MANAGED BY:
SABTU
20 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Kamis, 11 Oktober 2018 07:13
Teknologi Bisa Mengubah Kita

PROKAL.CO, Oleh: RP Yohanes Antonius Lelaona, SVD
(Rohaniwan Warga Tenggarong)

DALAM bulan September lalu, perusahaan smartphone ternama Apple mengeluarkan produk terbaru tiga seri sekaligus yakni Iphone XS Max, XS, dan XR. Perusahaan asal Amerika ini ingin menghadirkan sesuatu yang baru bagi penggemarnya.

Pada tahun ini saja, sudah berapa produsen telepon pintar mengeluarkan produk terbaru dan tercanggih mereka dipasaran dengan beragam keunggulan masing-masing. Perusahaan telepon pintar ini mencoba membaca keinginan pasar untuk menghadirkan fitur-fitur canggih; baik dari segi kamera, memori, dan fitur-fitur lainnya.

Pada intinya semakin hari, kemajuan teknologi komunikasi semakin mengalami kemajuan. Perusahaan-perusahaan telepon pintar berlomba membuat yang terbaik. Sehingga hal ini membuat banyak kemudahan.

Namun di sisi lain, kemajuan teknologi komunikasi justru menghadirkan banyak sisi destruktif yang tidak disadari umat manusia. Simak saja beberapa pemberitaan media nasional beberapa minggu yang lalu. Orang tua bingung menghadapi perubahan perilaku anak-anaknya akibat ketagihan gawai. Seperti diwartakan salah satu media nasional 23-26 Juli 2018.

Kita pun sering kali membaca ada muncul penyakit-penyakit baru akibat kecanduan gawai. Kita kadang tidak menyadari bahwa teknologi komunikasi adalah sarana. Sebagai sebuah sarana teknologi komunikasi modern bersifat netral. Teknologi komunikasi bisa menumbuhkan maupun bisa juga merusak relasi personal dan hidup bersama.

Penggunaan teknologi komunikasi dengan secukupnya dan proporsional akan menumbuhkembangkan relasi personal dalam hidup bersama. Sedangkan penggunaan dengan cara adiktif akan merusak relasi personal. Karena itu, gawai yang digunakan oleh pemakainya dalam tataran adiktif sudah menjadi destruktif terhadap diri pemakainya dan relasinya dengan orang lain di dalam kehidupan.

F Budi Hardiman membandingkan gawai dengan cangkul. Kedua benda itu sama-sama di luar diri manusia. “Kita tetaplah diri kita saat menghadapi cangkul. Tidak demikian dengan telepon genggam. Kita tidak mempermainkannya, melainkan bermain dengannya. Bersamanya kita berpikir. Juga tidak jarang kita merasakan hal-hal melaluinya. Sikap kita terhadap gawai berbeda dari sikap kita terhadap alat-alat lain.

Kita tidak hanya memakainya seperti cangkul. Kita juga membiarkan diri dipakai oleh alat itu. Bagian-bagian diri kita, seperti isi pikiran, ungkapan perasaan, keyakinan, penilaian, gambar diri, diambil dan diolah peranti tersebut. Kita bahkan rela menyerahkan rahasia dan kehidupan privat kita kepadanya.

Telepon genggam telah menjadi semacam alter ego. Dia tidak hanya mengganti peran orangtua, guru, teman, pemilik toko, dia dikira dapat mengisi ceruk hampa jiwa. Makin defisit makna jiwa itu, selfie dan pamer diri makin rajin dilakukan. Makin pintar telepon genggam itu, pengguna makin enggan memakai pikirannya sendiri” kata F Budi Hardiman. Kita menjadi tereduksi akibat peranti yang kita ciptakan.

Banyak orang di zaman ini adiktif dengan kebiasaan meng-update status WhatsApp, Facebook-nya. Hampir seluruh kegiatannya di-posting di media sosial. Bagian-bagian hidup sangat personal pun diunggah secara murah untuk konsumsi publik seluas dunia. Apa yang diinginkan oleh orang yang mempunyai kebiasaan seperti ini? Untuk mendapat perhatian? Untuk mendapatkan like? Untuk mendapatkan follower sebanyak mungkin?

Pertanyaan ini hanya bisa dijawab setiap pribadi manusia yang hampir setiap hari bahkan setiap menit meng-update statusnya. Pantas saja bila banyak orangtua yang mengeluh mengenai anaknya yang ketagihan gawai.

Beberapa bulan lalu ada orangtua yang datang ke tempat saya mengeluh anaknya hampir dropout dari kampus karena tidak pernah kuliah. Dari pagi sampai siang hari anak itu tidur, sedangkan malam hari dia justru tidak bisa tidur sampai pagi karena asyik main games online.

Orangtua itu bingung menghadapi anaknya tersebut. Situasi ini juga bisa dilihat di sekitar kita, banyak anak muda kalau mengadakan pertemuan mereka sibuk sendiri dengan gawai di tangan. Tidak ada percakapan, tidak ada yang konsentrasi mendengarkan, dan tidak ada yang mau terlibat diskusi. Semua pada sibuk sendiri tinggal yang memimpin pertemuan saja yang mengerti dan berbicara.

Selain itu, realitas seperti ini juga bisa kita jumpai di setiap sudut kota, desa, bahkan perkampungan. Ketika saya mengadakan pelayanan ke kampung-kampung; banyak anak muda berkumpul pada malam hari di pinggir jalan kampung hanya untuk mencari sinyal biar bisa main games dan chatting. Karena di rumah mereka jaringan tidak bagus bahkan tidak ada sama sekali.

Keterikatan dengan fitur atau konten online yang dikemas dalam gawai justru menjerat manusia dalam penjara teknologi dan berakibat fatal pada relasi dengan sesamanya. Kalau relasi dengan sesama saja sudah mengalami kesulitan bagaimana relasinya dengan yang tidak kelihatan yakni Tuhan sendiri?

Berawal dari Keluarga

Relasi sosial yang dibangun dalam hidup bersama berawal dari relasi dalam keluarga. Relasi pribadi di dalam sebuah komunitas bernama keluarga akan terbangun dengan solid bila bapak, ibu, dan anak-anak sering berjumpa, sering bercakap-cakap, hadir dan saling melibatkan diri.

Seorang bapak yang jarang hadir di rumah tidak mempunyai banyak pengalaman bercakap-cakap dengan istri dan anak-anaknya. Salah satu dampaknya adalah relasi menjadi terasa jauh. Anak-anak melewati peristiwa dan pengalaman penting dalam hidupnya tanpa dihadiri oleh bapak atau ibunya tidak akan merasakan bahwa orangtua mereka benar-benar hadir untuk mereka.

Seorang ibu yang terlalu aktif dalam kegiatan di tempat kerjanya tidak akan merasakan kedekatan dengan anak-anak dan suaminya. Anak-anak yang jarang berada di rumah akan mengalami kesulitan untuk bisa bersikap bela rasa dan solider dengan bapak dan ibunya sendiri; apalagi dengan orang lain di sekitarnya.

Situasi seperti ini sudah dikhawatirkan oleh Albert Einstein dalam kehidupannya. Albert Einstein pernah mengatakan “Aku takut pada hari di mana teknologi akan melampaui interaksi manusia. Dunia akan memiliki generasi yang idiot.” ungkapan Einstein ini patut menjadi perhatian dan keprihatinan kita bersama.

Oleh karena itu, dalam kehidupan bersama sejatinya kekuatan suatu negara termasuk Indonesia, ada di rumah-rumah tangganya. Kalau setiap rumah tangganya beres, relasi pribadi melalui perjumpaan, percakapan, dan terlibat bersama semua lancar, hampir pasti keluarga tersebut tidak bakal gampang dipecah-belah.

Sebaliknya, kalau keluarga tersebut sibuk sendiri, gosip kecil sekalipun bisa membuatnya meledak. Kita tentu tidak mau memiliki rumah tangga seperti ini. Maka, marilah kita bangun relasi percakapan, perjumpaan dan keterlibatan di dalam rumah tangga kita masing-masing. Karena, semakin hari teknologi semakin mempersempit ruang dan waktu kita untuk berjumpa, bercakap-cakap dan berdialog bersama di dalam keluarga. (ndu/k18)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 17 April 2019 10:25

Cegah Laka, Banyak Pihak Terlibat

KECELAKAAN tidak melulu disebabkan kondisi kendaraan. Ada pula faktor kesalahan…

Kamis, 11 April 2019 10:48

Justice For Audrey. Ini Penyebab Pelaku Lakukan Bully

Jagat belantara maya saat ini sedang memberikan perhatian penuh pada…

Sabtu, 30 Maret 2019 10:10

Deskripsi Nilai Tauhid di Masyarakat Sosial

TANA PASER - Kebudayaan yang berkembang pada masyarakat merupakan akumulasi…

Jumat, 15 Maret 2019 11:51

Persiapkan Komisioner KPU 2024 – 2029 Sejak Sekarang

Catatan Abd. Kadir Sambolangi: Anggota panitia seleksi (Pansel) calon Komisi…

Rabu, 13 Maret 2019 10:40

Mereka Anggap Monster Itu Bernama Prabowo

Oleh : Hersubeno Arief Mereka ingin memutarbalik arus besar perubahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*