MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 20 Oktober 2018 00:10
Hari Pangan Sedunia dan Refleksi Pembangunan Ketahanan Pangan Kaltim

Oleh: Bernatal Saragih

Bernatal Saragih

PROKAL.CO, SETIAP 16 Oktober, dilakukan perayaan Hari Pangan Sedunia, termasuk Indonesia yang diselenggarakan di Kalimantan Selatan (Kalsel) dan menjadi tuan rumah rangkaian pelaksanaan Hari Pangan Sedunia (HPS) 2018.

Pelaksanaan HPS akan dipusatkan di Kota Banjarbaru dan Desa Jejangkit Muara, Kabupaten Barito Kuala. Pada tahun 2018 mengambil tema Internasional "Our Actions are Our Future". Sedangkan untuk tema nasionalnya ialah "Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Rawa Lebak dan Pasang Surut Menuju Indonesia Lumbung Pangan Dunia 2018".

Dengan harapan pada 2030 tercapai zero hunger (tidak ada kelaparan) dan no poverty (tidak ada yang miskin). Baik di Indonesia dan Kaltim secara khusus. Permasalahan pangan pada suatu daerah ataupun negara ini tidak akan pernah selesai karena pangan menjadi kebutuhan vital untuk pertumbuhan, produktivitas dan sumber daya suatu bangsa.

Bangsa kita masih mengalami masalah kekurangan pangan pada komoditi tertentu sehingga harus dilakukan impor pangan. Impor pangan juga akan selalu menjadi komoditi politik karena sangat terkait kebijakan strategis. Ironis memang kita menyadari masih belum memenuhi kebutuhan pangan kita terutama beras, akan tetapi kita harus optimistis bisa memenuhi pangan kita.

Pada 2016, Bumi Etam diperkirakan kekurangan beras 129 ribu ton dan pada 2018 diperkirakan kekurangan beras sebesar 189 ribu ton. Proses kekurangan beras yang terjadi bukan hanya karena faktor produksi gabah kering panen (GKP) masih tergolong rendah dengan rata-rata 4,2 ton per hektare, tetapi permasalahan lain seperti teknologi, benih, pemupukan, iklim, tekanan sosial, dan intervensi konversi produk pangan pada produk lainnya.

Permasalahan produksi pangan juga terjadi karena kehilangan pangan yang sudah dimulai dari level penyediaan benih yang tercecer, kemudian panen juga tercecer di kebun. Sebagai contoh, untuk pascapanen padi tingginya kehilangan hasil selama penanganan pascapanen sekitar 21 persen. Kehilangan terbesar terjadi pada saat pemanenan sekitar 9 persen dan pada tahap perontokan sekitar 5 persen. 

Kehilangan hasil padi akan lebih besar lagi apabila pemanen menunda perontokan satu sampai tiga hari yang dapat menyebabkan kehilangan hasil antara 2,57–3,12 persen. Kehilangan panen dengan tercecer waktu memasukkan dalam wadah panen, tercecer dalam transportasi, tercecer dan hilang pada grading saat tingkat petani, tercecer saat grading oleh pembeli dan proses sortasi karena tidak dapat memenuhi standar kualitas.

Kehilangan pada proses penyimpanan terjadi karena adanya serangan hama, jamur, dan penyakit di gudang penyimpanan. Kehilangan pada proses pengolahan dan pengemasan, terjadi karena kurang efisiennya peralatan produksi, sehingga rendemen rendah.

Tahapan kehilangan juga terjadi pada bahan pangan seperti beras pada saat sortasi sebelum dimasak, pencucian, tertinggal di piring, jatuh dari piring saat konsumsi, tertinggal dalam wadah memasak. Tantangan tersebut sangat sulit, apalagi ditambah upaya untuk mengatasi masalah terbuangnya makanan sebesar 1,3 miliar ton per tahunnya atau sekitar sepertiga dari seluruh pangan yang diproduksi untuk konsumsi manusia.

Menurut laporan terbaru oleh World Resources Institute (WRI), sepertiga makanan dari total produksi dunia yang hilang atau terbuang dalam sistem produksi dan konsumsi pangan bernilai sekitar USD 1 triliun. Khususnya, target 12.3 di SDG (Sustainable Development Goals) menargetkan penurunan kehilangan dan pemborosan pangan sebesar 50 persen pada 2030.

Jika demikian, maka kekurangan pangan tidak akan dibebankan kepada pemerintah semata. Karena seluruh elemen bangsa punya andil dalam mendukung bangsa dan Kaltim untuk swasembada pangan terutama beras.

Bagaimana peranan pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi? Capaian sebenarnya tak terlalu buruk mengingat kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,06 persen pada 2017. Masyarakat tak akan berharap pertumbuhan pertanian mencapai 6 persen seperti era 1980-an ketika pertumbuhan ekonomi lebih dari 7 persen.

Artinya, sektor pertanian belum mampu menjadi pengganda pendapatan dan pengganda lapangan kerja bagi perekonomian Indonesia. Hal ini juga dibuktikan dengan nilai tukar petani (NTP) kita tidak mencapai 100 persen.

Selain masalah produksi pangan kita juga mengalami masalah gizi, baik secara nasional maupun Kaltim, masalah yang paling disorot sekarang adalah masih tingginya kejadian stunting di Indonesia (37 persen). Di Kaltim masalah stunting juga tinggi di atas 30 persen.

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat, karena stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi. Kondisi ini disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan gizi anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan.

Badan Kesehatan Dunia menyatakan, bahwa 20 persen kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Kondisi ini diakibatkan oleh asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Kini, pertanian yang masih belum berkembang sangat signifikan, di mana kita sudah berada di era Revolusi Industri 4.0. Pada era ini, teknologi telah menjadi sarana untuk mempermudah seluruh aspek-aspek kehidupan termasuk dalam hal ini pembangunan pertanian dan pangan.

Perkembangan-perkembangan tersebut telah sampai pada tahap yang lebih jauh, seperti artificial intelligence, internet of things, nanotechnology, dan 3D printing yang membawa manusia kepada teknologi yang termutakhirkan.

Sehingga dalam pembangunan pertanian dalam revolusi ini sebagai tulang punggung dengan memanfaatkan dan menggunakan alat-alat pertanian yang canggih dalam mendukung produksi pangan kita. 

Permasalahan lainnya juga penting kita sadari, siapakah para petani menghadapi perubahan tak terelakkan ini? Dengan jumlah petani yang cenderung menurun, jumlah lahan semakin terkonversi secara masif. Bagaimana masa depan nasib petani di era Revolusi Industri 4.0?

Pertanyaan muncul apa strategi yang harus kita lakukan dan pemerintah lakukan dalam mengawal pertanian di era revolusi Industri 4.0? Bagaimana pemerintah pihak swasta atau korporasi hadir dalam membantu kesejahteraan petani sebagai bentuk kehadiran negara. Pemerintah berkewajiban memberikan fasilitas dan mendorong berkembangnya usaha-usaha pertanian, dalam suasana yang harmonis dan tidak terlibat langsung dalam bisnis.

Untuk itu sistem dan usaha agrobisnis yang dikembangkan harus berdaya saing (berorientasi pasar, mengandalkan produktivitas dan nilai tambah), berkerakyatan (mendayagunakan sumber daya yang dimiliki rakyat banyak), berkelanjutan (inovasi terus-menerus), desentralisasi (Pendayagunaan keragaman lokal).

Pembangunan pertanian yang berkelanjutan, menyejahterakan petani menjadi tantangan yang harus diselesaikan kita semua. Bersama bekerja dan kerja untuk menciptakan infrastruktur, untuk kelompok-kelompok pemangku kepentingan yang berbeda untuk bersatu dan bekerja bersama untuk memecahkan tantangan pertanian yang berkelanjutan menyejahterakan petani, secara ekonomi dan sosial.

Pangan dan pertanian yang berkelanjutan adalah penting bagi dunia di mana makanan bergizi dan dapat diakses semua orang dan sumber daya alam dikelola dengan mempertahankan fungsi ekosistem untuk mendukung kebutuhan manusia saat ini dan di masa depan.

Kaltim dengan program gubernur yang baru Dr Ir H Isran Noor, membuat strategi yang dapat dieksekusi dan fokus untuk menjawab tantangan di atas sehingga dapat menjadi penyokong pangan nasional dan paling tidak menjadi daerah yang berdaulat dalam pangan.

Penyediaan master plan kawasan pertanian komoditas tanaman pangan dan hortikultura. Kawasan pertanian sebagai acuan teknis dalam menyusun rencana dan melaksanakan kegiatan pengembangan kawasan pertanian di tingkat daerah kabupaten/kota dengan mengacu pada master plan kawasan pertanian komoditas tanaman pangan dan hortikultura provinsi perlu disinkronisasi dengan pengembangan kawasan nasional.

Sebagai contoh, Peraturan Menteri Pertanian RI Nomor: 56/PERMENTAN/RC.040/11/2016 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian Kabupaten Kutai Barat Masuk dalam pengembangan kawasan ubi kayu. Akan tetapi pada tahun 2018, berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 472/Kpts/RC.040/6/2018 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional kabupaten Kutai Barat tidak masuk lagi dalam pengembangan kawasan ubi kayu.

Langkah untuk mengeksekusi kebijakan yang sudah dibuat sangat penting dan dibangun indikator yang tepat untuk mengukur keberhasilan pembangunan pertanian. Sesuai Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor: 472/Kpts/RC.040/6/2018 tentang Lokasi Kawasan Pertanian Nasional, Provinsi Kalimantan Timur ditetapkan sebagai salah satu Lokasi kawasan pertanian nasional komoditas prioritas tanaman pangan dan hortikultura.

Terdiri: 1) Komoditas padi di Kutai Kartanegara, Paser, dan Penajam Paser Utara; 2) Komoditas jagung di Berau; 3) Komoditas cabai di Paser, Penajam Paser Utara, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara; 4) Komoditas bawang merah di Paser, Berau, Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, Samarinda, dan Balikpapan; 6) Komoditas jeruk di Kutai Timur; 7) Komoditas pisang di Kutai Timur.

Dengan ditetapkannya Permentan Nomor 472 Tahun 2018 maka master plan kawasan pertanian komoditas tanaman pangan dan hortikultura Kaltim akan dilakukan penyesuaian lokasi dan komoditas. Juga dengan penyesuaian visi-misi gubernur terpilih 2018-2023 yang bertekad mewujudkan kemandirian/swasembada pangan menuju Kaltim sejahtera.

Kaltim bisa berdaulat dalam pangan dengan program yang terencana dengan baik dan dieksekusi secara berkelanjutan dengan indikator pembangunan ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan yang jelas dan tepat.

Peningkatan indeks pertanaman, teknologi (Industri 4.0), benih/bibit unggul lokal, perluasan area pertanian dan intensifikasi, irigasi, pengembangan padi lahan kering, perlindungan lahan pertanian, perbaikan sumber daya petani akan menjadi loncatan dalam pembangunan ketahanan pangan dan pertanian Kaltim. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius X Tenggarong) TERBANG ke sana kemari…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi perubahan. baik…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .