MANAGED BY:
KAMIS
18 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

PRO BISNIS

Kamis, 08 November 2018 06:42
Era Ekonomi Digital, Sasar Konsumen Langsung

Pandangan Stakeholder tentang Masa Depan Sawit dari IPOC 2018 (3-Habis)

PERTANIAN: Dinna Wisnu optimistis pasar sawit akan terus berkembang. Sebab secara global, kebutuhan minyak nabati tinggi dan kebutuhan itu terus meningkat karena populasi bertambah.

PROKAL.CO, Industri sawit mengalami perubahan dalam persaingan global. Perkembangan teknologi membuat pendekatan pasar sawit lebih dinamis. Tak perlu perjanjian antar-pemerintah, melainkan menyasar langsung ke konsumen.

DINA ANGELINA, Bali

TAK perlu pendekatan yang kaku government to government untuk industri sawit. Itulah yang disampaikan pakar hubungan internasional Dinna Wisnu saat berdialog dengan awak media dalam gelaran 14th Indonesian Palm Oil Conference (IPOC). Dari sudut pandang akademisi Binus University ini, dia melihat industri sawit secara konsisten selalu berada dalam pusaran politik global. Apalagi karena sawit merupakan komoditas unggulan Indonesia.

Namun, kemajuan zaman juga membuat perubahan dalam konstelasi persaingan global. Dinna memberi gambaran, dahulu kompetisi sawit masih sebatas antar-industri. Tetapi sekarang, implikasi dari persaingan industri ini meluas hingga konsumen. Menurutnya, sejalan perkembangan digital ekonomi, membangun persepsi publik dalam memandang sawit dianggap penting.

Menariknya Indonesia menyadari hal tersebut. Terlihat dari peran Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) yang sudah bekerja sama dengan beberapa non-government lebih baik. Dia turut optimistis pasar sawit akan terus berkembang. Sebab secara global, kebutuhan minyak nabati tinggi dan kebutuhan itu terus meningkat karena populasi bertambah.

"Semakin meningkatnya sains, produk turunan sawit juga tidak hanya sekadar untuk pangan. Jadi potensinya sangat besar," ujarnya. Dia mengungkapkan, selama ini isu sawit digaungkan lembaga swadaya masyarakat (LSM), mereka dibekali pemerintah masing-masing untuk menciptakan demand pada produk dalam negeri.

Pendekatan pasar juga telah berubah karena kini produsen bisa langsung menyentuh konsumen. Dia menuturkan, alangkah baiknya apabila produsen sawit Indonesia bisa masuk ke konsumen luar. "Hubungan tidak lagi government to government baru bisa masuk ke konsumen. Apalagi konsumen sebenarnya terbuka karena ada digital ekonomi," jelasnya.

Dia menyarankan, agar Gapki harus dapat memanfaatkan peluang dan masuk ke market luar secara langsung. Sehingga tidak hanya menunggu proses negosiasi antar-pemerintah, namun sekarang era dari people to people atau business to business. Faktor lainnya karena pusaran politik global menyangkut isu sawit tidak satu suara.

Misalnya Eropa, suara terbelah antara Uni Eropa atau European Union (EU) dan non-EU. Di mana, kebutuhan mereka terhadap sawit juga berbeda. Menurutnya, non-EU sangat potensial mengingat hubungan relasi dengan Indonesia pada level government to government sangat baik. "Kita harus eksplorasi lebih gigih lagi pada negara non-EU. Ada Norwegia, Inggris, Sweden, Switzerland, dan lainnya," bebernya.

Berbeda dengan EU, di mana sawit mengalami pertentangan melalui isu lingkungan. Sementara kondisi di Amerika, negara adidaya ini memandang sawit secara berbeda. Mereka memiliki kepentingan agar Indonesia tetap membeli kedelai dari Amerika. Sehingga relasi dengan Amerika justru jelas. "Kalau kita mau seharusnya bisa terus terang transaksional saja, langsung barter atau business to business," ungkapnya.

Dinna menjelaskan, Amerika saat ini tentu menjaga pekerjaan warga. Mereka memastikan seluruh perusahaan di sana menggunakan tenaga kerja dari warga Amerika sendiri. Kemudian segala macam tarif diterapkan agar produk mereka lebih kompetitif. Dia berpendapat ini sudah melebihi batas daripada norma yang seharusnya dijunjung relasi Amerika-Indonesia.

"Padahal sudah jelas tidak ada potensi bahwa Indonesia bisa menjadi sekutu Amerika. Jadi kita harus berani dengan Amerika langsung saja masuk dalam transaksional," ucapnya. Sementara Australia berbeda lagi, di sana sawit juga ditentang melalui isu lingkungan namun hanya dari partai kecil. Kenyataannya tidak semua setuju dengan isu tersebut.

Dinna meyakini, Australia juga tidak bisa bertahan dengan totally green environment. Mereka cenderung tidak bisa survive dan pasti membutuhkan pasar sawit Indonesia. Terakhir pasar India, Tiongkok, dan negara Asia lainnya. Mereka membutuhkan komoditas yang dapat dibeli murah dan jumlah besar.

"Kita harus lebih aktif masuk ke sana, mitra di Asia masih harus eksplorasi lebih jauh," imbuhnya. Dina menuturkan, negara lain kerap kali keliru dalam melihat pasar Indonesia. Mereka menerapkan satu model di seluruh wilayah Indonesia. Padahal setiap era memiliki topografi dan karakter masyarakat yang berbeda. Sehingga pendekatan pasar juga tidak sama dan tidak bisa satu model.

Begitu pula kita dalam mengembangkan sawit, negara harus terang-terangan. Menurutnya, negara lain yang bermain di lahan sawit Indonesia harus mampu menjadi pionir dalam penerapan sustainable development goals (SDG's). Kalau hal tersebut bisa tercapai pasti 60 persen masalah selesai.

Bicara SDG's termasuk berbicara infrastruktur yang ada di daerah. Dia mengingatkan bahwa Indonesia selain sangat luas, ada banyak daerah yang sulit terjangkau. "Kita harus bangga yang mengisi sampai ceruk-ceruk terdalam daerah pedalaman itu sawit, jadi membahas sawit seharusnya jangan terbatas soal perdagangan dan industri," pungkasnya. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 April 2019 12:55

Tekanan Inflasi Angkutan Udara Masih Terjaga

SAMARINDA-Saat ini harga tiket pesawat masih dikeluhkan tinggi. Meskipun tidak…

Rabu, 17 April 2019 12:53

Risiko Stabilitas Keuangan Daerah Masih Terjaga

SAMARINDA-Pada 2018, ekonomi Kaltim tumbuh 2,67 persen. Pertumbuhan ekonomi Kaltim…

Rabu, 17 April 2019 12:52

Kaltim Targetkan Menarik Investasi Rp 36,35 Triliun

SAMARINDA-Kaltim tahun ini menargetkan mampu menarik investasi Rp 36,35 triliun,…

Rabu, 17 April 2019 12:51

Lion Group Pastikan Kehadiran Rute Samarinda-Martua

SAMARINDA-Maskapai Lion Group melalui Wings Air memastikan akan segera membuka…

Senin, 15 April 2019 20:17

Dukungan PHM ke Mitra Binaan, dari Produksi Sampai Pemasaran

PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), selaku operator Wilayah Kerja Mahakam…

Senin, 15 April 2019 11:31

Pembatasan CPO Ancam Neraca Dagang

JAKARTA – Upaya penekanan defisit transaksi berjalan atau current account…

Minggu, 14 April 2019 13:44

Jelang Ramadan Kebutuhan Daging Sapi Diklaim Aman

SAMARINDA-Jelang Ramadan dan Idulfitri kebutuhan daging sapi diprediksi akan mencapai…

Minggu, 14 April 2019 13:06

Ada Minat Investasi Industri Minyak Goreng, Tapi Terkendala Ini...

SAMARINDA-Baru-baru ini Kaltim mendapat laporan perihal industri minyak goreng yang…

Minggu, 14 April 2019 12:47

NTP Maret Naik 0,51 Persen

SAMARINDA-Nilai tukar petani (NTP) Kaltim pada Maret mencapai 94,95 persen.…

Minggu, 14 April 2019 12:46

Tingkatkan Pendapatan Kaltim, Industri Pengolahan Paling Potensial

SAMARINDA-Kaltim masih bisa meningkatkan pendapatan daerahnya. Sektor industri pengolahan masih…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*