MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 19 Oktober 2018 07:07
Wujudkan Balikpapan Sebagai Kota Pariwisata Berbasis Islam

PROKAL.CO, Oleh: Siti Subaidah
(Pemerhati Lingkungan dan Generasi)

KOTA Balikpapan di usia 121 tahun sudah menjadi daerah dengan segala kemajuan dan kemewahan. Baik sarana dan prasarana yang terbilang lengkap. Selain itu, ada hal yang tak lepas dari image Balikpapan. Yakni pesona alamnya yang masih terjaga. Maka tak heran jika Balikpapan digadang-gadang akan menjadi salah satu kota pariwisata di Indonesia.

Dengan berbagai konsep pariwisata yang diusung, Balikpapan bisa menjadi rujukan wisata daerah-daerah sekitarnya. Konsep pariwisata tersebut seperti wisata tematik di daerah Lamaru yang mengangkat  tema “Kampung Wisata Kenangan” di mana kampung tersebut menyuguhkan nuansa tempo dulu.

Kemudian ada Wisata edukasi yang tak hanya memperlihatkan keindahan alam tapi juga ada unsur pembelajaran seperti Penangkaran Buaya Teritip, Sun Bear Education and Conservation Centre, Hutan Mangrove (Mangrove Centre Balikpapan), dan lain-lain. Selain kedua wisata tersebut ada pula wisata bahari yang menyuguhkan keindahan wisata air di Balikpapan seperti Pantai Lamaru, Pantai Kemala, Danau Cermin, dan Pantai Manggar Segarasari.

Tentu dengan adanya berbagai macam destinasi wisata di Balikpapan akan menambah pundi-pundi rupiah, khususnya untuk pendapatan daerah. Hal ini pun disikapi baik oleh warga karena mereka yang tinggal di sekitar daerah wisata bisa terangkat perekonomiannya.

Namun, selain sisi positif perlu kita kaji pula adakah sisi negatif dari giatnya pemerintah daerah untuk menghantarkan Balikpapan menjadi kota pariwisata? Fakta di lapangan terkait kota pariwisata di daerah lain memberikan gambaran tersendiri. Meningkatnya sejumlah destinasi wisata di satu daerah berbanding lurus dengan angka kemaksiatan yang terjadi di daerah tersebut.

Sebut saja Bali, kota yang mendapat julukan surganya Indonesia yang mana menjadi tujuan wisata favorit turis mancanegara maupun lokal nyatanya merupakan kota peringkat kelima yang menyumbang jumlah penderita HIV/AIDS di Indonesia. Dalam sebulan, Dinas Kesehatan Provinsi Bali menemukan sedikitnya 100-200 penderita HIV/AIDS baru. Sisi-sisi negatif inilah yang luput dari perhatian kita.

Tidak dapat dimungkiri, banyaknya wisatawan baik mancanegara maupun lokal yang datang ke satu daerah pasti dengan membawa kebiasaan atau budaya dari daerah mereka. Ini lah yang disebut dengan liberalisasi sosial budaya. Sadar atau tidak sadar kita akan terikut dengan pemikiran dan tingkah laku mereka.

Misalnya bagi orang luar negeri tak masalah mereka dengan pakaian terbuka, karena itu sudah biasa bagi mereka. Tapi tidak bagi kita orang timur yang menjunjung adat ketimuran hal ini tentu bertolak belakang bahkan tabu di masyarakat kita. Dengan dalih pemakluman, kita akhirnya membiarkan mereka dan budayanya masuk ke tengah-tengah kita.

Akhirnya yang terjadi adalah pemikiran dan budaya kita ikut terwarnai dan mengalami pergeseran. Maka jangan heran jika kita dapati sekarang pakaian terbuka kini pun dipakai oleh orang-orang Indonesia. Begitu juga dengan budaya lain, seperti seks bebas termasuk di dalamnya gay, lesbian, pedofilia, transgender bahkan sampai ke pernikahan sesama jenis.

Hal ini dulu sesuatu yang tabu, tapi kini jadi sesuatu yang biasa bahkan mereka semakin eksis atau mulai menunjukkan diri secara terang-terangan. Ditambah lagi dengan upaya pemerintah untuk  memanjakan wisatawan dengan membangun pub, panti pijat, legalisasi miras. Sehingga pintu kemaksiatan semakin terbuka lebar. Di samping itu pariwisata juga berpotensi melebarkan jaringan narkoba.

Kita pun tidak ingin hal ini terjadi di Balikpapan, kota yang dijuluki Madinatul Iman. Lalu bagaimana menyikapinya? Pariwisata dari sisi Islam menggambarkan bahwa aktivitas berwisata pun diperbolehkan bahkan dianjurkan. Dalam bahasa arab, hal itu dinamakan rihlah yakni perjalanan seseorang dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan tertentu.

Allah berfirman, “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya, kemudian mengulanginya kembali. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. Katakanlah, berjalanlah di muka bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan manusia dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi”, (Al Ankabut 19-20).

Dari ayat di atas menegaskan bahwasanya manusia perlu melakukan perjalanan untuk meneliti tentang peninggalan sejarah dan kebudayaan manusia. Perjalanan ini guna menyadari bahwa manusia adalah makhluk Allah yang lemah yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah kelak di yaumil akhir.

“Maka tidakkah mereka bepergian lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul) dan sesungguhnya akhirat adalah lebih baik bagi orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memikirkannya? (Yusuf 109)

Ayat ini pun menganjurkan untuk menelusuri berbagai negeri dan melihat bagaimana kaum terdahulu binasa akibat mendustakan ayat-ayat Allah. Allah menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya untuk mencari kebenaran. Itu lah makna dari rihlah yakni bertafakur atau menyadari kebesaran dan keagungan Allah agar keimanan kita senantiasa terjaga. Jadi bukan sekadar komersialitas saja yang ingin diraih tetapi menjadikan masyarakat semakin dekat dengan Allah.

Maka sejatinya dalam hal pariwisata tidak hanya mengedepankan pencapaian target pendapatan daerah tapi juga mengarahkan masyarakat untuk mencapai nilai ruhiyah ketika melakukan aktivitas wisata. Pemerintah harus mewujudkannya dalam hal sarana dan prasarana seperti adanya tempat beribadah di tempat-tempat wisata, penginapan yang berbasis Islam, menghapus pelegalan miras, dan memperketat pengontrolan tempat-tempat wisata yang disinyalir sebagai tempat maksiat. Hal inilah yang harusnya diperhatikan, agar pintu kemaksiatan tidak semakin terbuka terlebih dari sektor pariwisata. Wallahu a'lam bishawab. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius X Tenggarong) TERBANG ke sana kemari…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi perubahan. baik…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .