MANAGED BY:
JUMAT
21 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Kamis, 08 November 2018 06:44
Utamakan Ekspor Ketimbang Suplai PLN
PILIHAN: Pengusaha batu bara di Kaltim lebih memilih ekspor daripada menyuplai kebutuhan PLN karena harga yang ditetapkan Kementerian ESDM terlalu rendah.(dok/kp)

PROKAL.CO, SAMARINDA - Rendahnya harga batu bara yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), membuat pengusaha di Kaltim lebih memilih ekspor ketimbang memasok kebutuhan PLN. Diketahui, harga emas hitam yang ditetapkan Kementerian ESDM sebesar USD 70 per metrik ton. Lebih rendah dari harga batu bara acuan (HBA) yang saat ini berada di angka USD 97,90 per metrik ton.

Mengacu pada Keputusan Menteri (Kepmen) ESDM Nomor 1395K/30/MEM/2018 tentang Harga Batu Bara untuk Penyediaan Tenaga Listrik untuk Kepentingan Umum, disebutkan bahwa harga jual batu bara untuk penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum USD 70 per metrik ton free on board (FOB) Vessel. Ketetapan harga ini berlaku selama dua tahun, mulai 1 Januari 2018 hingga 31 Desember 2019.

Ketua Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) Samarinda, Eko Priyanto mengatakan, pihaknya tidak bisa menghitung berapa banyak pengusaha yang menjual di dalam negeri untuk PLN atau berapa banyak yang melakukan ekspor. Yang jelas, hampir semua pengusaha memilih melakukan ekspor langsung.

“Kebanyakan perusahaan masih tergantung pada harga. Jika harga jual untuk ekspor di bawah harga yang ditetapkan untuk PLN, maka banyak yang menjual untuk PLN. Sebaliknya jika harga tinggi seperti sekarang, tidak mau menjual ke PLN kecuali yang sudah dikontrak,” tuturnya Rabu (7/11).

Dia mengungkapkan, kalau sebuah perusahaan terikat kontrak, mereka tidak bisa bergeser dan tetap memberikan hasil produksi untuk kebutuhan dalam negeri. “Di Samarinda, penetapan harga itu cukup berpengaruh,” tegasnya.

Terlebih, saat ini perusahaan batu bara yang bertahan hanya perusahaan besar. Jatuhnya komoditas ini pada 2014 membuat banyak perusahaan gulung tikar dan hanya menyisakan perusahaan besar. “Mereka (perusahaan besar, Red) semuanya kebanyakan ekspor langsung. Tidak untuk supply dalam negeri,” ujarnya.

Pemerintah memang menerapkan aturan yang mewajibkan para pengusaha menjual batu bara untuk menyuplai PLN. Namun, nyatanya banyak kendala. Sehingga sebetulnya tidak terlalu berpengaruh dengan ketetapan harga dari pemerintah. Pengusaha masih bisa memilih untuk menjual ke siapa hasilnya.

Lagi pula harga yang ditetapkan tersebut untuk spesifikasi rendah. Atau didasarkan atas spesifikasi acuan pada kalori 6.322 kcal per kilogram GAR, total moisture 8 persen, total sulphur 0,8 persen dan ash 15 persen.

“Yang jelas Kaltim tidak berpengaruh karena kita masih ekspor. Bukan tidak peduli negeri tapi harga yang ditawarkan sangat rendah, pengusaha tentunya bebas memilih selama tidak ada kontrak yang terjalin,” pungkasnya. (*/ctr/ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 20 Juni 2019 21:09

PHM Capai Setahun Tanpa LTI, John Anis : Komitmen Terhadap Keselamatan Kerja Jangan Mengendur

SAMARINDA- PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), operator Wilayah Kerja (WK)…

Rabu, 19 Juni 2019 10:49

Banjir Samarinda Tidak Menyebabkan Inflasi

SAMARINDA- Banjir yang menggenangi Samarinda sejak Jumat (7/6) lalu ternyata…

Rabu, 19 Juni 2019 10:48

BERKAH..!! Ramadan Kerek Pendapatan PT Pos

BALIKPAPAN- PT Pos Indonesia (Persero) area Balikpapan berhasil membukukan pertumbuhan…

Sabtu, 15 Juni 2019 12:06

Transaksi Nontunai Kaltim Menurun 8,71 Persen

SAMARINDA-Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI) dan Bank Indonesia-Real Time…

Sabtu, 15 Juni 2019 12:01

Realisasi Investasi Capai Rp 9,24 Triliun

SAMARINDA-Pada 2019, Kaltim menargetkan realisasi investasi mencapai Rp 36,35 triliun.…

Sabtu, 15 Juni 2019 11:47

Optimistis Pariwisata Samarinda Makin Mantap, Ini Indikatornya

SAMARINDA-Sejak beroperasinya Bandara Udara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, pariwisata…

Jumat, 14 Juni 2019 15:58

Cadangan Devisa Indonesia Turun Lagi

JAKARTA – Jumlah cadangan devisa (cadev) RI turun terus sejak…

Jumat, 14 Juni 2019 14:08

Lion Air Bantah Utang Rp 614 T

Order 800 pesawat dikabarkan menyisakan utang besar bagi Lion Air.…

Kamis, 13 Juni 2019 14:54
Dampak Banjir di Samarinda

SEMENTARA SEPI..!! Pengunjung Lembuswana Turun 90 Persen

SAMARINDA- Tak hanya merendam 12 kelurahan, banjir di Samarinda juga…

Kamis, 13 Juni 2019 11:36

Tahu Usaha Menjanjikan

Udin (38), pembuat tahu dan tempe di Jalan Marsma Iswahyudi, Teluk…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*