MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 07 November 2018 06:54
Fenomena Selebgram Zaman Now

PROKAL.CO, Oleh: Muhamad Fadhol Tamimy
(Ketua Umum Genbi (Generasi Baru Indonesia) Kaltim, Penulis Buku Sharing-mu, Personal Branding-mu)

FULAN adalah seorang selebgram yang saat ini tengah naik daun akun Instagram-nya. Follower yang ia miliki kian hari kian meroket semenjak posting-an yang ia buat di re-share ulang oleh salah satu akun fanspage media sosial dengan kapitalisasi jutaan followers. Imbas dari re-share akun tersebut akhirnya membuat unggahannya menjadi viral ke seluruh lini pengguna media sosial.

Followers pun mulai meningkat dan berkembang membuat sang empunya akun jadi terkenal di jagat Instagram. Setiap posting-an yang ia buat pada akhirnya ditunggu-tunggu kehadirannya. Selanjutnya kita pun bisa mengetahui bahwasanya, “ada gula, ada semut” ada kerumunan yang menyemut, di situlah peluang promosi brand bersambut.

Satu dua ia kerjakan dengan sungguh-sungguh nan kreatif berpadu dengan pasangan kekasih yang ia ikut berdayakan. Lambat laun dengan pertambahan followers yang kian masif, si Fulan akhirnya mendapatkan limpahan pesanan order untuk melakukan paid promo dan endorse secara massal.

Beragam cara pun mulai digunakan dalam melakukan paid promo dan endorse tersebut. Mulai dari yang apa adanya, hingga ada apanya. Mulai dari yang jujur apa yang ia rasakan, sampai dengan teknik berbohong sederhana. Malah terkadang tak sedikit teknik berbohongnya justru kelewatan.

Misalnya saja dengan mengaku sering langganan di akun Instagram tertentu, ada pula yang mengaku pasangannya sering membeli barang lewat akun Instagram si “Nganu”. Sedangkan pada kenyataannya justru berkebalikan di mana pada instastory pribadi miliknya terlihat ia sedang melakukan pamer berbelanja barang sejenis di salah satu mal, hingga opini bias tanpa sumber yang menyebutkan banyak testimoni yang merasa puas bin “Mantul (mantab betul)”.

Aksi dengan menggunakan trik berbohong pun tidak sedikit pula yang “kurang rapi” dilakukan. Misalnya saja sebuah brand penumbuh rambut, di mana dalam gambar before (model pemeran) berambut gundul, lantas di gambar after penggunaan menggunakan produk tersebut seketika membuat lebat rambut sang pemeran.

Yang mengherankan model before kulitnya agak putih dengan hidung yang tidak begitu mancung, sedangkan model after memiliki kulit agak gelap dengan hidung yang mancung. Ah, sudahlah barangkali itu cuma efek lighting yang canggih. Yah tipis amat perbedaannya.

Dalam model iklan konvensional penyusupan pesan ajakan mungkin lebih halus menarget pada para konsumen. Para konsultan pembuat iklan banyak ditemukan menggunakan teknik subliminalitas Freudian di mana menurut Erdelyi & Zizak dalam buku The psychology of Entertainment Media; Blurring the Lines Between Entertainment and Persuasion (2004) karangan L.J.Shrum (ed).

Teknik subliminal Freudian ini merupakan teknik yang paling elemental dari psikoanalisis di mana ia dilukiskan Freud sebagai pembeda antara muatan manifest (struktur semantik permukaan; teks) dan muatan laten (struktur semantik tak sadar; subteks).

Artinya teknik ini menggunakan metode komunikasi tersamar yang dimuat dalam berbagai simbol-simbol yang secara nyata tak ada sangkut-pautnya dengan hal yang hendak diiklankan. Akan tetapi secara makna memiliki sebuah unsur ajakan untuk menggunakannya.

Metode konvensional tersebut nyatanya memang sejatinya masih ampuh apabila digunakan, akan tetapi ada cost tinggi yang harus dikeluarkan untuk menyewa para konsultan hingga artis yang berbanderol belasan hingga ratusan juta rupiah.

Walaupun begitu seiring perkembangan media sosial pada eranya GEN Y dan GEN Z penggunaan media sosial yang besar, pada akhirnya membuat corong periklanan pun mulai melirik para influencer media sosial, terutama selebgram yang tak semahal artis televisi. Sensasional bisa jadi namun efeknya belum tentu jadi.

Jalan Panjang Menjadi Selebgram

Cita-cita untuk mendapatkan followers sebagai wujud kapitalisasi aset dan peluang membuat mereka pada akhirnya melakukan beragam hal untuk membentuk sebuah image palsu yang terkadang tidak nyata. Memamerkan kemewahan dalam bentuk posting angel makanan di suatu restoran mewah, jalan-jalan ke daerah antah berantah, selfie di dalam mobil, hingga pamer foto bergairah pun tak sungkan untuk dilakukan demi meraih 25 ribu followers untuk mendapatkan predikat sebagai selebgram.

Setelah menjadi selebgram pun mereka harus menjaga image yang telah mereka bangun. Bagaimanapun caranya akan dilakukan sampai pada yang taraf ekstrem adalah melakukan hal gila mengorbankan segalanya demi menjaga stabilitas like dan keterjangkauan akun miliknya.

Berpacu dengan kreativitas dan mendorong kemandirian merupakan hal baik yang perlu dilakukan sebagai upaya kemandirian bangsa. Namun ada hal-hal terkait dengan kejujuran seyogyanya bisa diperhatikan kita bersama. Konten posting-an pun sejatinya dibuat dengan mempertimbangkan aspek norma dan kesusilaan yang ada. Karena selebgram saat ini memiliki dianggap sebagai influencer yang setiap tindak tanduknya akan menjadi trend para anak muda dan generasi lainnya.

Dan yang lebih penting juga adalah para ibu-ibu yang gemar memosisikan anaknya seolah-olah bak selebgram di mana aktivitasnya selalu disorot dan diunggah, akan lebih baik untuk menghindarinya. Agar sang anak di masa yang akan datang mampu menjaga batasan antara umum dan privasi hingga paham di mana ia harus bersikap secara jujur apa adanya di mana saja. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius X Tenggarong) TERBANG ke sana kemari…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi perubahan. baik…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .