MANAGED BY:
KAMIS
18 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

MANCANEGARA

Minggu, 21 Oktober 2018 11:14
Gas Air Mata di Perbatasan Bikin Balik Kucing
Ribuan Warga Honduras yang Tak Mau Terbelenggu Mimpi Buruk
Pengungsi Honduras.

PROKAL.CO, Pembunuhan, kemiskinan, dan perekonomian yang sulit membuat penduduk Honduras tak tahan. Amerika Serikat (AS) menjadi harapan. Sejak akhir pekan lalu, ribuan orang berjalan kaki demi menggapai asa. Jarak 4.500 kilometer bukan hambatan.

MARTA Ornelas Cazares menyusui bayinya sambil terisak. Dia belum bisa melupakan pemandangan yang baru saja tersaji di depan matanya. Sangat menakutkan. Aparat dan rombongan imigran asal Honduras, seperti dia, terlibat baku hantam.

Dua kubu saling bentak, dorong, dan pukul. Sejurus kemudian, dua kubu saling lempar batu. Tegang, ricuh, sampai akhirnya aparat menyemprotkan gas air mata. ’’Saya tidak tahu apa yang terjadi. Saya pikir kami bisa menyeberang dengan damai,’’ ujar perempuan 28 tahun itu. Air matanya terus mengalir. Dia masih trauma. Untung, dia akhirnya bisa menyeberang dari Guatemala ke Meksiko bersama buah hatinya.

BBC menyebut Cazares sebagai bagian dari caravan. Itu adalah istilah yang media AS sematkan kepada rombongan imigran asal Honduras yang selama hampir dua pekan terakhir berparade menuju Meksiko. Dari Meksiko, sekitar 4 ribuan penduduk Honduras tersebut akan menyeberang ke AS dan mencari suaka di sana.

Sebagaimana teman-temannya yang lain, Cazares tidak kerasan lagi tinggal di Honduras. Konflik dan kekerasan yang tiap hari terjadi membuatnya ngeri. Setiap hari dia merasa dilanda mimpi buruk. Yang membuatnya lebih ngeri adalah fakta bahwa anak-anaknya masih kecil. Di Honduras, nyawa dua anaknya yang berusia 15 dan 10 tahun melayang karena kekerasan. Putus asa, Cazares akhirnya ikut bermigrasi.

Akhir pekan lalu caravan memulai perjalanan mereka dari San Pedro Sula. Awalnya tidak sampai 200 orang. Tapi, dalam perjalanan, jumlahnya bertambah. Para imigran tersebut sengaja berjalan dalam rombongan besar. Taktik itu mujarab untuk menghindari perampokan, pemerkosaan, dan kejahatan lainnya dalam perjalanan.

Dari Honduras ke Guatemala, perjalanan hampir tak menemui kendala. Meskipun, pemerintah Honduras mengerahkan pasukan keamanan di perbatasan dua negara. Tidak sampai terjadi bentrok saat caravan menyeberang ke Guatemala. Sampai di seberang, mereka disambut penduduk Guatemala yang ramah.

Perjalanan selanjutnya menuju Guatemala City terasa lebih ringan. Sepanjang jalan, ada saja penduduk Guatemala yang memberikan tumpangan kepada rombongan pejalan kaki tersebut. Anak-anak dan remaja bisa menumpang mobil, truk, maupun bus sampai ke ibu kota. Bahkan, ada juga yang memberikan makanan dan pakaian kepada rombongan asal Honduras itu.

Tidak seperti Guatemala, Meksiko lebih garang. Sejak sebelum rombongan tersebut sampai ke perbatasan, pemerintah sudah mengerahkan pasukan ke perbatasan. Itu sesuai dengan instruksi Presiden Donald Trump yang tidak mau caravan sampai mendekati AS.

Jumat (19/10) bagian paling depan rombongan tersebut tiba di perbatasan sisi Guatemala. Mereka merusak pagar pembatas dan berhasil memasuki jembatan menuju sisi Meksiko. Kondisi itu sudah diantisipasi. Pemerintah Meksiko telah mengerahkan pasukan anti huru-hara ke lokasi. Pasukan tersebut menghalau mereka yang sukses masuk Meksiko dengan menerobos pagar pembatas.

Berang, rombongan imigran Honduras itu menyerang aparat. Mereka melemparkan botol, batu, dan berbagai benda lainnya ke arah petugas di perbatasan. Akibatnya, sejumlah petugas, jurnalis, dan beberapa imigran sendiri luka-luka. Mereka yang membawa bayi seperti Cazares panik. Gas air mata dan desak-desakan membuat anak-anak sulit bernapas. ’’Tolong buka,’’ teriak salah seorang perempuan sambil mendekap bayinya.

Sebagian imigran, terutama yang tidak punya identitas resmi, memilih untuk terjun ke Sungai Suchiate dan mencoba menembus perbatasan lewat bawah jembatan. Sungguh jalur yang tidak biasa. Mereka menggunakan tali sebagai panduan menuju tepi sungai.

Pemerintah Meksiko sudah mewanti-wanti imigran Honduras itu agar masuk secara legal. Maksudnya, masuk lewat jalur normal dengan menunjukkan dokumen lengkap. Bagi mereka yang nekat, pemerintah Meksiko tidak akan segan menangkap dan mendeportasi mereka.

Ketika situasi mulai tenang, petugas mengizinkan sebagian kecil rombongan menuju selter. Mereka boleh menumpang di sana sambil mengurus surat permohonan suaka. Rata-rata yang ditampung adalah perempuan dan anak-anak. Termasuk Cazares. Sampai 45 hari kemudian, mereka boleh tinggal di sana. Setelah itu, jika permohonan suakanya ditolak, mereka harus pulang ke Honduras.

Mayoritas imigran yang diwawancarai Reuters mengaku bahwa mereka tidak mengerti cara mendapatkan dokumen yang dibutuhkan agar bisa masuk Meksiko. Tapi, mereka ingin tetap mencoba. ’’Saya akan berjuang. Saya akan mencoba terus sampai berhasil,’’ ujar Hilda Rosa. Dia membawa empat anaknya dalam perjalanan nekat tersebut.

Mereka yang nyalinya ciut langsung memutuskan pulang ke Honduras. Bentrok di perbatasan yang mengakibatkan belasan orang luka itu telah merampas keberanian mereka. Mendadak, mereka menjadi takut. Mereka pun memutuskan balik kucing.

Rombongan warga El Progreso, misalnya. Mereka termasuk dalam kelompok imigran yang tidak berani menghadapi risiko selanjutnya. Sebab, mereka yakin tantangan yang akan mereka hadapi lebih besar. Apalagi, selepas Meksiko, mereka harus menghadapi Trump dan kebijakan anti-imigrannya. ’’Besok kami pulang saja lah,’’ ujar Jose Ramon Rodriguez kepada kawan-kawannya. (sha/c22/hep) Meksiko-Guatemala Halau Caravan

Caravan yang menghadirkan krisis di perbatasan memaksa Presiden Honduras Juan Orlando Hernandez dan Presiden Guatemala Jimmy Morales duduk bersama. Hernandez dan Morales sepakat untuk memfasilitasi mereka yang mau mengurungkan niat hijrah ke AS. Dalam waktu dekat, Hernandez akan mengirim pasukan Honduras ke Guatemala.

Maksud Hernandez baik. Pasukan Honduras itu nanti membantu caravan dalam perjalanan mereka. Yang dia maksud, tentu saja, perjalanan pulang. Kembali ke Honduras. Bukan lanjut menuju Negeri Paman Sam.

’’Saya juga sudah meminta izin untuk menyewa transportasi darat. Siapa pun yang bersedia pulang bisa naik moda tersebut. Sementara itu, transportasi udara akan kami sewakan khusus untuk perempuan, anak-anak, lansia, dan orang sakit,’’ cuit Hernandez pada akun Twitter-nya.

Lewat cara itu, pemerintah Honduras berusaha memaksa warganya kembali ke negara asal. Itu dilakukan karena AS sudah berancang-ancang mengirim pasukan bersenjata ke perbatasannya dengan Meksiko. Pasukan AS itulah yang nanti bertugas menghalau imigran asal Honduras yang kini mencapai Meksiko.

Kemarin (20/10) lembaga HAM mengkritik langkah Meksiko yang tidak memberikan kesempatan kepada caravan Honduras untuk mengadu nasib di wilayahnya. Padahal, sebagian imigran dalam rombongan itu menjadikan Meksiko sebagai negara tujuan. Karena itu, sebaiknya Meksiko tidak asal mengusir dan memaksa mereka pulang ke Honduras.

Erika Guevara-Rosas dari Amnesty International menegaskan bahwa para imigran itu seharusnya tidak dikembalikan ke negara asal. ’’Mereka menghindari kekerasan di negaranya dan kini Anda mengembalikan mereka ke akar masalah,’’ kritiknya.

Namun, Presiden Meksiko Enrique Pena Nieto bergeming. Dia bersikukuh kepada kebijakannya mengusir imigran tanpa dokumen dari negerinya. Dia menyebut insiden di perbatasan yang sampai menimbulkan korban luka sebagai contoh dampak buruk caravan. Para imigran itu, menurut dia, kasar. Merekalah yang memulai serangan di perbatasan. Mereka pula yang memprovokasi aparat.

Eunice Rendon, koordinator kelompok advokasi para imigran Agenda Migrante, mengungkapkan bahwa setiap ada caravan yang mendekat, pemerintah memang mengerahkan polisi ke perbatasan. Tetapi, situasinya tidak pernah sedramatis Jumat lalu. ’’Ini gara-gara Trump,’’ ujarnya mengacu kepada ancaman presiden 71 tahun tersebut. (sha/c4/hep)

 


BACA JUGA

Rabu, 17 April 2019 14:10

Lima Tahun Berlalu, 112 Gadis Chibok Belum Ketemu

Sebanyak 276 gadis Chibok diculik militan Boko Haram pada 14…

Rabu, 17 April 2019 14:09

AS Tak Akui Palestina

WASHINGTON – Janji Presiden AS Donald Trump untuk mendamaikan Israel…

Selasa, 16 April 2019 13:46

Katedral Notre Dame Terbakar, Ini Kondisi Terakhirnya

Kebakaran hebat melanda Katedral Notre Dame, Paris, Prancis, Senin (15/6).…

Selasa, 16 April 2019 11:56

Memata-matai dari Kedubes Ekuador

QUITO – Presiden Ekuador Lenin Moreno terus menghalau kecaman yang…

Selasa, 16 April 2019 11:54

Aleppo Dibombardir Tengah Malam

 ALEPPO – Tangis seorang bocah terdengar nyaring di depan kamar…

Senin, 15 April 2019 11:42
Kebingungan karena Brexit yang Kembali Tertunda

Pembuat Peta pun Hentikan Produksi

Perjalanan Inggris untuk keluar dari Uni Eropa (UE) masih serba-tidak…

Senin, 15 April 2019 11:39

Penangguhan Brexit Picu Separatisme Skotlandia

PENANGGUHAN Brexit hingga 31 Oktober memicu keributan di dalam negeri.…

Senin, 15 April 2019 11:23

Korut Berikan Kesempatan hingga Pertemuan Ketiga

PYONGYANG – Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un menegaskan sikap…

Senin, 15 April 2019 11:22

Habiskan USD 6,5 Juta untuk Assange

LONDON – Penjemputan paksa pendiri Wikileaks Julian Assange dari Kedutaan…

Minggu, 14 April 2019 22:12
Kisah Anggota ISIS setelah Kalah di Iraq dan Syria

Istri-Anak Huni Kamp Hidup Terkatung-Katung, Suami di Penjara

ISIS telah kalah. Baghouz, Syria, yang menjadi wilayah kekuasaan terakhir…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*