MANAGED BY:
SABTU
17 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46
Kaltim Juga Rawan Gempa

PROKAL.CO, Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.

DALAM keremangan malam, Marni mencoba tertidur. Sejam lalu pulau kapuk terus-terusan menggodanya. Kepalanya dipenuhi impian yang besar. Salah satunya merancang masa depan dari anak-anaknya. Dia kemudian menutup matanya sebentar, kemudian membukanya dan menatap langit-langit kamar. Sampai akhirnya tertidur. Menit berbilang jam, mendadak dia kaget dan terbangun dari tempat tidur. Matanya nyalang, rasa kantuknya menghilang.

“Saya kaget, kok tiba-tiba rumah bergoyang,” kisah Marni kepada Kaltim Post, Ahad pekan lalu.  

Tanpa komando, dia langsung membangunkan suami dan anak-anaknya agar keluar dari rumah. “Memang sudah sering (gempa) terjadi kalau di Tarakan,” katanya. Namun, pengujung 2015 gempa yang dirasakan sedikit bikin kaget, bahkan sejumlah gedung ada yang retak. Syukurnya rumah Marni tak ikut merasakan dampak tersebut, hanya bergoyang. “Tidak ada yang retak,” ujarnya.

Jarak kediaman warga Tarakan ini dari laut 1.000 meter, dan dia tak pernah khawatir soal itu. Sebab, rumahnya berada di atas kawasan perbukitan. Namun, tetap saja rasa takut akan tsunami selalu ada, karena Tarakan adalah pulau. Meski demikian dia tak berniat pindah. “Ini (Tarakan) sudah jadi kampung halaman, ada bencana berserah saja kepada Allah,” tuturnya.

Ribuan kilometer dari utara Kalimantan, getaran bumi akibat gempa tektonik juga pernah terjadi di Kabupaten Paser pada 3 Mei 2018 lalu. Meski tak menyebabkan kerusakan dan korban, namun peristiwa tersebut membuat warga di sejumlah kecamatan di Tanah Paser terkejut. “Warga mengira adalah blasting (aktivitas pertambangan) saat itu. Cukup mengejutkan jika itu adalah gempa tektonik,” ujar Suharno, warga Kecamatan Tanah Grogot.

Peristiwa yang terjadi sekitar pukul 03.00 Wita itu, juga sempat mengejutkan Arbain dan keluarga.  Menurutnya, getaran bumi memang pernah dia alami sebelumnya pada 1998 dan 2017. Dari gempa yang dialami, memang tak pernah ada korban jiwa. Namun, gempa enam bulan lalu itu membuat dia, istri, dan anak-anaknya terkejut dan terjaga dari tidur. Kala getaran terjadi, dia berada di Kecamatan Batu Kajang yang tak jauh dari Kalimantan Selatan. “Meski sebentar saja getarannya. Agak kaget juga ternyata sudah banyak yang juga merasakan gempa,” terang Arbain. Dia bersyukur lantaran gempa bumi tersebut tak membuat munculnya korban jiwa serta kerusakan di Paser.

Disebutkan jika Kalimantan disebut sebagai wilayah yang paling aman dari gempa bumi, namun pada kenyataannya, pulau di tengah-tengah Nusantara ini telah berkali-kali diguncang gempa.

Dari kajian Pusat Studi Gempa Nasional 2017, secara  umum  kondisi tektonik Kalimantan terdiri dari beberapa patahan-patahan (sesar) lokal. Yaitu, Patahan Adang, Patahan Meratus, Patahan Mangkalihat (Patahan Sangkulirang) dan Patahan Tarakan. Meski demikian, hanya ada beberapa sesar yang aktif, yakni Patahan Meratus, Patahan Mangkalihat, dan Patahan Tarakan. Sesar-sesar tersebut memiliki panjang lebih dari 100 kilometer yang dapat menimbulkan gempa bumi dengan magnitudo 7.

Sesar mendatar Tarakan dapat dikenali di bagian utara pulau ini yang terbentang mulai dari daratan sampai ke lepas pantai. Sesar Mangkalihat yang berupa sesar mendatar, diidentifikasi di pantai timur Pulau Kalimantan. Zona sesar anjak dikenali di bagian selatan Pulau Kalimantan, yaitu Sesar Meratus. Di Pulau Borneo, Kalimantan Utara paling rawan gempa. Nunukan, Tarakan, dan sekitarnya, secara tektonik diapit tiga sistem sesar mendatar. Di sebelah selatan Kaltara, dua sistem sesar berarah barat daya-tenggara, yaitu Sesar Mangkalihat dan Sesar Maratua.

UTARA DAN SELATAN KALTIM

Wilayah Indonesia yang menjadi pertemuan tiga lempeng akhirnya rawan terhadap bencana alam ini. Ketiga jalur lempeng tersebut adalah Lempeng Pasifik, Indo-Australia, dan Eurasia. Perjumpaan lempeng Eurasia dan Pasifik membujur di utara Papua hingga Maluku Utara. Lempeng Eurasia dan Indo-Australia membentang dari sebelah barat Sumatra, selatan Pulau Jawa, Nusa Tenggara, hingga Laut Banda. (Penentuan Seismisitas dan Tingkat Risiko Gempa Bumi, 2013, hlm 2).

Jika merujuk dari ketiga jalur lempeng itu yang tidak melintasi Kalimantan, pulau ini dianggap cenderung aman dari gempa. Kalimantan juga tidak dilewati sabuk vulkanik aktif, dan karenanya, tidak ada gunung berapi aktif sebagai penyebab gempa vulkanik.

Namun demikian, bukan berarti pulau terbesar ketiga di dunia ini aman dari guncangan. Sejumlah gempa di Kalimantan telah dicatat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam beberapa tahun terakhir. Uniknya, seluruh gempa yang melanda Kalimantan justru berjenis tektonik, yang ditimbulkan dari pergerakan lempengan bumi.

Semisal pada 5 Juni 2015, terjadi gempa dengan magnitudo 6 di wilayah Ranau, Sabah, Malaysia. Gempa mengakibatkan korban jiwa sebanyak 19 orang. Serta longsor di Gunung Kinibalu. Berdasarkan catatan BMKG, sebelum kejadian tersebut, juga pernah terekam adanya gempa dengan magnitudo 5,7 pada 25 Februari 2015. Pusat gempa berjarak 413 kilometer timur laut Kota Tarakan, Kaltara. Sementara menjelang pengujung tahun 2015, kekuatan gempa meningkat menjadi 6,1 skala richter (SR).

Terbaru, Stasiun Geofisika Klas III Balikpapan mencatat gempa tektonik terakhir mengguncang wilayah Kabupaten Paser, Kaltim, 3 Mei 2018 sekitar pukul 03.21 Wita.Dari analisis BMKG menunjukkan bahwa gempa yang terjadi memiliki kekuatan 4,5 SR. Pusat gempa bumi terletak pada koordinat 1.96 LS dan 115.83 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 29 kilometer arah barat daya Paser pada kedalaman 10 km. BMKG mencatat, skala guncangan gempa yang dirasakan di Paser di intensitas I SIG-BMKG atau II-III MMI. Beberapa warga merasakan guncangan ini, dan dinding terasa bergetar hingga beberapa detik. Tidak ada laporan kerusakan akibat gempa bumi yang terjadi saat itu.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa Kalimantan tidak sepenuhnya aman dari gempa. Sebagaimana anggapan banyak orang selama ini. Bahkan pada 14 Mei 1921, terjadi gempa bermagnitudo 6,7 di Sangkulirang, Kutai Timur (Kutim). Kejadian terekam sekitar pukul 21.09 Wita. Gempa disusul tsunami. Bencana tersebut mengakibatkan rumah penduduk roboh, tanah merekah. Ditemui Kaltim Post di kantornya, Kepala Stasiun Geofisika Klas III Balikpapan Mudjianto menuturkan, Pulau Kalimantan secara umum mempunyai tingkat seismisitas yang relatif rendah dibandingkan wilayah lain di Indonesia yang berada di sekitar subduksi (seperti pantai barat Sumatra, selatan Jawa dan Nusa Tenggara dan Sulawesi bagian Utara dan lainnya).

Diketahui, pengamatan gempa bumi di wilayah Pulau Kalimantan dan sekitarnya dilakukan Stasiun Geofisika Klas III Balikpapan. Secara seismistas wilayah Kalimantan relatif lebih kecil dibandingkan wilayah lain. Potensi kegempaan di Kalimantan berasal dari patahan lokal yang berada di Kalimantan. Secara umum, kondisi tektonik Kalimantan terdiri dari beberapa patahan-patahan lokal. Yaitu patahan Adang, Patahan Meratus, Patahan Mangkalihat (Patahan Sangkulirang) dan Patahan Tarakan.

TIGA PATAHAN AKTIF

Patahan yang aktif di Kaltim-Kaltara adalah Patahan Meratus, Patahan Mangkalihat, dan Patahan Tarakan. Sesar-sesar tersebut memiliki panjang lebih dari 100 km yang dapat menimbulkan gempa bumi dengan magnitudo 7. Sesar mendatar Tarakan dapat dikenali di bagian utara pulau ini yang terbentang mulai dari daratan sampai ke lepas pantai. Sementara Sesar Mangkalihat yang berupa sesar mendatar, diidentifikasi di pantai timur Pulau Kalimantan. Sementara zona Sesar Meratus dikenali di bagian selatan Pulau Kalimantan. “Di mana ada sesar, patahan, aktif juga gempanya, Cuma tinggal berapa besar energi yang dilepaskan dan berapa waktu periode ulangnya itu yang belum kita tahu,” katanya. Dia menuturkan, Stasiun Geofisika Klas III Balikpapan sedikitnya memasang 12 alat perekam gempa di wilayah Kalimantan untuk  mendeteksi pergerakan di inti bumi.

 “Fungsinya merekam, bukan alat untuk memprediksi,  ini juga harus dibedakan, antara mendeteksi dengan memprediksi. Jadi, kalau ada kejadian baru tahu. Proses yang akan terjadi, kita tidak bisa menentukan namun di mana akan terjadi kita tahu, khususnya gempa. Gempa pasti terjadi di daerah yang ada sesarnya,” ujarnya. Mudji, sapaannya menggarisbawahi, sebagian besar wilayah Kalimantan dapat dikatakan stabil dan aman terhadap gempa bumi. Tetapi di wilayah pantai timur, mulai dari Kuaro (Paser)  dan di utara Meratus-Mangkalihat, kemudian seluruh Sabah merupakan daerah yang berpeluang untuk terjadi gempa dan tsunami.

“Hasil rekaman dari BMKG, maupun USGS dan NEIC menunjukkan adanya beberapa gempa pernah terjadi di daerah ini,” ungkapnya. 

SESAR MERATUS

Patahan (sesar) Meratus memiliki panjang patahan sekitar 438 kilometer. Patahan ini didominasi oleh patahan naik (reverse fault). Gempa bumi tektonik terakhir akibat Sesar Meratus mengguncang wilayah Kabupaten Paser, Kalimantan Timur pada 3 Mei 2018, sekitar pukul 03.21 Wita.

SESAR MANGKALIHAT

Sesar Mangkalihat juga memiliki panjang sekitar 438 km. Patahan ini didominasi oleh patahan naik (reverse fault). Gempa bumi tektonik terakhir mengguncang wilayah Berau dan sekitarnya pada 14 Desember 2017. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi terjadi di laut pada pukul 13.40 Wita, dengan kekuatan 3,9 SR, dan kedalaman 34 km.

SESAR TARAKAN

Sama dengan dua patahan di atas, Sesar Tarakan juga diperkirakan memiliki panjang 438 kilometer. Patahan ini didominasi oleh patahan naik (reverse fault). Pada 21 Desember 2015, sekitar pukul 02.47 Wita, sebagian besar wilayah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), seperti Tarakan, Nunukan, dan Tanjung Selor diguncang gempa bumi tektonik dengan kekuatan magnitudo 6,1. Gempa bumi ini merupakan gempa bumi dangkal akibat sesar aktif patahan mendatar (strike slip fault).

“Masyarakat di daerah gempa harus diedukasi, dibentuk desa atau kampung peduli bencana. Apa saja yang harus dilakukan ketika gempa. Jangan malah nonton. Jangan menunggu informasi. Kalau ada gempa langsung lari. Ada tsunami atau tidak. Kalau ada, paling cepat, 10 menit setelah gempa besar ada tsunami atau paling lama 20 menit. Jadi, kalau ada gempa lari, tidak perlu menunggu instruksi, langsung ke tempat aman,” bebernya.  (timkp)

TIM LIPUTAN  

  • YUDA ALMERIO PRATAMA LEBANG
  • MUHAMMAD RIFQI HIDAYATULLAH
  • MUHAMMAD RIZKI

EDITOR

  • FAROQ ZAMZAMI
loading...

BACA JUGA

Jumat, 16 November 2018 08:25

Ada Data di Balik Duka

Dari ribuan jenis pekerjaan di muka bumi, apa yang dilakukan tim ini bukan cuma sulit, tapi serasa muskil.…

Jumat, 02 November 2018 08:57

Tampil Cantik (Tak) Apa Adanya

Perempuan manapun ingin terlihat cantik. Menjawab kodrat itu, sederet klinik kecantikan pun hadir. Dari…

Jumat, 02 November 2018 08:54

Sensasinya Bikin Ketagihan

SEBUAH teknik perawatan kulit modern, jet peel, disukai pelanggan. Teknik ini memanfaatkan tekanan…

Jumat, 02 November 2018 08:52

Facial Minimal Tiap Dua Bulan

WAJAH putih, mulus, awet muda. Begitu kesan yang tampak saat bertemu Deriyani, owner Gloskin Balikpapan.…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .