MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 07 November 2018 07:01
Menelisik Data di Tahun Politik

PROKAL.CO, OLEH: AGUS HARYANTO
(Statistisi Muda BPS Tarakan)

TAHUN 2018 ini adalah tahun politik. Berbagai daerah mulai mempersiapkan diri untuk memilih putra putri terbaiknya menduduki kursi pemerintahan, entah itu di lembaga perwakilan rakyat, atau di singgasana kepemimpinan. Ragam dinamika politik tahun ini juga tentu akan memberi warna dan membawa riak gelombang menuju pusatnya yaitu Pemilihan Presiden 2019.

Data adalah gambaran kondisi yang divisualkan dalam bentuk numerik. Data menggambarkan kondisi permasalahan di masyarakat dengan catatan ketika kita tepat memaknai data tersebut. Data yang nanti digunakan untuk bahan bagi perencanaan, pelaksana dan pihak-pihak berkepentingan.

Kesalahan memaknai data dapat membuahkan kebijakan dan program yang salah. Salah memaknai data, mengakibatkan salah melihat permasalahan. Salah melihat permasalahan, bisa diprediksi akan berakibat salah membuat kebijakan. Bahkan salah mengkritik, salah membuat janji politik, dan lain sebagainya.

Dari sekian banyak data yang dihasilkan oleh Badan Pusat Statistik sebagai lembaga resmi penghasil data, data tentang kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi merupakan data yang sangat seksi untuk ditelisik dalam tahun politik ini.

Data kemiskinan yang bertengger di angka satu digit menjadi gorengan yang renyah untuk dihidangkan dalam setiap perdebatan di media. Sedangkan angka pertumbuhan ekonomi yang merangkak naik bagaikan secangkir kopi untuk menemani diskusi hangat dalam menilai kinerja pemerintah.

Saat ini Garis Kemiskinan (GK) nasional yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah Rp 401.220 per kapita per bulan mengalami kenaikan 3,63 persen yakni dari Rp 387.160 per kapita per bulan pada September 2017. Sehingga sebuah keluarga dengan anggota keluarga sebanyak 4 orang harus berpenghasilan di atas Rp 1.604.880 (4 x Rp 401.220) untuk dapat dikategorikan sebagai penduduk tidak miskin.

Setiap kabupaten/kota di Indonesia memiliki GK tersendiri. GK di Kabupaten Berau berbeda dengan GK Kota Surabaya, dan berbeda pula dengan GK Kota Solo. Untuk menyusun indikator kemiskinan tersebut, BPS melakukan Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (Susenas) yang saat ini dilakukan pada Maret dan September setiap tahunnya.

Angka garis kemiskinan juga menjadi salah satu sorotan dari berbagai pihak. Pasalnya banyak yang menerjemahkan angka garis kemiskinan dengan membagi habis dengan 30 hari sehingga diperoleh Rp 13.374 per kapita per hari. Hal ini yang merupakan interpretasi salah kaprah dalam membaca angka kemiskinan. Badan Pusat Statistik menghitung garis kemiskinan  dari garis kemiskinan makanan dan non makanan. Garis kemiskinan dihitung menurut per kapita per bulan. Konsep per kapita mengacu pada anggota rumah tangga.

Jika dilihat sejarah data kemiskinan, angka kemiskinan Maret 2018 memang angka terendah sejak krisis moneter 1998. Pada 1999 lalu, angka kemiskinan menyentuh 47,97 persen dan mengalami tren penurunan sepanjang tahunnya hingga mencapai 10,12 persen (September 2017) dan 9,82 persen (Maret 2018).

Kondisi perekonomian Indonesia masih tergolong sehat. Bahkan, di tengah gejolak global pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil. Dalam gejolak perekonomian global, pertumbuhan ekonomi Indonesia justru merangkak naik.

Pada kuartal II 2018 ini, ekonomi Indonesia tumbuh 5,27 persen. Angka pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi yang tertinggi sejak 2014 lalu. Dalam lima tahun terakhir, sejak kuartal I 2014, pertumbuhan ekonomi berada di kisaran rata-rata 4,7 hingga tertinggi 5,21 persen.

Dengan angka tersebut mengindikasikan bahwa Indonesia memiliki perekonomian yang cukup stabil sehingga memiliki ketahanan terhadap tekanan ekonomi global. Hingga saat ini, pemerintah terus bekerja agar gejolak ekonomi global tak memengaruhi perekonomian dalam negeri.

Data kemiskinan dan pertumbuhan ekonomi di atas merupakan bagian data yang menggambarkan kondisi Indonesia saat ini. Menelisik data di tahun politik hendaknya dapat dilakukan dengan benar dan dipahami dengan baik oleh para aktor politik negeri ini sehingga dapat mencerahkan dinamika demokrasi negeri ini.

Kita sambut tahun politik ini, seperti halnya kita menyambut malam pergantian tahun baru. Semuanya penuh suka cita tanpa ada kepentingan negatif. Mari berkomitmen kepada perubahan yang mengarah pada hal yang lebih baik. Mendorong Indonesia tetap damai dan toleran. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 April 2019 10:25

Cegah Laka, Banyak Pihak Terlibat

KECELAKAAN tidak melulu disebabkan kondisi kendaraan. Ada pula faktor kesalahan…

Kamis, 11 April 2019 10:48

Justice For Audrey. Ini Penyebab Pelaku Lakukan Bully

Jagat belantara maya saat ini sedang memberikan perhatian penuh pada…

Sabtu, 30 Maret 2019 10:10

Deskripsi Nilai Tauhid di Masyarakat Sosial

TANA PASER - Kebudayaan yang berkembang pada masyarakat merupakan akumulasi…

Jumat, 15 Maret 2019 11:51

Persiapkan Komisioner KPU 2024 – 2029 Sejak Sekarang

Catatan Abd. Kadir Sambolangi: Anggota panitia seleksi (Pansel) calon Komisi…

Rabu, 13 Maret 2019 10:40

Mereka Anggap Monster Itu Bernama Prabowo

Oleh : Hersubeno Arief Mereka ingin memutarbalik arus besar perubahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*