MANAGED BY:
SENIN
25 MARET
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 08 November 2018 06:58
Pentingnya Negosiasi dalam Hubungan Industrial

PROKAL.CO, OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO
(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti)

JALAN buntu atau deadlock sering menghantui para pihak dalam bernegosiasi. Misalnya saat perundingan kerja bersama (PKB) dalam hubungan industrial antara perusahaan dan serikat buruh/pekerja (SB/SP). Masing-masing pihak bersikukuh pada pendiriannya, tidak mau tahu dan asal pokoknya (pokrol bambu).

Kondisi demikian, ujung-ujungnya akan berdampak negatif pada kinerja dan kepentingan kedua belah pihak. Kesalahan umum yang sering terjadi adalah ketidakmampuan para pihak melakukan negosiasi. Keberhasilan negosiasi dalam hubungan industrial tecermin pada penandatangan PKB. Secara nasional, hingga 2018 ada PKB sebanyak 14.195 dan LKS Bipartit sebanyak 16.963.

Menurut Dr Herlina Saragih, pakar ilmu komunikasi dan dosen Universitas Pertahanan, kegagalan negosiasi akibat dari para negosiator (juru runding) yang diutus masing-masing pihak tidak berkompeten, tidak memiliki frame of reference and frame of field experiences sehingga tidak mampu menunaikannya secara elegan.

Di sisi lain, Menteri Tenaga Kerja Hanif M Dhakiri menyatakan keprihatinannya atas perkembangan SB/SP yang baru mencapai sekitar 2 persen atau 7.294. Harapannya SP/SB tumbuh lebih besar setidaknya ada satu SP/SB di setiap perusahaan, yang mencapai sekitar 386 ribu perusahaan. Ini menjadi concern kita semua, mengingat SDM sebagai human capital yang sangat penting dalam perusahaan.

Terlebih menghadapi revolusi industri 4.0 yang serbadigital dan sangat cepat. Terkait perkembangan SB/SP, menurut Haiyani Rumondang, dirjen PHI & Jamsos Kemnaker mutlak diperlukan kehadiran negara. Negara harus mengambil tindakan yang diperlukan untuk mendorong dan memajukan penggunaan mekanisme perundingan sukarela antara pengusaha dan SB/SP sebagaimana diamanatkan dalam Konvensi ILO Nomor 98/1949.

Hakikat Negosiasi

Negosiasi pada hakikatnya merupakan proses membahas dan menyepakati berbagai hal yang semula milik masing-masing pihak (milik kami atau milik mereka) menjadi milik bersama (milik kita). Transformasi atas “kami, mereka dan kita” dapat dibedakan menjadi tiga dimensi.

Yakni syariat dalam arti transformasi atas kami berbuat dan mereka berbuat menjadi kita berbuat. Kedua, hakikat dalam arti transformasi atas kami berharap dan mereka berharap menjadi kita berharap. Terakhir, makrifat dalam arti transformasi atas kami tahu dan mereka tahu menjadi kita tahu.

Dalam implementasinya para pihak (perusahaan dan SB/SP) harus berusaha mencari solusi. Mengingat human capital (SDM) sifatnya heterogen, dinamis dan merupakan aset sangat penting dalam organisasi/perusahaan.  

Komunikasi yang dibangun semestinya tidak kontraproduktif, sehingga harus fleksibel dan saling menghargai. Agar tidak terjadi kegagalan komunikasi maka harus menghindari kesalahan-kesalahan dalam komunikasi.

Umumnya pengirim pesan/komunikator cepat-cepat berbicara tanpa menyusun ide, terlalu banyak gagasan, tidak fokus, pernyataan terlalu pendek, mengabaikan pengetahuan pihak lain dan tidak merumuskan pesan sesuai sudut pandang penerima. Bagi penerima pesan cenderung tidak memerhatikan, menyusun jawaban sebelum mendengar secara lengkap, memerhatikan detail bukan pesan secara keseluruhan dan menilai benar salah sebelum memahaminya. 

Para pihak yang melakukan negosiasi harus memiliki imaginative, creative dan argumentative thinking sehingga hasilnya maksimal dan menguntungkan para pihak. Prinsip yang dipegang meliputi trust/percaya, openned/terbuka, responsible/tanggung jawab dan interdependency/ketergantungan antara satu dengan yang lain.

Agar negosiasi berjalan baik dan menghasilkan kesepakatan yang maksimal perlu adanya persiapan yang baik, perkirakan, rencanakan, kendalikan dan koordinasikan secara simultan. Persiapan yang baik seperti menyiapkan kondisi yang kondusif antarpihak merupakan 50 persen keberhasilan dari negosiasi.

Di sinilah diperlukan semacam team building yang mempertemukan para pihak dalam suatu situasi dan kondisi agar saling memahami dan mencapai semangat kebersamaan untuk fokus menyelesaikan persoalan secara terbuka, elegan, dan humanis.

Jika prosesnya diperkirakan akan menemui jalan buntu sebaiknya ditunda, diadakan lobby yang professional. Dapat juga ditempuh jalan tawar-menawar (bargain) maupun tukar-menukar (barter) sehingga tercapai win-win solution. Strategi yang dapat dilakukan antara lain: menghindar, mengakomodasi, kompromi, kompetisi dan penyelesaian masalah.  

Keberhasilan negosiasi juga akan mempercepat penandatangan PKB sehingga menjadikan kedua belah pihak nyaman dalam mencapai target-target tanpa harus ada konflik, kegaduhan, perselisihan atau bahkan “permusuhan”.

Pemecahan masalah dan penyelesaian konflik harus dimulai dengan positive thinking dan niat baik yang diwujudkan saling memahami dan menghargai serta melihat kepentingan yang lebih besar dan menjangkau ke depan. Kondisi ini akan mendukung pembangunan terutama di sektor ekonomi maupun sustainability.

Para pihak yang telah mencapai kesepakatan pada kekitaan sungguh memiliki peranan yang sangat penting dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan (sustainable development) yang berusaha memenuhi kebutuhan masa sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang untuk memenuhi kebutuhannya.

Menurut Aswansyah, direktur KKHI Kemnaker bahwa pra-perundingan melalui team building sangat penting dalam mempersiapkan pra-kondisi sebelum perundingan PKB dimulai. Di sini diperlukan para negosiator yang memiliki niat baik, ikhlas dan kompeten sehingga menghasilkan kesepakatan yang dapat diterima oleh para pihak, bahkan  jauh ke depan menghasilkan outcome bagi para pemangku kepentingan (stakeholders).

Menurutnya, sejak 2014 hingga sekarang Kemnaker telah menghasilkan 194 orang trainer kaliber nasional yang andal dan terampil bernegosiasi dalam hubungan industrial. Mereka berasal dari 34 konfederasi/federasi SP/SB, 34 perusahaan (anggota PUK & manajemen perusahaan) dan 26 instansi pemerintah di bidang ketenagakerjaan. 

Antara lain: Budi Satria (e-mail: budisatria78@yahoo.com) dan Suharyono Soemarwoto (e-mail: harysmwt@gmail.com), dari Kalimantan Timur; Agus Guntur (e-mail: agus.gunturpm@gmail.com) dari Apindo DKI Jakarta; Nofel dari Sarbumusi wilayah Riau. Selanjutnya, dalam penerapan pembelajaran atau training kepada orang dewasa harus memerhatikan prinsip-prinsip andragogi.

Hubin Setara, Dinamis dan Progresif

Adalah Budi Satria ketum SP PHM (Pertamina Hulu Mahakam), Ida Yusmiati direktur PHM dan John Anis GM PHM telah memulai hubungan industrial setara, dinamis dan progresif sebagai wujud pengamalan nilai-nilai Pancasila. Setara mengakui masing-masing pihak dalam posisi sejajar. Dinamis terus bergerak dan berkembang dibarengi spirit progresif untuk mencapai target-target bersama ke depan.

Implementasinya disepakati forum komunikasi untuk membahas berbagai hal terkait hubungan industri (hubin) secara reguler tiga bulanan. Ataupun komunikasi lainnya jika dipandang perlu untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi bersama. Strategi yang dikembangkan SP PHM dalam menjaga muruah organisasi pekerja senantiasa bertumpu pada lima pilar.

Yaitu: 1) U2M2 = Union to Member & Management, 2) U2U = Union to Union, 3) U2G = Union to Government, 4) U2NGO = Union to Non-Government, dan 5) U2M = Union to Media sebagai implementasi organisasi yang bersifat otonom dan tidak boleh diintervensi pihak mana pun.

Hubungan industrial yang semacam ini akan berdampak positif dan memperkukuh pilar ketenagakerjaan nasional Indonesia sehingga SP/SB akan menjadi wadah perjuangan aspirasi yang profesional, diperhitungkan dan menjadi tameng yang kuat. Pun, berdampak positif pada sektor ekonomi mengingat pentingnya human capital dalam proses bisnis perusahaan.

Dengan demikian, para pihak diharapkan mampu memahami dan menguasai keterampilan bernegosiasi dalam hubungan industrial mengingat negosiasi sangat penting peranannya dalam menyukseskan perundingan; sehingga mampu melakukannya dengan baik dan mencapai win-win solution. Sebaiknya meminta para trainer kaliber nasional untuk membantu. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 15 Maret 2019 11:51

Persiapkan Komisioner KPU 2024 – 2029 Sejak Sekarang

Catatan Abd. Kadir Sambolangi: Anggota panitia seleksi (Pansel) calon Komisi…

Rabu, 13 Maret 2019 10:40

Mereka Anggap Monster Itu Bernama Prabowo

Oleh : Hersubeno Arief Mereka ingin memutarbalik arus besar perubahan…

Minggu, 03 Maret 2019 11:34

Keadilan untuk Pak Sopir

Oleh: Bambang Iswanto, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda…

Minggu, 03 Maret 2019 11:21

Memilih (Ke) Pemimpin (An) dengan Iman

Oleh : Dewi Sartika, SE., MM*   Perhelatan akbar sebentar…

Sabtu, 09 Februari 2019 12:49

Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhamad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda)  Judul ini diangkat dari…

Sabtu, 09 Februari 2019 10:47

Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Oleh: Ramon Damora Wartawan Indonesia KETUA Dewan Pers, Yosep Adi…

Selasa, 05 Februari 2019 10:18

Posisi Ketua Adat dalam Acara Pemerintah

PERINGATAN ulang tahun ke-59 Kabupaten Paser berjalan dengan sukses, meski…

Rabu, 30 Januari 2019 07:24

Guru Ideal dan Revolusioner

Oleh: Heni Susilowati MPd (Guru SMA 1 Long Kali, Paser)…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*