MANAGED BY:
SABTU
25 MEI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

FEATURE

Selasa, 09 Oktober 2018 10:14
Mengunjungi Lokalisasi Tondo Pascagempa dan Tsunami
Para WTS Tetap Beroperasi, Tetapi di Indekos
SEPI. Suasana tempat prostitusi yang terletak di daerah Tondo kota palu di wilayah pesisir pantai rata dengan tanah akibat gempa tsunami yang melanda beberapa waktu yang lalu. FOTO: NURHADI/FAJAR

PROKAL.CO, Para germo menyebut mereka telah pulang kampung. Namun, sebagian masih berada di indekos.

 

RIDWAN MARZUKI-NURHADI

Palu

AKSES masuk ke Tondo relatif lengang. Hanya satu dua kendaraan lewat. Di dekat pertigaan, kami memarkir motor matik, di bawah pohon. Sembilan pohon berderet rapi di sebelah selatan sebelum sampai ke pintu belakang sebuah rumah besar. Usianya kira-kira lima tahunan. Aneka diameter. Kami berteduh di bawah pohon yang paling rindang.

Sekitar 15 menit, seorang kenalan menghampiri. Dari arah Jl RE Martadinata, Kota Palu. Sebuah jalan nasional, penghubung antarprovinsi di Sulawesi. Bagian dari jalan Trans-Sulawesi. Jalan ini menghubungkan Palu, Donggala, dan Toli-toli.

Edy namanya. Ada tato di lengannya. Dia menguasai wilayah itu. Sudah lama menetap di Palu. Setelah bertegur sapa, kami menyalakan mesin motor. Dia menjadi pemandu kami. Kami mengikuti dari belakang.

Bagi yang tak biasa, tidak akan tahu bahwa jalanan yang kami lalui ini merupakan akses menuju sebuah kawasan prostitusi. Yang disebut-sebut terbesar di Sulawesi itu. Yang usianya telah lama.

Tak ada petunjuk sama sekali bahwa ada penjaja seks alias wanita tuna susila (WTS) di sana. Di ujung jalan dengan lebar delapan meter tanpa trotoar. Untuk masuk ke sana, warga sekitar akan dengan sederhana menjelaskan seperti ini: di sebelah kanan Jl RE Martadinata, ada kantor pemasaran sebuah merek otomotif.

Di depan showroom itulah ada jalanan. Pertigaan tepatnya. Masuk ke situ. Lebih sederhananya lagi, masuk ke lokalisasi itu, cukup menanyakan Tondo Kiri. Semua warga pasti mengetahuinya.

Tondo Kiri dan Tondo Kanan, sebetulnya bukanlah nama resmi administratif. Dibuat hanya untuk membedakan antara kompleks permukiman dan kawasan lokalisasi prostitusi. Data Pemkot Palu,  Kelurahan Tondo memiliki luas 55,16 kilometer per segi.

"Dahulu, di sini hanya hutan," ujar Edy sesampai di ujung gang dan memarkir motor di depan sebuah tempat karaoke, Minggu, 7 Oktober.

Ada beberapa blok di Tondo Kiri. Sebagian besar tempat hiburan. Yang sekaligus menyediakan alkohol dan aneka softdrink. Layanan utamanya bagi yang butuh menyalurkan hasrat biologis: esek-esek. Hampir semua rumah yang telah disulap jadi kafe dan tempat karaoke itu, menyediakan.

Saya bertemu seorang pemilik kafe yang lebih mirip warung. Bahrin. Begitu dia memperkenalkan diri. Pria kelahiran Parepare, pada 1956 silam. Tangannya sedang memegang palu. Sedang menata pagar yang ambruk dihantam gempa yang disusul tsunami itu.

Telah lama dia menetap di Palu. Sejak 1986. Di kota ini pula dia bertemu wanita yang kini menjadi istrinya. Bahrin bersyukur, tiga anak serta istrinya itu, selamat dari gempa dan tsunami. Namun, istrinya luka-luka.

"Sudah pulang kampung semua," kata Bahrin saat saya menanyakan para perempuan penjaja seks yang menghuni kawasan Tondo Kiri ini.

Di depan warungnya, jalanan terlihat lebih sempit. Hanya satu mobil bisa lewat. Saya menyodorkan rokok, permen, dan wafer kepadanya. Aktivitasnya dihentikan. Menggeser badannya ke arah timur. Ada undakan lantai di situ. Bahrin duduk. Melantai.

Cerita tentang perempuan sewaan dan prostitusi di Tondo kami jeda. Dia kesal. Saat mengungsi, penjarah masuk ke dalam rumahnya. Tabung gas dan kompornya dicuri. "Pasti orang dalam juga pelaku. Tidak mungkin orang luar tahu kondisi rumah," ketusnya.

Rokok di sela telunjuk dan jari tengahnya diisap dalam. Wafer yang saya sodorkan tadi dicicipinya. Sambil mengambil segelas air mineral dari dalam kardus yang telah sobek.

Indekos

Kebanyakan perempuan pelacur itu statusnya hanya sebagai pekerja di kafe-kafe dan warung remang-remang di Tondo Kiri. Pasca-tsunami, tak semuanya pulang kampung. Sebagian bertahan tinggal. "Alasan itu. Tadi malam ada teman didatangi rumahnya. Dia ketuk-ketuk. Cari pelanggan," beber seorang rekan yang bermukim di Palu.

Para penjaja seks itu tetap beroperasi. Namun, tak lagi di Tondo Kiri. Memanfaatkan indekosnya. Atau rumah pria yang mem-booking-nya. Tarifnya turun. Jika dulu Rp 250 ribu, sekarang Rp50 ribu pun diterima. Tetapi, tergantung negosiasi tentunya. (*/fajar/jpg)

 


BACA JUGA

Kamis, 23 Mei 2019 11:24
Bilkis Bano, Tunggu Keadilan Selama 17 Tahun

Dapat Rumah, Pekerjaan, Kompensasi Miliaran

Kerusuhan di Gujarat, India, 2002 lalu telah merenggut kehormatan dan…

Kamis, 16 Mei 2019 14:55
Berbincang dengan dr Joseph, Bule Brazil Penjaga Pohon Kurma di Islamic Center

Bule Rawat 165 Pohon Kurma tanpa Digaji, Yakin Kurmanya Berbuah Tiga Tahun Lagi

Masjid Hubbul Wathan Islamic Center ditanami 165 pohon kurma. Uniknya,…

Senin, 06 Mei 2019 13:16
Ketika Dua Bule Aktivis Lingkungan Prihatin dengan Sampah di Indonesia

Ajak Mencintai Bumi, Ingatkan Dampak Negatif Plastik

Mereka bukan asal Indonesia. Yang satu, Adriana María Olarte dari…

Senin, 06 Mei 2019 13:13
Padusan, “Ritual” Sambut Ramadan yang Jadi Tradisi

Umat Islam Padati Tempat-Tempat Pemandian Alami

SLEMAN – Sudah menjadi tradisi tahunan tiap H-1 Ramadan masyarakat…

Minggu, 05 Mei 2019 09:16
Refleksi Hari Pendidikan di Kukar

Dela Tak Lagi Mengayuh dengan Sepatu Bolong

Bukan ponsel canggih apalagi motor beken untuk berkeliling kampung. Hanya…

Rabu, 24 April 2019 10:27
Caleg Pasutri yang Diprediksi Lolos, Suastika Hindari Simakrama Bareng Istri

Bukan Haus Jabatan, Tapi Karena Penugasan Partai

Calon legislatif (caleg) DPRD pasangan suami-istri (pasutri) yang kemungkinan besar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*