MANAGED BY:
MINGGU
20 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Kamis, 08 November 2018 06:42
Era Ekonomi Digital, Sasar Konsumen Langsung

Pandangan Stakeholder tentang Masa Depan Sawit dari IPOC 2018 (3-Habis)

PERTANIAN: Dinna Wisnu optimistis pasar sawit akan terus berkembang. Sebab secara global, kebutuhan minyak nabati tinggi dan kebutuhan itu terus meningkat karena populasi bertambah.

PROKAL.CO, Industri sawit mengalami perubahan dalam persaingan global. Perkembangan teknologi membuat pendekatan pasar sawit lebih dinamis. Tak perlu perjanjian antar-pemerintah, melainkan menyasar langsung ke konsumen.

DINA ANGELINA, Bali

TAK perlu pendekatan yang kaku government to government untuk industri sawit. Itulah yang disampaikan pakar hubungan internasional Dinna Wisnu saat berdialog dengan awak media dalam gelaran 14th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC). Dari sudut pandang akademisi Binus University ini, dia melihat industri sawit secara konsisten selalu berada dalam pusaran politik global. Apalagi karena sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia.

Namun, kemajuan zaman juga membuat perubahan dalam konstelasi persaingan global. Dinna memberi gambaran, dahulu kompetisi sawit masih sebatas antar-industri. Tetapi sekarang, implikasi dari persaingan industri ini meluas hingga konsumen. Menurutnya, sejalan perkembangan digital ekonomi, membangun persepsi publik dalam memandang sawit dianggap penting.

Menariknya Indonesia menyadari hal tersebut. Terlihat dari peran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) yang sudah bekerja sama dengan beberapa non-government lebih baik. Dia turut optimistis pasar sawit akan terus berkembang. Sebab secara global, kebutuhan minyak nabati tinggi dan kebutuhan itu terus meningkat karena populasi bertambah.

"Semakin meningkatnya sains, produk turunan sawit juga tidak hanya sekadar untuk pangan. Jadi potensinya sangat besar," ujarnya. Dia mengungkapkan, selama ini isu sawit digaungkan lembaga swadaya masyarakat (LSM), mereka dibekali pemerintah masing-masing untuk menciptakan demand pada produk dalam negeri.

Pendekatan pasar juga telah berubah karena kini produsen bisa langsung menyentuh konsumen. Dia menuturkan, alangkah baiknya apabila produsen sawit Indonesia bisa masuk ke konsumen luar. "Hubungan tidak lagi government to government baru bisa masuk ke konsumen. Apalagi konsumen sebenarnya terbuka karena ada digital ekonomi," jelasnya.

Dia menyarankan, agar Gapki harus dapat memanfaatkan peluang dan masuk ke market luar secara langsung. Sehingga tidak hanya menunggu proses negosiasi antar-pemerintah, namun sekarang era dari people to people atau business to business. Faktor lainnya karena pusaran politik global menyangkut isu sawit tidak satu suara.

Misalnya Eropa, suara terbelah antara Uni Eropa atau European Union (EU) dan non-EU. Di mana, kebutuhan mereka terhadap sawit juga berbeda. Menurutnya, non-EU sangat potensial mengingat hubungan relasi dengan Indonesia pada level government to government sangat baik. "Kita harus eksplorasi lebih gigih lagi pada negara non-EU. Ada Norwegia, Inggris, Sweden, Switzerland, dan lainnya," bebernya.

Berbeda dengan EU, di mana sawit mengalami pertentangan melalui isu lingkungan. Sementara kondisi di Amerika, negara adidaya ini memandang sawit secara berbeda. Mereka memiliki kepentingan agar Indonesia tetap membeli kedelai dari Amerika. Sehingga relasi dengan Amerika justru jelas. "Kalau kita mau seharusnya bisa terus terang transaksional saja, langsung barter atau business to business," ungkapnya.

Dinna menjelaskan, Amerika saat ini tentu menjaga pekerjaan warga. Mereka memastikan seluruh perusahaan di sana menggunakan tenaga kerja dari warga Amerika sendiri. Kemudian segala macam tarif diterapkan agar produk mereka lebih kompetitif. Dia berpendapat ini sudah melebihi batas daripada norma yang seharusnya dijunjung relasi Amerika-Indonesia.

"Padahal sudah jelas tidak ada potensi bahwa Indonesia bisa menjadi sekutu Amerika. Jadi kita harus berani dengan Amerika langsung saja masuk dalam transaksional," ucapnya. Sementara Australia berbeda lagi, di sana sawit juga ditentang melalui isu lingkungan namun hanya dari partai kecil. Kenyataannya tidak semua setuju dengan isu tersebut.

Dinna meyakini, Australia juga tidak bisa bertahan dengan totally green environment. Mereka cenderung tidak bisa survive dan pasti membutuhkan pasar sawit Indonesia. Terakhir pasar India, Tiongkok, dan negara Asia lainnya. Mereka membutuhkan komoditas yang dapat dibeli murah dan jumlah besar.

"Kita harus lebih aktif masuk ke sana, mitra di Asia masih harus eksplorasi lebih jauh," imbuhnya. Dina menuturkan, negara lain kerap kali keliru dalam melihat pasar Indonesia. Mereka menerapkan satu model di seluruh wilayah Indonesia. Padahal setiap era memiliki topografi dan karakter masyarakat yang berbeda. Sehingga pendekatan pasar juga tidak sama dan tidak bisa satu model.

Begitu pula kita dalam mengembangkan sawit, negara harus terang-terangan. Menurutnya, negara lain yang bermain di lahan sawit Indonesia harus mampu menjadi pionir dalam penerapan sustainable development goals (SDG's). Kalau hal tersebut bisa tercapai pasti 60 persen masalah selesai.

Bicara SDG's termasuk berbicara infrastruktur yang ada di daerah. Dia mengingatkan bahwa Indonesia selain sangat luas, ada banyak daerah yang sulit terjangkau. "Kita harus bangga yang mengisi sampai ceruk-ceruk terdalam daerah pedalaman itu sawit, jadi membahas sawit seharusnya jangan terbatas soal perdagangan dan industri," pungkasnya. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 19 Januari 2019 06:30

Toyota Kian Mantap Jadi Leader di Kelas LMPV

BALIKPAPAN  -   Mengawali 2019, Toyota menggebrak industri otomotif dengan meluncurkan…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:27

Pacu Produksi Perikanan

SAMARINDA  -  Produksi ikan tangkap di Kaltim tahun ini ditarget…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:25

Pengusaha Masih Belum Disiplin

SAMARINDA  -   Pemerintah tampaknya perlu melakukan edukasi lebih intensif…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:23

Ekspansi ke Bisnis Kuliner

BALIKPAPAN  -  Telkom Property Area VI Regional Kalimantan menargetkan pendapatan…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:23

Tekanan Inflasi di Triwulan I Mereda

SAMARINDA  -  Tekanan inflasi Kaltim pada triwulan I 2019 diperkirakan…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:22

Suku Bunga Acuan Masih Bertahan

JAKARTA  –  Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:18

Optimistis Bersaing di Pasar LMPV

JAKARTA  –  Persaingan pasar kendaraan low multi-purpose vehicle (LMPV) kian…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:16

Tiket Terbatas, Buruan Beli sebelum Kehabisan

BALIKPAPAN  - Pemerintah tengah getol memasyarakatkan olahraga. Salah satu yang…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:15

Dorong Bangun SPBU di Luar Jawa

SURABAYA  –  Jumlah lembaga penyalur bahan bakar minyak (BBM) atau…

Jumat, 18 Januari 2019 06:55

BEI Lanjutkan Tren Positif

BALIKPAPAN - Bursa Efek Indonesia (BEI) berhasil mencetak pertumbuhan investor…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*