MANAGED BY:
SABTU
17 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Kamis, 08 November 2018 08:50
Rusto’s Tempeh Man Jadda

Seri 3-Habis

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

TIDAK ada sukses yang datang tiba-tiba. Begitu pun Rustono. Dengan Rusto’s Tempeh-nya. “Usahanya berkembang ke seluruh dunia karena semangat Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil),” kata wartawan Disway, Dahlan Iskan dalam seri terakhir kisah Raja Tempe di Jepang itu.

Daerah pegunungan luar Kota Kyoto ini indah sekali. Lokasi pembuatan tempe nomor 3 ini istimewa. Di sebuah lereng. Antara jalan kampung itu dan sungai. Yang airnya mengalir tipis. Di sela-sela bebatuan. Jernih sekali.

Saya heran. Kok Rustono diizinkan membangunnya di situ. Beruntung sekali anak desa Grobogan itu. Di sekelilingnya hutan pinus. Di kejauhan sana tampak danau besar. Yang lingkarnya 200 kilometer. “Kalau musim gugur indahnya bukan main. Dedaunan di sini semua berwarna kuning dan merah,” katanya.

Itu berarti sekitar dua minggu lagi. Saya terlalu dini datang ke sini. Ini pun di mata saya sudah sangat indah: gunung, sungai, bebatuan, hutan dan jalan yang berkelok-kelok. Itu sesuai dengan impian Rustono muda. Tetap di desa tapi beda kelasnya.

Kini Rustono 50 tahun. Anaknya dua: perempuan semua. Yang besar sudah kuliah: di pariwisata. Cita-citanya jadi pemandu wisata. Yang kecil masih SMA. Sudah pandai memainkan saksofon. Seperti ayahnya.

Saya diperlihatkan videonya: ayah dan bungsu main saksofon. Si sulung main keyboard. Asyik. Main musik bertiga. Dua saksofon saling sautan. Keluarga ini juga sering berdayung kano. Di danau itu. Dan mancing. Tidak ada danau dan kano di desanya dulu. Di Grobogan. Dulu alam seperti pedesaan Kyoto ini hanya ada dalam mimpi.

Anak-anaknya itu pernah diajak ke Indonesia. Ke Grobogan. Tapi tidak ada keinginan untuk pindah ke Indonesia. Rustono sendiri sudah menyatu dengan istrinya. Di pegunungan ini. “Saya sering bilang ke istri saya. Ingin sampai mati di sini. Mayat saya terserah dia. Mau dikubur silakan. Mau dikremasi enggak apa-apa,” katanya.

Tapi Rustono tetap pegang paspor Indonesia. Hanya statusnya beda. Sudah permanen resident di Jepang. Anak-anaknya pilih jadi warga negara Jepang. “Saya kan orang Jawa. Tidak punya marga. Saya izinkan anak-anak saya menggunakan marga ibunya,” ujar Rustono.

Tempe sudah menjadi usaha utamanya. Dan satu-satunya. Rustono ingin menjadi seperti orang Jepang pada umumnya: profesional. Menekuni satu bidang. Dengan amat sungguh-sungguh. Sampai ahli. Sampai sempurna. Sampai jadi rajanya.

Kini gelar raja tempe sudah disandangnya. Literatur tempe sudah dikuasainya. Rusto’s Tempeh sudah jadi brand-nya yang kuat. Kini Rustono membuat langkah baru: dari Indonesia untuk dunia. Tidak hanya puas menjadi raja tempe Jepang. Ia sedang mengembangkan tempe di Meksiko, Korea Selatan, Austria, dan sebentar lagi Amerika Serikat. Menggunakan sistem waralaba.

Rustono yang memegang rahasianya. Tidak ia berikan ke pemegang waralabanya: ragi. Di negara mana pun tempe dibuat: raginya harus dibeli dari Rusto’s Tempeh. Kini literatur dunia tentang tempe selalu mengacu pada Rusto's Tempeh. “Banyak yang datang ke sini belajar bikin tempe,” ujar Rustono.

Waralabanya yang di mancanegara itu semua pernah ke Kyoto. Dua minggu tinggal di rumah Rustono. Tidur di situ. Di lantai atas rumahnya itu. Sampai merasa mampu membuat tempe di negara masing-masing. Dengan merek Rusto’s Tempeh. “Saya sengaja menulis tempeh agar dibaca tempe. Kalau saya tulis tempe nanti dibaca timpi,” katanya.

Memang di negara mana pun ada ragi. Dalam bahasa Inggris disebut yeast. Yang untuk bikin roti itu. Tapi ragi untuk tempe berbeda. Kalau pakai ragi roti tempenya akan warna cokelat.

Di mana bedanya? “Ya itulah bagian dari yang harus saya rahasiakan,” kata Rustono. “Istri saya pun belum saya beri tahu,” tambahnya. Rahasia itu akan ia wariskan ke anaknya kelak. Si sulung masih ingin bekerja dulu sebagai pemandu wisata di Jepang. Lalu ingin jadi pemandu wisata di Eropa. Untuk turis Jepang. Setelah puas dengan itulah. Baru akan meneruskan usaha bapaknya. Kira-kira 15 tahun lagi. Khas orang Jepang: punya perencanaan jangka panjang.

Saya menghormati kerahasiaan Rustono akan raginya. Tidak apa-apa. Mengapa? Ia tidak tahu: saya bisa bikin ragi itu. Dulu. Saat masih kecil di desa. Mudah sekali. Dan cepat sekali. Rasanya, dulu, saya selalu membuat ragi sendiri. Dari tempe yang ada. Kalau belum lupa.

Apakah sukses Rustono ini sukses kebetulan? Kebetulan karena ada wartawan lewat di depan rumahnya? Kebetulan itu di musim salju? Kebetulan wartawannya tiba-tiba tertarik memotretnya? Kebetulan Rustono lagi iseng dengan menjawab sekenanya: lagi membangun mimpi? Kebetulan wartawan itu dari koran besar? Saya tidak setuju dengan “teori kebetulan” itu.

Sama dengan saat wartawan saya dulu memenangkan hadiah foto terbaik dunia: Sholehuddin. Anak Kediri. Yang memotret ini: truk militer bermuatan penuh supporter Persebaya. Terlalu penuh. Sampai truk itu dalam posisi hampir terguling. Roda sebelahnya sudah terangkat tinggi. Banyak supporter yang tumpah dari truk itu. Terlihat kepanikan supporter. Terlihat kepanikan sopirnya. Yang pakai seragam tentara.

Foto itu jadi juara dunia. World Press Photo. Dengan keputusan dewan juri secara aklamasi. Tanpa perdebatan. Jarang sebuah foto langsung terpilih dengan cara itu: aklamasi.

Banyak wartawan yang berpendapat: itu foto kebetulan. Sholehuddin kebetulan ada di dekat lokasi. Momentumnya kebetulan pas suporter itu tumpah ke samping. Kebetulan hasilnya tidak kabur.

Kebetulan dia memang bukan fotografer. Ia wartawan tulis. Yang kebetulan bisa memotret. Sebatas bisa memotret. Tapi, kata saya membelanya, itu bukan kebetulan. Itu hasil dari sebuah kesungguhan. Sholehuddin adalah wartawan yang sungguh­sungguh. Rajin. Jalan terus. Nggelitis, istilah saya.

Kalau Sholehuddin bukan tipe wartawan seperti itu bisakah ia kebetulan berada di lokasi truk yang hampir terguling itu? Demikian juga Rustono. Si raja Rusto’s Te­mpeh. Dari Kyoto itu. Eh, dari Grobogan itu.

Akankah ada wartawan yang melihatnya? Kalau hari itu ia hanya duduk-duduk malas, makan singkong bakar panas? Di dalam rumahnya? Di musim salju itu? Mungkin itu memang ada unsur kebetulannya. Tapi kebetulan yang diundang. Kebetulan yang dijemput. Kebetulan yang bukan sekadar kebetulan. Itu hasil kesungguhan. Man Jadda Wajada. Sungguh mudah diucapkan. Sungguh jarang yang bisa melaksanakan. Rustono adalah manusia Man Jadda Wajada itu. (dis/habis/rom/k18)


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 08:19

Nana Begitu Dibela Anak Autisnya

OLEH: DAHLAN ISKAN BANYAK yang punya anak autis. Tapi tidak seperti Nana. Yang habis-habisan. Mencarikan…

Rabu, 14 November 2018 08:49

Pembentuk Game of Life yang Berakhir

OLEH: DAHLAN ISKAN BAGAIMANA hasil pemilu internal Singapura? Begitulah pertanyaan pembaca Disway. Soal…

Selasa, 13 November 2018 08:27

Mahathir Kembali Urus Jembatan Bengkok

OLEH: DAHLAN ISKAN MAHATHIR ke Singapura. Kemarin. Membawa dendam lama. Mungkin. Sangat mungkin. Bahkan…

Senin, 12 November 2018 08:44

Referendum Sensitif yang Mengkhawatirkan

OLEH: DAHLAN ISKAN KOK tensinya memanas begini; Taiwan memutuskan sesuatu yang sensitif. Akan mengadakan…

Minggu, 11 November 2018 08:26

Singapura Mencari Generasi Keempat

OLEH: DAHLAN ISKAN HARI ini ada pemilu di Singapura. Pemilu di internal partai penguasa: PAP (People's…

Sabtu, 10 November 2018 06:59

Profesor Egaliter yang Tanpa Kasir

INILAH  profesor yang ideal: badannya langsing, tidak pernah masuk rumah sakit, tidak pernah minum…

Rabu, 07 November 2018 08:39

Membangun Mimpi dari Atas Atap

Seri 3 OLEH: DAHLAN ISKAN UJIAN Rustono akhirnya mencapai batas. Berkat sumber air dari kuil itu, Rustono…

Senin, 05 November 2018 08:25

Raja Tempe Maling Hati untuk Tamunya

Seri 1 OLEH: DAHLAN ISKAN CERITA raja tempe di Jepang asal Kabupaten Grobogan itu sungguh menarik. Wartawan…

Minggu, 04 November 2018 07:36

Guncangan Baru dari Tanah Bavaria

OLEH: DAHLAN ISKAN PEREMPUAN besi itu mencair. Luluh. Tidak mau lagi memimpin partainya. Yang menang…

Jumat, 02 November 2018 08:19

Love Kim dari BigRed Irlandia

OLEH: DAHLAN ISKAN DARI Pyongyang saya harus bermalam di Beijing. Satu-satunya jalan hari itu. Pesawat…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .