MANAGED BY:
KAMIS
15 NOVEMBER
UTAMA | BALIKPAPAN | SAMARINDA | PRO BISNIS | KALTIM | OLAHRAGA | HIBURAN | CELOTEH | MASKULIN

SELISIK/LAPSUS

Senin, 08 Oktober 2018 12:32
Banyak Mudaratnya ketimbang Enaknya
-

PROKAL.CO, RINI dan Joni, bukan nama sebenarnya, sudah saling kelewat sayang. Namun, restu orangtua sang pria tak didapatkan. Janji sehidup semati pun diikatkan secara siri. Pernikahan yang dilangsungkan secara agama, tapi tak sesuai ketentuan negara. Mengikat janji tanpa restu penuh orangtua.

Dari hubungan tersebut, lahir buah cinta berjenis kelamin perempuan. Sayang, anak yang mestinya menjadi penyatu, malah jadi awal keretakan. Orangtua Joni mengambil alih sang anak secara sepihak dan membawanya ke Paser. Sedangkan Joni, yang semula di Samarinda, harus pindah ke Tarakan karena tugas. Si istri siri seorang diri di ibu kota.

Sang anak kini berusia tujuh tahun. Joni yang sudah bertahun-tahun di provinsi tetangga, menemukan cinta baru yang akan dinikahi. Kali ini dengan cara sah. Tak perlu izin, tak perlu cerai, karena status sebelumnya hanya berlaku secara agama. Rini yang seorang diri beberapa tahun belakangan juga menetap di Jawa Barat.

Rasa rindu membawanya kembali ke Bumi Etam. Niatnya adalah menjemput darah dagingnya dan membawa hidup bersamanya. Hubungan darah dan emosional satu-satunya modal mengambil kembali anak perempuannya. Namun, bagi sang anak, hubungan emosional itu tak pernah ada. Begitu lahir, dia sudah hidup bersama nenek dari ayahnya. Pendekatan dua pekan yang dilakukan Rini tak berbuah apa-apa. Anaknya sendiri menolak pergi bersamanya.

“Pernikahan siri itu pasti kerugiannya ada di pihak perempuan. Untuk kasus yang tadi, kalau anaknya nanti besar, dia juga yang kesulitan karena untuk menikah nanti perlu wali, ayah kandung, ayah biologis. Sedangkan secara hukum, status itu tak diakui karena sekadar hubungan biologis. Akhirnya menjadi masalah untuk anak,” urai Kepala P2TP2A Kaltim Eka Komariah Kuncoro.

Lembaga yang diketuainya itu memang banyak mendapat kasus berkaitan pernikahan siri. Sebagian besar kasus bertujuan mengesahkan pernikahan yang semula hanya sah secara agama. Namun, hanya sebagian lagi yang bisa terpenuhi. Bagaimanapun, pernikahan siri kemudian hanya bisa disahkan ketika persyaratan rukun nikah terpenuhi. Belum lagi restu dari istri bagi pria yang sebelumnya sudah terikat perkawinan.

Di sisi lain, pernikahan siri banyak dijumpai karena belum siapnya pasangan mengarungi rumah tangga secara ekonomi. Secara fisiologis sudah memerlukan istri, tapi tidak untuk tanggung jawab sosial. Banyaknya tuntutan dalam hidup berumah tangga, menjadikan opsi ini satu yang cukup familier. Belum lagi alasan perbedaan agama yang tak dimungkinkan menikah dalam aturan negara. “Ada juga karena belum cukup umur yang terpenuhi. Sekarang mulai banyak lagi. Pengamatan saya memang pernikahan dini semakin banyak,” sebut perempuan berjilbab itu.

Nikah siri dengan segala kasusnya, memang menjadi preseden buruk bagi perempuan. Namun, praktik tersebut nyatanya terus ada dan tak terhindarkan. Menurut Eka, perempuan umumnya sadar akan dampak yang bakal dihadapi. Namun, kebutuhan ekonomi, psikis, dan biologis, membuat opsi ini harus tetap diambil.

Pernikahan siri memang memunculkan dilema bagi siapa saja yang terlibat di dalamnya. Di satu sisi, agama memungkinkan, namun tak diperkenankan oleh negara. Kelak, efek sipilnya yang akan membelenggu. Bagi tentara, PNS, maupun polisi, praktik ini akan berseberangan dengan ketentuan dalam kariernya. “Bagi laki-laki yang tak bertanggung jawab, hak anak-istrinya bisa saja tak dipenuhi. Ketika mereka tak bertanggung jawab, bisa tinggal kabur tanpa harus berurusan dengan hukum. Semula pemikirannya adalah tak masalah tak resmi. Yang penting tak zina secara agama.”

Meski demikian, Eka menganggap nikah siri akan terus ada terlepas dari segala mudarat yang bisa disebabkannya. Dalam praktik ini, dia menganggap banyak yang berkepentingan. Karena nyatanya, bukan hanya orang tak berpendidikan yang menjalankan praktik tersebut. Mereka yang bergelar profesor dan doktor, tak sedikit menjalankannya. Nikah siri tak mengenal status. Semua bisa diterima ketika kebutuhan biologis dan ekonomi harus terpenuhi.

“Peraturan di kita lemah diimplementasikan. Undang-Undang 1/1974 tentang Perkawinan, sudah lama dituntut untuk diperbaiki. Tapi enggak pernah bisa berubah. Padahal sudah begitu lama, dari 1974. Sudah berapa kali berproses di DPR tapi mental. Banyak yang membutuhkan untuk tidak adanya peraturan itu,” imbuhnya. (tim kp)

loading...

BACA JUGA

Jumat, 02 November 2018 08:57

Tampil Cantik (Tak) Apa Adanya

Perempuan manapun ingin terlihat cantik. Menjawab kodrat itu, sederet klinik kecantikan pun hadir. Dari…

Jumat, 02 November 2018 08:54

Sensasinya Bikin Ketagihan

SEBUAH teknik perawatan kulit modern, jet peel, disukai pelanggan. Teknik ini memanfaatkan tekanan…

Jumat, 02 November 2018 08:52

Facial Minimal Tiap Dua Bulan

WAJAH putih, mulus, awet muda. Begitu kesan yang tampak saat bertemu Deriyani, owner Gloskin Balikpapan.…

Sabtu, 20 Oktober 2018 01:42

Janji Bawa Lagi ke Kasta Tertinggi

PERSIBA Balikpapan yang bakal kehilangan Syahril HM Taher masih menimbulkan spekulasi siapa pengelola…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .