MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Sabtu, 13 Oktober 2018 00:10
Masihkah Sepak Bola Menjadi Alat Pemersatu Bangsa?

Oleh: Ikhwanul Muslim SH MH Dosen Pancasila Universitas Muhammadiyah Kaltim

Ikhwanul Muslim SH MH

PROKAL.CO, SEPAK  BOLA Indonesia kembali memakan korban. Duel klasik antara Persib Bandung dan Persija Jakarta pada Minggu 23 September 2018 lalu ternyata berbuntut panjang dengan ditandai meninggalnya salah satu pendukung Persija Jakarta (The Jakmania) di kawasan Stadion Gelora Bandung Lautan Api oleh oknum pendukung Persib Bandung. 

Hal ini tentu menambah panjang catatan hitam daftar kematian suporter bola di Indonesia, karena berdasarkan data Litbang Save Our Soccer menyebutkan, bahwa sejak tahun 1995–2017 terdapat 57 kasus meninggalnya para suporter dan 72 persen dari itu semua disebabkan kekerasan antarpendukung dalam rangka membela klub kebanggaan.

Sedangkan bagi peristiwa meninggalnya suporter Persija Jakarta ini, ia merupakan korban jiwa ketujuh yang diakibatkan dari rivalitas panas antara Persib dan Persija terhitung sejak tahun 2012. Peristiwa berdarah ini sepatutnya menjadi sebuah isu nasional dan menjadi perhatian bagi seluruh pencinta sepakbola Indonesia.

Bahwa dalam sepak bola, sebenarnya ada yang perlu lebih diutamakan dibandingkan hanya dengan fanatisme buta dan ego kedaerahan dalam dukung mendukung klub lokalnya masing-masing. Hal yang perlu diutamakan itu ialah bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang besar dan sangat mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.

Bangsa Indonesia sesungguhnya punya sejarah panjang dalam hal persatuan dan kesatuan bangsa. Dimulai dari peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 yang merupakan kesepakatan para pemuda bangsa ini untuk menyepakati Tanah Air sebagai tumpah darahnya, bangsa Indonesia sebagai bangsanya, dan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuannya.

Selain itu, ideologi bangsa yang telah disepakati bersama para pendiri bangsa ini pun turut mencantumkan poin persatuan Indonesia sebagai sila ke-3 dari Pancasila. Hal ini tentu semakin menunjukkan bahwa bagi bangsa Indonesia, jiwa patriotisme harus selalu didasarkan pada keindonesiaannya, bukan pada ego sektoral kedaerahan yang dalam hal ini diasosiasikan pada klub-klub daerah kebanggaan.

Sungguh, segala bentuk kekerasan (apalagi yang berujung pada kematian) yang mengatasnamakan fanatisme, loyalitas, suku bangsa, bahkan agama tidak dapat dibenarkan hukum yang berlaku di Indonesia. Sudah cukup lelah kiranya bangsa ini menghadapi perpecahan dan adu domba antar-anak bangsa sehingga kadang terlupa bahwa musuh yang sebenarnya harus dihadapi adalah mereka yang merongrong kedaulatan dan integritas bangsa ini.

Semestinya para pendukung sepak bola Indonesia membaca kembali, bahwa Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) yang merupakan induk organisasi sepak bola Indonesia pada tahun 1930 didirikan atas dasar persatuan dan kesatuan para pribumi. Sehingga menjadi tonggak perlawanan melalui sepak bola terhadap segala bentuk imperialisme dan kolonialisme yang ketika itu dilakukan Belanda.

Sekali lagi, titik tekannya adalah pada persatuan dan kesatuan Indonesia, bukan lagi pada ego ataupun arogansi kedaerahan yang sekalipun anggota PSSI berasal dari persatuan-persatuan sepak bola berbagai daerah di Indonesia.

Sebagai salah satu cabang olahraga yang paling banyak diminati masyarakat Indonesia, seharusnya persepakbolaan dapat menjadi percontohan bagi cabang olahraga lain. Baik itu dari segi kompetisi, perangkat pertandingan, pembinaan usia dini, bahkan tata kelola manajerial klub merupakan hal-hal esensial yang dapat memajukan sebuah cabang olahraga di Indonesia.

Sehingga pada akhirnya, prinsip-prinsip seperti sportivitas, fair play, kesetaraan, solidaritas dan prinsip lainnya dapat benar-benar diterapkan dan memiliki dampak baik di dalam maupun di luar lapangan.

Fanatisme dan loyalitas dalam hal dukung mendukung klub daerahnya sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang dilarang. Karena dua hal tersebut erat kaitannya dengan semangat patriotik setiap warga negara.

Semua memahami, setiap klub yang berasal dari daerah-daerah merupakan gambaran daerahnya itu sendiri. Sehingga apabila ada yang coba mengusik nama besar klubnya maka jiwa untuk membela klub kebanggaannya akan langsung tersengat.

Seperti halnya ketika insiden terbaliknya gambar bendera merah putih Indonesia pada handbook pembukaan SEA Games ke-29 tahun 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. Ketika kabar itu tersiar luas melalui berbagai media jejaring, lalu secara otomatis seluruh masyarakat Indonesia seakan tersulut jiwa patriotnya lalu menyatakan keberatan dan menuntut untuk permohonan maaf dari pihak panitia. Peristiwa itu seakan menjadi momen pemersatu bangsa, karena semuanya kemudian hanya memperjuangkan nama baik Indonesia di mata dunia.

Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa yang kerap mengganggu dan merusak tatanan sosial masyarakat ialah jika paham fanatik dan loyalitas dalam hal dukungan hanya berlandaskan pada arogansi dan superioritas semata. Tanpa mempertimbangkan hal  penting lainnya termasuk rasa kemanusiaan dan persatuan.

Maka sudah pasti segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan dukungan pada klub kebanggaan akan selalu terjadi dan terulang kembali, dan ketika itu sudah terjadi maka patutlah untuk mempertanyakan, masihkah sepak bola menjadi alat pemersatu bangsa? (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 15 November 2018 07:03

Fakultas “Medsos” Jurusan “Meme” ala Presiden Abad 21

Oleh: Darwan(Mahasiswa Program Pascasarjana Ekonomi Syariah IAIN Samarinda) ORASI Presiden Joko Widodo…

Kamis, 15 November 2018 07:01

Indeks Pembangunan Pemuda di Kaltim Meningkat

Oleh: Marinda Asih Ramadhaniah(Staf Bidang Ekonomi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kaltim) KINERJA…

Rabu, 14 November 2018 06:53

Takdir Hidup Bersama Banjir

Oleh: Dr Ir Sunarto Sastrowardojo M Arch(Dosen Sekolah Pascasarjana Perencanaan dan Pengembangan Wilayah…

Rabu, 14 November 2018 06:51

Mengapa Angka Penyakit TBC Tidak Pernah Turun?

Oleh: Ferry Fadzlul Rahman(Dosen Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Kaltim) BERDASAR data…

Rabu, 14 November 2018 06:49

Bonus Demografi untuk Kaltim: Berkah atau Bencana?

Oleh: Rezaneri Noer Fitrianasari(Aparatur Sipil Negara (ASN) dan Data Analisis di Badan Pusat Statistik)…

Selasa, 13 November 2018 06:58

Merosotnya Nilai-Nilai Kepahlawanan

Oleh: Suharyono Soemarwoto MM(Pemerhati Ketenagakerjaan dan Ekonomi Kerakyatan, Kandidat Doktor Ilmu…

Selasa, 13 November 2018 06:56

Dunia Penerbangan Kita

Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona SVD(Rohaniwan di Paroki St Pius X Tenggarong) TERBANG ke sana kemari…

Senin, 12 November 2018 07:01

Berkembang atau Tumbang di Tengah Jalan?

Oleh: Rahiman Al Banjari(Pemuda Muhammadiyah Balikpapan) “KITA akan menjadi saksi perubahan. baik…

Senin, 12 November 2018 06:59

Tingkatkan Hasil Belajar Matriks melalui Problem Based Learning

Oleh: Drs Mulyono(Guru SMA 5 Balikpapan) SALAH satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan kita adalah…

Sabtu, 10 November 2018 06:19

Menyongsong Era Digital Pemilu di Indonesia

PEMILU  pada awalnya ditujukan untuk memilih anggota lembaga perwakilan, yaitu DPR, DPRD Provinsi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .