MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10
Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

Oleh: Ikhwanul Muslim SH MH Dosen Pancasila Universitas Muhammadiyah Kaltim

Ikhwanul Muslim SH MH

PROKAL.CO, SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta pada Minggu 23 September 2018 lalu ternyata berbuntut panjang dengan ditandai meninggalnya salah satu pendukung Persija Jakarta (The Jakmania) di kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api oleh oknum pendukung Persib Bandung. 

Hal ini tentu menambah panjang catatan hitam daftar kematian suporter bola di Indonesia, karena berdasarkan data Litbang Save Our Soccer menyebutkan, bahwa sejak tahun 1995–2017 terdapat 57 kasus meninggalnya para suporter dan 72 persen dari itu semua disebabkan kekerasan antarpendukung dalam rangka membela klub kebanggaan.

Sedangkan bagi peristiwa meninggalnya suporter Persija Jakarta ini, ia merupakan korban jiwa ketujuh yang diakibatkan dari rivalitas panas antara Persib dan Persija terhitung sejak tahun 2012. Peristiwa berdarah ini sepatutnya menjadi sebuah isu nasional dan menjadi perhatian bagi seluruh pencinta sepakbola Indonesia.

Bahwa dalam sepak bola, sebenarnya ada yang perlu lebih diutamakan dibandingkan hanya dengan fanatisme buta dan ego kedaerahan dalam dukung mendukung klub lokalnya masing-masing. Hal yang perlu diutamakan itu ialah bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sangat mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Bangsa Indonesia sesungguhnya punya sejarah panjang dalam hal persatuan dan kesatuan bangsa. Dimulai dari peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang merupakan kesepakatan para pemuda bangsa ini untuk menyepakati Tanah Air sebagai tumpah darahnya, bangsa Indonesia sebagai bangsanya, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuannya.

Selain itu, ideologi bangsa yang telah disepakati bersama para pendiri bangsa ini pun turut mencantumkan poin persatuan Indonesia sebagai sila ke-3 dari Pancasila. Hal ini tentu semakin menunjukkan bahwa bagi bangsa Indonesia, jiwa patriotisme harus selalu didasarkan pada keindonesiaannya, bukan pada ego sektoral kedaerahan yang dalam hal ini diasosiasikan pada klub-klub daerah kebanggaan.

Sungguh, segala bentuk kekerasan (apalagi yang berujung pada kematian) yang mengatasnamakan fanatisme, loyalitas, suku bangsa, bahkan agama tidak dapat dibenarkan hukum yang berlaku di Indonesia. Sudah cukup lelah kiranya bangsa ini menghadapi perpecahan dan adu domba antar-anak bangsa sehingga kadang terlupa bahwa musuh yang sebenarnya harus dihadapi adalah mereka yang merongrong kedaulatan dan integritas bangsa ini.

Semestinya para pendukung sepak bola Indonesia membaca kembali, bahwa Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang merupakan induk organisasi sepak bola Indonesia pada tahun 1930 didirikan atas dasar persatuan dan kesatuan para pribumi. Sehingga menjadi tonggak perlawanan melalui sepak bola terhadap segala bentuk imperialisme dan kolonialisme yang ketika itu dilakukan Belanda.

Sekali lagi, titik tekannya adalah pada persatuan dan kesatuan Indonesia, bukan lagi pada ego ataupun arogansi kedaerahan yang sekalipun anggota PSSI berasal dari persatuan-persatuan sepak bola berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai salah satu cabang olahraga yang paling banyak diminati masyarakat Indonesia, seharusnya persepakbolaan dapat menjadi percontohan bagi cabang olahraga lain. Baik itu dari segi kompetisi, perangkat pertandingan, pembinaan usia dini, bahkan tata kelola manajerial klub merupakan hal-hal esensial yang dapat memajukan sebuah cabang olahraga di Indonesia.

Sehingga pada akhirnya, prinsip-prinsip seperti sportivitas, fair play, kesetaraan, solidaritas dan prinsip lainnya dapat benar-benar diterapkan dan memiliki dampak baik di dalam maupun di luar lapangan.

Fanatisme dan loyalitas dalam hal dukung mendukung klub daerahnya sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang dilarang. Karena dua hal tersebut erat kaitannya dengan semangat patriotik setiap warga negara.

Semua memahami, setiap klub yang berasal dari daerah-daerah merupakan gambaran daerahnya itu sendiri. Sehingga apabila ada yang coba mengusik nama besar klubnya maka jiwa untuk membela klub kebanggaannya akan langsung tersengat.

Seperti halnya ketika insiden terbaliknya gambar bendera merah putih Indonesia pada handbook pembukaan SEA Games ke-29 tahun 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika kabar itu tersiar luas melalui berbagai media jejaring, lalu secara otomatis seluruh masyarakat Indonesia seakan tersulut jiwa patriotnya lalu menyatakan keberatan dan menuntut untuk permohonan maaf dari pihak panitia. Peristiwa itu seakan menjadi momen pemersatu bangsa, karena semuanya kemudian hanya memperjuangkan nama baik Indonesia di mata dunia.

Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa yang kerap mengganggu dan merusak tatanan sosial masyarakat ialah jika paham fanatik dan loyalitas dalam hal dukungan hanya berlandaskan pada arogansi dan superioritas semata. Tanpa mempertimbangkan hal  penting lainnya termasuk rasa kemanusiaan dan persatuan.

Maka sudah pasti segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan dukungan pada klub kebanggaan akan selalu terjadi dan terulang kembali, dan ketika itu sudah terjadi maka patutlah untuk mempertanyakan, masihkah sepak bola menjadi alat pemersatu bangsa? (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 23 Januari 2019 08:09

Mengenal Metode Pembelajaran yang Tepat untuk IPS

Oleh: Slamet Pujiono (Guru SMP 23 Samarinda, NIP 19680427199308001) UNTUK…

Rabu, 23 Januari 2019 08:06

Kontroversi Hari Jadi Kota Samarinda

Oleh: Muhammad Sarip {Pemerhati Sejarah Lokal & Pengurus Lembaga Studi…

Selasa, 22 Januari 2019 09:24

Sisa Ruang Profesi Wartawan

Oleh Amir Machmud NS KEGELISAHAN konstruktif Ganjar Pranowo tentang masa…

Selasa, 22 Januari 2019 07:52

BPJS Perlu Belajar dari NHI Taiwan

OLEH: FERRY FADZLUL RAHMAN (Dosen Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur) PERSOALAN…

Selasa, 22 Januari 2019 07:49

Bahasa Menunjang Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

OLEH: PERMIN (Warga Samarinda Seberang) SEBAGAI seorang ibu sekaligus sebagai…

Senin, 21 Januari 2019 07:19

Masih Fokus Pencegahan Stunting

OLEH: Prof Dr BERNATAL SARAGIH SP M Si (Guru Besar…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:59

Tumbler: Langkah Awal Peduli Kualitas Air Minum Isi Ulang

BARU - baru ini kita dikejutkan dengan video laut yang…

Kamis, 17 Januari 2019 08:37

Banjir Dungu

OLEH: SUNARTO SASTROWARDOJO (DOSEN SEKOLAH PASCA PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH…

Rabu, 16 Januari 2019 07:48

Berselancar di Atas Batu Bara

OLEH: NUGRA, ST(Competent Person Cadangan Coal) BATU BARA, barang Tuhan…

Selasa, 15 Januari 2019 07:59

Jangan Jadi Penyampah

Oleh: Hendrajati, S.Pd (Praktisi K3, Pendiri HSE Indonesia, Mahasiswa S-2…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*