MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 19 Oktober 2018 07:14
Bekal untuk Para Caleg 2019

PROKAL.CO, Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD
(Rohaniwan di Tenggarong)

KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman mengumumkan keputusan penetapan daftar calon anggota DPR, DPD, DPRD serta pasangan calon presiden dan wakil presiden pada Kamis 20 September 2018 lalu. Pada Tahun 2019 ada 7.968 calon anggota DPR dari 16 partai politik nasional yang akan bertarung di 80 dapil untuk memperebutkan 575 kursi DPR RI. 136 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD). DPRD tingkat Provinsi berjumlah 2207 kursi, sedangkan DPRD tingkat Kabupaten/Kota 17.610 kursi.

Para calon anggota legislatif yang akan bertarung dalam pemilu 2019 akan mulai berkampaye pada 23 September 2018 sampai dengan 13 April 2019. Kembali ke jumlah; kalau kita lihat sangat mengcengangkan dan ini menjadi perbincangan yang menarik dalam wacana publik masyarakat Indonesia akhir-akhir ini.

Jumlah yang begitu banyak ini membuat kalangan masyarakat awam seperti kami bertanya. Mengapa sebanyak itu? Perlukah sebanyak itu? Untuk apa sebanyak itu? Dan apa yang seharusnya dibuat dengan jumlah yang begitu banyak?

Pertanyaan-pertanyaan ini hanya bisa dijawab oleh mereka yang berkepentingan saja. Namun dari pertanyaan ini yang mau ditunjukan dari sebuah pesta demokrasi adalah di dalam wacana demokrasi yang penting bukan kuantitas wacana, tetapi kualitas wacana.

Bobot demokrasi tidak pertama-tama ditunjukkan oleh jumlah pembicaraan yang dilakukan untuk mempersiapkan satu pemilihan, tetapi oleh kualitas wacana tersebut. Artinya, demokrasi kita dengan sendirinya sudah maju karena sekarang masa kampanye berlangsung berbulan-bulan.

Apa yang dikatakan dan interaksi model mana yang diciptakan di dalam proses kampanye tersebut, itulah yang menentukan martabat demokrasi kita. Para caleg perlu menyadari politik demokrasi itu dibangun ketika manusia berbicara, berkomunikasi dan membangun wacana.

Jika manusia semuanya seragam, maka tidak terjadi dialog dan tidak ada politik. Karena itu, “Politik adalah kebersamaan dan ketersalingan dalam kebhinekaan”. demikian yang disampaikan oleh F Budi Hardiman dalam buku Memahami Negativitas, Diskursus tentang Massa, Teror dan Trauma, 2005, halaman 21.

Dengan melihat jumlah yang begitu besar, di satu sisi kita patut berbangga. Situasi ini menandakan ada nilai positif dalam iklim perpolitikan kita dengan ditandai terbukanya ruang partisipasi warga untuk maju mencalonkan diri sebagai wakil rakyat. Kalau pun para calon legislatif yang bertarung sedikit itu juga tanda tidak baik di mana memperlihatkan bahwa demokrasi kita adalah demokrasi yang semu, demokrasi bayangan.

Jumlah yang Fenomenal

Namun perlu kita sadari bahwa jumlah calon yang terdaftar untuk ikut pemilu legislatif yang begitu banyak dengan sendirinya memperlihatkan gejala yang tidak baik. Jumlah tersebut perlu mendorong perenungan yang lebih dalam bagi para caleg dan masyarakat umum.

Mengapa begitu banyak orang yang ingin menjadi caleg? Apa saja yang bisa dan boleh dilakukan seorang anggota legislatif sehingga keanggotaan di dalam lembaga itu tampaknya demikian menggiurkan? Apa saja yang bisa dilakukan anggota legislatif sehingga begitu banyak yang tertarik? Kita perlu ketahui bahwa anggota legislatif bukanlah segala-galanya.

Fenomena jumlah yang begitu banyak memperlihatkan bahwa memang kekuasaan itu selalu punya daya tarik. Kekuasaan selalu terkait dengan pengaruh. Dengan demikian fenomena banyaknya calon anggota legislatif itu adalah gambaran manusia yang selalu ingin berpengaruh dan memengaruhi kehidupan bersama di bumi Indonesia ini.

Selain itu, fenomena caleg yang banyak merupakan tanda bahwa tidak sedikit orang yang mau mendapatkan dan menikmati kemudahan yang diberikan oleh status anggota legislatif. Persoalan akan muncul apabila dari sebagian para legislatif ini berpikir bahwa baru dengan menjadi anggota lembaga legislatif mereka bisa berpengaruh dan memengaruhi.

Orang-orang seperti ini terjebak dalam pemikiran bahwa mereka hanya dapat melakukan sesuatu untuk demokrasi kalau mereka menjadi anggota lembaga legislatif tersebut. Dengan kata lain, mereka berpolitik apabila mereka dapat merebut kursi legislatif. Ini adalah cermin di mana demokrasi dan politik direduksi menjadi lembaga legislatif dan keanggotaan di dalamnya saja.

Pemikiran dan pereduksian ini sangat membahayakan hidup bersama. Sebab demokrasi yang sehat itu menuntut semua elemen masyarakat berfungsi. berdasarkan pernyataan di atas, seorang pekerja tambang, seorang yang tinggal di perkebunan sawit, seorang wartawan, seorang yang bekerja serabutan tidak perlu merasa kurang berkontribusi untuk politik dan demokrasi selama dia belum menjadi anggota legislatif.

Kita harus cemas apabila semua orang baik itu, pekerja tambang, guru, nelayan, pekerja di perkebunan dan profesi lainnya mau menjadi caleg. Kondisi ini harus dihindari karena menjadi calon anggota legislatif bukanlah segala-galanya. Barangsiapa yang mengatakan anggota legislatif itu segala-galanya dia itu meremehkan elemen masyarakat yang lain dan dengan demikian berbahaya untuk demokrasi di Indonesia.

Banyaknya daftar caleg nanti merupakan sebuah tantangan dalam berdemokrasi. Kuantitas ini harus diimbangi dengan kualitas yang baik. Tugas partai yang mengusung mereka adalah terus-menerus memberi pembekalan.

Tugas kita sebagai masyarakat yakni menantang mereka para caleg untuk memiliki motivasi yang jernih dan memperluar horizon dengan bacaan dan diskusi serta meningkatkan ketrampilan untuk menangkap dan mengartikulasikan isu serta tidak lupa memperjuangkannya agar tercipta keadilan dan kebaikan bersama.

Sedangkan tugas para caleg yakni mengembalikan politik pada ranah yang sebenarnya. Karena politik sesungguhnya adalah lapangan refleksi tentang keseharian. Dengan refleksi dimaksudkan aktivitas budi manusia yang mengeksplorasi keluhuran martabatnya dan keluhuran hidup bersamanya.

Refleksi mengatakan pencarian kedalaman dan kebenaran. Aktivitas refleksi mengukir martabat manusia. Manusia hadir tidak hanya mendengar, mengikuti perintah atau menjalankan hukum dan kewajiban saja. manusia hadir untuk menggapai kedalaman dan kebenaran. Di luar itu kehidupan politik di bumi Indonesia tidak akan menarik.

Oleh karena itu, para caleg memanggul tanggungjawab besar. Tetapi saya yakin bahwa jika para caleg memiliki motivasi jernih dalam memimpin. Mereka akan membawa bangsa kita menuju masyarakat adil dan makmur. Syarat utamanya yakni mari para caleg, tanamkan dalam diri sendiri semangat dialogal bukan untuk korupsi serta ajak masyarakatmu untuk melangkah dalam track yang benar menuju societas dialogal, negosiatif dan bergotongroyong.

Selain itu, para caleg harus menjadi pelaku politik asketis yang mampu mengendalikan syahwat keserakahan material dan mau bekerja keras bukan bagi keuntungan material jangka pendeknya saja. Melainkan keuntungan spiritual dan universal kemanusiaan yang mungkin baru bisa dinikmati generasi berikut. 

Pelaku politik asketis menjadi sangat dibutuhkan karena kita bangsa Indonesia sedang mengalami persoalan berat dan makin berat saat ini. Perkara besar seperti itu tidak mungkin diatasi dengan “sendirian” saja oleh siapa pun dengan perilaku serakah, oleh institusi mana pun, dan oleh kelompok apa saja, melainkan harus bersama dalam suasana dialogal.

Dalam kebersamaan dicegah segala prinsip yang menafikan kehadiran orang lain, di antara prinsip mayoritas-minoritas. Dan ingatlah bahwa apa yang kamu harapkan orang lain lakukan padamu, lakukanlah itu juga pada orang lain atau dalam bahasa negatifnya. Jangan melakukan kepada orang lain apa yang kamu sendiri tidak harapkan agar orang lain lakukan kepadamu. Jalan pikiran ini membuka kesadaran para caleg 2019 akan perkara moralitas yang dihadapi bangsa ini berhubungan dengan kasus korupsi, ketidakadilan dan berbagai ketimpangan di Tanah Air. (ndu)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius X Tenggarong) TERBANG ke sana kemari…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi perubahan. baik…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .