MANAGED BY:
MINGGU
18 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 16 Oktober 2018 06:51
Mitigasi Bencana melalui Pengenalan Bencana Geologi

PROKAL.CO, Oleh: Muhammad Dahlan Balfas
(Dosen Program Studi S-1 Teknik Geologi Fakultas Teknik, Universitas Mulawarman)

BENCANA geologi adalah fenomena geologi yang dapat menyebabkan kerusakan atau kehilangan properti dan kehidupan. Fenomena bencana geologi selalu terjadi secara mendadak, mengejutkan dan berlangsung sangat cepat karena hingga saat ini belum ada satu pun metode yang mampu mengidentifikasi waktu terjadinya secara pasti.

Akibatnya, bencana geologi biasanya memiliki dampak yang sangat besar, baik dari segi jumlah korban jiwa maupun korban materi. Sehingga proses pemulihannya membutuhkan waktu relatif lama. Ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini hanya mampu mengidentifikasi wilayah rawan bencana geologi melalui suatu proses mitigasi yang diharapkan akan mampu mengurangi dampaknya.

Pemetaan Kawasan Rawan Bencana Geologi memberikan informasi dalam bentuk Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Geologi. KRB Geologi ini kemudian menjadi dasar Penataan Ruang Berbasis Kebencanaan Geologi.

Bencana geologi secara umum terdiri atas (i) bencana yang terkait dengan material geologi tertentu, seperti pengembangan (swelling) tanah dan batuan, mineral dan gas beracun (asbes, air asam, gas radon) dan (ii) bencana yang terkait dengan proses geologi, seperti gempa bumi, gunung berapi, subsidence, likuifaksi, gerakan tanah, dan erosi.

Dalam konteks Kalimantan, potensi gempa bumi dan gunung berapi secara umum dianggap tidak besar, sehingga dalam tulisan ini akan dibahas bencana geologi lainnya, yaitu subsidence, likuifaksi, gerakan tanah.

Penurunan Tanah (Land Subsidence)

Penurunan tanah adalah peristiwa geologi berupa turunnya muka tanah secara alami pada skala lokal atau regional. Proses ini, bisa dipercepat oleh aktivitas manusia melalui ekstraksi jangka panjang material penyusun kerak bumi.

Penurunan tanah dapat menyebabkan banyak masalah, di antaranya perubahan elevasi, kerusakan struktur seperti saluran air, selokan sanitasi, jalan, rel kereta api, kanal, tanggul, dan jembatan, kerusakan struktural pada bangunan publik, dan yang paling umum adalah bisa menyebabkan peningkatan frekuensi banjir.

Penurunan tanah bisa disebabkan oleh; 1) proses-proses geologi yang menyebabkan penurunan muka tanah alami (natural subsidence) seperti aktivitas vulkanik dan tektonik yang membentuk rongga di bawah permukaan tanah.

2) eksploitasi bahan cair (air tanah atau minyak bumi) yang disedot dalam jumlah besar dari reservoirnya, sehingga batuan pembawanya mengalami pemadatan akibat pembebanan material di atasnya. 3) eksploitasi bahan padat terutama pada penambangan bawah-permukaan di mana batuan atap sengaja diruntuhkan untuk mengisi kekosongan setelah ekstraksi dan bisa menyebabkan penurunan muka tanah di permukaan.

4) pelarutan batuan karbonat, seperti batu gamping, oleh aliran fluida di bawah permukaan menyebabkan pembentukan rongga, di mana jika lapisan atap rongga lemah, maka terjadi runtuhan batuan dan tanah di atasnya jatuh ke dalam rongga, menyebabkan penurunan muka tanah di permukaan.

v) Pembebanan (settlement) struktur bangunan di atas permukaan sehingga lapisan-lapisan tanah di bawahnya mengalami kompaksi/konsolidasi. Penurunan tanah dapat dikelola dengan baik jika kedalaman dan luas daerah pengaruhnya bisa diprediksi lebih awal dan diambil langkah-langkah preventif dan melakukan perbaikan.

Likuifaksi (Liquefaction)

Likuifaksi adalah proses transformasi sedimen jenuh yang tidak terkonsolidasi dengan baik menjadi substansi yang bersifat mengalir (likuid). Salah satu pemicu terjadinya likuifaksi adalah getaran gempa bumi yang menyebabkan material jenuh kehilangan ikatan, misalnya lapisan pasir berubah menjadi seperti cairan sehingga tak mampu menopang beban bangunan di atasnya. Likuifaksi umumnya terjadi pada tanah pasir yang bergradasi buruk.

Untuk memahami likuifaksi, penting untuk mengenali kondisi yang ada di endapan sedimen sebelum gempa bumi. Endapan sedimen kering terdiri dari kumpulan partikel sedimen. Pengamatan lebih dekat dengan partikel-partikel ini menunjukkan bahwa setiap partikel memiliki sejumlah kontak dengan partikel sekitarnya.

Berat dari material sedimen di atasnya menghasilkan kekuatan kontak antara partikel. Kekuatan ini menahan setiap individu partikel untuk terus di tempat dan memberikan kekuatan pada sedimen sehingga bisa stabil pada sudut tertentu.

Pada endapan dengan kondisi lembap, setiap partikel dikelilingi air seperti film tipis yang menambah kekuatan kontak antar partikel, sehingga sudut amannya bertambah. Jika jumlah dan tekanan air bertambah dalam pori-pori sehingga mampu mengangkat semua beban, akibatnya efek ikatan antar partikel menghilang dan menghasilkan suatu kondisi yang praktis serupa dengan pasir isap (quicksand).

Gejala awal dimulai dari satu titik terakumulasinya tekanan, kemudian berlanjut pada titik yang lain, hingga keseluruhan tubuh material menjadi likuid. Pada kondisi seperti ini, getaran akibat adanya gempa bumi atau sumber getar lainnya bisa menyebabkan sedimen jenuh menjadi tidak stabil dan mudah bergerak.

Indikasi terjadinya likuifaksi di permukaan kadang bisa muncul dalam bentuk terobosan (intrusi) pasir berbentuk kerucut. Efek yang paling sering ditemui terjadi pada daerah dataran rendah di dekat badan air seperti sungai, danau, teluk, dan pantai

Pada dasarnya, ada tiga cara untuk mengurangi bahaya likuifaksi ketika merancang dan membangun bangunan baru atau struktur lainnya seperti jembatan, terowongan, dan jalan. Cara tersebut adalah dengan (i) menghindari lahan yang rentan likuifaksi, (ii) membangun struktur yang tahan likuifaksi, dan (iii) meningkatkan kekuatan kontak sedimen.

Gerakan Tanah (Landslide)

Gerakan tanah adalah perpindahan material pembentuk lereng, berupa batuan, bahan rombakan (debris), tanah, atau campuran dari material-material tersebut, ke arah bawah akibat terjadinya kegagalan lereng (slope failure).

Gerakan tanah merupakan suatu fenomena geologi yang dapat terjadi ketika stabilitas lereng berubah dari kondisi stabil menjadi tidak stabil. Stabilitas lereng yang dinyatakan dengan faktor keamanan lereng dipengaruhi oleh berbagai parameter yang bisa bekerja bersama-sama atau sendiri-sendiri.

Faktor yang merupakan kekuatan pendorong utama terjadinya gerakan tanah adalah gravitasi, sedangkan faktor-faktor alami lain yang bisa mempengaruhi stabilitas lereng asli meliputi geometri lereng (kemiringan dan ketinggian lereng), material penyusun lereng, sifat diskontinuitas, kadar air, vegetasi, gempa bumi dan letusan gunung api, serta aktivitas manusia.

Meskipun umumnya terjadi pada daerah pegunungan, gerakan tanah juga dapat terjadi di daerah dengan relief rendah, misalnya gerakan tanah jenis penyebaran lateral (lateral spreading), runtuhnya tebing sungai, dan berbagai kegagalan lereng yang terkait dengan aktivitas manusia seperti kegiatan penggalian pada tambang terbuka atau pekerjaan cut-and-fill untuk jalan dan bangunan.

Gerakan tanah dapat diklasifikasikan berdasarkan tipe pergerakannya yaitu jatuhan (falls), guling (topples), luncuran (slide), sebaran lateral (lateral spreads), aliran (flows), atau  kombinasi dua atau lebih tipe pergerakan. Sedangkan jenis bahan yang bergerak bisa berupa batuan, sedimen yang didominasi oleh material kasar (debris),  atau sedimen yang didominasi oleh material halus atau tanah.

Pemetaan Geologi Teknik untuk Mitigasi Bencana

Pemetaan geologi teknik dilakukan untuk memetakan kondisi geologi yang bisa memberikan dampak terhadap bangunan sipil. Untuk keperluan tersebut, pemetaan geologi teknik  memberikan penekanan khusus pada; 1) penyebaran lateral dan ketebalan material lepas dan batuan, 2) identifikasi sifat-sifat keteknikan material geologi, 3) Kondisi air permukaan (run off) dan air tanah (groundwater), dan 4) potensi bencana geologi (kestabilan lereng, diskontinuitas, penurunan tanah, dataran banjir, dan lain-lain).

Pemetaan geologi teknik dilakukan melalui 4 (empat) tahapan, yaitu 1) tahap awal dengan penyiapan dan interpretasi peta geologi, peta tata guna lahan dan data-data awal lainnya, 2) tahap pemetaan lapangan, 3) tahap uji laboratorium, dan 4) tahap analisis data dan penyusunan laporan.

Data-data lapangan dan hasil uji laboratorium dianalisis dan kemudian disajikan dalam bentuk peta geologi teknik dan secara spesifik bisa dibuat peta Peta Kawasan Rawan Bencana (KRB) Geologi. Semoga bermanfaat. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 01:11

Masalah Gizi di Kaltim sebagai Refleksi Hari Kesehatan

PERMASALAHAN  pangan dan gizi yang bermuara pada kesehatan, memang sulit untuk diselesaikan jika…

Sabtu, 17 November 2018 01:10

Ancaman Diabetes Pada Generasi Milenial Samarinda

PERUBAHAN  cuaca akhir-akhir ini seringkali membuat udara terasa sangat panas, terlebih pada siang…

Jumat, 16 November 2018 07:10

Hubungan Gelap Antara Penguasa dan Pengusaha

Oleh: Meltalia Tumanduk SPi(Komunitas Muslimah Peduli Umat) TIAP hari, berita korupsi selalu akrab menyapa…

Jumat, 16 November 2018 07:08

Fenomena Digitalisasi, Akankah Menjadi Solusi?

Oleh: Mentari Fitriana SPdi(Guru SD di Balikpapan) SAAT ini dunia sedang digiring pada era digitalisasi.…

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .