MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Jumat, 19 Oktober 2018 07:05
Holding Migas dalam Perspektif Geopolitik dan Geostrategi Nasional

PROKAL.CO, OLEH: SUHARYONO SOEMARWOTO, MM
(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Mahasiswa S3 Program Doktor Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti)

HOLDING migas dan tambang untuk siapa? Inilah pertanyaan fundamental yang mesti dijelaskan kepada rakyat agar persoalannya jelas dan memberi manfaat lebih bagi kepentingan rakyat, bangsa, dan NKRI. Harapannya, membawa dampak signifikan terhadap pembangunan sektor migas dan pertambangan yang prorakyat dan kepentingan nasional, bukan untuk kepentingan segelintir orang, kelompok, maupun asing.

Misalnya, terhindar tumpang-tindih pembangunan dan pengembangan infrastruktur karena semuanya diurus satu induk perusahaan (holding). Maupun menjadikan tata kelola gas bumi dan pertambangan di Indonesia lebih efisien. Sehingga dapat mendorong perekonomian dan ketahanan energi.

Holding migas harus beranggotakan perusahaan yang sehat agar lebih efisien mendongkrak kinerja perusahaan serta meningkatkan kesejahteraan. Tarik ulur kepentingan, pro dan kontra mewarnai proses pembentukan holding migas dan tambang. Tidak pelak, banyak pihak yang berusaha adu pengaruh, adu kuat ke pusat kekuasaan untuk menangguk keuntungannya.

Di sisi lain, ada yang kukuh mempertahankan dengan dalih membela kepentingan nasional; bukan untuk kepentingan tertentu maupun asing. Menurut hemat kami, holding migas dan tambang memang suatu keharusan dikaitkan dengan geostrategi dan geopolitik nasional; manakala implementasinya benar-benar prorakyat, bangsa, dan NKRI.

Holding Migas, Tambang, dan Energi

Pengelolaan sumber daya alam (SDA) melalui holding migas dan tambang sejalan dengan Pasal 33 UUD 1945, sehingga 100 persen dikelola BUMN dalam hal ini PT Pertamina dan PT Inalum. Kedua BUMN tersebut harus segera bertransformasi, berbenah diri untuk mengemban misi negara ini.

Mengelola SDA secara profesional, bertanggung jawab, profit oriented dan bertumpu pada sustainability. Sehingga keberlanjutannya terjamin juga untuk kepentingan generasi bangsa yang akan datang. Pertamina pasti mampu, terlebih dengan kembalinya Wilayah Kerja (WK) Migas Mahakam, Oses, Sangasanga, East Kalimantan, Attaka, Wiseno, dan nanti Rokan Riau pada 2021. Ini akan memberi nilai tambah yang luas biasa terutama pekerja yang profesional, pengalaman dan teruji sebagai the winning team dalam perusahaan kelas dunia. Begitu juga dengan PT Inalum.

Beberapa pertimbangan dalam pembentukan holding migas adalah mengintegrasikan lini bisnis yang sama dalam hal transportasi dan niaga gas adalah terdapat potensi penghematan biaya operasional dan belanja modal (capex) karena hilangnya tumpang-tindih dalam pengembangan infrastruktur. Kemudian,  dapat menciptakan infrastruktur gas yang terintegrasi. Menciptakan kinerja keuangan konsolidasi yang sehat. Serta memperkuat struktur permodalan holding (induk usaha).

Sehingga membuka ruang untuk meningkatkan kinerja dan keuntungan melalui pengembangan bisnis migas, meningkatkan setoran dividen serta pajak kepada negara. Kemudian menyangkut aspek perubahan anggaran dasar, dan pengusulan pengurus perusahaan, masih harus dengan persetujuan saham pemerintah. Apalagi jika melakukan perubahan struktur modal atau right issue tentu harus dengan persetujuan DPR sebagaimana diatur dalam PP 72/2016.

Hal tersebut memperkukuh peranan penting BUMN dalam pembangunan Indonesia. Antara lain: sebagai agen pembangunan yang berperan penting dalam melaksanakan berbagai proyek strategis nasional, memenuhi kebutuhan dasar dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berkontribusi dalam bentuk penciptaan keuntungan dan setoran pajak kepada negara. Sebagai BUMN, tugas Pertamina bukan hanya mencari keuntungan semata namun yang utama menyediakan kebutuhan dan pelayanan masyarakat dari Sabang hingga Merauke secara berkeadilan.

Ke depan, agar aturan main dalam holding migas maupun tambang diatur dalam Revisi UU Migas maupun UU Minerba. Juga harus disertai grand design yang kukuh dan fundamental demi ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Aneh, hingga kini revisi UU Migas belum juga selesai akibat dari adu kuat dan tarik ulur kepentingan; padahal rakyat menunggunya.

Dari perspektif geostrategi, holding migas dan tambang diharapkan mampu memberikan nilai tambah kesejahteraan, ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Sehingga akan memperkukuh ketahanan nasional dan menjamin kesatuan geopolitik nasional pada semua aspek ipoleksosbudhankam.

Secara mikro ekonomi, proses pembentukan holding akan menghadapi berbagai tantangan akibat dari penyatuan beberapa perusahaan dengan latar belakang budaya, pekerja yang berbeda, maupun faktor-faktor produksi lainnya. Tidak menutup kemungkinan muncul tarik ulur, dinamika yang timbul harus diselesaikan secara arif dan bijaksana oleh pemerintah sebagai pemegang saham. Terutama pekerja atau serikat pekerja harus dilibatkan dalam proses bisnis agar secara progresif bersama-sama mencapai target-target yang ditentukan.

Holding migas sebagai salah satu geostrategi harus dimaknai sebagai upaya bangsa Indonesia memanfaatkan geopolotiknya secara maksimal untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Pembentukan holding (induk perusahaan) bukan hanya dimaknai sebagai proses bisnis semata, namun lebih dari itu untuk menjamin keberlanjutan (sustainability) dalam memenuhi kebutuhan generasi masa sekarang dan tidak mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang agar mampu memenuhi kebutuhannya.

Kita pun harus cermat dan kritis terhadap kondisi kekinian; misalnya penguasaan wilayah kerja migas oleh Pertamina sebagai Holding Migas Indonesia. Saat ini, Pertamina baru mengusai pengelolaan sekitar 25 persen dari seluruh WK Migas nusantara; bagaimana mungkin kita mencapai ketahanan energi? Ini tantangan bagi semua pemangku kepentingan, terutama pemerintah agar fokus dan benar-benar pro-BUMN, rakyat dan kepentingan NKRI.

Kebijakan energi nasional telah ditetapkan dalam PP No 79 Tahun 2014 juga telah menetapkan bauran energi nasional Tahun 2025 (coal 30 persen, crude oil 25 persen, NRE 23 persen, natural gas 22 persen)  dan Tahun 2050 (NRE 31 persen, coal 25 persen, natural gas 24 persen dan crude oil 20 persen).

Arah kebijakan dan implementasinya harus bertumpu pada target tersebut sehingga tahapan pencapaiannya jelas. Mengingat cadangan energi yang bersumber dari fosil semakin menurun, perlu dikembangkan energi terbarukan (ET). Indonesia kaya akan sumber energi terbarukan, mulai dari air, matahari, panas bumi dan bioenergi seperti biomassa dan biofuel.

Namun demikian, meski kaya akan sumber energi terbarukan tersebut, banyak hal yang menghambat pengembangannya. Mulai proses perizinan yang rumit dan memerlukan waktu yang lama, permasalahan lahan dan tata ruang, hingga kebijakan harga. Pun, diperlukan kepastian regulasi dari pemerintah. Ketidakpastian akan membuat investor enggan berinvestasi di Indonesia.

Pemanfaatan energi terbarukan sendiri sangat penting untuk menjaga ketahanan energi di masa depan. Selain itu, energi terbarukan merupakan simbol kemandirian dan keberlanjutan energi suatu negara. Juga akan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, menggantinya dengan sumber energi yang tak akan habis seperti air, matahari, angin, laut, sampah, hingga biofuel.

