MANAGED BY:
KAMIS
20 JUNI
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

UTAMA

Senin, 08 Oktober 2018 12:38
Trauma Belum Sepenuhnya Hilang, Rela Dikirim Lagi sebagai Relawan

Kisah Warga Kaltim yang Selamat dari Bencana di Sulteng (5)

SEMPAT TERISOLASI: Sri Wulandari (kedua kanan) bersama rekan-rekannya setelah dievakuasi ke BBPK Kemenkes di Makassar, Rabu (3/10). (DOKUMEN PRIBADI)

PROKAL.CO, Hitungan kurang dari lima detik. Setelah berhasil keluar rumah. Sri Wulandari Hasan menyaksikan tempatnya bernaung runtuh. Sri menjadi korban selamat dari gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah (Sulteng).

M RIDHUAN, Balikpapan

SOROT matanya menatap kosong di balik kacamata tak berlensa. Dibalut jilbab, wajah Ulan–sapaan akrab Sri Wulandari–tak beriak. Dia mengingat kembali kejadian yang menimpanya sepekan lalu. Saat gempa bumi berkekuatan 7,4 skala richter (SR) meluluhlantakkan Palu, Donggala, dan Sigi di Sulteng. Ketika dia harus menyelamatkan diri. Terisolasi selama lima hari di wilayah bencana.

Lamunannya seketika terganggu. Ulan terkejut. Suara teriakan pengunjung yang sedang bercanda membuat tubuhnya seketika waspada. Trauma masih hinggap pada gadis kelahiran Balikpapan 1994 lalu itu.

Sebelum pertemuan pun dia meminta untuk mencari lokasi yang terbuka. Enggan berada di tempat dengan tembok dan atap mengurungnya. “Masih terasa (trauma),” ucapnya saat ditemui di salah satu pusat jajanan serba ada (pujasera) di Jalan MT Haryono, Balikpapan Selatan, Sabtu (6/10) malam.

Ulan baru tiba di Kota Minyak, Jumat (5/10) malam lalu dari Makassar, Sulawesi Selatan. Dua hari dia ditampung di Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Setelah berhasil dievakuasi dari Palu. Menjalani serangkaian pemeriksaan dan psychological first aid. Agar bisa mengurangi dampak yang ditimbulkan akibat bencana.

“Kami lebih banyak curhat di sana. Menulis dan menemui psikiater,” kata warga Jalan Marsma S Iswahyudi, RT 01, Gang Masjid Nurul Jannah, Kelurahan Sungai Nangka, Balikpapan Selatan itu.

Ulan merupakan lulusan D-3 Kesehatan Lingkungan di Politeknik Kesehatan Kemenkes Makassar. Empat bulan lalu dia ditugaskan ke Kecamatan Pinembani. Sebuah kecamatan di Kabupaten Donggala. Yang disebutnya masih dalam kondisi kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan. Dirinya mengabdi sebagai bagian dari program Nusantara Sehat (NS).

Selama pengabdian itu, setiap akhir pekan dia ke Palu. Menghabiskan waktu membuat laporan. Lalu refreshing. Pergi ke pantai di Tanjung Karang. Hingga menikmati kehidupan kota dan berbelanja di mal. Kegiatan tersebut dilakukan bersama keenam rekan-rekannya di NS. “Di Palu kami sewa rumah. Jadi ada tempat buat istirahat setelah dari Pinembani,” beber dia.

Pada hari gempa bumi terjadi, Jumat (28/9), Ulan sedang berbelanja di Palu Grand Mall. Saat di mal itu dia mendapat kabar ada gempa. Namun, tak dirasakannya. Karena desakan teman-temannya mereka keluar mal dan menyempatkan melaksanakan panggilan salat Asar. “Setelah itu kami pulang ke kontrakan,” katanya.

Saat itu sekitar pukul 18.00 Wita. Menunggu giliran mandi, dia mempersiapkan barang dan makanan untuk pergi pada malam hari. Ke sebuah wilayah pegunungan di Palu. Berangkat bersama seorang dokter untuk membantu menangani kesehatan warga. “Kami bersiap sambil menunggu mobil jemputan. Pas lagi packing itulah gempa terjadi,” ungkapnya.

Yang dirasakan pertama kali adalah pusing. Kemudian barang-barang di sekitarnya mulai berjatuhan. Ulan yang belum berpakaian pantas dan menutupi kepalanya seketika berusaha keluar rumah. Saat itu posisinya di ruang tamu. Meski hanya berjarak kurang dari lima meter dari pagar rumah, dia sulit untuk menyelamatkan diri. “Jatuh bangun. Terlempar pas mau ke pagar. Kejatuhan bata tembok. Begitu di luar, saya lihat rumah roboh,” kenangnya.

Beruntung semua rekannya juga berhasil keluar. Meski ada yang masih mengenakan handuk. Mereka berkumpul dan berpelukan di jalan. Menangis dan berdoa karena mampu selamat dari bangunan runtuh. Setelah menenangkan diri, saat gempa susulan masih terjadi, mereka kembali ke rumah yang sudah rusak. “Seram. Beruntung ada celah-celah tempat kami menaruh barang tadi. Jadi semua kami ambil dan langsung berpakaian,” sebutnya.

Hingga mendekati tengah malam, Ulan masih bertahan di depan rumah. Namun, lokasinya tak diterjang tsunami. Di tengah kegelapan akibat terputusnya aliran listrik. Sorot lampu motor mendekat. Sejumlah pria yang dikenal Ulan langsung menghampirinya. Mereka adalah tukang ojek yang biasa menjadi langganan ke Pinembani.

Para pria tersebut menawarkan bantuan. Untuk segera pindah ke lokasi aman. “Lokasi kami di Desa Tinggede (Kecamatan Marawola, Sigi). Berbatasan dengan Kecamatan Sigi Biromaru yang terkena lumpur itu. Tukang ojek tawarkan kami ke sebuah pegunungan. Katanya di sana aman,” sebutnya.

Mengendarai motor, mereka menuju selatan. Perlu waktu 30 menit untuk sampai ke lokasi yang dituju. Ulan menyaksikan kerusakan yang ditimbulkan selama perjalanan. Melihat tubuh-tubuh tergeletak di jalan. Ambulans berseliweran mengangkut korban yang terluka. Pemandangan bangunan rusak dicampur darah membuatnya terguncang. Membuatnya sering linglung. “Pokoknya mengerikan,” kata Ulan.

Rombongan pun sampai di Desa Porame, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi. Di sana mereka bertahan dengan bahan makanan yang dibeli dari mal. Peralatan untuk memasak dipinjam dari para tukang ojek. Di lokasi pengungsian itu, mereka diterima dan menginap di salah satu rumah warga. “Di sana lebih tenang. Meski gempa namun tak begitu terasa,” ucapnya.

Kesulitan mendapatkan sinyal, membuat Ulan sulit menghubungi keluarga. Tak bisa menelepon, dia memanfaatkan status WhatsApp. Berharap ketika ada jaringan internet tersedia, bisa mengirim kabar. Di Balikpapan, kakaknya Hamriana Hasan menghubungi Kaltim Post. Meminta bantuan agar adiknya bisa ditemukan.

Lewat Hamriana, diketahui jika ada warga Balikpapan yang terjebak di Sigi. Pemberitaan pun dibuat. Headline Kaltim Post edisi Selasa (2/10) dengan judul “Warga Balikpapan Terisolasi di Sigi” memancing pemerintah untuk bergerak. Mendata dan berusaha mengeluarkan warga mereka dari lokasi bencana. “Aduh, saya seperti orang yang sudah mati saja,” kata Ulan lantas tertawa melihat wajahnya menghiasi halaman depan media ini.

Selama di lokasi pengungsian, Ulan mengaku melihat kesulitan warga sekitar. Yang harus tidur di luar karena khawatir terkubur dalam rumah jika gempa terjadi lagi. Dia dan warga juga tak berani turun ke kota karena banyak mendengar kabar soal tsunami susulan. Sementara semakin hari, persediaan mereka semakin menipis. “Saya merasa kesal. Karena saat terakhir saya meninggalkan Palu, di sana tak ada bantuan sama sekali yang masuk. Terutama di Kecamatan Marawola dan Kinovaro,” ujarnya.

Pada Rabu (3/10), Ulan dan rekan-rekannya baru memberanikan diri ke Palu. Mereka berusaha untuk bisa masuk ke Bandara Mutiara SIS Al-Jurie. Selama perjalanan dia melihat kekacauan. Banyak pertokoan dijarah. Antrean di SPBU mengular. Panjangnya sekitar 5 kilometer. “Pokoknya di sana (Palu) kacau saat itu,” katanya.

Sampai di bandara, rasa putus asa tiba. Ulan melihat lautan manusia berimpitan ingin eksodus. Dia pun mencari informasi. Dari orang sekitar, dia ikut mengantre dan mendaftarkan diri sebagai pengungsi. Berjam-jam menunggu, kabar baik datang. Dia dan rekan-rekannya bisa dievakuasi ke Makassar. “Kuasa Allah. Hari itu kami tiba di bandara. Hari itu juga kami bisa berangkat. Padahal sudah ada yang menunggu hingga empat hari tetapi belum diberangkatkan,” tuturnya.

Setelah menjalani pemulihan dan kembali ke Balikpapan, Ulan mengaku mendapat penugasan. Meski trauma belum sepenuhnya hilang, dia dan rekan NS lainnya diminta kembali ke Palu. Menjadi relawan. Melanjutkan pengabdian mereka yang tersisa. Mereka yang menurut dokter masih mengalami trauma berat diperbolehkan melanjutkan pemulihan. “Saya sendiri sudah kuat. Meski berat kembali meninggalkan keluarga, namun saya ikhlas. Karena saya tahu, masih banyak korban bencana yang memerlukan kami,” tegasnya.

Ulan pun berangkat tadi malam (7/10). Menghabiskan 48 jam memang belum puas untuk berkumpul bersama sang kakak, Harmiana dan keponakannya. Kedua orangtuanya sendiri masih di Jakarta. Menemani kakak perempuan lainnya yang tengah mengandung. Telah mengantongi restu kembali ke Palu, Ulan menyebut ada 18 bulan ke depan sebelum programnya berakhir.

“Saya yakin untuk bisa meneruskan program ini. Saya paham kondisi mereka (korban bencana). Saya merasa tak berguna sebagai tenaga kesehatan jika tak membantu mereka,” tukas Ulan. (rom/k16)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 19 Juni 2019 12:14

Enam Lembaga Negara Digugat

Tragedi pencemaran minyak di Teluk Balikpapan, akhir Maret 2018, masih…

Rabu, 19 Juni 2019 12:12

Pemprov Janji Perketat Tambang

SAMARINDA–Besarnya alokasi anggaran yang diperlukan untuk menjalankan program penanggulangan banjir…

Rabu, 19 Juni 2019 12:10

Konstruksi Ibu Kota Baru Dimulai 2021

JAKARTA–Rencana pemindahan ibu kota terus dipersiapkan. Meski lokasinya belum ditetapkan,…

Rabu, 19 Juni 2019 10:56
Polemik PPDB Sistem Zonasi

PPDB Bertujuan Mulia, Tapi Pelaksanaan Bermasalah

JAKARTA - Semangat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meniadakan sekolah favorit…

Rabu, 19 Juni 2019 10:53

Makin Menjamur, Guest House Resahkan Perhotelan

Menjamurnya guest house di Kota Minyak diyakini bisa memperbesar lapangan…

Rabu, 19 Juni 2019 10:51

Makin Sadar, Warga Pilih Tukarkan Uang Pecahan di Perbankan

SAMARINDA- Kinerja outflow pada Mei 2019 meningkat 86,03 persen year-on-year…

Rabu, 19 Juni 2019 10:44
Pemerintah Dituding Tak Sigap dalam Kasus Tragedi Teluk Balikpapan--sub

Pemerintah Dianggap Tak Siap, Enam Lembaga Negara Digugat

Tragedi pencemaran minyak di Teluk Balikpapan, akhir Maret 2018, masih…

Rabu, 19 Juni 2019 10:41
Yulia Hadi, dari Paser Wakili Tiga Negara di Kontes Kecantikan Tingkat Dunia

Voting di Posisi Teratas, Lolos Empat Besar, Final Digelar di Meksiko

Aktif di kegiatan sosial menjadi pintu gerbangnya menuju kontes kecantikan.…

Rabu, 19 Juni 2019 10:39
Pemprov Janji Perketat Tambang

Penanganan Banjir Samarinda, Pemda Kejar Anggaran ke Pusat

SAMARINDA–Besarnya alokasi anggaran yang diperlukan untuk menjalankan program penanggulangan banjir…

Senin, 17 Juni 2019 14:50
Atasi Banjir Samarinda, Sekkot Minta Bantuan Pemprov dan Pusat

Atasi Banjir di Samarinda, Ini Kuncinya...

Mengatasi banjir di sejumlah wilayah di Kaltim menjadi pekerjaan utama…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*