MANAGED BY:
KAMIS
18 APRIL
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

KOLOM PEMBACA

Selasa, 09 Oktober 2018 09:43
Alfatekah atau Alfatihah?
Syafril Teha Noer

PROKAL.CO, PAK Jokowi, di depan khalayak sebuah acara, menyerukan doa dan empati bagi para korban bencana. Sebagian orang lalu mempergaduhkan cara beliau melafadzkan 'Alfatihah'.

"Ala haadziinniyah, alfatekah," tuntun beliau, seperti digambarkan video yang beredar di dunia maya. Sebagian orang di antara khalayak itu berseru-seru. "Alfatihah, paak!" celetuk seseorang. "Alfatekah katanya," timpal yang lain.

Saya termasuk yang yakin 'alfatekah' yang diucapkan Pak Jokowi itu ya 'Alfatihah' juga. Beliau tidak sempurna keliru. Hanya terjebak cara pengucapan, menjadi lokalan, yang sebenarnya juga terjadi di sebagian lingkungan lain di Tanah Air.

Kalau saja bacaan surah pembuka Alquran itu beliau keraskan, khalayak boleh jadi menemukan sejumlah 'ketaklaziman' lain. Misalnya, 'alhamdulillaahirabbil 'aalamiin' yang menjadi 'alkamdulillaahirobil ngaalamiin' - lalu 'arrohmaanirrokiim'.

Kalau itu sampai terucap keras, dan kalau benar membacanya begitu, sekali lagi percayalah, yang beliau maksud tentu 'alhamdulillaahirabbil 'aalamiin' dan 'arrahmaanirrahiim'. Tak ada yang lain. Ya ayat kedua dan ketiga Alfatihah itulah.

Saya menyebut itu problem 'makhraj' - penyuaraan huruf-huruf dalam Bahasa Arab, yang berhubungan langsung dengan posisi perangkat mulut. Dan 'alfatekah' itu bukan kasus tunggal. Pak Jokowi pun bukan satu-satunya.

Di beberapa daerah di Nusantara bisa ditemukan kasus-kasus keterjebakan makhraj lain. Di daerah tertentu orang kesulitan membedakan 'za' dari 'dza-dzo' hingga cenderung membunyikan dua huruf ini dengan 'za' saja. Ada pula yang membunyikan huruf-huruf itu menjadi 'ja' atau malah 'ya'.

Ayat pertama Surah Az-zalzalah (QS 99) yang (kalau ditransliterasi) berbunyi 'Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa' (Apabila bumi diguncangkan dengan goncangan yang dahsyat) - pada sebagian kalangan bisa tersuarakan 'izaa zulzilatil ardu zilzaalahaa' - perhatikan, 'idzaa' yang jadi 'izaa'. Pada kalangan lain bisa pula tersuarakan 'ijaa juljilatil ardu jiljaalahaa' atau malah 'iyaa yulyilatil ardu yilyaalahaa'.

Itu baru perbedaan dalam penyuaraan satu huruf yang mirip. Padahal, pada 29 huruf hijaiyah (Arab) terdapat sejumlah huruf mirip yang lain - 'sin-syin-sha, da-dha, ha-kha-ha' dan 'kaf-qaf'.

Mereka yang lama menetap di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Betawi, saya kira cukup akrab dengan keterjebakan-keterjebakan 'makhraj' seperti ini. Lebih-lebih saat studi pembacaan Alquran belum semaju sekarang. Dan Pak Jokowi, mungkin lho ya, terlanjur belajar membaca Alquran dalam metodologi lawas - di desa beliau.

Ketepatan penyuaraan huruf dalam Alquran memang sangat penting. Tak bisa 'dinusantarakan' lewat adopsi-adopsi metodologi dan gaya serba lokal. Maka 'alhamdulillaah' yang diucapkan Khabib Nurmagomedov di T Mobile Arena, Las Vegas, Nevada, Amerika, itu wajib sama dengan yang diucapkan imam shalat di Masjid Darul Hanan di Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. Pun dengan yang diucapkan seluruh muslim di seantero jagad.

Bukan 'makhraj' saja, ketepatan penyuaraan teks-teks dalam Kitab Suci Alquran itu bertalian pula dengan banyak disiplin ilmu. Yang paling dekat adalah tajwid - hukum pembacaan yang berhubungan dengan tanda baca, panjang-pendek, kapan berhenti kapan terus, berdengung tidak berdengung, huruf yang luluh dan tidak, dua harakat, enam harakat, .. wah, banyak.

Itu semua tak lain karena terkait sangat erat dengan arti-makna. Salah makhraj dan tajwid bisa salah arti dan makna. Bisa jadi fatal dan jauh urusannya - sampai akhirat. Pengucapan 'iyyaaka na'budu' (dengan 'ya' bertasydid) yang dibaca 'iyaka na'budu' (dengan 'ya' tanpa tasydid) adalah di antara contoh dampak sangat fatal. Yang pertama berarti 'Hanya kepadaMu kami menyembah'. Yang kedua berarti 'kepada cahaya matahari kami menyembah'. Ngeri nggak? Aqidah berbelok justru ketika kita merasa sedang meluruskannya, hanya gara-gara keliru makhraj atau tajwid, gara-gara abai tasydid thok.

Maka, dalam urusan bacaan Kalam Ilahi baiklah kita merujuk disiplinnya yang baku. Seperti yang dijalani anak-anak sejak di bangku PAUD dan TKA hari-hari ini.

Lalu, gimana dengan 'alfatekah' Pak Jokowi tadi? Saya percaya, yang beliau maksud adalah Alfatihah. Persangkaan baik saya mengatakan, beliau bukan tak bisa mengucapkan Alfatihah. Beliau cuma sedang terpeleset model pembacaan sebagian saudara kita di Jawa. Cukuplah keterpelesetan kita luruskan, sebagaimana kewajiban makmum kepada imam shalat berjamaah. Wallaahua'lam. (**)

 


BACA JUGA

Rabu, 17 April 2019 10:25

Cegah Laka, Banyak Pihak Terlibat

KECELAKAAN tidak melulu disebabkan kondisi kendaraan. Ada pula faktor kesalahan…

Kamis, 11 April 2019 10:48

Justice For Audrey. Ini Penyebab Pelaku Lakukan Bully

Jagat belantara maya saat ini sedang memberikan perhatian penuh pada…

Sabtu, 30 Maret 2019 10:10

Deskripsi Nilai Tauhid di Masyarakat Sosial

TANA PASER - Kebudayaan yang berkembang pada masyarakat merupakan akumulasi…

Jumat, 15 Maret 2019 11:51

Persiapkan Komisioner KPU 2024 – 2029 Sejak Sekarang

Catatan Abd. Kadir Sambolangi: Anggota panitia seleksi (Pansel) calon Komisi…

Rabu, 13 Maret 2019 10:40

Mereka Anggap Monster Itu Bernama Prabowo

Oleh : Hersubeno Arief Mereka ingin memutarbalik arus besar perubahan…

Minggu, 03 Maret 2019 11:34

Keadilan untuk Pak Sopir

Oleh: Bambang Iswanto, Dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Samarinda…

Minggu, 03 Maret 2019 11:21

Memilih (Ke) Pemimpin (An) dengan Iman

Oleh : Dewi Sartika, SE., MM*   Perhelatan akbar sebentar…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*