MANAGED BY:
MINGGU
18 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 19 Oktober 2018 08:39
Beruntung Dibimbing Langsung Pencetusnya di Rusia

Kiprah Raymond Sihombing, Ahli Hukum Luar Angkasa dari Indonesia

PERTAMA ASAL INDONESIA: Raymond Sihombing (kiri) bersama Profesor Gennady Zhukov dalam sebuah kegiatan di Moskow. (DOKUMEN PRIBADI)

PROKAL.CO, Gelar ahli hukum banyak dimiliki masyarakat Indonesia saat ini. Namun, untuk urusan ahli hukum luar angkasa, jumlahnya terbilang sedikit. Raymond Jr Pardamean Sihombing adalah sosok ahli hukum luar angkasa pertama asal Indonesia. Ada cerita tersendiri bagaimana Raymond mendapat gelar doktoralnya di Rusia itu.  

TRI MUJOKO BAYUAJI, Jakarta 

MINAT Raymond untuk melanjutkan pendidikan S-1 ke jenjang S-2 sejatinya tidak terlalu tinggi. Saat masih kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI), Raymond banyak disibukkan kegiatan ekstra kampus, yakni Paduan Suara Mahasiswa UI Paragita.

Bahkan, skripsi yang menjadi syarat lulus Raymond direspons biasa oleh salah satu penguji. “Skripsi saya, tentang aspek hukum internasional imbal dagang Sukhoi antara Rusia dan Indonesia, dianggap biasa sekali dan kurang menarik oleh Prof Hikmahanto Juwana,” kenang Raymond, dalam surat elektronik yang dikirimkan kepada Jawa Pos, Kamis (18/9).  

Raymond yang kini tinggal di Rusia bercerita, saat Hikmahanto menyebut skripsinya kurang menarik, dirinya juga ditantang untuk lebih serius menekuni hukum udara dan angkasa. Itupun, kata Hikmahanto, jika Raymond mampu dan diterima melanjutkan ke S-2.   “Karena alasan kesibukan di UI Paragita, saya memang tidak terlalu berminat lanjut S-2. Cukup skripsi dan nanti jadi penyanyi profesional saja,” kata sosok 36 tahun itu.  

Meski begitu, pembimbing utama skripsi Raymond, Profesor Zen Purba dan Adijaya Yusuf juga menyemangati Raymond untuk melanjutkan kuliahnya ke luar negeri. Kebetulan, Raymond memang menyukai segala hal berbau Rusia. Kebetulan lagi, Raymond memiliki kenalan yang membantunya mendapat beasiswa kuliah di Rusia. “Kenalan di Pusat Kebudayaan Rusia di Menteng, menyarankan saya mengambil beasiswa lewat lembaganya, syaratnya lebih mudah,” beber Raymond. 

Ketika itu, persyaratan yang diwajibkan adalah IPK 3,0 bagi lulusan kampus negeri, bebas HIV, lolos tes kesehatan, siap menanggung biaya tiket pulang pergi (PP) dan biaya hidup per bulan, dan siap belajar bahasa Rusia. Semua syarat itu bisa dipenuhi Raymond.

Melalui seleksi internal di Kementerian Pendidikan Rusia, Raymond menempuh S-2 hukum di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa Rusia di Kota Moskow. “Nama aslinya People’s Friendship University of Russia atau dalam bahasa Rusia disingkat RUDN,” ujar Raymond.  

Dia menyelesaikan pendidikan S-2 pada 2011, dan berlanjut menyelesaikan gelar PhD doktoralnya pada 2014 sebagai ahli hukum luar angkasa. Menurut Raymond, memulai pendidikan di Rusia bagi mahasiswa asing memerlukan tahapan tersendiri. 

Selama satu tahun pertama atau sepanjang 2008, Raymond harus mengikuti studi bahasa Rusia. Hal ini merupakan kewajiban karena merupakan bahasa pengantar selama kuliah. “Mengambil kuliah di Rusia juga tidak sama seperti S-2 di negara Eropa lain atau Amerika Serikat yang relatif lebih ‘nyaman’,” ungkapnya.  

Nyaman dalam hal ini, kata Raymond, adalah keleluasaan untuk mencari pekerjaan atau uang saku yang relatif besar, asrama yang seperti hotel, atau semuanya berbahasa Inggris. Di Rusia, mahasiswa harus terbiasa tinggal sekamar bertiga di asrama ala Soviet, dengan dapur umum di setiap lantai.

“Ada WC umum di setiap lantai, serta shower umum di lantai dasar yang harus antre. Uang saku pun hanya sekitar USD 20, hanya cukup untuk membayar langganan transportasi massal bulanan,” ujar Raymond.  

Tahun 2009, Raymond mulai menempuh pendidikan S-2. Di sinilah minatnya pada hukum luar angkasa muncul. Pemicunya adalah saat dirinya bertemu dengan Profesor Gennady Petrovich Zhukov, seorang ilmuwan Rusia pencetus hukum luar angkasa.

Istilah hukum luar angkasa disebut-sebut memang dicetuskan Zhukov melalui bukunya, yang memicu lahirnya Space Treaty atau konvensi luar angkasa sejak 1950. Raymond mengaku kagum dengan sosok Zhukov karena dedikasinya pada hukum luar angkasa. “Beliau veteran perang dunia kedua, kelahiran 1924, meninggal pada 2014 lalu. Beliau menguasai lebih dari tujuh bahasa,” kata Raymond.

Zhukov di usia senjanya selain bahasa Rusia sebagai bahasa ibu, juga menguasai bahasa Inggris, Jerman, Prancis, Spanyol, Portugis, Belanda, dan bahkan bahasa Jepang dan mandarin.

Raymond menyebut, Profesor Zhukov adalah tokoh yang mendorongnya untuk menjadi orang Asia pertama yang menulis soal luar angkasa. Sebab, banyak orang yang menilai Asia tidak patut diperhitungkan dalam persaingan antarnegara di luar angkasa. Dalam hal ini, Profesor Zhukov memiliki pendapat lain, dan meminta Raymond merealisasikan tulisan itu.  

“Saya mengiyakan tawaran itu, karena saya nilai mudah-mudah susah. Mudah karena Profesor Zhukov pasti mampu mengajari saya sampai paham, susah karena harus membuat tulisan ilmiah dalam bahasa Rusia, sementara saya baru satu tahun belajar,” ujarnya.  

Sisi lain yang membuat Raymond hormat pada Profesor Zhukov adalah semangatnya berbagi ilmu. Dalam usia yang hampir 100 tahun, Zhukov rela menempuh perjalanan dari rumahnya ke kampus RUDN yang memakan waktu tiga jam, setiap tiga kali seminggu, dengan tiga moda transportasi yang berbeda.

Profesor Zhukov tak segan membagikan bahan-bahan tulisan, termasuk tulisan tangannya saat masih menjadi perwakilan Uni Soviet di PBB. “Ketika Beliau wafat tahun 2014, fakultas kami di RUDN khususnya Jurusan Hukum Internasional menerima banyak ucapan belasungkawa dari bukan saja dari petinggi negeri Rusia namun juga dari kalangan akademis kampus-kampus besar dunia,” kenang Raymond.  

Meski kehidupan di Rusia terbilang tidak mudah, Raymond mengaku bersyukur karena memiliki talenta menyanyi. Dia menyebut kemampuannya bernyanyi yang akhirnya mendekatkannya pada masyarakat Rusia, yang dinilainya menghargai segala bentuk seni. Kemampuan bernyanyi yang membuatnya bertemu dengan orang nomor 1 Rusia.

Raymond pada 2010 pernah memenangkan kompetisi vokal antarmahasiswa se-Rusia. Di mana laga final disiarkan di radio dan televisi. Kemenangan itu membawa Raymond tampil diiringi Orkestra Nasional Rusia pada perayaan hari persatuan seluruh bangsa dan agama di Rusia pada setiap 4 November. Raymond tampil pada 2010 dan 2011 di Georgievsky Hall, Istana Kremlin. “Pada 2011, saya nyanyi di depan Presiden Rusia saat itu, Dmitry Medvedev dan Perdana Menteri Vladimir Putin yang saat ini menjadi presiden,” ujar Raymond bangga.

Sejak itu, dia mendapatkan beasiswa tambahan untuk bekal doktoralnya, yakni beasiswa Rektor RUDN dan beasiswa Presiden Rusia, karena dinilai memiliki partisipasi memelihara persahabatan dan toleransi antara mahasiswa se Rusia lewat kegiatan-kegiatan antarkampus.  

Talenta menyanyi juga mendekatkan Raymond dengan Yulia Pavlovna Guseva, pacar yang saat ini sudah sah menjadi istrinya. Keduanya sama-sama memiliki minat menyanyi, bahkan Yulia saat ini sudah memiliki kartu izin tinggal tetap (KITAP) di Indonesia. Keduanya saat ini sudah dikaruniai seorang putri. “Putri saya saat ini baru masuk TK (taman kanak-kanak) di Moskow,” beber Raymond.  

Dia sendiri saat ini memanfaatkan pengetahuan hukum luar angkasanya sebagai dosen. Raymond tercatat sebagai staf pengajar tidak tetap untuk mata kuliah sejarah hukum internasional dan pengantar hukum luar angkasa di Departemen Hukum Internasional di Russian Law Academy Under the Ministry of Justice Russian Federation, termasuk di Institut Perundang-undangan dan Perbandingan Konstitusi Rusia di Moskow.  

Di luar itu, Raymond punya aktivitas segudang. Dia saat ini aktif sebagai penggiat pertukaran budaya antara generasi muda Indonesia dan Rusia di Moskow. Sejak 2013, Raymond banyak berpartisipasi di forum-forum kaum muda Rusia demi mempromosikan Indonesia.

Pertemuan itu membahas mulai dari konsultasi mengenai syarat-syarat beasiswa, syarat-syarat menikah dengan pria/perempuan dari Rusia atau Indonesia, hingga kelompok diskusi bahasa Rusia/Indonesia. Dia juga terlibat sebagai penterjemah untuk berbagai baik kalangan perorangan maupun badan hukum di Rusia maupun di Indonesia.     

“Seiring bertambahnya permintaan penerjemahan, saat ini ada satu penerbit di Rusia yang mengajukan permintaan penerjemahan literatur klasik Indonesia ke dalam bahasa Rusia. Ini saya artikan berita yang baik bagi kedua negara,” pungkasnya. (rom/k15)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 11:46

Pansel Tegas..!! Ada "Cacat", 9 Calon Komisioner KPU Kaltim Gugur Diseleksi Berkas

SAMARINDA  –   Seleksi calon komisioner KPU Kaltim 2018-2023 mulai makan korban.…

Sabtu, 17 November 2018 01:31

Penertiban Kopi Pangku Harus Konsisten

TENGGARONG   -   Pengungkapan kasus Human Traficking di warung kopi pangku di jalur…

Sabtu, 17 November 2018 00:02

Tak Mudah Beroperasi Kembali, Izin Merpati Tidak Berlaku

JAKARTA  –  Upaya maskapai penerbangan Merpati Nusantara Airlines (MNA) untuk beroperasi…

Jumat, 16 November 2018 14:28

Berkas Alphard Dilimpahkan ke Kejari Samarinda

SAMARINDA - Perkara dugaan penipuan yang menjerat ketua DPRD Samarinda nonaktif, Alphard Syarief…

Jumat, 16 November 2018 08:27

Belajar dari Ulama “Budek”

Oleh: Bambang Iswanto DI tahun politik, para elite politik harus bisa menahan diri untuk tidak salah…

Jumat, 16 November 2018 06:49

Menanti Solusi Rendahnya Harga TBS

SAMARINDA – Pemerintah tampaknya harus lebih serius dalam menangani penurunan harga tandan buah…

Kamis, 15 November 2018 11:40

BPK Akui Sulit Awasi Desa

BALIKPAPAN - Alokasi dana desa yang saat ini pagunya bisa sampai 2-3 miliar per desa, menjadi tantangan…

Selasa, 13 November 2018 10:24

DUH PAYAH..!! Persentase Kelulusan CPNS Masih Rendah

TANA PASER–Seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS) di Assessment Center Kantor Badan…

Selasa, 13 November 2018 07:35

Tugboat Batu Bara Tenggelam di Perairan Bunyu, Dua ABK Belum Ditemukan

TARAKAN – Kecelakaan di perairan Kalimantan Utara (Kaltara) kembali terjadi. Kali ini, sebuah…

Selasa, 13 November 2018 06:41

YESS..!! Merpati Siap Kembali Mengudara Tahun Depan

JAKARTA – Setelah mengalami penghentian operasi pada 2014 silam, maskapai pelat merah, Merpati,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .