MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 03 November 2018 06:57
Sangat Nyaman Dilintasi, Teringat Jembatan Balikpapan-Penajam

Dari Hong Kong ke Makau lewat Jembatan Terpanjang di Dunia

MANFAATKAN WAKTU: Dari kiri Zulbahri, Achmad Asfia, Velly Ongkowijoyo, dan penulis berada di depan gedung yang menjadi pintu masuk ke Zhuhai dan Makau.

PROKAL.CO, Jembatan yang menghubungkan Hong Kong, Zhuhai, dan Makau, sudah diresmikan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Selasa (23/10). Chairman Kaltim Post Group (KPG) Zainal Muttaqin merasakan langsung melintasi jembatan lintas laut terpanjang di dunia tersebut.

 

KETIKA berada di Kota Qingdao, Provinsi Shandong, Tiongkok, pekan lalu, saya melihat siaran di televisi Tiongkok, bahwa jembatan terpanjang di dunia itu sudah diresmikan Presiden Tiongkok Xi Jinping. Jembatan itu memiliki panjang 55 kilometer.

Kebetulan saya dan kawan-kawan ada jadwal rapat dengan mitra di Hong Kong pada 31 Oktober. Di antara kawan yang ikut rapat itu, mantan Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Balikpapan Zulbahri, mantan Ketua Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Balikpapan Haji Achmad Asfia, dan pengusaha asal Balikpapan Velly Ongkowijoyo. Velly, diketahui memiliki pabrik kayu lapis di Semarang.

Setelah diskusi, akhirnya kami menyepakati untuk menyeberangi jembatan yang mampu memangkas waktu tempuh antarwilayah itu setelah semua urusan perusahaan tuntas. Ketika rapat dengan mitra di Hong Kong, yang hampir semuanya warga Hong Kong, ternyata tidak ada satu pun yang bisa memberikan informasi dengan baik. Tentang bagaimana cara termudah menuju jembatan itu.

“Kami belum tahu bagaimana caranya menuju ke sana,” kata Alex Chua, mitra kami yang merupakan warga Hong Kong. “Setahu saya jembatan itu belum dibuka untuk masyarakat umum,” tambah Alex, yang kemudian menugaskan stafnya mencarikan informasi menuju jembatan itu.

Ketika kami kembali ke hotel tempat kami menginap, Kowloon Hotel di kawasan Tsim Sha Tsui, kami juga menanyakan ke petugas hotel. Ternyata sama saja. Tidak satu pun petugas hotel yang bisa memberikan informasi yang akurat. Tentang bagaimana menuju ke jembatan itu.

Akhirnya kami memutuskan sendiri untuk nekat menuju jembatan itu pada 1 November sekitar pukul 09.00 waktu setempat. Maka Kamis pagi itu kami cegat taksi Hong Kong, yang catnya berwarna merah. Satu demi satu taksi kami datangi setiap menurunkan penumpang di hotel tempat kami menginap.

Dari taksi pertama sampai kelima, jawaban sopirnya sama: saya tidak tahu arahnya menuju jembatan itu, lantas pergi meninggalkan kami. Baru taksi keenam, meski sopirnya agak ragu, yang mempersilakan kami naik mobilnya. Lalu menjelaskan ongkosnya HKD 210 (Hong Kong Dolar), setara Rp 420 ribu. Kami sepakati ongkos itu.

Sang sopir taksi sambil menanyakan ke temannya lewat telepon seluler, mengarahkan mobilnya menuju bandara di kawasan Pulau Lantau. Sekitar 20 menit perjalanan menuju bandara itu, mulai ada petunjuk di papan yang dipasang melintang di atas jalan: tanda panah ke kiri menuju bandara, tanda panah ke kanan arah ke Makau dan Zhuhai.

Maka sang sopir mengarahkan taksinya ke kanan. Dan bertemulah kawasan seperti tempat parkir mobil sangat luas. Namun, hanya ada beberapa mobil yang parkir di situ dan beberapa taksi warna merah terpakir antre di situ.

Namun sopir taksi kami cukup bingung menuju arah gedung tempat masuk jembatan itu. Akhirnya sang sopir bertanya kepada petugas di tempat parkir itu, yang berwajah India. Janggutnya cukup panjang berwarna emas. Ternyata si petugas fasih berbahasa Kanton, bahasa yang kerap digunakan warga di Hong Kong.

Jadi sampailah kami di gedung yang besar. Di situ ada tulisan petunjuk menuju Makau atau Zhuhai lewat jembatan. Kepada sopir taksi, kami serahkan ongkos taksi HKD 250. Sengaja kami lebihkan HKD 40, sebagai penghargaan atas kesediaannya berspekulasi mengantarkan kami menuju tempat yang belum pernah dia kunjungi. “Maaf kalau tadi berputar-putar menuju ke sini (jembatan). Karena ini pertama kali saya ke sini,” kata sang sopir.

Di gedung yang belum cukup ramai itu, kami menyelesaikan urusan imigrasi. Tidak rumit. Seperti masuk Hong Kong, masuk Makau juga tanpa visa. Jika menuju Zhuhai, kita wajib memiliki visa Tiongkok. Zhuhai salah satu kota di daratan Tiongkok, yang paling dekat dengan Makau.

Setelah urusan imigrasi selesai, selanjutnya kami membeli tiket bus. Harganya ada dua. Yang berangkat dari pukul 06.00 hingga pukul 23.59 waktu setempat, harga tiket busnya HKD 65. Yang berangkat pukul 24.00 sampai pukul 05.59 waktu setempat, harga tiket busnya HKD 70. Waktu Hong Kong maupun Makau sama dengan Waktu Indonesia Tengah (Wita).

Meski di dalam gedung tempat urusan imigrasi itu tampak sepi pengunjung, ternyata cukup banyak orang yang antre naik bus menuju Makau maupun Zhuhai. Tapi kami hanya perlu waktu lima menit untuk naik bus, dan langsung berangkat. Busnya bermerek MAN. Berasal dari Jerman dan sudah sangat terkenal di Eropa. Sekelas bus Mercedes. Catnya warna cokelat muda, mirip warna khas Partai Hanura.

Busnya melaju dengan kecepatan rata-rata 80 kilometer/jam. Dalam tiga menit, bus sudah masuk terowongan bawah laut. Hanya dua menit sudah keluar di ujung terowongan. Tampak lah di sisi kanan jembatan terpanjang di dunia itu, bagian dari Bandara Hong Kong. Beberapa pesawat Cathay Pacific berjejer. Pesawat milik perusahaan penerbangan Hong Kong itulah yang kami tumpangi dari Surabaya pergi-pulang.

Enam menit kemudian, bus yang kami tumpangi masuk lagi ke terowongan bawah laut. Delapan menit kemudian bus kami sudah muncul lagi di ujung terowongan, dan sudah di atas jembatan lagi.

Seterusnya bus kami melaju di atas jembatan. Setelah 40 menit perjalanan, bus kami pun mendekati tempat kedatangan di terminal Makau. Di sisi kanan tampak jembatan yang panjang menuju ke Kota Zhuhai. Sepanjang perjalanan dari Hong Kong menuju Makau, lewat jembatan itu, hanya ada bus sejenis yang kami tumpangi itu. Sama sekali tidak tampak mobil pribadi. Rupanya hanya bus itu yang boleh melintas di jembatan terpanjang di dunia itu.

Setibanya di terminal kedatangan Makau, urusan di imigrasi sangat lancar. Kami sempatkan putar-putar di Makau. Sekarang semakin tertata rapi dan bersih. Cukup banyak terlihat gedung baru menjulang ke langit, megah dengan arsitektur yang menawan.

“Sejak dikembalikan ke Pemerintah Tiongkok, memang sangat banyak perbaikan dan pembangunan,” kata sopir taksi yang membawa kami memutari Makau. Kami sudah beberapa kali mengunjungi Makau sebelum ini. Sorenya kami kembali lagi ke Hong Kong naik feri. Tarifnya per orang HKD 200. Bonusnya perut kami terasa dikocok-kocok selama satu jam. Ombak sore itu cukup besar.

Lewat jembatan terpanjang di dunia terasa lebih nyaman. Selama melintasi jembatan itu, kami juga berbincang tentang Jembatan Balikpapan-Penajam Paser Utara (PPU). Tentu disertai doa: semoga jadi dibangun dan selesai cepat.

Untuk diketahui, Jembatan Tol Teluk Balikpapan itu dibangun dari Kelurahan Nipahnipah, Kecamatan Penajam, PPU menghubungkan Melawai di sisi Balikpapan. Infrastruktur sepanjang 7,7 kilometer tersebut juga akan terhubung dengan coastal area di pesisir Kota Minyak. Adapun nilai investasi proyek itu sebesar Rp 16 triliun. (zam/rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 12 Januari 2019 07:19

Kuasai Semua Alat Musik di Pendopo

Kondisi Djoko Sudiro memang terbatas. Namun, Djoko tidak berhenti belajar,…

Sabtu, 12 Januari 2019 07:02
Melihat Pelatihan Make-up di Rutan Klas IIB Balikpapan

Tepis Bosan, Modal agar Tak Kembali Terjerumus

Bayangan terhadap kelam dan buruknya kehidupan di balik dinding penjara…

Minggu, 06 Januari 2019 08:52

Mingalabar from Myanmar

Oleh: Firman Wahyudi   PERJALANAN dari Balikpapan ke Myanmar memakan…

Sabtu, 05 Januari 2019 06:57

Raih Harmony Award, Warga Punya Peran Besar

Kalimantan Utara (Kaltara) dinobatkan Kementerian Agama (Kemenag) sebagai provinsi dengan…

Sabtu, 29 Desember 2018 06:59

Evaluasi APBD Sudah Rampung, Menunggu Pengesahan DPRD

Draf APBD Kalimantan Utara (Kaltara) 2019 sudah dievaluasi Kementerian Dalam…

Rabu, 26 Desember 2018 11:54
Kisah Para Nelayan Pandeglang yang Selamat dari Tsunami

Selembar Penutup Boks Ikan Jadi Penyelamat

Kuatnya terjangan tsunami membuat kapal-kapal pencari ikan itu pecah. Nelayan…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:59
Menengok MRI Anyar Milik RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo

Bantu Dokter Mampu Visualisasikan Jaringan Tubuh Terkecil Pasien

Setahun lalu diusulkan, Magnetic Resonance Imaging (MRI) baru milik RSUD…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:45
AKP MD Djauhari, Kapolsek Loa Janan Peraih Medali Perak Porprov

Tetap Percaya Diri Meski Bersaing dengan Atlet Muda

Nama AKP MD Djauhari tak asing lagi di lingkungan atlet…

Sabtu, 22 Desember 2018 06:38

Ikuti Adik Jajal Samarinda, Sudah Bidik Pasar Luar Negeri

Memiliki jiwa bisnis, putra sulung Presiden RI ke-7, Joko Widodo,…

Sabtu, 15 Desember 2018 07:12

Penularan “Santun”, Pasien Tak Perlu Dijauhi

Stigma HIV/AIDS di kalangan masyarakat masih buruk. Penderitanya kerap dikucilkan:…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*