MANAGED BY:
SABTU
20 OKTOBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 08 Oktober 2018 12:34
Mengharamkan Nikah Siri

PROKAL.CO, Menghalalkan hubungan cinta yang terjalin adalah mimpi bagi banyak pasangan. Namun, tak sedikit yang terjebak dalam langkah haram karena persoalan membelit.

“INI pilihan terakhir," batin NR (16) satu setengah tahun lalu. Dia tak bisa daftar menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) karena tak memenuhi syarat. NR juga tak kuasa menunggu lebih lama. Tetangga sudah bergunjing. Perutnya makin besar. Akhirnya, akad nikah dilakukan tanpa penghulu dari KUA. Janji suci diikatkan penghulu nikah siri kenalan ibunya. "Kami memutuskan yang penting sah secara agama saja dahulu," kisah NR kepada Kaltim Post, pekan lalu.

NR kala itu belum genap 15 tahun. Pun begitu calon suaminya. Mereka baru lulus SMP. NR sudah kadung mengandung. Jika tak menikah, anak NR tidak memiliki bapak dan jadi aib keluarga. Begitu kata orangtuanya. NR terpaksa putus sekolah. Begitu juga suaminya yang semula kawan satu sekolah.

Jalan cepat dengan nikah siri ditempuh karena perut makin membuncit. Sebenarnya, NR memiliki kesempatan melakukan pernikahan legal dengan mengajukan dispensasi kawin. Namun, tak ada keluarga sempat membantu menguruskan. Urusan berkas ke pengadilan agama (PA) tak terkejar. Semua masih terkejut kabar kehamilan NR. "Belum lagi, dengar-dengar prosesnya lama dan ribet. Padahal, aku harus cepat-cepat menikah," imbuh NR.

Bagi NR, praktik nikah siri bukan barang aneh di lingkungannya. Ada seorang tokoh di kampungnya yang kerap menyanggupi permintaan pasangan nikah siri. Umumnya yang menikah siri adalah perantau-perantau dari tanah seberang yang ingin berkeluarga tapi enggan mengurus administrasi. Termasuk mereka yang sebenarnya sudah memiliki suami atau istri di kampung halaman. 

Penghulu yang menikahkan termasuk dikenal sebagai tokoh agama di kawasannya. Si penghulu nikah siri tidak mematok angka untuk bayaran menikah. Ibu NR membayar tak sampai Rp 1 juta. “Antara Rp 500 ribu sampai Rp 750 ribu sepertinya,” ucap dia.

Malang dialami NR, pernikahannya hanya sebentar. Cekcok tiap hari mewarnai pernikahannya. NR menyadari, pernikahannya terlalu dini. Sehingga, dia dan pasangannya kala itu belum siap berperan sebagai ayah dan ibu, ataupun suami dan istri. Anak yang dilahirkannya belum bisa merangkak, suami pergi dari rumah.

“Memang nasibnya begini. Mau menuntut soal anak juga tidak bisa. Biar dia sadar sendiri saja. Kalau masalah surat-surat, anakku ikut orangtuaku. Mulai KK (kartu keluarga) sama aktanya,” jelas NR.

Di Kaltim, praktik nikah siri diyakini banyak terjadi. Beragam alasan jadi penyebab. Dari keuangan, administrasi, dan sebagainya. Dalam Islam, nikah siri tetaplah sah. Meskipun, tidak ada catatan legal dari pemerintah. Namun, perlu diketahui, pelaksanaan nikah siri hanyalah untuk momen-momen terdesak. Bukan sekadar mengakali aturan.

“Misalkan di suatu daerah di tengah pulau. Susah akses ke mana-mana. Itu mungkin bisa. Nanti, setelah ada akses, bisa ke pengadilan agama (PA) untuk meresmikan pernikahannya atau yang disebut isbat nikah,” terang Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kaltim Hamri Haz.

Maka, rasanya kurang pas jika nikah siri dilakukan di kota dengan akses yang mudah ke mana-mana. Selain itu, Hamri tak membenarkan nikah siri dilakukan untuk semacam nikah kontrak yang tujuannya kesenangan seksual semata.

Padahal, idealnya pernikahan dilakukan untuk membentuk keluarga yang bahagia. Sakinah, mawaddah, juga warrahmah. Asalkan syarat dan rukun nikah tunai, sahlah sudah pernikahan.

Memang tak sulit menikah siri. Rukun nikah yang mesti dipenuhi tak juga banyak. Seperti pengantin perempuan dan laki-laki, wali, dua saksi lelaki, dan ijab kabul. “Nanti kalau mau mengesahkan nikah siri ke pengadilan agama, harus bawa saksi itu juga dan bukti-bukti kalau sebelumnya sudah nikah siri,” imbuhnya.

Pada dasarnya, nikah siri sudah sah di mata agama. Namun, nikah lebih baik sah secara negara juga. Dengan begitu, akan meminimalkan risiko. Sebab, pada nikah siri, perempuan dan anak yang kerap jadi korban. Tanpa pencatatan legal dari pemerintah, istri kesulitan menuntut haknya. Pun begitu dengan si anak. Dia tidak punya legalitas sebagai anak ayahnya. Banyak anak hasil perkawinan siri yang hanya mencantumkan nama ibunya di akta kelahiran. Sebab, tidak ada legalitas bahwa ayah dan ibunya pernah menikah.

Praktik nikah siri di Kaltim memang tak diketahui secara pasti trennya. Tak ada pendataan karena kelangsungannya yang dilakukan diam-diam. Pelakunya umumnya tak ingin status tersebut diketahui umum. “Berdasarkan negara tentu (nikah siri) tak diizinkan. Tidak dibenarkan. Bertentangan dengan peraturan undang-undang,” sebut Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Islam Kanwil Kemenag Kaltim HA Nabhan.

Menurut dia, nikah siri hanya menjadi persoalan ke depan. Tanpa buku nikah, anak hasil hubungan tersebut menjadi sosok yang paling menanggung beban. Akta kelahiran tak dimungkinkan tanpa buku nikah. Sedangkan syarat masuk sekolah menuntut akta sebagai persyaratan. Belum urusan ahli waris kelak karena tak ada dasar kekuatan hukum untuk menuntut hak.

“Makanya negara tidak mengizinkan pernikahan siri karena mudaratnya lebih banyak,” tegasnya.

Untuk memutus mata rantai tersebut, negara melarang setiap KUA serta penghulu memfasilitasi nikah siri. Begitu ketahuan, sanksinya diberhentikan. Meskipun, pola ini belum sepenuhnya menekan tren nikah siri. Pasangan ilegal kerap mencari tokoh untuk mengesahkan hubungan suami istri secara agama. “Itu pun bagi yang berani saja. Karena banyak orang tak mau menikahkan (siri) sebab peraturannya melarang, tidak dibenarkan.”

Praktik pernikahan siri biasanya difasilitasi penghulu tak resmi. Penghulu yang mengangkat dirinya sendiri untuk memiliki kemampuan menikahkan orang. Padahal, buku nikah hanya dikeluarkan penghulu di bawah naungan Kementerian Agama. Penghulu tak resmi, hanya bermodal secarik kertas untuk pencatatan pasangan yang dinikahkan. Tanpa buku nikah, pasangan tak punya kekuatan membuat akta. Menuntut hak seperti harta di kemudian hari, bisa dengan mudah dimentahkan.

Kasi Kepenghuluan dan Bina KUA Kanwil Kemenag Kaltim Abdul Latif adalah mantan kepala KUA Samarinda Seberang yang telah didatangi berpuluh-puluh pasangan untuk dinikahkan secara siri. Tawaran fee hingga Rp 2 juta mengemuka. “Saya bilang, pantang walau sudah pensiun. Tak akan saya laksanakan seperti itu,” sebutnya.

Menurut dia, saat ini tak lagi ada alasan menghalangi pernikahan di KUA. Biaya nikah di KUA sudah Rp 0. Tak ada pungutan biaya. Pasangan tinggal melengkapi persyaratan dari kelurahan. Negara telah memberi kemudahan bagi mereka yang ingin mengesahkan hubungan suami-istri. “Tapi tetap saja orang-orang datang memohon dinikahkan siri. Berarti ini ada masalah. Sudah diatur tak keluar duit kenapa mau bayar? Ternyata ada masalah. Karena status dengan istri sebelumnya belum lepas, enggak mau ke pengadilan,” ungkap Latif. “Orang mau menikah siri, itu berarti orang yang bermasalah.”

Dikatakan, nikah siri secara agama juga bukan hal yang bisa diterima. Dalam keputusan ulama yang diadopsi dalam kompilasi hukum Islam, sesuai Inpres 1/1999, setiap orang yang menikah sesuai ajaran agama, berarti sah.

Namun, harus dicatat di penghulu, KUA, dan pemerintah. Jika poin tersebut tak dilengkapi, pernikahan dianggap bermasalah. Dan setiap masalah dalam pandangan agama, berarti sama dengan haram. “Haram itu berarti yang membawa mudarat, bukan makan babi saja.”

Mudarat dari pernikahan siri memang bukan hal asing. Ia mencontohkan pengalamannya sebagai kepala KUA Samarinda Seberang. Suatu ketika, seseorang yang dikenal punya harta melimpah, berniat melegalkan pernikahannya secara negara. Selama ini, dia memiliki istri namun belum sempat diisbat. Belum rampung tahapan pengesahan, sang suami meninggal. Meskipun masih dalam keadaan mesra hingga napas penghabisan, sang istri yang ditinggalkan tetap tak punya kekuatan mendapat harta warisan. Tak ada kekuatan secara hukum. “Pengadilan tak mau tahu kalau tak ada buku nikah,” tegasnya.

Diungkapkan Panitera Muda Pengadilan Agama Klas II Samarinda Muhammad Rizal, sepanjang 2017, 190 perkara masuk untuk mengesahkan perkawinan alias isbat. Dari total perkara tersebut, 84 kasus dikabulkan. “Karena kami harus memeriksa syarat pernikahannya, lengkap atau tidak rukun nikahnya. Kalau tak lengkap, tak mungkin dikabulkan,” sebutnya.

Dari perkara yang masuk memang tak diperincikan alasan pernikahan siri yang sudah-sudah berlangsung. Namun, dari sejumlah perkara yang ditangani, alasan tempat tinggal yang jauh dari KUA cukup banyak mengemuka. Termasuk pernikahan yang berlangsung sejak puluhan tahun lalu dan masalah biaya yang tak tersanggupi.

Dalam perkara lain, kasus permohonan cerai karena suami melakukan nikah siri dengan perempuan lain juga masuk. Meskipun, angkanya yang cenderung sedikit. Pada 2017, dari 1.665 perkara yang dikeluarkan akta cerainya, hanya 36 disebabkan gara-gara suami “gatal’, dan memilih jalan menikung, menikah siri. (tim kp)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 11 Oktober 2018 08:46

Kaltim Juga Rawan Gempa

Kaltim memang tak karib dengan gempa, namun bukan berarti Bumi Mulawarman tak pernah mengalami guncangan.…

Senin, 08 Oktober 2018 12:32

Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya

RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak…

Senin, 08 Oktober 2018 12:31

Penghulu Dadakan Tergoda Bayaran

SECARA hukum, negara melarang pernikahan siri terhadap setiap warganya. Namun, praktiknya masih cukup…

Senin, 08 Oktober 2018 12:29

Nikah Siri, Perempuan dan Anak Jadi Korban

OLEH: SUWARDI SAGAMA(Pakar Hukum Perlindungan Anak/Dosen Hukum Tata Negara IAIN Samarinda) NIKAH siri…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:26

Vegetarian= Jaga Tubuh, Jaga Bumi

Anda adalah apa yang Anda makan. Ungkapan itu menjadi tren seiring makin tingginya kepedulian gaya hidup…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:21

Pedang Bermata Dua

MESKI diklaim membuat tubuh fit, fresh dan awet muda, menjalani hidup sebagai vegetarian lebih tak selamanya…

Rabu, 03 Oktober 2018 09:10

Tren Menanjak Minat Menjadi Vegetarian

HASRAT menjadi vegetarian bahkan vegan trennya menanjak. Termasuk Kaltim. Berikut wawancara dengan Koordinator…

Kamis, 27 September 2018 09:19

Memangkas Emisi, Menjaga Bumi

Perubahan iklim yang kian buruk tak muncul begitu saja. Hujan yang tak tentu hingga kemarau yang terbilang…

Kamis, 27 September 2018 09:12

Ekonomi Menggiurkan dari Alam

RATANA Lukanawarakul begitu seksama mendengar penjelasan Agus, pemuda Desa Muara Siran, Muara Kaman,…

Kamis, 27 September 2018 09:07

Menjawab Resah dengan Gambut

DEFORESTASI di Kaltim terus meningkat. Forest Watch Indonesia (FWI) mendapati jumlah tutupan hutan hanya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .