MANAGED BY:
SABTU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM DAHLAN ISKAN

Rabu, 10 Oktober 2018 08:36
Fan Bingbing

PROKAL.CO, OLEH: DAHLAN ISKAN

FAN Bingbing bisa cantik-cantik-galak di film X-Man. Tapi kini dia takluk di depan petugas pajak. Bintang film cantiiiiiik-galaaaaak itu harus bayar denda. Berikut pokoknya. Nilainya mencapai Box Office: Rp 1,5 triliun.

Bayangkan! Bintang film harus bayar pajak Rp 1,5 triliun. Tepatnya USD 129 juta. Kepala Fan Bingbing seperti terkena kungfu di tengkuknya yang merangsang itu. Semua itu gara-gara satu posting-an di media sosial (medsos).

Yang dilayangkan bintang film juga. Atau tepatnya bintang televisi. Anchor salah satu televisi pemerintah di Beijing. Namanya: Cui Yongyuan. Laki-laki. Umur 50 tahun. Dalam posting-an di Weibo itu Cui Yongyuan tidak menyebut nama Fan Bingbing. Tapi, nadanya ke sana.

Posting-an itu mengungkap kebiasaan di kalangan bintang film Tiongkok. Yang belakangan kian moncer. Kian banyak yang menembus Hollywood. Atau industri film Hong Kong. Fan Bingbing salah satu success story. Honornya sudah di level A untuk bintang film Barat di Hollywood.

Semua itu berkat ekonomi Tiongkok yang kian berjaya. Daya beli masyarakatnya naik. Selera hiburannya juga lebih bervariasi. Film menjadi amat laris di Tiongkok. Termasuk film-film Hollywood.

Jenis film indoktrinasi sudah kurang laku. Dagangan komunisme sudah kalah dengan hedonisme. Termasuk yang disebarkan oleh Hollywood. Kata anak saya: hampir semua film Hollywood kini melibatkan emosi Tiongkok. Bisa lewat salah satu bintangnya: bintang film Tiongkok. Bisa lewat lokasinya. Atau lewat sumber dananya.

Pasar film Tiongkok memang menggiurkan. Jumlah layar lebarnya mengalahkan seluruh layar lebar di Amerika. Box Office kedua kini sudah diraih dari Renminbi. Diramalkan, dua tahun lagi, Box Office dunia sudah dari Negeri Panda.

Kalau jadi. Kalau Trump tidak ngamukan terus. Kalau Xi Jinping tidak memasukkan film Hollywood dalam tit-for-tat-nya. Dalam perang dagangnya. Atau perang benarannya. Nama Fan Bingbing melejit menunggangi pasang naik film Hollywood itu. Penggemar Fan Bingbing bisa histeris: cantik, tinggi, langsing, matang, aktingnya bagus, dan suka bantu kegiatan sosial.

Umurnya 36 tahun. Lahir di Qingdao, Provinsi Shandong. Kota pantai yang cantik. Satu jam penerbangan ke arah utara dari Shanghai. Pasangan kumpul kebonya bintang film juga: Li Chen.

Fan Bingbing bintang film yang akademis. Dia lulusan akademi teater dan akademi film di Shanghai. Setelah sukses, Fan Bingbing bikin studio sendiri. Di Suzhou. Kota tetangga Shanghai. Pokoknya serba-sukses. Sampai Mei lalu. Ketika Cui Yongyuan mem-posting kebiasaan curang para bintang film: menandatangani kontrak “Yin & Yang”.

Kontrak yang formal dan kontrak yang di bawah tangan. Nilainya jauh berbeda. Bumi dan ujungnya Burj Al Khalifa. Ada kontrak yang formalnya USD 1,6 juta. Yang di bawah tangan USD 7,8 juta.

Heboh. Gempa. Tsunami. Jadi satu. Melanda bintang-bintang film Tiongkok. Menyapu industri film secara keseluruhannya. Reaksi publik begitu ganasnya. Terutama dari mereka yang taat membayar pajak.

Ada yang mengaitkan dengan ideologi negara: bagaimana di sebuah negara komunis bisa seperti itu. Ada tokoh-tokoh yang hidup mewah secara melanggar hukum. Di tengah masyarakat miskin yang masih banyak. Jadilah isu sensitif.

Pemerintah tidak bisa lagi tutup mata. Semua bintang film diperiksa. Terungkaplah secara luas. Jenis kontrak “Yin & Yang” itu. Fan Bingbing tiba-tiba seperti lenyap ditelan gempa Palu. Tidak ada kabarnya. Tidak ada juga orangnya.

Dunia gosip menjadi sepi. Kehilangan objeknya. Eh, ternyata tidak begitu. Gosip justru membahana: di mana Fan Bingbing. Akhirnya rumor yang paling dipercaya adalah ini: Fan Bingbing disekap. Hampir selama tiga bulan. Tanpa informasi apapun. Sampai minggu lalu.

Tiba-tiba Fan Bingbing muncul: minta maaf atas perbuatannya. Dan akan membayar semua kewajiban pajaknya. Termasuk bunganya. Totalnya mencapai Rp 1,5 triliun. (dis/rom/k15)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 19 Oktober 2018 07:58

DNA, Antara Penting vs Menarik

OLEH: DAHLAN ISKAN PILIH yang penting atau menarik? Jurnalistik punya dosa keturunannya sendiri: mengalahkan…

Rabu, 17 Oktober 2018 08:15

Dari Kampung Laut ke Sekolah Dokter

OLEH: DAHLAN ISKAN TIGA jam lagi saya harus berangkat. Ke Korea Utara. Alhamdulillah. Masih sempat makan…

Selasa, 16 Oktober 2018 08:24

Tesla Sepeninggal Wajahnya

OLEH: DAHLAN ISKAN “THIS is incorrect”.  Tiga kata saja. Itulah isi Twitter Elon Musk.…

Sabtu, 13 Oktober 2018 01:36

Prewedding di Sudut-Sudut Sumba

SAYA ke Sumba lagi. Tidur di padang sabana lagi. Lagi-lagi ke Sumba. Minggu lalu adalah “minggu…

Kamis, 11 Oktober 2018 08:57

Suntikan Ekonomi Rp 2.000 Triliun

OLEH: DAHLAN ISKAN MASAKAN baru. Resep lama. “Masakan baru” itu senilai hampir Rp 2.000…

Selasa, 09 Oktober 2018 08:50

Port Dickson

OLEH: DAHLAN ISKAN GOSIP permusuhan itu langsung reda. Mahathir Mohamad tiba-tiba turun gunung. Ke Port…

Minggu, 07 Oktober 2018 08:32

Rendang Unta William Wongso

OLEH: DAHLAN ISKAN BARU sekali ini saya makan daging unta. Dimasak rendang. Yang istimewa, yang masak …

Sabtu, 06 Oktober 2018 06:48

Bisa Jadi Sandwich Lima Negara

Ada gempa lain. Di laut dan udara. Di kawasan yang jadi pusat sengketa. Antar-banyak negara: Laut China…

Kamis, 04 Oktober 2018 09:22

Palu ketika Tanpa Koran

OLEH: DAHLAN ISKAN SAYA kepikiran teman-teman saya di Radar Sulteng. Harian yang saya dirikan di Palu.…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:15

Menusuk Rindu

OLEH: DAHLAN ISKAN TIDAK terhitung. Entah sudah berapa kali. Saya ke Palu. Pada masa lalu. Tak terhitung.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .