MANAGED BY:
KAMIS
23 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 09 Oktober 2018 10:15
Mengunjungi Lokalisasi Tondo Pascagempa dan Tsunami
Tarif Variatif, Sebagian Germo asal Sulsel
SEPI. Suasana tempat prostitusi yang terletak di daerah Tondo kota palu di wilayah pesisir pantai rata dengan tanah akibat gempa tsunami yang melanda beberapa waktu yang lalu. FOTO: NURHADI/FAJAR

PROKAL.CO, Mereka hanya menjedakan diri sesaat. Menunggu kafe, tempat karaoke, dan kamar direnovasi.

RIDWAN MARZUKI-NURHADI

Tondo, Palu

TAK mudah masuk ke kawasan Tondo Kiri, Palu. Ada penjagaan ketat di gerbang masuk. Palang dipasang di situ. Ketatnya penjagaan juga bisa disaksikan di sebelah utara jalan. Sebuah pos pengamanan, berukuran besar dibangun di situ. Mirip rumah atau warung makan. Sangat luas untuk sekadar pos keamanan.

Setelah meminta izin kepada sejumlah orang yang berdiri di situ, kami bisa melalui palang tanpa membayar. Alias gratis. Palang dibuka setengah. Membentuk sudut 30 derajat. Plus mendapat "pengawalan" dari seorang rekan dengan tato di lengan itu, penjaga sepertinya sungkan untuk tak membiarkan kami masuk.

Pada kondisi normal, setiap pengunjung yang datang, diwajibkan membayar biaya tiket masuk sebesar Rp5.000 untuk sepeda motor dan Rp10.000 untuk mobil. Retribusi dibayar di pos itu. Namun, bagi pelanggan yang telah dikenal baik, mereka bahkan bisa melenggang masuk tanpa membayar sepeser pun. Termasuk bagi "anggota".

Lazimnya kompleks perumahan, palang gerbang masuk itu menggunakan cor sebagai pembebanan di bagian selatan. Hanya menggunakan tali sebagai alat katrol, membuka atau menutup gerbang. "Tidak boleh masuk kalau bukan orang di dalam," sebut seorang pria yang akrab disapa Daeng di kawasan Tondo Kiri saat FAJAR tiba, Minggu, 7 Oktober.

Daeng merupakan salah seorang pemilik usaha di dalam kompleks ini. Situasi pascagempa membuatnya harus selektif membiarkan orang masuk. Alasannya, kini banyak pencuri. Barang-barang penghuni Tondo banyak yang dicuri.

Dari Daeng inilah saya tahu bahwa di Tondo Kiri, sebagai sebuah lokalisasi prostitusi terbesar di Sulawesi, ada beberapa orang Sulsel yang menggerakkan aktivitas dunia malam itu.  Jadi germo, menyediakan layanan tambahan bagi tetamu setelah karaoke dan minum alkohol.

Dia memiliki beberapa wanita. Disebutnya sebagai "karyawati". Masuk kerja malam hari. Sampai dini hari. Tak tinggal di rumah multifungsinya: rumah, karaoke, bar, dan wisma. Daeng menjamin, "karyawati" di Tondo Kiri steril alias sehat untuk di-booking. Kesehatan mereka dijaga. Dua kali sebulan, tim kesehatan datang memeriksa dan mengecek kesehatan mereka. Itu dilakukan rutin. "Terjamin di sini, Pak," imbuh Daeng.

Soal tarif, seorang sumber yang mengantar kami, Edy (30), menyebut, semuanya tergantung pembicaraan. Rata-rata tamu yang datang, memilih menenggak miras terlebih dahulu. Aneka merek alkohol disediakan. Kebanyakan bir.

Soal sumber bir ini, Daeng menyebut, mereka punya celah untuk memasukkannya. Karena statusnya tak diakui sebagai kawasan prostitusi, pemilik usaha hiburan, banyak main kucing-kucingan memasok alkohol ke tempatnya.

"Di sini biasanya minum dulu. Kalau mau main, masuk ke dalam kamar. Kadang juga ada yang bawa sendiri dari luar," beber pria berambut pendek itu. Sangat mudah mendapatkan layanan tidur bersama "karyawati" di Tondo Kiri ini. Cukup memesan bir, negosiasi harga, lalu masuk ke dalam bilik yang telah disediakan.

Hanya saja, usai gempa dan tsunami, aktivitas itu dihentikan sementara. Sebagian blok prostitusi tak terdampak parah. Hanya yang tepat menghadap bibir pantai. Yang lainnya hanya retak atau tertimpa material bawaan tsunami. "Baru-baru selesai tsunami, ada saja yang datang cari. Seperti tadi malam," beber Amir, salah seorang muncikari asal Makassar yang kini kehilangan pendapatan setelah tsunami menghantam tempat karaokenya.

Ada beberapa karyawati dia pelihara. Tak tinggal di Tondo Kiri. Indekos di luar. Hanya datang saat hendak melayani tamu. Namun, kini semuanya harus dimulai dari nol. Bangunan yang rata dengan tanah, memaksanya harus membangun ulang. (*/fajar/jpg)


BACA JUGA

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…

Senin, 06 Mei 2019 13:16
Ketika Dua Bule Aktivis Lingkungan Prihatin dengan Sampah di Indonesia

Ajak Mencintai Bumi, Ingatkan Dampak Negatif Plastik

Mereka bukan asal Indonesia. Yang satu, Adriana María Olarte dari…

Senin, 06 Mei 2019 13:13
Padusan, “Ritual” Sambut Ramadan yang Jadi Tradisi

Umat Islam Padati Tempat-Tempat Pemandian Alami

SLEMAN – Sudah menjadi tradisi tahunan tiap H-1 Ramadan masyarakat…

Minggu, 05 Mei 2019 09:16
Refleksi Hari Pendidikan di Kukar

Dela Tak Lagi Mengayuh dengan Sepatu Bolong

Bukan ponsel canggih apalagi motor beken untuk berkeliling kampung. Hanya…

Rabu, 24 April 2019 10:27
Caleg Pasutri yang Diprediksi Lolos, Suastika Hindari Simakrama Bareng Istri

Bukan Haus Jabatan, Tapi Karena Penugasan Partai

Calon legislatif (caleg) DPRD pasangan suami-istri (pasutri) yang kemungkinan besar…

Kamis, 04 April 2019 10:32
Berbincang dengan Setyo Pranoto, Pria Berjuluk Manusia Jadul

Keliling Jawa dan Kalimantan untuk Berburu Handphone Jadul

Teknologi semakin maju. Telepon genggam pun semakin canggih dengan desain…

Kamis, 04 April 2019 10:30
Bule Perancis Keliling Dunia Pakai Sepeda

Telah Singgahi 10 Negara, di Indonesia Doyan Makan Tempe dan Bakso

Victor Habchy punya nyali tinggi. Bule asal Prancis itu berkeliling…

Rabu, 03 April 2019 12:19
Ribuan Anak Yaman Angkat Senjata di Garda Depan

Dijanjikan Uang dan Pekerjaan, tapi Disuruh Perang

Anak-anak di Yaman tidak hanya harus tumbuh dengan melihat pemandangan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*