MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 19 Oktober 2018 08:25
Tiga WNA yang Ditahan di Rudenim Balikpapan
“Kalau Bisa Deportasi Saja Saya”
BERHARAP BEBAS: DB (kaus hitam), SM (kaus biru), AE (menggunakan penutup kepala) saat ditemui di Rudenim, Rabu (17/10) lalu. Mereka mengaku sangat kecewa dengan perlakuan Imigrasi Balikpapan. (ridhuan/kp)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Tak mudah bagi warga negara asing (WNA) untuk bekerja di Indonesia. Harus paham hukum. Salah urusan administrasi bisa berujung deportasi. WajahAE yang merengut seketika semringah. Dengan ekspresi terharu, dia memeluk dan mencium pipi seorang perempuan yang datang menemuinya. Setelah saling menanyakan kabar, tubuhnya berpindah. Memeluk pria berambut cokelat dan mengenakan kacamata. Kedua pengunjung itu sangat ditunggunya.

AE adalah warga negara Afrika Selatan. Relawan. Dia hendak menyelesaikan proses belajar sebagai guru di Raffles Independent School (RIS). Sebelum akhirnya Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) menangkapnya di sekolah tersebut pada 26 September lalu. Kemudian menahan semua surat-surat yang menurutnya sudah sesuai statusnya sebagai relawan.

“Saya pegang semua dokumen yang diperlukan sebagai relawan,” sebut perempuan 49 tahun itu kepada Kaltim Post Kamis (18/10). Proses penangkapan ini membuatnya syok. Dia merasa tak melanggar hukum. Apalagi ini perjalanan pertamanya ke Indonesia. Pertama kali meninggalkan Negara Pelangi, julukan Afrika Selatan. Rencananya, untuk bisa pulang pun gagal. Meninggalkan Indonesia di pertengahan Oktober ini untuk menemui suami dan anaknya.

“Saya ingin pulang. Kalau bisa deportasi saja saya. Daripada saya dikurung dengan alasan yang tidak saya ketahui. Saya dipenjara di sini,” ungkap perempuan berkulit gelap itu. Proses penyidikan yang sedang berjalan juga membuat SM (inisial) jengah. Dengan nada tinggi dan menekankan setiap pengucapan dalam bahasa Inggrisnya, perempuan 35 tahun asal Afrika Selatan itu bernasib sama dengan AE. Berdua, mereka adalah tersangka dalam kasus penyalahgunaan visa.

Sudah 13 hari ketika media ini berkunjung ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Balikpapan, Rabu (17/10) lalu. Menjadi tahanan Kantor Imigrasi. “Buat apa kami ke Indonesia jika hanya untuk melanggar hukum. Kami ini guru. Tetapi diperlakukan seperti pembunuh,” ungkap SM. Sebagai perempuan, mereka menyebut jika dikurung selama 23 jam sehari. Tak bisa keluar sel kamar dengan alasan keamanan. Mengingat di dalam rudenim ada ratusan pria pencari suaka asal Timur Tengah. Ini disebut AE dan SM adalah hal yang konyol. Karena selama ditahan, mereka mendapat perlakuan baik dari para pencari suaka.

 “Kami sangat dibantu. Hanya memang kami tak bisa tidur nyenyak. Selain karena kondisi selnya, juga karena banyak sekali lalat buah yang sangat mengganggu,” kesal guru bahasa Inggris untuk jenjang SD di RIS itu. Selain keduanya, ada DB. Seorang pria asal Kanada. Juga seorang guru. Mengajar bahasa Inggris untuk SMP di RIS. Tak seperti AE dan SM, DB paham kesalahannya. Namun, bukan dalam arti kesengajaan. Karena bagi WNA yang bekerja di Indonesia, banyak dari mereka yang tak mau direpotkan dengan pengurusan dokumen. Sehingga memercayakan kepada perusahaan yang merekrut tenaga kerja asing.

“Tetapi bagi kami, jika memang kami salah, kami sebaiknya diberi tahu apa kesalahannya. Bukan seperti ini. Diabaikan. Bahkan kedutaan kami tak bisa bantu sebelum ada pernyataan resmi dari Imigrasi jika kami ditahan,” ujarnya. Bertiga, mereka memilih dideportasi jika memang diputuskan bersalah. Namun, keinginan tersebut dilakukan dalam tempo singkat. Bukan malah dibiarkan dan tak diberi informasi kelanjutan kasus ini. Mengingat sejak awal penahanan mereka merasa banyak menemui kejanggalan.

“Kami dituduh akan melarikan diri. Bagaimana? Semua dokumen kami disita. Uang penangguhan penahanan telah dibayar, tetapi kami tetap ditahan. Hanya karena alasan kami mengganti pengacara,” beber DB. Sebelumnya, penyidik dari Kantor Imigrasi Balikpapan yang menangani kasus ini, Andi Febrinaldy menyebut jika terdapat pelanggaran visa terhadap tiga WNA tersebut. Visa yang dimiliki ketiganya masuk indeks 211 atau visa kunjungan.

“Yakni visa untuk tourism, social visa, atau single entry business visa,” kata Febry. Visa ini diperuntukkan bagi kunjungan sekali perjalanan. Visa ini bisa diberikan 30 hari dan dapat diperpanjang satu kali dengan durasi tinggal 30 hari. Visa ini bisa diajukan ke perwakilan Indonesia di luar negeri atau KBRI di negara setempat atas dasar permohonan dari penjamin WNI. Visa kunjungan sekali perjalanan ini ada juga yang berdurasi 60 hari dan dapat diperpanjang empat kali dengan durasi masa tinggal 30 hari setiap perpanjangan indeks visa 211. “Seharusnya visa 312,” ujar Febry.

Visa 312 adalah visa bekerja. Sebuah perusahaan yang akan mempekerjakan tenaga kerja asing harus mengurus izin di kementerian tenaga kerja seperti Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) dan Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). Di samping itu, perusahaan wajib membayar Dana Pengembangan Keahlian dan Keterampilan (DPKK) sebesar USD 100 per bulan. (*/rdh/riz/k15)


BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 12:14

Enam Lembaga Negara Digugat

Tragedi pencemaran minyak di Teluk Balikpapan, akhir Maret 2018, masih…

Rabu, 19 Juni 2019 12:12

Pemprov Janji Perketat Tambang

SAMARINDA–Besarnya alokasi anggaran yang diperlukan untuk menjalankan program penanggulangan banjir…

Rabu, 19 Juni 2019 12:10

Konstruksi Ibu Kota Baru Dimulai 2021

JAKARTA–Rencana pemindahan ibu kota terus dipersiapkan. Meski lokasinya belum ditetapkan,…

Rabu, 19 Juni 2019 10:56
Polemik PPDB Sistem Zonasi

PPDB Bertujuan Mulia, Tapi Pelaksanaan Bermasalah

JAKARTA - Semangat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meniadakan sekolah favorit…

Rabu, 19 Juni 2019 10:53

Makin Menjamur, Guest House Resahkan Perhotelan

Menjamurnya guest house di Kota Minyak diyakini bisa memperbesar lapangan…

Rabu, 19 Juni 2019 10:51

Makin Sadar, Warga Pilih Tukarkan Uang Pecahan di Perbankan

SAMARINDA- Kinerja outflow pada Mei 2019 meningkat 86,03 persen year-on-year…

Rabu, 19 Juni 2019 10:44
Pemerintah Dituding Tak Sigap dalam Kasus Tragedi Teluk Balikpapan--sub

Pemerintah Dianggap Tak Siap, Enam Lembaga Negara Digugat

Tragedi pencemaran minyak di Teluk Balikpapan, akhir Maret 2018, masih…

Rabu, 19 Juni 2019 10:41
Yulia Hadi, dari Paser Wakili Tiga Negara di Kontes Kecantikan Tingkat Dunia

Voting di Posisi Teratas, Lolos Empat Besar, Final Digelar di Meksiko

Aktif di kegiatan sosial menjadi pintu gerbangnya menuju kontes kecantikan.…

Rabu, 19 Juni 2019 10:39
Pemprov Janji Perketat Tambang

Penanganan Banjir Samarinda, Pemda Kejar Anggaran ke Pusat

SAMARINDA–Besarnya alokasi anggaran yang diperlukan untuk menjalankan program penanggulangan banjir…

Senin, 17 Juni 2019 14:50
Atasi Banjir Samarinda, Sekkot Minta Bantuan Pemprov dan Pusat

Atasi Banjir di Samarinda, Ini Kuncinya...

Mengatasi banjir di sejumlah wilayah di Kaltim menjadi pekerjaan utama…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*