MANAGED BY:
MINGGU
18 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 16 Oktober 2018 06:49
Siapa Bilang Kalimantan Aman Gempa?

PROKAL.CO, Oleh: Sunarto Satrowardojo
(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Universitas Mulawarman)

SETELAH membaca tulisan  Ahmad Arif, pada 6 Oktober 2018 yang menyebar luas di media sosial tentang Trilogi Bencana Palu-Donggala, tsunami-gempa-likuifaksi, saya jadi terperangah. Menyadari bahwa selama ini kita tuna bencana. Benar-benar tuna bencana.

Sejarah panjang kegempaan yang ditulis Ahmad Arif menyadarkan kita, menyadarkan saya, bahwa kelalaian penyelenggara negara ini dalam hal mitigasi menunjukkan mereka fakir ilmu komunikasi.

Kerentanan Kota Palu terhadap gempa bumi dan tsunami berulangkali disampaikan JA Katili. Bahkan di Indonesia sejak 1970-an. Katili pula yang menamai sesar ini sebagai Palu Koro, karena membelah dari Teluk Palu di sebelah utara hingga ke Koro di sekitar Teluk Tondano sepanjang sekitar 1.000 kilometer.  Faktanya, Palu terus tumbuh sebagai kota baru yang muncul di muara sungai, setidaknya sejak abad ke 16. Malah Belanda tidak mau menetapkan Palu sebagai Afdeling atau wilayah administrasi setingkat kabupaten di Sulawesi Tengah dan memilih Donggala.

Ketika Palu diguncang bencana yang bagi masyarakat awam, sangat di luar nalar, kita lalu terperangah, sedemikian dahsyatnya-karena bertambah satu jenis bencananya dibanding tsunami Aceh. Berada di luar batas nalarnya, maka disebut bencana ini adalah luar biasa, sebuah kejadian yang di luar kebiasaan.

Bahkan ada yang menyebut ini azab dan kemurkaan Tuhan, padahal hanya abai, lalai dan pemerintah tidak cukup memberikan ruang bagi pemikir untuk memberikan sumbangsih ilmunya untuk kesejahteraan. Ya Allah, miskin sekali nalar kami atas ilmu peringatanmu. Katili sejak 40-an tahun lalu sudah mengingatkan Indonesia, mengingatkan Palu, tapi tak digubris. Katili memperingatkan dengan keilmuannya yang dianggap tak masuk akal.

Lalu Kalimantan, juga disebut sebagai kawasan yang tidak rawan gempa. Dari berbagai sumber berikut saya menemukan beberapa catatan tentang gempa di sebelah timur Pulau Kalimantan.

Mei Tahun 1921 Sangkulirang mencatat gempa memiliki intensitas hingga VIII MMI. Gempa bumi kuat ini diikuti oleh gelombang tsunami yang mengakibatkan kerusakan beberapa bangunan rumah di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang.

Pada 1923 gempa bumi di Tarakan, Kalimantan Utara, tepatnya pada 19 April 1923. Gempa bumi ini memiliki kekuatan 7,0 SR dengan kedalaman hiposenter 40 kilometer dan memiliki intensitas guncangan mencapai VIII MMI. Gempa bumi ini menyebabkan banyak kerusakan bangunan rumah dan timbulnya rekahan tanah di Tarakan dan sekitarnya.

Pada 1925, hanya berselang dua tahun, gempa bumi kembali melanda tanah Tarakan pada 14 Februari 1925. Guncangan gempa bumi ini dilaporkan mencapai VII MMI dan merusak banyak bangunan rumah.

Pada 1936, Tarakan kembali diguncang gempa yang ketiga kalinya. Gempa yang tepatnya terjadi pada 28 Februari itu berkekuatan 6,5 SR. Gempa bumi ini dilaporkan sangat kuat meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.

2015 gempa kembali terjadi di Tarakan. Gempa tersebut memiliki kekuatan 6,1 SR. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer dan berjarak 29 kilometer sebelah timur laut Tarakan. Gempa bumi susulan masih mengguncang Kota Tarakan hingga 16 kali. Meski demikian, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Setahun kemudian atau 24 Juni 2016 Kalimantan kembali diguncang gempa. Kali ini, gempa melanda wilayah Sukamara, Kalimantan Tengah. Gempa berkekuatan 5,1 SR itu terjadi di kedalaman 10 kilometer. Lokasi gempa berada di posisi 128 kilometer arah barat daya, Kabupaten Sukamara.

Lalu, terakhir Kamis, 21 Desember 2017 sekira pukul 02:22 WIB gempar berkekuatan 4,2 SR tercatat terjadi Kalimantan Utara sisi timur, Nunukan, Tarakan dan sekitarnya. #kalimantanrawangempa. (ndu/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 17 November 2018 01:11

Masalah Gizi di Kaltim sebagai Refleksi Hari Kesehatan

PERMASALAHAN  pangan dan gizi yang bermuara pada kesehatan, memang sulit untuk diselesaikan jika…

Sabtu, 17 November 2018 01:10

Ancaman Diabetes Pada Generasi Milenial Samarinda

PERUBAHAN  cuaca akhir-akhir ini seringkali membuat udara terasa sangat panas, terlebih pada siang…

Jumat, 16 November 2018 07:10

Hubungan Gelap Antara Penguasa dan Pengusaha

Oleh: Meltalia Tumanduk SPi(Komunitas Muslimah Peduli Umat) TIAP hari, berita korupsi selalu akrab menyapa…

Jumat, 16 November 2018 07:08

Fenomena Digitalisasi, Akankah Menjadi Solusi?

Oleh: Mentari Fitriana SPdi(Guru SD di Balikpapan) SAAT ini dunia sedang digiring pada era digitalisasi.…

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .