MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 15 Oktober 2018 11:36
Romo Leo Joosten Ginting Suka, Warga Belanda yang Lestarikan Budaya Batak Karo
Lestarikan Budaya Batak karena Cinta
Leo Joosten (berdiri)

PROKAL.CO, Begitu menginjakkan kaki di Tapanuli Utara pada 1971, Leo Joosten langsung jatuh cinta dengan tanah Batak. Berbekal cinta itu pula dia mendirikan Museum Pusaka Karo.

FERLYNDA PUTRI

HIDUNGNYA mancung dan besar. Matanya kecokelatan. Kulitnya putih. Khas bule. Leo memang bukan orang Indonesia. Dia lahir di Nederwetten, Belanda. Tak ada moyangnya yang berasal dari Indonesia. Hanya dua hal yang menandakan kebatakannya: marga Ginting Suka dan kain beka buluh yang disampirkan di bahunya.

Marga di belakang nama Leo itu merupakan pemberian. Leo telah dianggap sebagai keluarga Batak. Salah satunya karena dedikasinya melestarikan budaya suku Batak. Apresisasi tak hanya datang dari Sumatera Utara. Pada 25 September lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan penghargaan Kategori Pelestari dalam acara Anugerah Kebudayaan 2018. ”Saya kumpulkan barang-barang milik Indonesia di Belanda. Tidak ada yang bayar,” kata Leo saat ditemui seusai acara. Kegiatan memulangkan barang yang hampir seluruhnya dari Batak itu dimulai Leo belasan tahun lalu. Dia tak begitu ingat kapan mulai mengumpulkannya.

Semula, tujuannya hanya ingin agar barang-barang tersebut kembali ke tempat asalnya. Ada artefak, tulisan, dan banyak lagi yang waktu itu berada di Belanda. Yang paling berharga adalah buku lak-lak. Itu merupakan manuskrip yang berisi kisah dan legenda, tulisan sastra, hingga mantra dan ramuan asli Batak. Buku tersebut diperkirakan ditulis pada abad ke-16.

Leo menceritakan, imbauan untuk mengembalikan barang sejarah itu tak butuh usaha keras. Dia cukup menceritakan dan berbicara kepada pemilik barang, lalu barang tersebut bisa berada di tangannya.

Namun, pria yang berulang tahun setiap 9 September itu tak bisa membawa buku lak-lak kembali ke tanah air. Sebab, buku tersebut sudah tua. Harus ada petugas dan ruang khusus agar buku lak-lak tetap awet. Barang-barang yang pulang pun semakin banyak. Belum lagi, ada sumbangan dari masyarakat di tanah Batak. Akhirnya, tebersit ide untuk membuat museum.

Pada 2013 Leo berhasil mendirikan museum yang diberi nama Pusaka Karo. Museum tersebut dulu adalah Gereja Katolik Santa Maria. Koleksi museum itu, antara lain, manekin pengantin dengan baju adat Batak Karo, rumah adat, kain ulos, foto, dan lukisan yang menggambarkan budaya Batak. ”Saya sangat tertarik dengan arsitektur serta budaya Toba dan Karo. Di Samosir dan Tanah Karo belum ada museum yang lengkap,” ungkapnya dengan bahasa Indonesia yang lancar.

Leo juga mendalami bahasa Batak. Tiga kamus bahasa Batak sudah dia tulis. Kamus Batak Toba-Indonesia karyanya terbit pada 2001. Dua tahun berselang, dia menerbitkan Kamus Indonesia-Batak Toba. Pada 2006, Kamus Batak Karo-Indonesia lahir. Dia aktif menulis buku tentang Batak. Buku pertamanya berbahasa Inggris, berjudul Samosir, The Old Batak Society. Buku itu terbit pada 1992. Setahun kemudian, lahir buku berbahasa Indonesia pertamanya yang diberi judul Samosir Selayang Pandang. Buku tersebut menggambarkan budaya Batak, terutama Batak Toba.

Waktu luang Leo sebenarnya tidak banyak. Sebab, dia harus melayani umat. Tapi, dia selalu berusaha meluangkan waktu untuk menulis kamus. Waktu favoritnya adalah malam. ”Saya usahakan untuk mengerjakan sedikit-sedikit,” ujarnya.  Leo juga menulis silsilah-silsilah Batak. Buku tersebut terbit pada 1996. Yang paling anyar adalah Tanah Karo Selayang Pandang yang terbit pada 2014.

Leo juga aktif menulis artikel mengenai kebudayaan Batak. Banyak artikelnya yang terbit di media asing, terutama Belanda. Pada 2015 dia meraih penghargaan Sastra Rancage dari Yayasan Kebudayaan Rancage di Bandung.

Mengapa Leo tertarik melestarikan budaya Batak? Jawabannya ternyata karena cinta. Dia ingin generasi muda tetap mengenal budaya nenek moyangnya. Dia menghargai hasil ciptaan orang-orang terdahulu. ”Rumah Karo yang unik kini hampir tidak ada lagi. Kita perlu menyelamatkan budaya tersebut,” tuturnya.

Sekitar 1970, Leo yang waktu itu berusia 28 tahun lulus dari Universitas Katolik Tilburg, Belanda. Dia belajar teologi di universitas tersebut. Ada empat negara pilihan yang bisa dia kunjungi setelah lulus, yakni Belanda, Tanzania, Cile, dan Indonesia.

”Saya memilih Sumatera (Indonesia) karena paman saya pastor di Medan,” ungkapnya. Sang paman mengajaknya membantu di Ordo Kapusin, tarekat Katolik yang bertugas di Sumatera dan Kalimantan. Dia ditugaskan khusus di Batak.

Setiba di Tapanuli Utara, Leo mendapati masyarakat yang ramah. Sebagai warga asing, Leo merasa masyarakat di sana sangat terbuka. Dia semakin jatuh hati dengan tanah Batak ketika berjalan-jalan di tengah masyarakat. Tugasnya juga berpindah-pindah: 12 tahun di Parkat-Parlilitan, 15 tahun di Pangururan, Samosir, dan 20 tahun di Tanah Karo. Dia terkesima karena antardaerah, sama-sama Batak, bisa berbeda budaya. Bahkan bahasa.

Niatnya menjadi warga negara Indonesia (WNI) muncul pada 1980-an. Leo mencoba mengajukan permohonan. Namun, permohonan tersebut baru bersambut 14 tahun kemudian. Sejak saat itu dia resmi menjadi WNI.

Semangat baru menjadi WNI membuat Leo semakin giat bermasyarakat. Dia datang ke gereja-gereja Katolik dan bertemu dengan masyarakat sekitar. Pada 1999 Leo akhirnya mendapatkan marga. Sebuah penghormatan dari masyarakat Batak. Pemangku adat memberi nama Ginting Suka.

Kini, di usia 76 tahun, Leo masih bersemangat. Dia terus menulis untuk mengabadikan kebudayaan Batak. Dia juga masih ingin mengumpulkan buku laklak yang konon masih tersebar di berbagai negeri. Saat akhir hayatnya nanti, Leo ingin disemayamkan di bumi pertiwi. (*/c11/c9/oni)


BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 11:42

Bendungan Bilibili Meluap, Banjir Hingga Atap

GOWA-- Ketinggian air di Bendungan Bilibili mendekati titik kritis. Tak…

Rabu, 23 Januari 2019 11:39
Bendungan Bilibili Meluap, Warga Panik, Dua Jembatan Ambruk

Karena Curah Hujan Tinggi, Pertama Kali di Bendungan Bilibili

MAKASSAR -Sirine berbunyi. Warga panik. Bilibili dalam status waspada. Inilah…

Rabu, 23 Januari 2019 08:58

Faktor Ini Masih Jadi Penyumbang Inflasi Besar di Kaltim

SAMARINDA  - Pada tahun 2019, diperkirakan inflasi Kaltim tetap terjaga…

Rabu, 23 Januari 2019 08:36

Gempa 3,4 SR Guncang Kutim

BALIKPAPAN – Data yang menunjukkan Kaltim aman dari gempa tampaknya…

Rabu, 23 Januari 2019 08:31

Sudah Surati Menteri dan BNPB, Warga Diminta Tenang

Pemprov Kaltara bergerak cepat menangani dampak abrasi di Desa Tanjung…

Selasa, 22 Januari 2019 12:27

PROTES..!! Australia Tak Ingin Ba’asyir Bebas Bersyarat

Perdana Menteri (PM) Australia Scott Morrison mengajukan protes atas rencana…

Selasa, 22 Januari 2019 12:25

BELUM PASTI..!! Pembebasan Ba’asyir Dikaji Lebih Lanjut

JAKARTA – Pembebasan Abu Bakar Ba’asyir pekan ini masih belum…

Selasa, 22 Januari 2019 09:16

Investor Minati Kembangkan Udang Windu Kaltim

SAMARINDA - Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kaltim, Riza…

Selasa, 22 Januari 2019 09:14

Selama Tahun 2018, BI Temukan 1.108 Lembar Uang Palsu

SAMARINDA - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Timur mencatat sepanjang…

Senin, 21 Januari 2019 11:40

Menanti Dampak Perda Tata Niaga Sawit

TANA PASER – Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kabupaten…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*