MANAGED BY:
JUMAT
22 FEBRUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 16 Oktober 2018 06:49
Siapa Bilang Kalimantan Aman Gempa?

PROKAL.CO, Oleh: Sunarto Satrowardojo
(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah Universitas Mulawarman)

SETELAH membaca tulisan  Ahmad Arif, pada 6 Oktober 2018 yang menyebar luas di media sosial tentang Trilogi Bencana Palu-Donggala, tsunami-gempa-likuifaksi, saya jadi terperangah. Menyadari bahwa selama ini kita tuna bencana. Benar-benar tuna bencana.

Sejarah panjang kegempaan yang ditulis Ahmad Arif menyadarkan kita, menyadarkan saya, bahwa kelalaian penyelenggara negara ini dalam hal mitigasi menunjukkan mereka fakir ilmu komunikasi.

Kerentanan Kota Palu terhadap gempa bumi dan tsunami berulangkali disampaikan JA Katili. Bahkan di Indonesia sejak 1970-an. Katili pula yang menamai sesar ini sebagai Palu Koro, karena membelah dari Teluk Palu di sebelah utara hingga ke Koro di sekitar Teluk Tondano sepanjang sekitar 1.000 kilometer.  Faktanya, Palu terus tumbuh sebagai kota baru yang muncul di muara sungai, setidaknya sejak abad ke 16. Malah Belanda tidak mau menetapkan Palu sebagai Afdeling atau wilayah administrasi setingkat kabupaten di Sulawesi Tengah dan memilih Donggala.

Ketika Palu diguncang bencana yang bagi masyarakat awam, sangat di luar nalar, kita lalu terperangah, sedemikian dahsyatnya-karena bertambah satu jenis bencananya dibanding tsunami Aceh. Berada di luar batas nalarnya, maka disebut bencana ini adalah luar biasa, sebuah kejadian yang di luar kebiasaan.

Bahkan ada yang menyebut ini azab dan kemurkaan Tuhan, padahal hanya abai, lalai dan pemerintah tidak cukup memberikan ruang bagi pemikir untuk memberikan sumbangsih ilmunya untuk kesejahteraan. Ya Allah, miskin sekali nalar kami atas ilmu peringatanmu. Katili sejak 40-an tahun lalu sudah mengingatkan Indonesia, mengingatkan Palu, tapi tak digubris. Katili memperingatkan dengan keilmuannya yang dianggap tak masuk akal.

Lalu Kalimantan, juga disebut sebagai kawasan yang tidak rawan gempa. Dari berbagai sumber berikut saya menemukan beberapa catatan tentang gempa di sebelah timur Pulau Kalimantan.

Mei Tahun 1921 Sangkulirang mencatat gempa memiliki intensitas hingga VIII MMI. Gempa bumi kuat ini diikuti oleh gelombang tsunami yang mengakibatkan kerusakan beberapa bangunan rumah di sepanjang pantai dan muara sungai di Sangkulirang.

Pada 1923 gempa bumi di Tarakan, Kalimantan Utara, tepatnya pada 19 April 1923. Gempa bumi ini memiliki kekuatan 7,0 SR dengan kedalaman hiposenter 40 kilometer dan memiliki intensitas guncangan mencapai VIII MMI. Gempa bumi ini menyebabkan banyak kerusakan bangunan rumah dan timbulnya rekahan tanah di Tarakan dan sekitarnya.

Pada 1925, hanya berselang dua tahun, gempa bumi kembali melanda tanah Tarakan pada 14 Februari 1925. Guncangan gempa bumi ini dilaporkan mencapai VII MMI dan merusak banyak bangunan rumah.

Pada 1936, Tarakan kembali diguncang gempa yang ketiga kalinya. Gempa yang tepatnya terjadi pada 28 Februari itu berkekuatan 6,5 SR. Gempa bumi ini dilaporkan sangat kuat meskipun tidak menimbulkan korban jiwa.

2015 gempa kembali terjadi di Tarakan. Gempa tersebut memiliki kekuatan 6,1 SR. Pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer dan berjarak 29 kilometer sebelah timur laut Tarakan. Gempa bumi susulan masih mengguncang Kota Tarakan hingga 16 kali. Meski demikian, gempa ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami.

Setahun kemudian atau 24 Juni 2016 Kalimantan kembali diguncang gempa. Kali ini, gempa melanda wilayah Sukamara, Kalimantan Tengah. Gempa berkekuatan 5,1 SR itu terjadi di kedalaman 10 kilometer. Lokasi gempa berada di posisi 128 kilometer arah barat daya, Kabupaten Sukamara.

Lalu, terakhir Kamis, 21 Desember 2017 sekira pukul 02:22 WIB gempar berkekuatan 4,2 SR tercatat terjadi Kalimantan Utara sisi timur, Nunukan, Tarakan dan sekitarnya. #kalimantanrawangempa. (ndu/k18)


BACA JUGA

Sabtu, 09 Februari 2019 12:49

Moderasi Beragama untuk Kebersamaan Umat

Oleh: Mukhamad Ilyasin (Rektor IAIN Samarinda)  Judul ini diangkat dari…

Sabtu, 09 Februari 2019 10:47

Stanley dan Mogulisme Media yang Anjay Sekali

Oleh: Ramon Damora Wartawan Indonesia KETUA Dewan Pers, Yosep Adi…

Selasa, 05 Februari 2019 10:18

Posisi Ketua Adat dalam Acara Pemerintah

PERINGATAN ulang tahun ke-59 Kabupaten Paser berjalan dengan sukses, meski…

Rabu, 30 Januari 2019 07:24

Guru Ideal dan Revolusioner

Oleh: Heni Susilowati MPd (Guru SMA 1 Long Kali, Paser)…

Selasa, 29 Januari 2019 07:10

Bandara APT Pranoto: Harapan dan Tantangan Pariwisata Samarinda

OLEH: ADI PURBONDARU (Analis KPw BI Kaltim) SAMARINDA yang memiliki…

Senin, 28 Januari 2019 07:00

Urgensi Elektronifikasi Transaksi Keuangan Pemerintah Daerah

OLEH: CHRISTIAN (Analis Ekonomi KPw-BI Kaltim) BANK Indonesia sebagai otoritas…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:06

Perempuan Utusan Jiwa: Jelajah Intelektual Schimmel

SEBUAH buku dongeng terbitan 1872 menjadi titik tolak perjalanan panjang…

Sabtu, 26 Januari 2019 07:04

Kandidat Politisi Beradu Kualitas atau Isi Tas

LAYAKNYA  sebuah pesta, sudut-sudut kota semakin mendekati hari H kian…

Kamis, 24 Januari 2019 08:02

Mau Tahu Tender Pemerintah 2019?

Oleh: Naryono SKom MM (Plt Kepala UPT LPSE Dinas Komunikasi…

Kamis, 24 Januari 2019 08:00

Junjung Tinggi Demokrasi Tanpa Menebar Kebencian

Oleh: Sugeng Susilo SH (Staf Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*