MANAGED BY:
SENIN
17 DESEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM REDAKSI

Senin, 12 November 2018 08:41
Bingung Bersama Usai Jumatan di Kowloon

PROKAL.CO, CATATAN: FAROQ ZAMZAMI (*)

MASJIDNYA di Hong Kong. Tapi, khotbah Jumat menggunakan bahasa Urdu. Jamaahnya kebanyakan berwajah Pakistan dan India. Tak sedikit pula Afrika. Beberapa terlihat warga Tionghoa. Urutan Jumatannya pun berbeda dengan umumnya muslim di Indonesia. Jadilah kebingungan menyapa setelah beribadah. Itu yang saya alami saat ikut Jumatan di Masjid dan Islamic Center, Kowloon, Hong Kong, tiga hari lalu, 9 November.

Pekan lalu, saya berada di Hong Kong untuk mengikuti Konferensi Digital Media Asia (DMA). Pada 7–9 November 2019. Ajang ini diikuti 410 peserta dari kalangan jurnalis, peneliti, hingga pimpinan perusahaan yang berkaitan dengan pemberitaan. Mereka datang dari berbagai negara. Tak hanya Asia. Ada juga dari sejumlah negara di Eropa, Australia, dan Selandia Baru. 

Kaltim Post menghadiri acara ini bersama Tanoto Foundation (TF). Yang tergabung dalam rombongan grup Royal Golden Eagle (RGE). Ada 27 orang. Di luar grup ini, ada puluhan lagi peserta perwakilan media dari Tanah Air.  Dua hari konferensi, yakni 8-9 November digelar di Hotel Mira. Yang jarak ke Masjid Kowloon tak lebih 300 meter. Ditempuh jalan kaki. Asyik. Karena pedesteriannya besar. Malah sebesar jalan. Diselimuti dedaunan pohon yang rindang. Ramai pula. Lalu-lalang orang. Kebanyakan pelaku wisata. Berjalan jauh pun tak melelahkan.

Data menunjukkan Masjid Kowloon yang saat ini sedang direnovasi itu termasuk dua di antara lima masjid utama di Hong Kong. Masjid berdiri di daerah Kowloon. Tepatnya pada tikungan Jalan Nathan dan Jalan Haiphong. Berseberangan dengan Kowloon Park.  Saat Jumatan lalu, masjid juga dipadati jamaah. Di lantai 1 dan 3. Lantai 2 sepi. Karena memang khusus untuk jamaah perempuan. Hanya terlihat sejumlah bocah yang bercengkerama. Lantai 2 ini pun tertutup. Ada sekat.

Saya datang ke masjid lebih awal. Tak biasa memang. Kalau di Indonesia keseringan saat Jumatan menunggu azan dulu. Baru ke masjid. Hehehe... Lima puluh menit sebelum ajakan salat berkumandang saya sudah tiba di masjid. Yang datang juga kebanyakan baru orang tua. Dan wajah Indonesia, yang beberapa merupakan peserta DMA.

Setengah jam sebelum azan, baru ada geliat dari mikrofon.  Suara orang mengaji. Secara langsung. Bukan menyetel rekaman kaset. Di antaranya membaca Surah Yasin. Tak sampai habis. Sekira 10 menit sebelum azan suara itu berhenti. Kembali sunyi. 

Pertama masuk masjid, saya memilih melihat lantai 1. Di lantai ini interior berbeda dengan lantai 3. Lantai ditutup ambal cokelat. Dindingnya pun berwarna senada. Di bagian dalam, sisi kiri dan kanan, tersusun kursi besi. Dua baris ke belakang. Digunakan untuk jamaah yang sudah lanjut usia. Tak banyak hiasan dinding. Hanya tulisan Bismillahirrahmanirrahim. Di sebuah pigura persegi panjang. Dipasang di bagian atas dinding yang menghadap pintu utama. Di bawah tulisan Arab itu digantung jam. Hanya dua item itu pemanis ruangan. Ada akses ke dapur di lantai ini. Di sisi kanan. Diketahui dari tulisan berbahasa Inggris di pintunya. 

Tempat wudu pria, dari gerbang pintu masuk utama, ada di sisi kiri. Material interiornya didominasi bebatuan. Kursi untuk duduk di tempat wudu pun dari batu. Warna abu-abu. Yang tak biasa, di tiap keran, dipisahkan oleh kaca. Setinggi paha. Menghalau percikan air dari orang yang berwudu di sebelahnya. Setelah azan, saya naik ke lantai 3.

Renovasi terlihat di lantai ini. Bagian tengah ditutup terpal biru-putih. Menutupi sisi yang diperbaiki. Lantai utama ini dari marmer warna susu. Dindingnya pun begitu. Imam memimpin salat dari lantai ini. Juga khotbah Jumat. Tak banyak pula ornamen di hall utama. Di dinding bagian depan hanya ada lafaz “La ilaha illallah”. 

Saat Jumatan, azannya sama dengan di Indonesia kebanyakan. Dua kali. Azan pertama, kemudian pria dengan janggut tebal hingga menutupi leher bagian depan, berpakaian serbaputih, naik mimbar. Posisinya di sisi kiri dari tempat imam. Mimbar setinggi dada. Di sisi depan atas ada tulisan Kowloon Masjid. Yang huruf L-nya terkelupas. Dugaan saya karena masih direnovasi jadi beberapa bagian di masjid ini dibiarkan dulu seadanya. 

Di sini khatib berbicara dengan bahasa Urdu. Juga bahasa Inggris. Sesekali mengutip ayat-ayat Alquran. Lama dia berbicara saat itu. Hampir 25 menit dalam hitungan saya. Saya duga inilah khotbah Jumatnya. Karena seperti umumnya ceramah. Mengajak pada kebaikan. Mencontohkan cerita-cerita para rasul terdahulu. Sebagai pelajaran. Banyak mengutip ayat yang bercerita tentang Nabi Musa. Dan Bani Israil. 

Hampir setengah jam, penceramah itu turun. Menuju tempat imam. Di sampingnya. 

Saya pun spontan berdiri. Biasa urutan Jumatan yang saya tahu begitu. Jamaah lain juga berdiri. Sebagian. Tapi tak dikumandangkan ikamah. Sang imam rupanya salat sunah. Jamaah lain pun sama. Saya kecele. Lihat kanan kiri. Posisi tetap berdiri. Tapi tak melakukan salat sunah. Hampir 30 detik. Baru duduk lagi. Setelah salah tingkah. Ketika jamaah di kanan saya yang hanya duduk sempat melirik ke arah saya.  Jamaah lain salat empat rakaat. Dua, dua.

Setelah itu muazin mengumandangkan azan. Tambah bingung saat sang khatib naik ke mimbar satunya. Di sisi kanan imam. Mimbar seperti di masjid Indonesia saat Jumatan. Yang tak ada penutup di bagian depan. Khatib memegang tongkat. Juga sama seperti di Indonesia. Bedanya, tongkatnya lebih pendek. Hanya setinggi paha. Kecil pula diameternya. Kalau di Indonesia panjang hingga sedada. Dan bodinya besar saat digenggang. 

Saat itu, sang khatib membuka ceramah seperti mukadimah Jumatan di Indonesia. Tambah bingung lagi saya. Kali ini semua menggunakan bahasa Arab. Kemudian dilanjutkan doa. Waduh. Di tengah kebingungan, ikut saja yang dilakukan jamaah lain. Menengadahkan tangan. Dan mengucapkan amin, amin. 

Tak sampai 10 menit. Tak seperti saat khotbah sebelumnya. Yang di mimbar berbeda. Setelah itu imam ke tempat salat. Semua berdiri. Ikamah dikumandangkan. Beberapa lafaz ikamah diulang dua kali. Seperti azan. Baru imam memimpin salat Jumat. Seperti di Indonesia. Setelah itu imam langsung memimpin doa usai salat. Juga langsung dilanjutkan salat sunah. Yang kebanyakan hingga empat rakaat. Jamaah lain pun langsung berdiri untuk salat sunah. Kebanyakan juga empat rakaat.

Keluar masjid, saat bertemu rombongan satu grup, kami saling tatap. Mereka Jumatan di lantai 1. Dan lebih bingung dari saya. Karena tak melihat langsung apa yang terjadi di lantai tiga. Semua juga mengaku kecele. “Tadi itu khutbahnya yang mana? Pas sudah selesai yang ceramah dua bahasa itu saya berdiri. Kirain langsung salat. Seperti biasa. Ternyata ada khutbah lagi ya,” kata jurnalis dari Riau. 

Saya katakan ke dia. Saya yang di lantai atas, melihat langsung saja, bingung. Apalagi Anda di lantai bawah.  Hanya mendengar orang berbicara. Dengan bahasa asing pula. Lantas saya buka Google. Mencari mazhab yang banyak dianut warga Pakistan dan sekitarnya. Di beberapa artikel ditulis bermazhab Hanafi. Sementara di Indonesia kebanyakan Syafi’i. Ya, sudah. Pembahasan soal itu tak kami lanjutkan. 

Lebih asyik foto-foto di depan masjid. Dengan latar belakang bangunan yang direnovasi. Juga suasana padat jamaah keluar tempat sujud itu. Yang cukup sesak. Karena di depan pagar beberapa orang berjualan makanan halal. Nasi khas Timur Tengah. Roti. Dan lainnya. Bersisian dengan empat sampai enam orang yang meminta-minta kepada jamaah yang baru keluar.

Saya baru paham saat bertemu orang Indonesia. Setelah 30 langkah dari masjid. Yang merupakan sepupu dari jurnalis Riau tadi. Yang sudah lama tinggal di Hong Kong. Kata perempuan berjilbab itu, kalau baru ikut salat di masjid tersebut memang bingung. Dan itu memang masjid komunitas Pakistan. Masjid milik komunitas muslim Hong Kong di tempat lain. Juga di Kowloon. Tapi agak jauh. Pantas saja. Gumam saya. Setidaknya saya dapat pelajaran baru. Dalam beragama. Langsung melihat praktiknya pula. (far2/k16)

(*) Pemred Kaltim Post

loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2012 07:14

Sambaliung-Gunung Tabur Bakal Terhubung

<div> <div> <strong>TANJUNG REDEB</strong> - Selain Pembangunan Jembatan Kelay…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .