MANAGED BY:
SELASA
16 JULI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Sabtu, 27 Oktober 2018 02:07
Awalnya 16 Kapal yang Melayani, Kini Tersisa Tiga

Nasib Penyeberangan Ujung-Kamal setelah Jembatan Suramadu Digratiskan

PROKAL.CO, Tanpa digratiskan pun, Jembatan Suramadu sudah menggerus habis kejayaan penyeberangan Ujung (Surabaya)-Kamal (Bangkalan). Penumpang yang masih bertahan sampai kini umumnya para pedagang pasar tradisional dari Kamal.

 

EKO HENDRI SAIFUL, Surabaya

 

TRUUUT! Truut! Suara lantang itu memecah keheningan kawasan Pelabuhan Ujung, Surabaya, kemarin (26/10). Secara pelan-pelan, kapal motor (KM) Tongkol melenggang meninggalkan pelabuhan.

Melihat kapal bergerak, pedagang asongan dan porter pelabuhan semburat. Beberapa penjaja makanan mencoba bertahan. Mereka baru keluar setelah diomeli penumpang dan awak kapal. “Siang ini lumayan banyak penumpangnya. Alhamdulillah,” tutur I Made Rate, petugas PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry Cabang Surabaya.

Lelaki itu meninggalkan dermaga sambil membawa tiket yang sudah disobek. Dia lantas menghitungnya. Tercatat, ada 43 penumpang yang menggunakan jasa KM Tongkol. Sebanyak 119 kursi masih kosong. Made juga menghitung, ada dua mobil yang ikut menyeberang. “Ini sudah lumayan banyak. Biasanya hanya sekitar 30 orang,” tambah Made.

Dia menambahkan, jumlah penumpang kapal memang tak pernah penuh. Bahkan, cenderung berkurang. Beroperasinya Jembatan Suramadu sejak 2009 yang menghubungkan Jawa dan Madura memang berdampak sangat besar terhadap penyeberangan Ujung (Surabaya)-Kamal (Bangkalan) itu. Apalagi jika sudah digratiskan.

Selama ini, hanya warga di sekitar Pelabuhan Kamal, Madura, yang bertahan menggunakan jasa penyeberangan. Mereka banyak beraktivitas sebagai pedagang di pasar tradisional. Ada pula PNS di wilayah Surabaya. “Semuanya sudah seperti pelanggan,” kata Made.

Lelaki yang sudah 20 tahun bertugas menarik tiket di gerbang pemberangkatan itu menyebut, Pelabuhan Ujung menyimpan banyak kenangan. Tugas pertamanya di situ. Selain itu, bapak dua anak itu banyak menemukan teman saat bertugas di pelabuhan.

Menurut Made, zaman dahulu, Ujung-Kamal merupakan jalur penyeberangan tersibuk di Pulau Jawa. Ada 16 kapal yang beroperasi penuh setiap harinya. Melayari Selat Madura. Mereka bergantian mengisi tiga dermaga di pelabuhan.

Keramaian terlihat saat libur nasional. Semisal, Idul Fitri. Kendaraan yang hendak masuk ke pelabuhan selalu antre berkilo-kilometer di Jalan Kalimas Baru. Aksi desak-desakan saat berebut tiket kapal. “Warga Madura tak bakal melupakannya,” tegas Made.

Cerita soal keramaian Ujung-Kamal pada masa lampau juga digambarkan Aziz Mulyadi, pedagang. Lelaki itu sudah berjualan lebih 22 tahun. Dia sempat menunjuk beberapa titik ruang tunggu penumpang yang sepi melompong. “Dulu, ada lebih dari 150 pedagang asongan yang berebut pembeli. Sekarang, sepi,” kata Aziz.

Menurut dia, pendataan sempat dilakukan PT ASDP baru-baru ini. Hasilnya, hanya ada 40 pedagang yang masih bertahan. Sebagian teman Aziz pergi meninggalkan pelabuhan. Mereka banyak beralih profesi. Selain menjadi buruh pabrik, banyak mantan pedagang bekerja sebagai kuli di pasar tradisional.

Aziz memakluminya. Kejayaan penyeberangan Ujung-Kamal yang semakin tergerus. Pendapatan pedagang turun drastis gara-gara sepinya penumpang. “Dulu, saya bisa mengumpulkan uang hingga Rp 150 ribu per hari. Sekarang hanya Rp 40 ribu per hari,” keluh Aziz.

Berdasar catatan PT ASDP Indonesia Feri Cabang Surabaya, ada 16 kapal yang beroperasi sampai 2009. Sebagian besar milik swasta. Setiap hari, kapal-kapal itu selalu berangkat dengan penuh penumpang.

Perubahan lantas terjadi setelah Jembatan Suramadu difungsikan. Jumlah kapal terus turun. Perusahaan pelayaran banyak menarik asetnya. Sebagian kapal dipindahkan ke luar Pulau Jawa.

Hingga kini, hanya tersisa tiga kapal yang masih eksis menyeberangi Selat Madura. Selain KM Tongkol, ada KM Joko Thole dan KM Gajah Mada. Ketiga perahu itu memiliki kapasitas berbeda. “Joko Thole berstatus milik swasta. Dikelola PT Dharma Lautan Utama,” papar General Manajer PT ASDP Indonesia Ferry Cabang Surabaya Rudy Bangsawan Hanafiah saat ditemui di ruangannya.

Pria asal Palembang, Sumatra Selatan, itu membenarkan, keberadaan Suramadu memang berdampak besar bagi kehidupan Ujung-Kamal. Penumpang jalur laut sepanjang 2 mil menurun drastis. Penurunan itu masih terus berlanjut hingga tahun ini.

Sepinya penumpang dipaparkan Rudy melalui gambaran grafik omzet perusahaan. Pada 2009, pendapatan PT ASDP Indonesia Feri Cabang Surabaya mencapai Rp 164 miliar. Angkanya terus mengecil. “Tahun 2016, omzet jadi Rp 14 miliar,” tutur Rudy.

Tentu saja, penurunan omzet berdampak pada kesehatan keuangan perusahaan. PT ASDP merugi setiap tahunnya. Secara rata-rata, kerugiannya mencapai Rp 10–15 miliar. Rudy membeberkan, dana perusahaan banyak terkuras untuk operasional kapal setiap harinya. Sebagian untuk perawatan rutin. Termasuk, biaya perbaikan saat terjadi kerusakan. “Sedangkan, kami tak punya harapan untuk mencari pendapatan lebih,” kata Rudy.

Satu-satunya pemasukan dari tiket tak bisa diandalkan. Bahkan, tarifnya sempat diperkecil. Kebijakan itu terjadi pada 2013. Tarif tiket dipangkas 50 persen. Upaya itu dilakukan untuk meramaikan Ujung-Kamal. Hanya, hasilnya kurang memuaskan. Penumpang tetap sepi. “Sekarang ini, harga tiket sudah cukup akomodatif. Tidak mungkin dikurangi lagi,” tambah Rudy.

Berdasar informasi, tarif untuk penumpang nilainya Rp 5.000, sepeda motor Rp 7.000, mobil Rp 46.000, truk mulai Rp 56.000 sampai Rp 74.000. Tarif truk menyesuaikan jenisnya. PT ASDP terus berupaya mengakali agar perusahaan tidak banyak merugi. Salah satunya dengan mengurangi jam operasional penyeberangan. Sebelumnya, ketiga kapal beroperasi selama 24 jam.

Sekarang, perahu hanya berjalan selama 16 jam. Yakni, mulai jam 05.00–21.00. Satu kapal berlayar 10 kali pulang pergi (PP). “Sempat saya usulkan pengurangan jadwal pemberangkatan. Namun, ditolak perusahaan swasta,” kata Rudy.

Untuk efisiensi operasional, PT ASDP juga mengurangi jumlah dermaga yang difungsikan. Dari tiga dermaga, hanya satu yang dipakai. Hingga kini, ketiga dermaga dimanfaatkan secara bergantian.

Adakah kemungkinan untuk mengurangi kapal? Rudy menyebut, hal itu sulit dilakukan. Tiga kapal cukup minimal. Jika dikurangi, hal itu akan menyulitkan saat ada perahu yang docking. Sebab, masa docking kapal bisa mencapai satu bulan.

Setelah digratiskannya Jembatan Suramadu, Rudy berharap, Pelabuhan Ujung tidak ditutup. Sebab, masih ada masyarakat yang memanfaatkannya. Sebagian warga Madura masih nyaman menyeberang laut dengan kapal.

Salah satunya diungkapkan Abdul Muhfi. Lelaki itu juga ingin Ujung-Kamal tidak ditutup. Sebab, aktivitasnya sangat bergantung kondisi kapal. “Saya lebih nyaman naik kapal. Kalau lewat Suramadu sering kena macet di Jalan Kenjeran,” kata Abdul.

Lelaki itu mengaku sudah 20 tahun menunggangi kapal saat perjalanan Madura-Surabaya atau sebaliknya. “Suasananya berbeda saat berada di laut,” tutur teknisi salah satu pabrik di Wonocolo, Surabaya, tersebut. (*/c10/ttg/jpnn/rom/k8)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 13 Juli 2019 12:33

Kenal Musik Hingga Flora Fauna Kaltim

SANGATTA - Rinan adalah sapaan yang khas oleh teman-teman sekolahnya.…

Sabtu, 06 Juli 2019 12:45
Dua Dekade Lebih Yayasan Kakak Perjuangkan Nasib Anak Korban Kekerasan Seksual

Banyak Yang Tidak Sadar Mereka Sebenarnya Korban

Pendampingan anak-anak korban eksploitasi seksual komersial termasuk yang paling sulit.…

Selasa, 02 Juli 2019 12:42
Komunitas Pelestari Bahasa Daerah Oryza Lokabasa

Sulit Cari Anggota, Penutur Bukan Harus Orang Lokal

Membayangkan anak turun semakin tak mengenal bahasa daerah menjadi salah…

Senin, 01 Juli 2019 12:23

Arswendo Atmowiloto yang Tak Surut Semangat kendati Tengah Sakit

Bahkan saat kondisi kesehatannya mulai menurun, Arswendo Atmowiloto tetap bersemangat…

Senin, 24 Juni 2019 13:20
Oleh-Oleh dari Junior Recital Violin Classic

Menggesek Biola Tidak Sembarangan, Mood Mesti Dijaga

Memiliki kepercayaan diri dan menghargai pencapaian yang dimiliki selama ini,…

Kamis, 13 Juni 2019 14:21

Festival Balon, Jalan Tengah untuk Melestarikan Tradisi dan Menjaga Keamanan Penerbangan

Festival di Ponorogo dan Pekalongan berlangsung tanpa melanggar aturan tentang…

Minggu, 02 Juni 2019 17:39
Kisah Asmuni Membangun Rumah Makan Sukma Rasa

Dari Jualan Keripik, Pernah Jadi TKI, hingga Sukses di Usaha Kuliner

Siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Asmuni, pemilik Rumah Makan Sukma…

Sabtu, 01 Juni 2019 13:23

Ini Cerita Petualangan Matteo Nanni Bermotor dari Italia ke Indonesia

Dari Italia, Matteo Nani sudah berkendara enam bulan hingga sampai…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*