MANAGED BY:
KAMIS
24 JANUARI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Rabu, 10 Oktober 2018 07:03
Pentingnya Bangun Ketahanan Mental sejak Dini

PROKAL.CO, Oleh: dr Mariati Herlina Sitinjak Sp KJ
(Dokter spesialis kedokteran jiwa dari Rumah Sakit Samarinda Medika Citra)

HARI Kesehatan Jiwa diperingati setiap 10 Oktober. Tahun 2018 ini, menitikberatkan pada remaja, yakni “Young and Mental Health in A Changing World“. Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kesehatan secara keseluruhan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Perawatan mental sejak dini dapat membantu mencegah masalah yang lebih berat dan langgeng pada saat anak tumbuh dan menjadi dewasa.

Masa remaja sering kali disebut sebagai masa transisi atau peralihan, di mana mereka mengalami perubahan karakter dari masa anak-anak menuju kedewasaan. Stanley Hill, menyebutkan bahwa pada masa ini akan terjadi “storm & stress” (badai & topan).

Pada masa ini, remaja mengalami perubahan fisik (biologi), perkembangan dalam pola identifikasi anak menuju dewasa (psikologi) dan peralihan dari bergantung menjadi keadaan yang cenderung lebih mandiri (ekonomi).

Selain itu, perubahan situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan mereka, misalnya tinggal di daerah konflik atau bencana alam, perubahan sekolah, meninggalkan rumah, dan memulai universitas atau pekerjaan baru belum lagi penggunaan teknologi online yang semakin luas.

Masa remaja bagi beberapa orang merupakan saat-saat yang menyenangkan namun dapat juga menjadi stres dan ketakutan yang dapat menyebabkan penyakit mental.

Adapun faktor-faktor yang memengaruhi, yakni: 1) perubahan jasmani meliputi perubahan fisik dan meningkatnya hormon-hormon tertentu pada seseorang dapat menjadi faktor perkembangan emosi pada remaja. 2) Cara komunikasi orangtua kepada anak, serta metode pengasuhan orangtua dapat menjadi faktor penting dalam perkembangan emosi remaja.

3) Pola interaksi dengan teman untuk sekadar menunjukkan eksistensi maupun untuk melawan otoritas dari pihak yang dianggap harus dilawan. Hubungan cinta dengan lawan jenis juga menjadi faktor yang mendominasi perkembangan emosi masa remaja. 4) Perubahan pandangan dunia luar: persepsi orang lain menjadi faktor perkembangan emosi seseorang. 5) Pola interaksi di sekolah.

Di seluruh dunia, 10-20 persen anak-anak dan remaja mengalami gangguan mental. Setengah dari semua penyakit mental dimulai pada usia 14 tahun dan tiga per empat pada pertengahan 20-an. Sebagian besar kasus tersebut tidak terdeteksi dan tidak diobati. Depresi adalah penyebab utama ketiga dan bunuh diri adalah penyebab utama kematian kedua di antara anak-anak berusia 15-29 tahun.

Kondisi neuropsikiatri adalah penyebab utama kecacatan pada orang muda di semua wilayah. Jika tidak diobati, kondisi ini sangat memengaruhi perkembangan anak-anak, pencapaian pendidikan mereka, dan potensi mereka untuk menjalani kehidupan yang memuaskan dan produktif.

Selain itu, penggunaan alkohol dan obat-obatan terlarang yang berbahaya di kalangan remaja adalah masalah besar di banyak negara dan dapat menyebabkan perilaku berisiko seperti seks yang tidak aman atau mengemudi yang berbahaya. Gangguan makan juga menjadi perhatian. Anak-anak dengan gangguan mental menghadapi tantangan besar dengan stigma, isolasi dan diskriminasi, serta kurangnya akses ke fasilitas perawatan kesehatan dan pendidikan, yang melanggar hak asasi manusia fundamental mereka.

Membangun ketahanan mental sejak dini akan membantu mencegah tekanan dan penyakit mental di kalangan remaja dan dewasa muda. Pencegahan dimulai dengan menyadari dan memahami tanda-tanda peringatan dini dan gejala penyakit mental. Orangtua dan guru dapat membantu membangun kecakapan hidup anak-anak dan remaja untuk membantu mereka mengatasi tantangan sehari-hari di rumah dan di sekolah.

Dukungan psikososial dapat diberikan di sekolah-sekolah dan lingkungan masyarakat lainnya dan tentu saja pelatihan bagi petugas kesehatan agar mereka dapat mendeteksi dan mengelola gangguan kesehatan mental dapat dilakukan, ditingkatkan atau diperluas.

Selain itu, keterampilan sosial, keterampilan memecahkan masalah dan kepercayaan diri dapat membantu mencegah masalah kesehatan mental. Hal tersebut perlu peranan pemerintah dan sektor sosial, kesehatan dan pendidikan secara komprehensif, terpadu. Salam: smile, memorable and care. (ndu/k15)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 24 Januari 2019 08:02

Mau Tahu Tender Pemerintah 2019?

Oleh: Naryono SKom MM (Plt Kepala UPT LPSE Dinas Komunikasi…

Kamis, 24 Januari 2019 08:00

Junjung Tinggi Demokrasi Tanpa Menebar Kebencian

Oleh: Sugeng Susilo SH (Staf Biro Hukum Sekretariat Daerah Provinsi…

Rabu, 23 Januari 2019 08:09

Mengenal Metode Pembelajaran yang Tepat untuk IPS

Oleh: Slamet Pujiono (Guru SMP 23 Samarinda, NIP 19680427199308001) UNTUK…

Rabu, 23 Januari 2019 08:06

Kontroversi Hari Jadi Kota Samarinda

Oleh: Muhammad Sarip {Pemerhati Sejarah Lokal & Pengurus Lembaga Studi…

Selasa, 22 Januari 2019 09:24

Sisa Ruang Profesi Wartawan

Oleh Amir Machmud NS KEGELISAHAN konstruktif Ganjar Pranowo tentang masa…

Selasa, 22 Januari 2019 07:52

BPJS Perlu Belajar dari NHI Taiwan

OLEH: FERRY FADZLUL RAHMAN (Dosen Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur) PERSOALAN…

Selasa, 22 Januari 2019 07:49

Bahasa Menunjang Tumbuh Kembang Anak Usia Dini

OLEH: PERMIN (Warga Samarinda Seberang) SEBAGAI seorang ibu sekaligus sebagai…

Senin, 21 Januari 2019 07:19

Masih Fokus Pencegahan Stunting

OLEH: Prof Dr BERNATAL SARAGIH SP M Si (Guru Besar…

Sabtu, 19 Januari 2019 06:59

Tumbler: Langkah Awal Peduli Kualitas Air Minum Isi Ulang

BARU - baru ini kita dikejutkan dengan video laut yang…

Kamis, 17 Januari 2019 08:37

Banjir Dungu

OLEH: SUNARTO SASTROWARDOJO (DOSEN SEKOLAH PASCA PERENCANAAN DAN PENGEMBANGAN WILAYAH…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*