 juta ton. Tampak proses pengolahan CPO.(dok/kp)

PROKAL.CO, JAKARTA – Pertumbuhan investasi dan ekspor sedang melambat. Hal itu terlihat dari investasi pada kuartal III 2018 yang realisasinya Rp 173,8 triliun. Angka itu turun 1,6 persen dibanding realisasi kuartal III 2017 yang Rp 176,6 triliun. Pertumbuhan ekspor mengalami hal yang sama.

Pada kuartal III 2018, pertumbuhan ekspor tercatat 7,52 persen. Angka itu menyusut dibandingkan pertumbuhan pada kuartal III 2017 yang 17,01 persen. “Ekonomi kita memang sedang butuh banyak trigger. Investasi kita butuh dorongan dari sisi pajak, terutama yang berorientasi ke ekspor,” jelas ekonom BCA David Sumual, Senin (12/11).

Menurunnya peringkat kemudahan berusaha atau ease of doing business (EODB) Indonesia dari peringkat 72 ke 73 menjadi pertanda bahwa ada yang harus diubah. Pemerintah sendiri sudah memberikan insentif. Di antaranya, pemberian fasilitas tax holiday hingga 20 tahun bagi investasi di atas Rp 30 triliun. Pemerintah juga sudah memudahkan pengusaha yang berorientasi ekspor untuk mendapatkan pembiayaan dari Indonesia Eximbank.

Pengamat perpajakan Yustinus Prastowo menambahkan, sebaiknya pemerintah memberikan aturan pajak baru yang lebih memudahkan investasi di hilir migas. Sebab, selama ini investasi di sektor migas masih sulit tumbuh karena fasilitas tax holiday baru diberikan untuk investor di hulu. “Harapannya, kalau mulai hulu, middle, hilir, semua dapat fasilitas yang menarik, kita bisa mengurangi impor migas. Bahkan mendorong ekspor lebih banyak,” katanya.

Saat ini, pemerintah masih menggodok aturan baru terkait daftar negatif investasi (DNI) dan devisa hasil ekspor (DHE). Menko Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyatakan, Indonesia sebenarnya telah mendapatkan tambahan investasi asing di pasar surat utang dan pasar modal. Namun, investasi langsung di sektor riil dan ekspor masih sulit.

“Kita ekspornya memang yang belum maksimal. Sementara kita dalam menghadapi transaksi berjalan yang defisit kan harus memerhatikan neraca modal dan finansial,” ujarnya.

Mengenai ekspor, Darmin menyebut perlambatan yang dialami Indonesia lebih disebabkan pertumbuhan ekonomi dan investasi global yang melambat. Di samping itu, faktor perang dagang masih membayangi pasar ekspor, terutama pasar ekspor tradisional yang selama ini berkontribusi besar pada kinerja ekspor.

Sementara itu, daya beli minyak sawit oleh negara pengimpor masih menunjukkan pelemahan sampai September 2018. Alhasil, ekspor minyak sawit Indonesia termasuk biodiesel dan oleochemical tercatat menurun 3 persen menjadi 3,2 juta ton pada September.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Mukti Sardjono menyebutkan, rendahnya harga CPO global tidak menjadi magnet kuat bagi negara impor. Sebab, harga minyak nabati lain juga murah, terutama kedelai dan biji bunga matahari. ”Harga kedelai sendiri jatuh hingga berada pada level terendah sejak 2007. Eskalasi perang dagang antara Tiongkok dan AS mempunyai andil besar dalam memengaruhi harga kedelai,” jelasnya kemarin.

Mukti melanjutkan, pasar minyak sawit tidak bergeliat meski harga sedang murah. Sebab, salah satu negara penghasil kedelai terbesar, yaitu Argentina, juga mengambil tindakan dengan mengurangi pajak ekspor guna menarik pembeli. ”Produksi minyak sawit yang meningkat, terutama di Indonesia dan Malaysia, memperburuk situasi sehingga stok menumpuk,” tambahnya.

Sepanjang September 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia (CPO dan turunannya) tidak termasuk oleochemical dan biodiesel hanya 2,99 juta ton. Angka itu mengalami stagnasi dibandingkan bulan sebelumnya dengan kecenderungan menurun. Secara year-on-year, kinerja ekspor minyak sawit pada Januari–September 2018 menurun 1 persen menjadi 22,95 juta ton. (rin/agf/c17/oki/jpg/ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 15 Februari 2019 11:20

Akhirnya, Garuda Turunkan Harga Tiket

JAKARTA – Keluhan terkait tingginya harga tiket pesawat mendapat respons…

Rabu, 13 Februari 2019 13:34

Asing Ambil Profit, Rupiah Kembali Melemah

JAKARTA – Tekanan terhadap rupiah belum reda. Merujuk data Jakarta…

Selasa, 12 Februari 2019 13:34

WOW..!! Tarif Bagasi Lion Air Rp 25 Ribu per Kilogram

Lion Group memutuskan melakukan penyesuaian tarif bagasi atau excess baggage…

Selasa, 12 Februari 2019 10:37

BELUM MEMBAIK..!! Setahun, Rumah Mewah Hanya Terjual Lima Unit

SAMARINDA - Real Estate Indonesia (REI) Provinsi Kaltim mencatat penjualan…

Senin, 11 Februari 2019 11:42

Obligasi Ritel Bikin Likuiditas Seret

JAKARTA – Gencarnya penerbitan surat berharga negara (SBN) bakal sedikit…

Senin, 11 Februari 2019 11:40

Pacu Ekspor Baja ke Malaysia-Australia

JAKARTA – Tahun ini pelaku usaha baja melihat potensi peningkatan…

Minggu, 10 Februari 2019 09:37

Soal Bagasi Berbayar, Maskapai Penerbangan Diminta Lakukan Ini...

Dirjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Polana B. Pramesti minta agar…

Minggu, 10 Februari 2019 09:18

Mulai Hari Ini, Harga Pertamax Turun

PT Pertamina (Persero) kembali melakukan penyesuaian harga BBM atau bahan…

Sabtu, 09 Februari 2019 09:00

Peringati Hari Pers Nasional, Astra Motor Samarinda Hadirkan Mobil Service Kunjung

SAMARINDA - Menyambut Hari Pers Nasional 2019, Main Dealer Astra…

Kamis, 07 Februari 2019 11:09

LUPUT..!! Janji Pertumbuhan Ekonomi 7 Persen, yang Bisa Diraih Hanya 5,17 Persen

JAKARTA- Akhirnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan pertumbuhan ekonomi atau…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*