Jika itu tidak tercapai, berarti sustainability energi tidak terjamin, berarti ketahanan energi semakin rapuh. Kalau begitu, bagi negara tentu akan semakin rapuh. Holding migas dan tambang memiliki tantangan utama untuk berkontribusi signifikan menuju bauran energi tahun 2025 dan 2050. 

Proses bisnis masing-masing holding pun harus fokus sehingga mampu mencari target-target baru apabila hulunya berkurang. Dan selanjutnya, perlu dipikirkan bersama untuk memperluas holding migas dan tambang menjadi Holding Energi Nasional.

Terhadap investasi domestik maupun asing kita harus cermat, misalnya Kontrak Terima Jadi (Turnkey Contract) sungguh merupakan kedok investasi yang dijadikan bargaining position oleh para investor (asing) kepada kita. Ibarat “jebakan batman” yang menyengsarakan. Yang semestinya kita harus secara tegas menolaknya.

Lebih baik menolak investasi daripada kepentingan nasional, martabat dan kedaulatan rakyat, bangsa dan NKRI tergadaikan. Politik infrastukturnya Tiongkok akibat dari surplus produk susah pemasaran, sehingga harus ekspansi ke negara-negara lain terutama negara berkembang yang padat penduduknya.

Perspektif Geopolitik dan Geostrategi

Frederick Ratzel (1897), tokoh teori geopolitik mengemukakan bahwa negara dalam hal-hal tertentu dapat disamakan dengan organisme, yaitu mengalami fase kehidupan dalam kombinasi dua atau lebih antara lahir, tumbuh, berkembang, mencapai puncak, surut, kemudian mati. Intinya ruang yang ditempati kelompok-kelompok politik (negara-negara) mengembangkan hukum ekspansionisme baik di bidang gagasan maupun bidang produk bagi masing-masing negara.

Bagi Indonesia, menurut Guru Besar FEB Universitas Indonesia dan Trisakti Jakarta Prof DR Wan Usman, harus memperkuat geopolitik dan geostrategi secara benar dan utuh. Geopolitik berkaitan cara pandang dan sikap bangsa Indonesia untuk mengenal diri dan  lingkungannya sebagai negara kepulauan yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Yang perwujudannya berupa doktrin wawasan Nusantara. Sedangkan geostrategi berkaitan cara memanfaatkan geografinya untuk kesejahteraan, keamanan warga negara dan keutuhan negara. Yang perwujudannya berupa ketahanan nasional. Antara wawasan nusantara dan ketahanan nasional merupakan satu kesatuan ipoleksosbud hankam (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan dan keamanan) untuk menghadapi berbagai AGHT (ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan).

Untuk menghadapi AGHT, menurut Mayjen TNI Sonhadji, mantan Pangdam VI/Mulawarman mutlak diperlukan persatuan dan kesatuan semua elemen anak negeri tanpa terkecuali. Harus ditumbuhkembangkan kesadaran dan rasa tanggung jawab untuk rasa memiliki dan membela NKRI sampai titik darah yang penghabisan.

Dalam konsepsi geopolitik dan geostrategi tidak bisa dilepaskan dari empat aspek utama, yaitu Space, Time, People, dan Struggle. Geopolitik memang mengalami perkembangan setiap masanya, namun keempat aspek di atas mampu digunakan untuk menganalisis perubahan yang ada setiap masanya. Apabila satu dimensi berkembang pesat maka dimensi yang lain juga akan ikut berkembang, dan begitu pula sebaliknya.

Menurut hemat kami, holding migas, tambang dan energi ditinjau dari perspektif geopolitik dan geostrategi akan memperkukuh NKRI dalam melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Memajukan kesejahteraan umum. Mencerdaskan kehidupan bangsa. Melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Semua proses bisnis BUMN Holding tersebut harus berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sehingga benar-benar bertumpu pada konstitusi. Kini rakyat menunggu hasil gemilang atas holding migas, tambang dan energi menuju ketahanan dan kedaulatan energi nasional. Semoga. Website: webkita.net, E-mail: [email protected]. (ndu/k15)


BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius X Tenggarong) TERBANG ke sana kemari…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi perubahan. baik…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .