MANAGED BY:
SENIN
21 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Jumat, 19 Oktober 2018 08:25
Tiga WNA yang Ditahan di Rudenim Balikpapan
“Kalau Bisa Deportasi Saja Saya”
BERHARAP BEBAS: DB (kaus hitam), SM (kaus biru), AE (menggunakan penutup kepala) saat ditemui di Rudenim, Rabu (17/10) lalu. Mereka mengaku sangat kecewa dengan perlakuan Imigrasi Balikpapan. (ridhuan/kp)

PROKAL.CO, BALIKPAPAN – Tak mudah bagi warga negara asing (WNA) untuk bekerja di Indonesia. Harus paham hukum. Salah urusan administrasi bisa berujung deportasi. WajahAE yang merengut seketika semringah. Dengan ekspresi terharu, dia memeluk dan mencium pipi seorang perempuan yang datang menemuinya. Setelah saling menanyakan kabar, tubuhnya berpindah. Memeluk pria berambut cokelat dan mengenakan kacamata. Kedua pengunjung itu sangat ditunggunya.

AE adalah warga negara Afrika Selatan. Relawan. Dia hendak menyelesaikan proses belajar sebagai guru di Raffles Independent School (RIS). Sebelum akhirnya Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) menangkapnya di sekolah tersebut pada 26 September lalu. Kemudian menahan semua surat-surat yang menurutnya sudah sesuai statusnya sebagai relawan.

“Saya pegang semua dokumen yang diperlukan sebagai relawan,” sebut perempuan 49 tahun itu kepada Kaltim Post Kamis (18/10). Proses penangkapan ini membuatnya syok. Dia merasa tak melanggar hukum. Apalagi ini perjalanan pertamanya ke Indonesia. Pertama kali meninggalkan Negara Pelangi, julukan Afrika Selatan. Rencananya, untuk bisa pulang pun gagal. Meninggalkan Indonesia di pertengahan Oktober ini untuk menemui suami dan anaknya.

“Saya ingin pulang. Kalau bisa deportasi saja saya. Daripada saya dikurung dengan alasan yang tidak saya ketahui. Saya dipenjara di sini,” ungkap perempuan berkulit gelap itu. Proses penyidikan yang sedang berjalan juga membuat SM (inisial) jengah. Dengan nada tinggi dan menekankan setiap pengucapan dalam bahasa Inggrisnya, perempuan 35 tahun asal Afrika Selatan itu bernasib sama dengan AE. Berdua, mereka adalah tersangka dalam kasus penyalahgunaan visa.

Sudah 13 hari ketika media ini berkunjung ke Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) Balikpapan, Rabu (17/10) lalu. Menjadi tahanan Kantor Imigrasi. “Buat apa kami ke Indonesia jika hanya untuk melanggar hukum. Kami ini guru. Tetapi diperlakukan seperti pembunuh,” ungkap SM. Sebagai perempuan, mereka menyebut jika dikurung selama 23 jam sehari. Tak bisa keluar sel kamar dengan alasan keamanan. Mengingat di dalam rudenim ada ratusan pria pencari suaka asal Timur Tengah. Ini disebut AE dan SM adalah hal yang konyol. Karena selama ditahan, mereka mendapat perlakuan baik dari para pencari suaka.

 “Kami sangat dibantu. Hanya memang kami tak bisa tidur nyenyak. Selain karena kondisi selnya, juga karena banyak sekali lalat buah yang sangat mengganggu,” kesal guru bahasa Inggris untuk jenjang SD di RIS itu. Selain keduanya, ada DB. Seorang pria asal Kanada. Juga seorang guru. Mengajar bahasa Inggris untuk SMP di RIS. Tak seperti AE dan SM, DB paham kesalahannya. Namun, bukan dalam arti kesengajaan. Karena bagi WNA yang bekerja di Indonesia, banyak dari mereka yang tak mau direpotkan dengan pengurusan dokumen. Sehingga memercayakan kepada perusahaan yang merekrut tenaga kerja asing.

“Tetapi bagi kami, jika memang kami salah, kami sebaiknya diberi tahu apa kesalahannya. Bukan seperti ini. Diabaikan. Bahkan kedutaan kami tak bisa bantu sebelum ada pernyataan resmi dari Imigrasi jika kami ditahan,” ujarnya. Bertiga, mereka memilih dideportasi jika memang diputuskan bersalah. Namun, keinginan tersebut dilakukan dalam tempo singkat. Bukan malah dibiarkan dan tak diberi informasi kelanjutan kasus ini. Mengingat sejak awal penahanan mereka merasa banyak menemui kejanggalan.

“Kami dituduh akan melarikan diri. Bagaimana? Semua dokumen kami disita. Uang penangguhan penahanan telah dibayar, tetapi kami tetap ditahan. Hanya karena alasan kami mengganti pengacara,” beber DB. Sebelumnya, penyidik dari Kantor Imigrasi Balikpapan yang menangani kasus ini, Andi Febrinaldy menyebut jika terdapat pelanggaran visa terhadap tiga WNA tersebut. Visa yang dimiliki ketiganya masuk indeks 211 atau visa kunjungan.

“Yakni visa untuk tourism, social visa, atau single entry business visa,” kata Febry. Visa ini diperuntukkan bagi kunjungan sekali perjalanan. Visa ini bisa diberikan 30 hari dan dapat diperpanjang satu kali dengan durasi tinggal 30 hari. Visa ini bisa diajukan ke perwakilan Indonesia di luar negeri atau KBRI di negara setempat atas dasar permohonan dari penjamin WNI. Visa kunjungan sekali perjalanan ini ada juga yang berdurasi 60 hari dan dapat diperpanjang empat kali dengan durasi masa tinggal 30 hari setiap perpanjangan indeks visa 211. “Seharusnya visa 312,” ujar Febry.

Visa 312 adalah visa bekerja. Sebuah perusahaan yang akan mempekerjakan tenaga kerja asing harus mengurus izin di kementerian tenaga kerja seperti Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA) dan Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). Di samping itu, perusahaan wajib membayar Dana Pengembangan Keahlian dan Keterampilan (DPKK) sebesar USD 100 per bulan. (*/rdh/riz/k15)


BACA JUGA

Senin, 21 Januari 2019 10:55

Pansel KPU Buka Lagi Pendaftaran

SAMARINDA–Kerja Panitia Seleksi (Pansel) Komisioner KPU Kaltim 2018–2023 sempat terhenti.…

Minggu, 20 Januari 2019 11:00

MUDAHAN LEBIH HOT..!! Tanpa Kisi-Kisi di Debat Kedua

JAKARTA – Debat capres-cawapres edisi kedua masih sebulan lagi. Namun,…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:09

Biaya Tol Teluk Kian Membengkak

BALIKPAPAN  –   Semakin lama tertunda, anggaran pembangunan Jembatan Tol…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:07

Abu Bakar Ba’asyir Bebas Tanpa Syarat

JAKARTA  -  Terpidana kasus terorisme Abu Bakar Ba’asyir bisa mengakhiri…

Sabtu, 19 Januari 2019 07:04

Polres Belum Terima Komplain Konsumen

BALIKPAPAN –  Kasus obat kosmetik ilegal diungkap jajaran Polres Balikpapan,…

Jumat, 18 Januari 2019 09:40

SERASA ANAK TIRI..!! Bandara APT Pranoto “Dicueki” Pusat

SAMARINDA–Moda transportasi udara jadi idola untuk memangkas waktu perjalanan. Sayangnya,…

Jumat, 18 Januari 2019 08:11

Kosmetik Ilegal Dijual Mahal

BALIKPAPAN – Nurliah (26) hanya bisa menunduk. Perempuan berkulit putih…

Jumat, 18 Januari 2019 08:01

Mengubur Kebencian

OLEH: BAMBANG ISWANTO (Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda)…

Jumat, 18 Januari 2019 07:57

Koran Adalah Alat Perjuangan, Bertahan dengan Kualitas Sajian

Media daring menjamur. Tapi tak akan membunuh koran. Tak membuatnya…

Jumat, 18 Januari 2019 06:48

Mengoptimalkan Ekspor Batu Bara Kaltim ke India

Oleh: Wahyu Baskara Santoso dan Debby Amalia Soraya (Asisten Analis…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*